
Countess Eleanor Alveria Andromeda. Orang yang memimpin kota Andromeda dan area sekitarnya yang sedang kami tempati sekarang ini. Dan dia sama sekali tidak terlihat seperti tipikal para bangsawan yang biasa ku jumpai selama perjalananku
Dari caranya bergerak, caranya bicara, bahkan caranya dengan hati-hati mengawasi kami saja sudah cukup membuatku tahu dia orang seperti apa
Jika salah satu dari kami bertingkah aneh sedikit apapun, dia pasti akan melakukan sesuatu
Aku sudah mengatakan ini berkali-kali pada diriku sendiri, tapi apapun yang para manusia ini lakukan padaku, aku pasti bisa keluar dengan mudah. Masalahnya adalah, apakah teman-temanku juga mampu begitu?
Nyonya Eleanor dan pengawalnya membawa kami ke sebuah tempat yang aku yakin bukan rumahnya
Ibu dari balita tadi mengatakan kalau rumah itu bisa dilihat di dekat air mancur alun-alun kota, tapi tempat ini tidak berada dekat dengan alun-alun kota
Sisi kota yang cukup hening jika aku boleh bilang. Seluruh tempatnya sangat kosong dan terbengkalai, pastinya karena banyaknya kematian para penduduk disini
Di depan setiap bangunan dan perumahan, banyak buket bunga terletak di pintu depannya. Beberapa orang juga sedang berada di area ini, tapi umumnya aku melihat mereka sedang menangis di depan sebuah bangunan bersama anggota keluarga mereka
Seorang anak dan ibu yang meletakkan bunga mereka di depan salah satu pintu
Sepasang suami istri yang memeluk sebuah boneka kelinci bersamaan sembari menangis
Seorang wanita tua yang tidak memiliki siapapun lagi dan hanya berdiri diam menatap tanpa berkedip
Suasana terlihat sangat suram dan memilukan hati memenuhi area kota Andromeda yang satu ini
Tetesan air mata terlihat berlinang dan terasa membanjiri kota, walaupun hanya terlihat beberapa orang yang bisa dihitung jari di sekitar
Aku yakin bukan hanya area ini saja yang memiliki orang-orang berkabung seperti yang sedang kulihat sekarang
"Kamu sudah melihat mereka dengan baik?" Eleanor berkata
Aku mulai fokus kembali ke arahnya dan menyadari kalau dia juga ikut melihat kearah para rakyat kotanya yang sedang berkabung
"Jadi, ini tujuan nyonya membawa kami kemari? Untuk melihat keadaan dari kota ini?"
Eleanor terdiam sejenak mendengar perkataanku. Lalu, dengan ekspresi sedih yang mendadak, dia menganggukkan kepalanya perlahan
"5 Tahun. Selama 5 tahun, orang-orang ini selalu datang kemari setiap harinya. Dan tidak hanya di tempat spesifik ini saja" Dia berkata, kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah
Verdea yang mengikutiku berjalan di belakang langsung memberi tatapan simpati kepada Eleanor
"... Tapi, meminta bantuan dari orang luar sama sekali tidak terasa etis"
"... Lalu, kenapa tidak meminta bantuan pada Raja kalian?"
"Maksudmu raja pemalas yang hanya mengandalkan hakim busuk itu?"
...
"Semenjak Yuriel diangkat sebagai perdana menteri dan duta kerajaan, yang mulia Eloy nyaris tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di dunia politik, tidak membahas bidang lainnya"
"Tapi, aku mendengar kalau yang mulia Eloy itu masih muda. Mengingat kalau dia sudah tidak punya orang tuanya juga, dia tidak mungkin memiliki kuasa lebih walaupun memiliki jabatan tinggi dibandingkan Yuriel"
"Kamu benar. Tapi...
Tapi aku tidak suka dengan cara Yuriel memerintah. Dia terlalu mendambakan... 'Sesuatu', dan akan menjatuhkan apapun yang menghalangi diantara dirinya dan tujuan itu"
...
Badannya bergetar karena amarah
Dan kata-kata yang dia lontarkan itu membuatku menyadari kalau dia sangat sayang kepada rakyatnya
"Nyonya Eleanor. Tenangkan diri anda" Pelayan yang mengikutinya berkata
"... Kamu benar Albert. Menunjukkan sisi emosional seperti ini sama sekali tidak pantas di depan tamu asing"
"Ah, kami tidak memikirkan sama sekali. Lagipula, anda memang perlu mengeluarkan beban dari kepala walaupun sedikit" Verdea berkata
Kenapa dia tiba-tiba berbicara?
