Book Of Flowers

Book Of Flowers
Menghapus Konsep


__ADS_3

--- Di dalam sebuah kamar ---


Perlahan...


Baiklah, dia sudar berbaring...


...


Dia... Sepenuhnya pingsan di tengah jalan tadi


Tekanan darahnya itu pasti terasa sangat sakit hingga dia tidak sadarkan diri seperti ini. Wajahnya bahkan terlihat sangat pucat seakan tidak setitik pun darahnya mengalir


"Sebaiknya dokter itu datang cepat, Rosalia. Aku bersumpah demi Pohon Agung jika terjadi sesuatu kepada Frank..." Aku berkata, setengah mengancam kearahnya


"Tenang sedikit. Juga, bukannya lebih murah hati bagi kalian jika mau menyiapkan teh untukku? Aku yakin Verdea juga butuh satu cangkir sekarang" Rosalia justru membalas


Verdea di sisi lain, terus berdiri di hadapan ranjang tempat Frank berbaring, tidak sedikitpun terlihat tenang


"Tidak. Aku harus menolak teh itu sampai mengetahui kondisi kakekku dahulu" Dia kemudian menyela diantara kami


"Sudah kubilang dia terkena tekanan darah tinggi. Selama dokter itu tiba hari ini, Frank akan baik-baik saja" Rosalia sekali lagi membalas


Kamu sungguh berkata dia akan baik-baik saja dengan wajah pucat seperti itu??


"... Kamu tidak hanya kemari karena khawatir dengan Frank bukan?" Aku memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan


Tapi semua orang malah beralih sunyi, membuatku sedikit kesal karena tidak satupun penjelasan keluar dari mulut Rosalia


"... Berapa lama dokter itu akan datang kemari, kakak?" Verdea tiba-tiba bertanya, masih memaku tatapannya pada Frank yang terbaring


"Hitung saja 10 detik. Aku sudah memanggilnya barusan"


...


Tunggu, apa?


Dia bicara seakan dokter itu bisa berpindah kesana kemari sesuka hati-


"Halo" Sebuah suara tiba-tiba menyapa dari sudut ruangan


Suara yang familiar, membuat kami semua berkeringat dingin dalam waktu sekejap dari saat suara itu dikeluarkan dari arah belakang kami


...


...


"Verdea. Mundur..."


Seluruh instingku berkata kalau aku sebaiknya menarik keluar senjata suci milikku. Bahkan Luna juga begitu, mulai berdoa untuk menarik keluar panahnya dan perlahan berjalan ke hadapan Veskal untuk melindunginya


Bagaimana tidak? Orang yang berada di hadapan kami, yang muncul entah dari mana dan kenapa, adalah Yael


Dia berdiri tepat di balik bayangan di samping tempat tidur Frank, hingga situasi ini membuatku berkeringat dingin karena khawatir akan keselamatannya yang tidak berada di belakangku seperti Verdea


"Dokter kita sudah tiba. Kenapa wajah kalian berlipat seperti itu?" Rosalia berucap


...


Dokter?


"Kamu bercanda" Luna menyela, mengarahkan senjatanya kepada Rosalia


"Tidak, nyonya Luna. Yael memang dokter pribadi milikku semenjak nama itu kuberikan kepadanya sebagai samaran" Rosalia membalas, sedikit memiringkan kepalanya


Dia kemudian beralih kearah Yael yang masih berdiri di balik bayangan dan tersenyum entah kenapa, menyuruhnya untuk mendekat


Yael pun menuruti perintah itu tanpa satu patah kata yang keluar. Sesekali dia melirik kearah kami yang masih gelisah dengan keberadaannya menggunakan tatapan mengejek


"Suguhkan aku teh, dan pasienmu ada diatas ranjang itu. Aku juga akan bilang kalau dia bukan pasien 'khusus', dengar?"


