Book Of Flowers

Book Of Flowers
Bantuan Sang Ayah


__ADS_3

Lalu kesini... Tebalkan disini... Ya!


Akhirnya selesai


Mengikat perban ternyata cukup merepotkan juga...


Karena aku memiliki regenerasi yang melebihi ukuran normal, aku sama sekali tidak pernah belajar cara memakaikan perban seperti sekarang ini


Zaphir dan Veskal juga sama sekali tidak tahu cara memakaikan perban, jadi aku harus melakukannya dengan caraku sendiri dan memasangkan perban itu ke tangan Ayahanda


Hah... Kami sadar kalau ini cuma pura-pura, tapi setidaknya aku ingin luka palsu mereka terlihat meyakinkan. Kalau mereka keluar tanpa perban-perban ini, orang-orang itu pasti akan curiga nantinya, sekuat apapun efek dari bunga Aspiritus yang kukeluarkan dari tubuhku


Aku juga yakin kalau ada orang yang sedang mengawasi kami sekarang, jadi bergerak sembarang juga akan membuat kami tertangkap. Kami bahkan tidak bisa berbicara satu hal pun tentang sesuatu karena tensi yang menekan ini


Kami berlima jadinya hanya diam tidak bicara sambil menoleh kearah satu sama lain


...


"Baiklah. Aku mau tidur dulu. Aku lelah" Alf berkata


...!


"Aku juga ikut. Kalian bertiga jangan berisik" Aku berkata


Veskal, Verdea dan Zaphir langsung diam dan mencari tempat duduk lain dari kasur Alf, sementara aku mulai naik ke kasurku yang berada di atas kasur ayahanda


Aku langsung menidurkan diriku sendiri dengan bunga yang kutumbuhkan di kulitku, bersama dengan Alf


......................


...!


Bagus, aku berhasil masuk. Ayahanda juga sudah berada disini


Aku melihat ke sekeliling di tempat itu. Tapi, tidak ada apapun di sekitar sana. Putih. Semuanya hanya putih, baik langit-langit, tanah, maupun jangkauan apapun yang bisa dilihat mataku


Mungkin karena dunia mimpi ini belum diatur oleh Ayahanda, tempat ini masih kosong tanpa setitik debu pun selain kami


Aku bisa masuk ke tempat ini berkat ikatanku dengan Ayahanda. Karena masuk ke tempat ini juga, tubuhku di dunia asli sedang mengalami tidur pulas sampai aku ingin keluar, sama seperti saat Verdea memasuki dunia mimpinya


Melalui tempat ini, setidaknya aku bisa bicara bebas dengan ayahanda tanpa perlu khawatir dengan apapun


Aku menoleh kearah Ayahanda yang terduduk di lantai dekatku. Dia juga sepertinya sudah siap dengan pembicaraan yang akan kami lakukan


"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan anakku?"


"... Pertama, bagaimana caranya kamu membuat tubuh itu?"


Aku melontarkan pertanyaan pertamaku secara langsung


Aku percaya dengan keaslian tubuhnya itu, tapi aku penasaran dengan metode yang dia lakukan untuk membuatnya


"Seperti yang aku bilang. Ada seseorang yang membuatkannya, mengingat kalau aku sama sekali tidak bisa lagi memengaruhi dunia makhluk hidup, kecuali di area Miralius. Itu juga ada batasan tertentu dan hanya bisa melalui pohon itu


Butuh ratusan tahun lamanya untuk membuat tubuh ini, dan orang itu membuatnya untuk berjaga-jaga seandainya sesuatu terjadi Pohon itu. Dan walaupun berhasil, hasil terbaiknya hanyalah tubuh anak kecil ini


Lalu, bahan paling penting dari tubuh ini adalah replika batu jiwaku. Orang itu juga yang membuatnya dengan menjiplak jiwa asliku dan melengkapi batu jiwa yang hanya berjumlah satu dari lima keping. Jadi, bisa dibilang kalau aku ini hanya kesadaran cadangan milik diriku yang asli. Asli namun tidak asli dalam waktu yang bersamaan"


Hm... Begitu...


Itu sebenarnya menjawab banyak pertanyaanku, terkecuali tentang identitas asli milik orang yang membantu kami itu


...


