Book Of Flowers

Book Of Flowers
Taruhan


__ADS_3

--- Kastil Thyme, Kerajaan Hortensia ---


"Vain?"


"Hm?"


Verdea tiba-tiba masuk ke kamarku


Dari gerak-geriknya, aku langsung tahu kalau dia ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan kusetujui


"Katakan saja. Aku menunggu"


Mengubah posisi dudukku, aku menyerahkan titik percakapan ini kepada Verdea


"Aku... Ada usulan untuk besok. Kamu sudah mengirimkan suratnya kepada kakak ke-2 bukan?"


"Sudah"


"Apa kamu memberitahu mereka lebih awal siapa yang akan membicarakan masalah itu?"


"Aku hanya menuliskan kalau kita memiliki sesuatu masalah yang harus diutarakan. Kenapa?"


Aku tidak tahu kearah mana pembicaraan ini berlangsung. Jangan-jangan Verdea ingin...


"... Aku ingin menjadi orang yang mewakili kita membicarakannya besok"


...


Aku benci instingku ini... Kenapa selalu tepat sasaran coba...?


"Tidak. Mereka tidak akan mendengarkanmu karena kamu itu bukan siapa-siapa bagi para pejabat negeri ini, walaupun kamu menyandang gelar pangeran sekalipun. Beda bahasanya denganku yang punya posisi sebagai raja Miralius walaupun sekarang menjadi bawahanmu"


"Tapi kamu tidak akan tahu kalau tidak mencoba bukan? Lagipula, jika kamu yang terus mengambil posisi terdepan untuk mewakili kita, kecurigaan mereka tidak akan menghilang bukan?"


"Masalah ini bukan mengenai reputasiku dan kecurigaan mereka. Kita ingin mengutarakan operasi untuk menyelamatkan Veskal, tidak lebih tidak kurang. Kamu paham?"


"Vain..."


Kuangkat tanganku agar dia berhenti berargumen denganku lagi


Dia tidak bisa menolak perkataanku. Aku tahu aku benar


Dia tidak memiliki daya sekarang di negeri ini. Satu kata darinya, walaupun sebuah pujian termegah sekalipun tetap tidak akan bisa menaikkan posisinya di mata orang-orang itu


Dia mungkin bisa mengambil hati rakyat, tetapi hal itu tidak akan ada gunanya mengingat kalau para pejabat kerajaan lah yang menyandang posisi tertinggi di sistem pemerintahan kerajaan manusia


Percuma saja dia mengatakan apapun jika tidak ada satupun pejabat yang mau mengikutinya. Parahnya lagi, pejabat di negara seperti ini memiliki hierarki tersendiri yang detailnya itu membuatku pusing


Intinya, Verdea tidak akan bisa berbicara di depan mereka nanti. Entah kritik macam apa yang akan diarahkan kepadanya jika hal itu terjadi


"Maaf mengganggu. Tetapi aku tidak sengaja mendengar suara gaduh"


Siapa itu?


Kami berdua refleks mencari asal suara itu. Sebuah genangan air di pojok ruangan tiba-tiba naik ke udara dan membentuk sebuah wujud dengan sangat cepat


Tunggu? Itu Remina? Kenapa dia ada disini?


Verdea bahkan terlihat terkejut dengan kehadiran tidak terduga itu, menatap Remina secara keseluruhan


"... Sihirmu sudah semakin berkembang"


"Maksudnya?"


"Maksudku, kamu masih bisa mempertahankan bajumu sekarang, tidak seperti sebelumnya ketika kamu berubah menjadi air..."


"Abaikan itu. Aku tidak mau ke detailnya"


Mulai mengabaikan Verdea, Remina menoleh kearahku


"Bukannya baik jika dia yang berbicara, yang mulia Oberon? Dia punya posisi pangeran bukan?"


Aku menghela napas. Percakapan ini sepertinya akan terus berputar-putar


"Tidak. Dia itu Pangeran ke-5 dari kerajaan ini. Dia tidak akan punya daya apapun dibandingkan 3 pangeran lainnya yang bahkan salah satunya sudah menjadi raja, terutama di hadapan para bangsawan itu"


Remina terlihat gusar, kemudian menoleh kembali kearah Verdea


"Ini saja batasmu? Aku pikir kamu sudah bertekad melakukan hal itu?"


"... Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, Remina. Vainzel benar. Aku tidak punya daya di tempat ini...


Di tengah aturan kerajaan yang mengekang ini, aku tidak punya kuasa apapun..."


...


"Kamu bodoh ya? Aku pikir otakmu itu cerdas?"


"Jangan mencelaku sekarang! Aku-"

__ADS_1


"Kalau begitu gunakan kepalamu!"


...


"Katakan padanya sekarang juga, kenapa kamu pikir ini ide bagus"


...