"Oh... Paham"


Yael kemudian segera memanggil sebuah aura hitam yang muncul entah dari mana, hingga sebuah perlengkapan minum teh lengkap keluar darinya, melayang keatas meja di hadapan Rosalia


Sebuah teh hangat keluar dari tekonya, terlihat dari asap putih yang samar keluar dari cangkir tempatnya dituang. Tidak lama, Rosalia pun menaikkan cangkir itu mendekati wajahnya, menikmati aroma yang dikeluarkan teh itu


"Sepertinya kamu senang sekali menyuguhkan teh herbal kepadaku hm...?" Rosalia berkomentar, setelah berpaling kembali kearah Yael


"Begitulah. Khasiatnya itu bagus untuk menenangkan hati dan pikiran, tuanku" Yael membalas


Oke, pembicaraan ini memang terdengar sangat normal, tapi sebaiknya dia segera masuk ke dalam pekerjaannya


"Jika kamu sungguh datang sebagai dokter, sebaiknya kamu segera tangani pasien yang ada bukan?"


Yael berpaling kearahku yang mulai berbicara, sebelum tersenyum sekali lagi


"Baiklah, baiklah. Sungguh tidak sabaran, raja Elf kecil ini~"


"Raja Elf kecil ini bisa membunuhmu sekarang juga, Yael. Sebaiknya kamu jangan mencoba macam-macam dengan Frank juga"


"Tenang. Karena naga itu masih hidup, aku sama saja kuatnya seperti perapal sihir biasa. Aku akan menjaga keberadaan diriku disaat-saat seperti ini"


Aku benci pria ini. Apalagi setelah dia meledek Seren yang sedang sekarat barusan...


Tawa kecilnya yang terdengar sinis itu keluar, membuatku justru semakin geram kepadanya


"Apalagi setelah mengetahui kalau kalian tidak akan melakukan apapun hanya untuk menjaga wajah kalian, aku bisa tetap leluasa tanpa mengkhawatirkan nyawaku terancam" Dia kemudian meledek lagi


"Cih. Penyihir hitam sialan..."


"Tidak apa Luna. Mereka juga bukan bisa melakukan apapun kepada kita disaat ini


Jadi anggap kita impas, hingga aku membunuhmu nanti" Aku menantang dirinya


"Aku suka kalian~ Ancaman kalian sungguh menggugah hingga aku merasa bergairah"


Dia sekali lagi tertawa kecil sebelum mendekat dan mulai mengecek seluruh tubuh Frank menggunakan beberapa alat yang tiba-tiba muncul dari aura hitam yang dia panggil


Aku tidak yakin dengan hal ini. Apa dia sungguh tahu dia sedang apa ketika menangani Frank...?


Atau dia justru hanya bermain-main untuk meletakkan sesuatu di tubuhnya...?


"Verdea. Kamu yakin ingin membiarkan orang itu menangani Frank?" Aku bertanya, setengah berbisik


"Kita tidak punya pilihan lain. Satu-satunya ahli medis yang kutahu hanyalah Ordelia, yang bahkan bukan dokter resmi" Verdea ikut membalas dengan berbisik


Cih. Dia benar....


Memanggil Ordelia juga akan memakan waktu dan justru akan membuat perhatian para bangsawan yang ada disini tertuju kepadanya. Maksudku, bahkan di kedua acara dansa beberapa hari lalu, semua teman-temanku mendapatkan beberapa pasang mata yang terpaku dengan niat mengawasi dan menilai


Termasuk kepadaku, tapi aku sama sekali tidak akan heran ketika menjadi pusat penghakiman mereka


Yah, setidaknya ruangan sudah mulai terasa santai. Sebaiknya aku menghilangkan senjataku ini saja


Sekarang kami hanya akan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Yael...


"... Aku punya pertanyaan..." Yael tiba-tiba berucap, bahkan tidak lama setelah menelaah keadaan Frank


"Apa?" Verdea merespon dirinya


"... Bagaimana orang ini bisa masih hidup? Aneh sekali...?"