Tapi siapa orang itu? Hidupnya sudah ratusan tahun, dan dia bisa membuat replika sempurna sebuah cangkang kosong untuk jiwa yang masih bergentayangan. Tidak membahas kalau dia bisa menjiplak sebuah jiwa itu sendiri. Butuh kepahaman yang menyeluruh terhadap orang itu untuk bisa mereplika jiwanya, namun penolong misterius kami ini bisa melakukannya seakan dia sangat mengenali Alf


Satu-satunya saat aku pernah melihat cangkang kosong yang diisi kembali oleh jiwa hanyalah Pohon Agung dan tubuh Claudia. Dan keduanya memang membutuhkan inti jiwa milik Ayahanda

__ADS_1


Orang itu bukan orang sembarangan. Dia setidaknya harus sama kuat, jika tidak lebih kuat dari Ayahanda untuk membuat replika ini


Tapi tidak ada satupun orang yang sama kuat dengan Ayahanda yang kuketahui, kecuali para Oberon terdahulu dan anak-anak kandungnya (Elf Akar)


Mengingat hal itu juga membuatku merasa rendah karena tidak bisa sekuat para pendahuluku...


...!


Ah! Aku termenung


Ayahanda juga hanya diam memberiku ruang untuk tenggelam dalam pikiranku sampai aku lupa kalau kami sedang berbincang


"Ehem. Pertanyaan selanjutnya. Apa yang akan Ayahanda lakukan untuk membantu kami?"


"Gampang. Aku masih bisa membantu kalian untuk mencari jalan terbaik untuk keluar masuk Crux dengan aman


Kalau kamu ingat kisahku, aku dibuat oleh Tuhan dengan mata yang unik, yaitu untuk melihat masa depan. Dan mata itu ditanam langsung ke jiwaku sejak aku dibuat, sehingga aku bisa melihat masa depan yang 100 persen akurat dan tidak bisa diubah, bagaimanapun caranya


Namun, semakin jauh jangkauan masa depan itu dari sekarang, semakin ambigu arti dari ramalan itu. Aku hanya bisa melihat jelas arti ramalanku ketika hal itu sudah mendekati waktu kejadiannya, atau hal itu sangat besar sampai mengubah kehidupan seseorang. Jadi, berkahku ini akan sangat berfungsi"


"... Hanya itu?"


Alf tersentak mendengar perkataanku. "Apa maksudmu anakku?" Dia menanyakan


"... Kalau begitu aku ingin meminta satu cara. SATU CARA kami bisa membunuh Rosalia Hortensia dan mengakhiri semua hal ini"


"!!!"


...


"Kalau hal itu, aku sudah melihat kejadian pastinya. Tapi aku tidak bisa memberitahumu" Ayahanda berkata pelan


"Kenapa Ayahanda!!? Aku melakukan ini untuk kebaikan kaum kita dan semua orang!! Wanita itu harus dihentikan, mau atau tidak! Dan cara satu-satunya adalah melenyapkannya dari kehidupan" Aku bersitegang


...


"... Semua bunga mekar untuk melayu. Biarkan saja takdir yang mengejar wanita itu"


"Itu adalah jawaban yang kamu butuhkan. Karena yang menentukan kematian bukanlah kamu, tetapi takdir. Jika kamu bergerak dalam waktu yang tidak tepat, kamu sudah pasti akan gagal"


Tetap saja...!


"Ambil saja waktu sebanyak mungkin anakku. Lalu, gunakanlah waktu itu untuk menyerangnya balik. Kaum Elf memang jauh lebih kuat daripada manusia, tapi manusia tidak memiliki batasan apapun untuk melakukan segala hal yang mereka bisa lakukan"


...


*Cih!*


Aku harus mengakui apa yang dikatakan ayahanda itu sangat benar. Aku harus mendinginkan kepalaku dalam situasi seperti ini


Dan juga, walaupun kami memang bisa membantai tempat Rosalia sekarang ini, itu akan sangat berlawanan dengan tujuanku, yaitu menyelesaikan masalah ini dengan rapi. Dengan kematian Rosalia, masalah ini akan jauh lebih susah diselesaikan dari pada saat dimulai


Mayat tidak akan bisa bicara. Dia juga punya banyak sekali orang penting yang berdiri di belakangnya sekarang ini. Jika aku gegabah, kaum Elf bukan hanya akan lebih dibenci manusia, tapi juga semua ras yang ada di dunia, mengingat gambaran jahat yang ditempelkan di wajah kami sekarang ini


Aku harus mendinginkan kepalaku...


