
"Kamu bertanya aku ini perapal sihir tingkat berapa?"
Verdea mengangguk setelah respon dari Natasha itu
"Aku juga penasaran. Aku tidak pernah ingat kalau kamu tertarik dengan sihir" Veskal mengikuti
"Ah, itu karena aku baru mempelajari sihir setelah kamu menghilang entah kemana" Natasha menjawab
Veskal pun hanya tersenyum kecut karena tahu betul apa yang dia maksudkan
"Jawaban singkatnya, aku ini perapal sihir tingkat tinggi. Hanya saja, seperti roh yang kumiliki, aku lebih memilih untuk menggunakan sihir tingkat menengah" Natasha kemudian menjawab Verdea
"Heh~ Ternyata kamu mirip dengan Remina" Aku menyela
Remina pun terlihat terkejut entah kenapa
"Menurut Oberon, aku ini perapal sihir tingkat tinggi?" Remina bertanya bingung
"Maksudku, kamu bisa menggunakan sihir tingkat tinggi beberapa kali walaupun hanya berjumlah hitungan jari kanan saja"
Verdea bilang dia bisa menenggelamkan puluhan pasukan abnormal Xiang di penjara bawah tanah walaupun kemudian jatuh pingsan. Dia juga bisa menggunakan sihir 'Imaginary copy' seakan itu adalah sebuah sihir tingkat rendah dengan bentuk yang sempurna, layaknya Lyralia yang merupakan seorang petinggi Elf
Nyatanya, Imaginary copy adalah sihir air tingkat menengah. Walaupun tidak memakan banyak Mana, membuat tiruan sempurna menggunakan sihir itu sangatlah sulit, biarpun benda yang ditiru adalah benda mati
Butuh pemahaman sempurna dari benda yang ingin ditiru adalah faktor utama peniruan sempurna Imaginary Copy. Mereka berdua tidak terlihat begitu, tetapi Lyralia dan Remina adalah Elf yang sangat cermat
"Hmph. Ternyata anak yang jauh lebih muda dariku bahkan sudah bisa menyusul ke tingkat tinggi hah...?" Natasha berkomentar
Remina hanya mengangkat bahu selagi tersenyum canggung, sementara aku mengikuti senyumnya karena momen manis itu
"Lalu bagaimana denganmu, pangeran kecil? Kamu pasti perapal sihir tingkat tinggi juga bukan?" Dia kemudian beralih kepada Verdea
"Tidak" Verdea menggelengkan kepalanya. "Aku justru hanya seorang perapal tingkat rendah" Dia kemudian melanjutkan
"Bohong! Kamu tidak bisa menipu alat peneliti Mana yang dibuat oleh seorang Dwarf" Natasha menolak pernyataan itu
...
Alat peneliti Mana?
"Alat apa itu?" Aku bertanya
"Oh ini? Harganya sangat mahal ketika aku membelinya di kota Lapius dulu. Para Dwarf bilang kalau benda ini bisa membantuku melihat kualitas Mana seseorang dengan akurasi yang sangat tepat" Dia kemudian membalas, memainkan jepit rambut berbentuk daun yang ada di sisi kanan kepalanya
Alat itu... Fungsinya sama seperti yang digunakan Darwin ketika kami bertempur di Xiang waktu itu...
Jadi para Dwarf yang membuatnya hah...? Aku jadi teringat dengan para Dwarf yang kami bebaskan dari Xiang...
"Logika alat ini ternyata simpel juga ketika aku membaca catatan milik para Dwarf. Karena kedekatan ras mereka dengan elemen tanah, dan asal muasal Mana yang kebanyakkan berada di dalam elemen dunia yang satu itu, para Dwarf bisa menggunakan berkatnya untuk membuat alat peneliti Mana"
Verdea, Remina, dan aku pun mengangguk paham mendengar penjelasan itu, selagi Veskal justru terlihat sudah matang otaknya karena tidak paham
"Kamu bilang di kota Lapius?" Aku bertanya sekali lagi
Kota itu pintu masuknya terletak di hutan paling selatan benua Crux. Tersembunyi sepenuhnya oleh dedaunan pohon serta semak, dan berbentuk seperti gua alami namun dibuatkan jebakan sederhana dan kesan seperti sarang Goblin
"Aku sudah sangat lama tidak ke kota itu. Tapi, aman jika aku bilang kota itu jauh lebih megah daripada yang kamu bisa bayangkan dari sebuah kota bawah tanah"
__ADS_1
Bahkan Bargalos saja tidak selevel dengan kota itu. Dengan Bargalos yang terlihat dipenuhi oleh tanah, lumpur, dan bijih-bijih tambang, Lapius justru terlihat seperti kota manusia setingkat Andromeda
"Cahaya biru dari kristal di tempat itu sungguh elegan..." Aku bergumam, membayangkan kembali isi tempat itu
"Benar bukan~? Aku bahkan jadi rindu masuk ke tempat itu lagi~" Natasha mengikuti
"Kalian bicara seakan menemukan kota Dwarf adalah hal yang sepele" Veskal berkata ketus
"Memang begitu" Aku dan Natasha serentak berkata tanpa niat buruk, namun tetap mengundang rasa kesal Veskal
"Kota itu memang sangat tersembunyi di mata orang awam, tapi mereka sangat menonjol bagi seorang petualang yang sudah lama bertualang dan melihat banyak hal"
"Contohnya?" Verdea yang penasaran bertanya
"Misalnya seperti kota Bargalos. Pintu masuknya terlihat seperti gua batu kecil, tapi kamu akan menyadari satu hal ketika menyentuhnya" Natasha memberi contoh
"Tembok luar pintu masuk itu akan terasa sangat lembut..."