Hah?


"Kamu sungguh mengatakan hal itu?" Rosalia bertanya, yang bahkan ikut penasaran dengan maksud perkataan Yael itu


"Ya. Orang tua ini harusnya sudah mati karena tekanan darah ini. Dan dari dua hal yang kutemui, aku tentu terkesan dia masih bertahan"


"Berhenti memutar perkataanmu dan segera beritahu kami kondisi Frank" Aku menyela


Jari telunjuknya mulai terangkat ke udara menghadap kearahku


"Satu. Ini bukan pertama kalinya dia terkena tekanan darah tinggi seperti ini"


Lalu jari tengahnya ikut naik, sebelum aku sempat menelan ludah


"Dua. Dia sudah lama mengalami penyakit ini. Seluruh pembuluh darahnya sekarang ini sanga~at lemah, hingga aku bisa merasakannya tanpa melakukan cek darah. Jika dia beruntung, dia bisa sembuh. Tapi jika dia tidak ingin hidup lagi, yah... Begitulah~"


...


...


Dia sungguh mengatakan hal itu...?


Beri aku istirahat ya Tuhanku...


Kondisi Frank ternyata cukup parah hah...? Bahkan Verdea saja tidak mengetahui kebenaran hal ini sampai sekarang


Aku terkesan dia bisa menyembunyikan penyakitnya itu dari kami semua...


"Ah, rupanya dia meminum obat secara rutin juga. Wajar saja dia bisa bertahan cukup lama" Yael berkata setelah memeriksa kembali Frank


"O- Obat apa?" Verdea bertanya


"Sepertinya ramuan herbal. Aku bisa melakukan cek darah untuk mengecek apa yang dia masukkan ke tubuhnya sendiri"


...

__ADS_1


Mungkin dia meminta Ivor membelikan dia sesuatu untuk membuat ramuan herbal itu tanpa aku sadari. Lyralia lah yang menangani pengeluaran keuangan kami, jadi aku akan mencari tahu dari sana


"Baiklah, sekarang kita kembali ke intinya, setelah mengetahui kondisi Frank" Rosalia berkata, membuat semua mata beralih kearah dirinya


"Boleh?" Dia pun bertanya, sedikit memiringkan kepalanya


Aku pun sadar kalau tatapannya menuju kearah Verdea, yang perlahan ekspresinya mulai berubah seakan dia paham


Sementara itu, aku terlihat sangat bingung dengan apa yang dimaksudkan kedua sisi yang akan berbicara ini. Apa yang terjadi?


"... Baiklah. Aku tidak masalah jika hanya kerumunan ini saja yang akan mendengarkan" Verdea pun berucap


"Aku setuju. Semakin sedikit semakin baik..."


"Apa yang kalian bicarakan disaat ini?" Aku bertanya


Luna juga ikut bingung, tapi tidak begitu dengan Veskal. Dalam artian, Verdea dan Veskal pasti menghubungi Rosalia tanpa sepengetahuanku sebelum ini


Tidak lama, dugaanku itu pun dikonfirmasi oleh Rosalia yang mengeluarkan sebuah surat dari balik gaunnya, kemudian melambaikan benda itu dari tempat dia duduk


"Verdea menulis pesan kepadaku, dimana hal itu terdengar cukup manis, terutama ketika mengetahui kalau ini adalah surat pertama yang dia tulis" Rosalia berkata, sedikit menghela napas selagi memainkan surat itu di tangannya


"Singkat dan jelasnya... Dia ingin aku bertemu dengannya selagi sempat dalam beberapa hari dekat ini


Tujuan dari hal itu hanya satu. Dia ingin membahas apa yang sudah dia ketahui tentang tujuanku"


Apa?


"Hah?"