Tunggu, kenapa aku beranggapan kalau dia tidak boleh bicara coba?
Tapi... Nyonya Eleanor tidak marah karena dia menyela pembicaraan bukan?
...
Nyonya Eleanor justru tertawa kecil, sangat memecah gambaran dingin yang dia tunjukkan pada kami sebelumnya
"Temanmu yang satu ini lucu" Eleanor berkata setelah berhenti
"Lucu-?!" Verdea tersentak malu
"Bisa dibilang begitu"
Aku hanya mengusap rambut Verdea sambil tersenyum menahan tawa melihat wajah gugupnya
"Aku tidak merasa bermasalah nak. Aku memang butuh istirahat, tapi ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk melakukannya" Eleanor berkata dengan nada pelan, membuat kami kembali fokus padanya
"... Kalau begitu istirahat saja"
Verdea kemudian berjalan cepat menghadap Eleanor
"Eh?"
"Biarkan kami membantu tempat ini. Serahkan padaku dan teman-temanku"
"... Aku sudah bilang kalau meminta bantuan dari orang asing itu sangat tidak etis-"
"Lalu, apa kamu akan menolak sebuah permohonan?"
"...!"
"Aku mohon, biarkan kami membantu tempat ini"
...
Menyerah dan dengan helaan napas, Eleanor pun menganggukkan kepalanya kepada Verdea yang matanya terlihat serius
Verdea langsung tersenyum senang seperti biasanya, kemudian menoleh kearahku
Aku hanya merespon dengan garukan kepala sambil tersenyum kearahnya
"... Maaf sudah merepotkan"
"Tidak. Maaf sudah merepotkan. Terima kasih karena sudah mau menerima permohonan ku"
Verdea membungkuk memberi hormat pada Eleanor
"... Kalian ini kelompok yang aneh"
"Sejak awal kami memang aneh"
Dia tersenyum lebar kearah Eleanor. Eleanor di sisi lain tersenyum lega kearah Verdea, seakan dia memiliki beban berat yang sudah terlepas
__ADS_1
Anak ini memang hebat dalam meyakinkan orang. Efek perkataannya untuk membuat orang tunduk terasa lebih efektif dari bunga Aspiritus milikku
Aku jadi teringat ketika aku selalu melayani permintaannya dulu dan tidak bisa menolak...
"Baiklah. Aku akan memberitahukan semua masalah yang dialami kota ini sekarang juga. Aku sangat menantikan hasil dari bantuan kalian"
Kami berlima mulai mendekat kearah Eleanor untuk mendengarkan dengan terperinci semua hal yang dialami kota ini
......................
--- Beberapa saat kemudian, Alun-alun kota ---
Hm....
Biar kuluruskan dulu
Masalah pertama dari kota ini adalah kesedihan para penduduk yang masih berkabung atas kematian orang-orang
Hal ini mungkin akan menjadi yang paling sulit untuk kami tangani, mengingat kalau emosi dan mentalitas seseorang itu sangatlah kompleks
Kedua, Banyak sekali orang yang terluka karena adanya monster yang secara aktif menyerang selama beberapa periode lamanya
Eleanor berkata kalau monster-monster itu menyerang sekali seminggu, dan mereka selalu datang berkelompok
Dari bekas Mana yang kutangkap dari memeriksa barikade di luar kota itu, monster yang mereka hadapi adalah seekor jelmaan iblis
Sayangnya, mereka sudah membakar mayat para monster itu, tapi mereka mengatakan kalau wujud monster itu umumnya berupa banteng
Bahaya juga ya...
Lalu, masalah ketiga. masalah utama dari kota ini
Kota ini mengalami kekurangan hasil panen dan ternak hewan
Banyak sekali tanah yang tercemar sihir gelap setelah bencana 5 tahun lalu, mengakibatkan tidak adanya tanah subur dan makanan untuk ternak
Eleanor juga sudah berusaha mengimplementasikan cara baru untuk bercocok tanam dengan menggunakan lahan sendiri ataupun pot untuk tanaman buah kecil, tapi hal itu sudah tentu belum cukup
Ternak mereka sendiri nyaris tidak ada yang bisa bertahan, dan mereka butuh membayar pajak, jadi penduduk tempat ini sama sekali tidak pernah merasakan daging selama beberapa tahun ini
Hal itu membuatku frustasi entah kenapa. Elf memang tidak memakan daging dan kami memang menentangnya, tapi aku merasa kalau manusia tidak bisa memakan daging itu sangatlah salah
Kalau soal tanaman... Aku bisa menumbuhkan mereka dengan mudah
Tapi... Aku tidak mungkin memburu hewan...!