Verdea pun segera menyadari apa yang sedang dijelaskan, hanya dengan satu contoh yang pernah dia temui saja
"Itu karena mereka membuatnya bukan dari batu sungguhan, tetapi dari lumpur khusus yang mereka bekukan dengan sihir..." Verdea pun bergumam
"Benar! Juga, bagiku yang bisa melihat aliran Mana, aku tidak perlu waktu lama untuk menemukan pintu masuk kota-kota itu" Aku menyela
"Dan untuk orang yang sudah ahli, mereka bisa membedakan yang mana batu dan yang bukan" Natasha menambahkan
Sesama petualang memang seru diajak berbincang
"Tapi, itu artinya kalau pintu masuk mereka akan sangat mudah dideteksi bukan?" Remina pun ikut bertanya
Yah...
Mungkin hanya ada satu kelompok bajak laut yang kuketahui bisa membedakan sesuatu di darat sekarang ini. Mereka juga harus melakukan itu karena terpaksa...
"Omong-omong, soal para Dwarf, apa kalian bertemu dengan seseorang bernama Frit?"
Eh?
"Frit?? Maksudmu, Dwarf kecil bermata merah dan berkulit coklat?" Verdea sontak berseru
"Oh??? Deskripsinya persis sekali!" Natasha ikut berseru
"Tentu saja kami tahu! Dia salah satu pelayanku sekarang, dan kami menyelamatkannya dari Xiang!" Verdea menambahkan
"Ah, berarti benar dia! Kami pikir dia sudah mati atau semacamnya!"
Natasha pun terlihat ingin meringis terharu, tetapi aku, Veskal dan Remina hanya terlihat bingung karena tidak adanya penjelasan darinya sejak tadi
"Dia adalah salah satu temanku dulu... Tapi setelah kami berada di Xiang, entah bagaimana dia menghilang..." Natasha pun akhirnya memperjelas, mengusap air matanya yang sedikit jatuh
"Ah begitu..." Aku berkata
"Tapi, kenapa dia bisa menjadi pelayanmu, pangeran kecil...?" Natasha bertanya
"Karena dia yang ingin. Lagipula, aku tidak punya masalah menambah banyak teman" Verdea menjawab
Natasha pun melihat kearah Veskal, yang kemudian hanya mengangkat bahunya dan tersenyum seakan berkata 'sifat pangeran kami memang begitu'
__ADS_1
"Wajar saja orang-orang ini mau mengikutimu. Rupanya ketenaranmu itu setara besarnya dengan kebaikanmu" Natasha pun berkomentar
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Lagipula, situasinya disaat itu sangatlah kacau karena ada seseorang yang sempat ditangkap oleh Xiang"
Kami bertiga yang tahu pun hanya menoleh kearah Veskal dengan sebuah senyum, membuatnya berdecak kesal dan membuang wajah
"Kamu juga pernah ditangkap Xiang?"
"Begitulah, Tasya. Tolong jangan dibahas lagi"
"Entah kenapa rasanya geli mendengar Veskal menyebut seseorang dengan nama panggilan..."
"Diam, dasar kepala semangka!"
Oh, sekarang dia memanggilku kepala semangka hah?
Sementara itu, Verdea dan Remina hanya terkikik dengan satu sama lain, memperhatikan Veskal yang semakin cemberut wajahnya
Begitu juga Natasha. Dia yang mengamati kami sejak tadi itu pun ikut tertawa kecil
"Kumpulan kalian sungguh menarik. Wajar saja semua orang terlihat betah" Dia pun berkata
"Ugh. Jika kamu dijadikan bahan celaan oleh mereka, kamu akan berpikir lain" Veskal berkata ketus
"Ayolah Veskal. Jika kamu yang dulu masih ada disana, kamu pasti akan menghajar mereka" Natasha berkata
"Memangnya aku dulu sekasar itu...?"
"Singkatnya, ya"
"Maksudku, ketika dia bersama kami dulu, Veskal sama sekali tidak tahu cara untuk akrab dengan Verdea. Dia sungguh sangat kasar" Aku menyela
"Ugh! Aku tidak begitu!" Veskal menggerutu
"Kamu memang begitu. Tapi Veskal kami sekarang ini adalah yang nomor satu~" Verdea mengikuti
Kami berdua pun memeluknya yang membelakangi kami berdua, membuat dirinya terkejut
"Hey-! Kita bukan anak kecil lagi hingga harus berpelukan seperti ini!" Dia pun protes
"Tapi mau bagaimana lagi? Soalnya kami melihat ada anak yang cemberut di hadapan kami" Aku berkata, diikuti oleh anggukan dari Verdea yang menggesek punggung Veskal
Veskal pun mengeluarkan suara keluhan, tetapi tidak melakukan apapun untuk melepas pelukan kami, selagi kedua perempuan yang bersama kami hanya tertawa geli dengan satu sama lain
"... Sudah kah? Aku yakin kalau kalian selalu berkata ketiakku bau"
"Memang. Hanya saja, orang yang cemberut belum berkomentar"
Aku hanya tertawa mendengar celaan Verdea, selagi kami semua melepaskan pelukan dari Veskal yang perlahan mulai ikut tersenyum dengan pipi merah
"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas apapun lagi tentang masa laluku. Kita juga masih harus menjumpai si mulut besar itu bukan?"
Dia benar. William Lantana masih kami harus ajak bicara mengenai pengganti sementara Verdea selagi dia pergi keluar dari Hortensia
"Hmph. Padahal suasana hatiku sudah baik..."
Kami semua pun mengeluarkan napas keluh, selagi Natasha bertanya-tanya ada apa gerangan
__ADS_1