"... Maaf aku menyembunyikan hal ini dari kalian, Luna, Vain" Verdea berucap, setengah menunduk


"Aku justru terkejut kamu sudah mengetahuinya!" Aku berkata


Luna bahkan mengangguk mengikutiku


Dia nyaris tertawa melihat wajah terkejut milikku, sebelum kembali fokus diatas topik ini


"Ini hanya dugaan. Tapi bisa kubilang, kalau aku sepenuhnya yakin hal ini akan tepat sasaran" Verdea berkata, membalas Rosalia


Rosalia berhenti meneguk teh miliknya, sebelum mulai terlihat terkesan dan terpaku dengan Verdea, hingga cangkir teh itu dia letakkan tanpa melirik sedikitpun


"Aku senang dengan kepercayaan dirimu. Jadi buat saja singkat" Rosalia berkata, setengah menantang


Verdea terdiam, senyum di wajahnya menghilang. Dia terlihat ingin menanyakan sesuatu yang penting terlebih dahulu, dan kami semua sadar dengan hal itu


"... Aku hanya punya satu pertanyaan sebelum itu kakak" Verdea berkata pelan


"... Apakah itu?"


Dia menarik napas pelan, mencoba meyakinkan dirinya kalau pemikirannya itu tepat. Hingga, sebuah pertanyaan yang membuat hal itu solid pun keluar


"Kamu melakukan semua hal ini, baik ataupun buruk, untuk Marianne ibuku, kakak?"


Kali ini Rosalia yang terdiam. Tidak semua orang bisa menyadari kalau dia tersentak mendengar pertanyaan itu, seakan dirinya baru saja diserang secara verbal


Wajahnya pun perlahan menatap ke bawah, kembali ke cangkirnya yang setengah penuh


"... Tidak. Dia pasti tidak akan setuju jika mengetahui semua hal ini" Jawaban itu pun keluar


...


...


...


Senyum Verdea muncul. Sebuah senyum yang menandakan kalau dia sudah menang. Sebuah senyum penuh kebanggaan yang berkata kalau dia ingin memamerkan diri kepadaku


"Kalau begitu tujuanmu memang bukan untuk balas dendam" Dia bergumam, sebelum senyumnya mulai memudar melukiskan kesedihan


"... Kamu sungguh berharap kalau hal ini akan berhasil. Maksudku...


Menghapus kemanusiaan dari muka bumi"


"Ha-?"


"Apa-?"


"Heh?"


Tunggu, kenapa Veskal juga terkejut?


Bukannya dia sudah tahu semuanya?


Lupakan!


"Menghapus kemanusiaan?? Ide gila macam apa itu??" Aku bertanya setengah berteriak


Apa itu hanya kiasan atau sungguhan?


"Dia ingin menghapus kemanusiaan dengan mencabut faktor itu dari manusia. Apa yang dia ingin bunuh di seluruh dunia ini adalah konsep dari kemanusiaan itu


Bukan begitu, kakak?" Verdea kembali menjelaskan


"Maksudmu dengan membunuh masal seperti itu...?" Veskal bergumam, terlihat tidak percaya sama sekali


Luna bahkan mulai terlihat jijik seakan dia ingin segera ******* Rosalia di tempat


Dan di sisi lain, Rosalia duduk disana, terlihat tenang seperti biasanya. Tetapi wajah Yael sepenuhnya menunjukkan kalau dia itu terkejut, seakan mereka berdua sudah tertangkap basah. Dia bahkan terlihat siap untuk menebas kami satu-persatu, seandainya Rosalia memberikan perintah


Tapi tidak ada perintah yang keluar dari tuannya itu. Justru, hanya ada sebuah konfirmasi


"... Jawabanmu benar"


Satu kalimat


Satu kalimat itu saja membuat kami bertiga terkejut. Bahkan Rosalia sendiri, dalang dari semua kejahatannya itu sudah mengaku di hadapan kami berempat