Veskal dan Verdea lagi-lagi harus melakukan hal ini. Tapi, aku tidak akan bisa ikut karena aku tahu aku tidak akan tega melihat para hewan liar yang sedang sekarat karena diburu
Para penduduk juga sudah berkumpul di tempat ini karena pelayan Eleanor sudah memberitahukan pada seluruh kota bahwa kami akan membantu menyelesaikan krisis kota ini
Aku terlihat sedang tengah berpikir panjang sambil memejamkan kedua mata, itu sebabnya nyaris tidak ada suara di sekitarku
Aku pun membuka mataku setelah selesai merancang segala hal
"Baiklah. Kami akan mengatasi masalah pangan kalian terlebih dahulu"
Semua penduduk disana berbisik kepada satu sama lain ketika mendengarkanku
"Aku hanya ingin bertanya, apa ada tanah kosong, luas dan bersih di tempat ini?" Aku bertanya pada mereka
"Jika kamu mencari tanah yang subur, tidak ada lagi tempat semacam itu di luar kota. Seluruh bagian dalam kota juga kebanyakkan dipenuhi bangunan" Seseorang menyahut
Semua orang mengangguk setuju dengan tatapan gugup dan khawatir
"... Jangan bilang tuan ingin menghancurkan sebuah kenang-kenangan terakhir kami dengan sanak famili yang sudah tiada?!" Seseorang menyahut lagi
Mereka bahkan tidak berbisik lagi kepada satu sama lain pada titik ini. Beberapa dari mereka bahkan menyerukan protes karena perkataanku yang dianggap tidak menghargai peninggalan itu
"Hmm.... Kalau begitu aku harus bekerja lebih keras..."
"Apa maksudmu Vai- Maksudku Vin?" Verdea bertanya, menanggapi aku yang mulai tertegun lagi
"Kalau begitu, kita akan pergi ke luar. Carikan aku tempat persawahan atau perkebunan" Aku berkata
"Perkataanmu itu sangat melantur anak muda! Semua tanah di area kota ini sudah tercemar sihir!" Sahut seseorang
"Kamu niat membantu atau tidak?!" Orang yang lainnya mulai menyela kami
Zaphir langsung menghentakkan kakinya satu kali ke tanah, membuat seluruh tempat itu terasa bergetar. Hal itu membuat seluruh penduduk, bahkan Verdea dan Veskal terkaget karena satu hentakkan itu. Suasana langsung hening seketika
"Maaf, tapi akan kuulangi. Bantu aku mencari area persawahan dan perkebunan"
Semua orang jadi melongo mendengarkanku kali ini. Tapi seorang pria pun maju dan setuju untuk menunjukkan kami sebuah area bekas persawahan di sisi barat kota
Situasi pertanahan di tempat ini lebih buruk dari yang kuduga. Memang isi tanah di dalam kota sangatlah buruk sampai rumput pun tidak mau tumbuh, tapi tempat ini bahkan tidak terlihat hidup sama sekali
Tempat ini sama sekali tidak disembuhkan kembali oleh Raja Crux
Daerah lainnya sudah kembali menjadi hijau dan subur berkat para penyihir kerajaan yang bergabung untuk menyembuhkan Vitario
Tapi... Raja biadab itu membiarkan kota ini tetap sengsara tanpa perawatan sedikitpun. Tidak satupun rumput berani tumbuh di area ini, dan aku yakin rumput hijau terdekat bisa sampai puluhan kilometer jauhnya berdasarkan perbatasan antar kota yang kuketahui
"Kami sudah bilang, kota ini sama sekali tidak memiliki tanah yang subur lagi" Seseorang lagi berkata
"..."
Aku hanya diam tidak merespon sambil memperhatikan sekeliling
Kemudian, aku berlutut sebelah kaki dan meletakkan telapak tangan kananku ke tanah
"Veri. Bantu aku" Aku berkata pada Verdea
Dia langsung paham, mendekat kearahku, dan memegang bahuku dengan tangan kanannya
"Mau ikut merapal?" Aku bertanya padanya
"Tidak perlu. Aku juga belum menguasai mantra pemurni bukan?"