Menggapai tujuan itu masih sangat sulit di titik ini. Untuk menggapainya, setiap rencana yang kumiliki harus dilalui dalam satu kali coba, tidak lebih


Dan jika aku gagal, kekalahan kaum Elf sudah pasti akan terjadi, dan teman-temanku akan dibunuh atau diperbudak kembali oleh manusia


Aku lebih takut dengan apa yang bisa terjadi dengan teman-teman manusiaku. Mereka seharusnya tidak terlibat masalah ini, apalagi melawan kaum mereka sendiri. Tapi karena mereka bersikeras, aku pun harus melakukan usaha keras untuk memastikan mereka semua tetap selamat dan hidup


...


"... Itu saja, anakku?" Alf bertanya, memecah hening


"Ya, itu saja. Pertanyaanku yang lain terasa tidak penting, jadi sebaiknya aku menyimpannya saja daripada membuang waktu" Aku membalas

__ADS_1


"... Baiklah. Sudah 6 jam berlalu ketika kita tertidur tadi. Hari mungkin sudah berganti malam di dunia asli"


Waktu di dunia mimpi memang berjalan dengan aneh


Padahal aku yakin kami berada di sini selama 10 menit sejak masuk


Ya sudah. Sebaiknya aku bersiap keluar sa-


*ZAP!*


!!!


"Apa-apaan Ayahanda!? Aku belum menyiapkan diri!" Aku berseru


Tetapi, aku diam ketika melihat Ayahanda yang terlihat kesakitan


Aku pun perlahan turun dari ranjangku untuk merapal sihir penyembuh ke denyut nadinya, memastikan dia kembali dalam kondisi normal


"... Jangan bilang kalau tubuh ini jauh lebih lemah dari milikmu yang asli" Aku berkata pelan sambil terus mengalirkan Mana-ku


"Ahaha... Memang benar. Aku sudah tidak bisa menahan beban dari dunia mimpi itu, jadi aku tidak sengaja- Melepas ikatan jiwa kita..." Dia menjawab, sesekali mengerang kesakitan


...


Jadi itu kenapa tempat itu tidak berisi apapun...


Ayahanda sama sekali tidak memiliki kekuatan sihir apapun sekarang ini...


"Omong-omong... Bagaimana dengan yang lain?" Alf bertanya


Aku melihat ke sekeliling dan mengetahui kalau mereka semua sudah tertidur di kasur mereka masing-masing dengan nyenyaknya


Di dekat mereka, Fae yang mereka sembunyikan ikut tertidur pulas seakan tidak pernah ada sesuatu yang terjadi


"Mereka tidak apa. Dan aku tidak merasakan ada hawa orang yang mengawasi kita lagi di balik pintu kamar kita itu"


Entah orang itu tertidur atau pergi, yang pastinya tidak ada yang mengawasi kami lagi dari sensorku yang bisa merasakan Mana


"Vain...?"


...!


Ah... Aku sepertinya membangunkan Verdea


"Tuan Verdea. Tidurlah kembali" Salah satu Fae yang berada di dekatnya berkata


"Tidak apa. Aku baik-baik saja. Lagipula, aku tidak terlalu sempat bicara santai dengan Vainzel" Verdea membalas, menolak saran peri itu


...


"Kamu sebaiknya tidur kembali" Aku berkata, kemudian kembali naik keatas ranjangku


"Heeeh...? Aku hanya ingin bicara"


"Tidak. Hari sudah larut, jadi pergi tidur"


"Hmph! Dasar. Kalau begitu satu pertanyaan saja"


"Apa? Cepat katakan"


"Apa kamu sudah membuatkan alat teleportasi untuk kak Collin?"


. . .


Ahahaha........


Aku lupa

__ADS_1


Verdea yang mengetahuinya hanya dari ekspresi wajahku itu pun langsung cemberut dan melempar bantalnya kearahku karena kesal, kemudian kembali berbaring dan berusaha tidur


Para Fae yang berada di dekatnya menggelengkan kepala kearahku, selagi aku hanya menunduk menyesal sambil meringis kesal


__ADS_2