Senyumnya pun terlihat kembali, selagi dia mulai memasang posisi santai diatas tempat duduknya dan lebih mengarahkan diri untuk menghadap Verdea


"Sepertinya aku terlalu meremehkan persepsimu, adikku Verdea" Rosalia pun berucap


"Kamu sungguh akan mengakuinya...?" Yael bertanya


"Bagaimanapun juga, walaupun aku tidak akan mengaku, mereka akan tetap menanamkan perkataan adikku sebagai garis besar untuk menghambat kita, Yael


Tidak ada bedanya jika aku tetap menyembunyikannya ataupun memberitahu kebenarannya sekarang ini"


Dia tertawa kecil, menggelengkan kepalanya


"Tidak ada yang lucu disini. Niatmu itu sangat busuk, Rosalia Hortensia" Aku berkata karena geram


Menghapus kemanusiaan? Itu hal paling bodoh dan keji yang pernah kudengar


Faktor itu adalah apa yang membuat manusia sebagai manusia. Jika kamu mengambilnya, mereka tidak akan pernah bisa dijuluki sebagai makhluk paling sempurna lagi


Karena itu, mereka akan menjadi lemah. Menjadi lemah artinya akan tertindas. Dan dengan tertindas seperti itu, keadaan manusia justru akan menjadi sangat mengenaskan, bahkan dengan skenario terburuk kalau mereka seluruhnya akan musnah


Kami para Elf terikat oleh banyak peraturan yang akan mengutuk kami ketika melanggarnya. Perasaan terikat itulah yang aku benci dari kaum kami, hingga aku saja menginginkan kebebasan dan memulai dengan mengelilingi setiap penjuru Vitario


Tetapi bahkan aku tetap terkekang oleh sebuah peraturan dalam 20 tahun berkelana itu...


Dan apa yang diinginkan oleh Rosalia adalah membuat peraturan yang mengekang seperti itu. Peraturan yang pastinya tidak semua orang, justru mungkin sebagian besar, tidak akan sukai


...


Tidak-!


Bukan begitu!


Verdea tadi bilang kalau Rosalia ingin 'menghapus' kemanusiaan


Apa yang diincar olehnya adalah sesuatu yang lebih buruk! Dia justru ingin mencabut kemanusiaan itu dari manusia secara keseluruhan, baik dipaksa ataupun tidak!


"Kamu gila Rosalia! Bagaimana bisa kamu memikirkan hal keji seperti itu?!" Aku berteriak kearahnya


"Tutup mulutmu! Kamu tidak berhak menilai perbuatanku, jika kamu tidak tahu apapun tentang dunia ini!" Rosalia membalas dengan nada mengancam


"Aku tahu tentang dunia! Aku tahu kalau banyak sekali orang bodoh di dunia ini yang hanya tahu cara melakukan hal keji!


Tapi pikirkan juga orang-orang yang tidak bersalah! Bagaimana dengan Verdea?? Bagaimana dengan anak-anak kecil?? Bagaimana dengan orang yang sepenuhnya baik??"


Rosalia justru menghela napasnya meresponku, membuatku tersentak dengan reaksinya yang sangat santai itu


"Kamu sudah memberi jawaban dari pertanyaanmu sendiri. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sepenuhnya baik" Dia pun berkata, menjulurkan tangannya kearahku


"Semua manusia selalu berawal dari bayi dan kanak-kanak. Dan setelah melewati kedua masa itu, mereka sudah memiliki pola pikiran sendiri


Kamu pikir orang-orang bodoh yang kamu katakan itu asalnya dari mana, Oberon?"


"Kamu sama sekali tidak paham bukan??"