Aku tersenyum kecil kearahnya
Di depan setiap penduduk yang meragukan kami, aku mulai merapal mantra pemurni
"Indah seperti bumi. Jernih seperti air. Murnikanlah kembali dan hilangkan apa yang seharusnya tidak ada. Murnikanlah kembali dan berkatilah kami. Purify"
Cahaya bulat berwarna biru yang mirip dengan kunang-kunang mulai berkumpul di dekatku selagi aku memfokuskan Mana dan merapal mantra itu berulang kali
Tapi, aku hanya perlu merapal mantra itu sebanyak 3 kali, dan Mana di tanganku sudah terasa sangat banyak
Kemudian, dengan sebuah tekanan ke tanah, aku mulai membuat Mana itu tersebar, hingga tanah di sekitar mulai kembali menjadi warna kecoklatan secara perlahan. Area yang kembali pulih juga sangatlah luas, walaupun tidak sanggup mencakup seluruh pandangan mata manusia. Area itu juga termasuk bagian
Sebuah bentuk kehidupan juga secara tidak langsung kembali hidup disana. Sebuah bunga kecil yang sebelumnya layu di tanah, kembali hidup dan segar entah bagaimana
Semua orang terkagum dan ternganga melihat apa yang baru saja kami lakukan
__ADS_1
Teman-temanku yang berada di tengah kerumunan itu hanya memandang dengan antusias tanpa terkejut sekalipun, terkecuali Zaphir yang mendecak kesal
Hm... Jaraknya lumayan luas. Mungkin, bisa mencapai satu setengah kilometer persegi. Tapi, area bekas hutan yang bisa kulihat di depan mata itu masih belum pulih
Mana-ku sudah terkuras sebagian besar dan aku jadi sangat letih sekarang. Bahkan dengan kekuatan Verdea saja, aku tidak sanggup untuk menyembuhkan seluruh tanah milik kota ini
Verdea langsung terlihat girang melihat warna merah pekat yang sudah tidak ada lagi di tanah
Anak itu tidak terlihat letih sedikitpun walaupun sudah memakai sihir. Jadi, perkiraanku mengenai Mana-nya yang juga bisa terpengaruh oleh Mana seseorang yang ia bantu adalah salah
Kekuatannya itu bisa sangat membantu untuk jangka panjang, tapi aku masih tidak tahu apa efek sampingnya
Yah, lagipula dia juga yang mengusulkan untuk membantu dan meyakinkanku. Jadi, dia juga harus sedikit bekerja
Aku kemudian menyentil ujung hidungnya setelah dia melihat kesana kemari
"Pekerjaan kita masih belum selesai, jangan senang dulu"
"Aku tahu itu. Tapi apa salahnya merasa senang coba?"
Yah, dia benar juga
Aku mengelus kepalanya kemudian mengajak dia kembali mendekati kerumunan
Orang-orang yang daritadi melihat kami dengan tatapan remeh hanya bisa menganga, bahkan sampai kami sudah mendekat mereka masih menganga
"Permisi, tapi jika kalian mau mulai bercocok tanam silahkan saja. Kalian bisa memastikan sendiri kesuburan tanahnya" Aku berkata pada seorang penduduk pria
"Ah, oh! Begitu kah? Baiklah, akan kami cek"
Dia kemudian menyuruh seseorang lainnya untuk mengecek tanah yang baru kami pulihkan. Orang yang disuruh itu pun perlahan meraup beberapa bagian tanah itu, mencium baunya, kemudian melihatnya dengan baik
"Ya Tuhan. Tanah ini jadi sangat subur... Jika waktu sudah cukup lama, Mana di tanah ini akan berkurang dan pertanian kita..."
Semua orang langsung berbisik dengan nada girang kepada satu sama lain ketika mendengar perkataan pria itu
Semua orang, kecuali...
"Ini... INI MUSTAHIL DILAKUKAN!!" Pria yang sebelumnya kuajak bicara itu berteriak, membuat semua orang memandang kearahnya
Dia kemudian menunjuk kearahku dengan wajah yang terlihat sangat kesal dan dipenuhi amarah. Tapi aku bahkan tidak berkedip sedikitpun agar tidak kalah darinya
"JELASKAN SIAPA DIRIMU!!? TIDAK MUNGKIN ORANG BIASA SEPERTIMU BISA MENYEMBUHKAN TEMPAT YANG TERKUTUK INI SEMUDAH ITU!!"
Aku hanya diam tidak merespon
"KAMU PASTI MELAKUKAN SEBUAH TRIK GELAP UNTUK MELAKUKAN HAL INI!! LAGIPULA, KENAPA ORANG ASING SEPERTI KALIAN INGIN MEMBANTU KOTA SEPERTI INI HAH?!!"