Verdea terlihat gugup. Dan karena mereka masih belum keluar, aku hanya menunggu sampai mereka lelah mengutarakan pendapat mereka


"... Aku ingin mewakili kita nanti untuk pembicaraan masalah itu"


"Kembali ke titik awal rupanya..."


Aku sudah menduganya, tetapi karena itulah aku merasa lelah sekarang


Pembicaraan ini akan sangat panjang-


"Jika kamu bilang tidak akan ada yang mendengarkanku, aku ingin bertaruh denganmu sekarang juga"


...


Oh...?


"Bertaruh?"


Itu artinya dia tidak punya kata-kata yang bisa membuatku yakin bukan? 'Bertaruh' adalah kartu terakhirnya untuk meyakinkanku


"Aku memang tidak punya sebuah alasan kuat kenapa ini ide yang bagus. Aku juga hanya mengandalkan keyakinan ku kalau hal ini akan berhasil, tidak lebih


Tetapi aku menolak jika kamu saja yang terus memikul bebannya selagi aku hanya bisa menonton atau menikmati hasilnya"


...


"Biarkan aku yang melakukan hal itu. Untuk sesekali Vainzel, percayalah kepadaku. Aku pasti akan menolong kita semua keluar dari lubang penghinaan ini"


...


"Biar aku luruskan. Kamu memintaku bertaruh dalam sesuatu yang kamu bahkan tidak sepenuhnya yakin akan berhasil? Kamu yakin tidak sedang berbicara sembarangan?"


Verdea tersentak mendengar argumen ku


"Aku meminta keyakinan, bukan sebuah taruhan berat yang hasilnya masih tidak jelas. Kamu tahu betul, jika kita gagal meyakinkan mereka, nyawa Veskal tinggal kita hitung mundur waktunya


Ini bukan masalah sepele, nak. Teman kita sedang membutuhkan kita sekarang"


Kesempatannya sangat tipis baginya untuk bisa membuat para bangsawan menurut


Mengandalkan ayahnya si raja termahsyur Artorius Hortensia? Jangan bercanda


Jika seseorang bisa melihat jelas bagaimana dia gemetar ketika berada di dekat Rosalia, orang itu akan langsung tahu kalau Artorius tidak akan berguna, apalagi memiliki kuasa di kerajaan ini


Kesempatan ini hanya datang satu kali. Jika kami tidak mengenainya tepat sasaran, Veskal tidak akan bisa diselamatkan


Kami harus menyelamatkannya. Tidak boleh ada lagi darah yang berceceran karena sebuah kesalahan dalam langkah kami


"... Kalau begitu Vain. Maafkan aku soal ini..."


...


Kenapa dia bicara seperti itu?


"Aku adalah pangeran di negeri ini, benar?"


"Benar"


"Lalu, apa kedudukan yang mulia Oberon di negeri ini?"


...


"Verdea! Itu bukannya terlalu-?"


...


"Tidak bisa menjawab, yang mulia Oberon dari Miralius, Vainzel Alpensia?"


"... Aku bisa menjawab. Tapi apa tujuanmu membuatku menjawabnya?"


Dia ingin melakukan argumen seperti ini rupanya...


"... Jika kamu saja tidak yakin ada orang yang mau mendengarkanku, yang merupakan seorang pangeran di negeri ini, kenapa kamu bisa yakin kalau akan ada orang yang mendengarkan perkataanmu yang tidak punya kaitan erat dengan negeri ini?"


"... Aku ini raja Miralius. Aku bisa bilang kalau Veskal adalah subyek ku yang harus diselamatkan bagaimanapun caranya. Aku hanya akan melakukan publikasi di hadapan mereka. Mereka juga tidak punya kuasa melawanku jika aku mengambil identitas itu"


...


"Lalu apa tujuanmu datang kemari jika kamu sadar identitasmu sebagai raja kerajaan Miralius? Kenapa kamu harus meminta pendapat para bangsawan Hortensia untuk menyelamatkan subyek kerajaanmu sendiri? Kamu juga biasanya melakukan semua hal sesuai kehendakmu tanpa belenggu dari mereka bukan?"


...

__ADS_1


...


Dia memojokkanku. Entah bagaiamana, tapi anak ini sangat berbakat dalam argumen


Argumennya benar. Aku hanya memandang nilai kekuasaan ku saja, tetapi bukan fungsinya. Aku hanya menggunakan gelarku itu sebagai senjata yang bahkan aku tidak tahu akan berguna atau tidak


Aku pikir aku mungkin bisa menggunakannya untuk membantu Verdea juga, tetapi memikirkan semua hal yang dilontarkan Verdea barusan, dia sangat tepat sasaran dalam mengatasi hal itu


Tidak ada gunanya aku menggunakan gelarku itu di kerajaan lain. Aku tidak punya kuasa disini, selain sebagai bawahan dari dirinya


...