Aku terus mendengarkan teriakannya itu
"Oh ya...!!! Poster milik Oberon yang sedang diburu itu juga digambarkan suka menyamar bukan? Jangan-jangan, kamu ini..." Dia mengakhiri katanya dengan tatapan geram
. . .
Setiap penduduk jadi terdiam. Terdiam, dengan wajah histeris melihat kearahku
Alf tetap berusaha tenang sambil memejamkan matanya di tengah situasi ini
Zaphir siap memanggil senjatanya karena geram
Veskal menarik kerudungnya untuk menutupi kepala
Verdea hanya terdiam kaget melihat wajah orang-orang yang mulai berubah itu
. . .
"Aku benci ini..."
Dengan sebuah helaan napas, aku melepas kalung jimat yang diberikan Luxor kepadaku. Dan dengan waktu seketika, wajahku yang asli mulai terlihat, membuat semua penduduk Andromeda semakin histeris dan mulai melindungi keluarga masing-masing
Aku kemudian perlahan menarik jubahku untuk menutupi kepala seperti biasa, dan mataku yang berwarna jingga itu terasa semakin bersinar karena kesal
"Aku memang Vainzel Alpensia. Oberon dan pemimpin Miralius. Apa kalian puas dengan jawabanku ini?"
"B- Berani-beraninya kamu memasuki tempat ini, dasar makhluk biadab" Pria itu berkata lagi, kali ini dengan badan gemetar
"... Hah... Sudah cukup. Aku ingin pergi saja. Setidaknya tolong hargai usaha kami. Aku tidak meminta lebih"
"Pergi sekarang bukan hal yang tepat Oberon" Zaphir menyela
"... Lalu apa pendapatmu yang benar untuk hal ini?"
"Kita habisi mereka dahulu" Dia menjawab tanpa ragu
"Jangan!!" Verdea sontak berkata sembari menghadang Zaphir dengan membelakangi para penduduk dan melebarkan kedua tangannya
"Menyingkir pangeran. Atau kamu juga akan kumasukkan dalam hitungan mayat"
"Kalau kamu ingin menyakiti Verdea dan penduduk tempat ini, langkahi aku dulu" Aku yang kali ini menyela sambil ikut menghadang Zaphir di depan Verdea. "Sudah cukup dengan pertumpahan darah, Zaphir"
"Tidak Vainzel. Zaphir benar" Veskal ikut berujar, kemudian mulai ikut mengeluarkan belatinya. "Mereka bisa saja membuat kita susah. Ini area musuh kamu tahu?" Dia menambahkan
Cih! Merepotkan
"Apa pendapatmu, Tuan Alf?" Veskal beralih kepada Alf yang masih diam
"... Mari kita dengar pendapatnya saja. Bagaimana, Nyonya Eleanor?"
Selang beberapa waktu setelah Alf berkata begitu, Eleanor keluar diantara kerumunan itu dan langsung menghadap kami semua
"Anda sudah menduga hal ini sejak awal bukan?" Alf berkata lagi
"Aku yang membuat para penduduk di tempat ini waspada, asal kalian tahu saja" Eleanor membalas dengan nada dingin
...
"Kenapa diam? Tidak tahu harus apa sekarang?" Tanya Alf
"Dia mungkin sudah memanggil pasukan kerajaa-"
"Tidak. Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan kerajaan busuk ini lagi, apalagi memberitahukan hal ini" Eleanor memotong Veskal
"Lalu? Apa yang anda akan lakukan terhadap kami?" Alf bertanya lagi
"... Aku mohon kalian ke dalam terlebih dahulu. Aku ingin membahas banyak hal" Eleanor membalas
"Dan bagaimana kami tahu kalau kamu tidak berusaha menghabisi kami secara diam-diam. Kamu memiliki Mana yang besar, dan kamu mungkin saja berniat melakukan sesuatu. Manusia biasanya melakukan trik apapun untuk menjatuhkan bahkan musuh terkuat, walaupun itu dengan cara paling menjijikan" Aku menyela saat dia mulai berbalik kembali ke dalam kota, menghentikan langkahnya
Dia pun kembali menoleh kearah kami dengan wajah yang menunduk sedikit ke bawah
"... Percaya atau tidak percaya, kamu harus mengikutiku. Tapi, aku membutuhkan bantuanmu
Tidak... Seluruh Kota ini membutuhkan bantuanmu" Dia berkata, kemudian kembali melanjutkan langkahnya masuk ke kota
__ADS_1