Aku merasa senang dia bisa menyudutkan argumenku. Dia bahkan memperbaiki beberapa lubang yang ada pada hal itu


Dia bertumbuh dengan cepat. Bahkan sifat lancangnya ini membuatku bangga dia sudah berkembang, walaupun dia menyindirku sampai sejauh itu barusan ini


"Baiklah kamu menang. Aku berniat mengincar lebih dari hal ini, tetapi tujuan utamaku tetaplah menyelamatkan Veskal"


Mereka berdua terlihat senang, walaupun Verdea masih terlihat gemetar karena gugup. Aku hanya menghela napas dan mencoba memprediksi apa yang akan terjadi


"A- aku sebenarnya tidak berniat sejauh itu. Tetapi kamu yang minta aku meyakinkanmu bukan?"


"Ya, ya. Tidak perlu gemetar seperti itu. Dan hentikan rengekan mu itu, laki-laki"


"Habisnya--- Ini pertama kalinya aku lancang seperti itu--- Kepadamu. Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu---"


"Sudah, sudah..."


Aku memeluknya yang mulai meneteskan air mata


Remina hanya menunduk dengan senyum di bibirnya, memberi ruang untuk Verdea menenangkan diri


Dia terlalu takut melukai perasaanku sampai-sampai dia menahan napas beberapa kali ketika berbicara tadi. Napasnya yang terengah-engah sekarang menjadi bukti kelakuannya itu


Dasar bayi besar. Normal jika kita harus kasar sedikit dalam sebuah argumen, kamu tahu?


"Aku justru bangga, nak. Kamu sudah punya pendirianmu sendiri. Kamu sudah cukup membuatku terkesan dengan mengusulkan rencana ini, tetapi kamu menambahnya lagi dengan mendirikan pendapatmu melawanku"


Dia anak yang cerdas. Aku bersyukur dia tumbuh seperti itu


...


...


Ew. Lihat hidungnya itu...


"Berikan dia sapu tangan Remina. Lendir di hidungnya mulai berkumpul"


"Jorok. Ambil ini dan bersihkan sendiri, Verdea" Remina berujar, diikuti dengan dirinya yang menuruti perintahku


Aku tertawa kecil meledeknya yang semakin terlihat ingin meringis


Keputusanku sudah bulat. Aku kalah telak. Dia yang akan mendapatkan keinginannya besok


"Keputusanku sudah bulat. Aku akan membiarkanmu bicara nanti"


"Sungguh? Tidak apa bagimu bukan?"


Aku mengalihkan pandanganku sekejap, kemudian memegang kedua pundaknya hingga mata kami berdua menatap satu sama lain secara langsung


"Aku sebenarnya masih belum yakin. Tapi aku sudah kalah, jadi kita ikuti saja taruhanmu itu


Ingat. Bayaran di taruhan ini adalah reputasimu. Aku tidak peduli pada reputasiku sekarang ini karena memang sudah buruk sejak 5 tahun lalu. Tetapi kedudukanmu di kerajaan inilah yang membuat kita datang kemari bukan?


Jangan sampai kita kalah dan terpukul mundur, Verdea. Kita semua akan mengandalkan mu besok. Baik untuk nyawa Veskal, juga untuk masa depan hubungan kaum Elf dan Manusia. Utamakan yang pertama, karena Veskal nanti bakal kesal kalau kamu tidak berniat menyelamatkannya"


Verdea mengangguk sambil tertawa kecil


Verdea kemudian terlihat termenung sejenak, kemudian tersenyum dengan cerahnya kearahku lagi


"... Jangan bebani dirimu lagi, Vain"


...


Hehe... Dia berpikir aku masih seperti itu rupanya...


"Aku tidak berniat membebani diriku lagi. Aku hanya ragu kamu sudah siap atau belum dalam melakukan langkah ke depan"


Aku hanya takut dia jatuh. Aku berpikir aku masih harus melindunginya sedikit lagi, layaknya orang tua yang melindungi bayi mereka


Tetapi, sepertinya tidak perlu lagi. Dia sudah mulai melangkah di dekatku, tanpa perlu dijaga lagi. Tidak baik jika aku terlalu memaksa untuk melindunginya


Dia sungguh sudah siap. Anak kecil yang awalnya kutolong dari dekapan penculik itu kini sudah tumbuh dewasa...


"... Jadi, menurutmu sekarang aku sudah siap?"


Aku perlahan tersenyum menatap matanya, merespon pertanyaan kecilnya yang muncul di tengah sepasang pipi yang lembap. Elusan di kepalanya mulai kulakukan, untuk menenangkan hatinya yang masih kalut


"Lebih siap dari apapun" Aku berkata padanya

__ADS_1


__ADS_2