Ya Tuhan. Pemikiran kami berbeda sangat jauh. Wanita ini sudah sangat fokus kepada tujuan tidak berguna itu hingga otaknya sudah membatu


Aku tidak akan berdebat dengannya. Jika dua pikiran yang berlawanan bertemu, mereka hanya akan mencoba memutar perdebatan itu hingga tidak berujung. Selagi bisa, aku hanya ingin menghindari pembicaraan yang tidak perlu dan mengambil apa yang diperlukan saja


"Juga, bagaimana kamu bisa tahu hal itu terlebih dahulu??" Aku beralih kepada Verdea

__ADS_1


Dia menggaruk kepalanya sebelum menjawab dengan, "Singkatnya, orang di mimpiku sudah cukup membantu"


Ah ya, tentu...


Aku tidak akan terkejut jika seperti itu


Wajah Verdea pun tiba-tiba berubah, hingga senyumnya pun sepenuhnya hilang. Dia terlihat sangat suram dan gusar, hingga kedua musuh kami itu saja bisa menyadari hal itu tanpa bicara sedikitpun


"... Kamu gusar adikku. Seakan aku memberitahukan sesuatu yang tidak kamu perlukan" Rosalia berkata


Aku tahu dia mencoba mencairkan suasana, tapi dia juga secara tidak langsung meledek Verdea..


Kami hening beberapa saat, menunggu Verdea berbicara. Disaat itu juga, Yael sudah bangun dan berdiri di samping Rosalia yang juga ikut menunggu


...


"... Vainzel sudah menceritakan banyak hal kepadaku. Kisah-kisah dongeng dan legenda di seluruh Vitario. Kisah-kisah yang masih melekat di kepalaku, hingga membuatku ingin maju untuk menjadi apa yang teman-temanku butuhkan"


Perkataannya itu pun menaikkan wajah kami semua hingga menatap kearahnya yang terlihat mangut-mangut


"Tapi yang melekat paling kuat disini bukanlah apa yang dia ceritakan hanya melalui dongeng malam saja. Yang paling melekat adalah apa yang sudah aku dan teman-temanku lalui bersamanya...


Melihat sisi dunia yang baru. Bertemu dengan orang-orang baru. Berjalan bersama dengan mereka hingga tujuan. Semua itu tertanam di hati dan pikiranku..."


...


Matanya kosong selagi dia mencoba mengatur apa yang harus dia bicarakan selanjutnya


"... Lalu, aku pun menyadari dari perjalanan kami, kalau setiap orang itu memiliki sisi tersembunyi mereka juga. Baik itu Veskal, Albert, Claudia, Eleanor, Cyth, dan lain sebagainya, mereka memiliki sebuah sisi yang meluluhkan hati


Bahkan orang yang dijelek-jelekkan oleh Vainzel saja memiliki sisi yang membuatku luluh ketika bertemu dengannya secara langsung"


Verdea sudah selesai berucap. Rosalia mencoba mengolah apa yang baru saja dia dengar itu, dengan wajah gusar karena topik ini sudah semakin dalam


"... Kamu tidak bicara tentangku bukan, mengenai kalimat terakhir itu?" Dia bertanya


"Kamu termasuk, tapi ya. Aku tidak bicara tentangmu" Verdea membalas singkat


Senyumnya perlahan kembali terbentuk, selagi sebuah memori terlintas di kepalanya


"Orang itu hanya berkata, jika dia bisa bertemu dengan kakaknya lagi, dia bahkan akan mengorbankan jiwanya jika hal itu bisa memperbaiki kebahagiaan kakaknya..."


...


Dia bicara soal Marcellus. Aku yakin itu


"... Itu sebabnya dia berdoa. Berdoa hingga aku bertemu dengannya karena kerasnya doa yang menarik hatiku itu. Dan dia berkata kalau dia ingin melakukan sesuatu, walaupun itu adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya"


Matanya pun menatap kearah segel yang berada di punggung tangan kanannya. Perlahan dia elus segel itu, dengan sebuah tatapan hangat terarah kearahnya. Sebuah tatapan penuh rasa iba, yang entah dia tujukan kepada siapa dan mengapa


"Aku membuat janji dengannya. Sebuah janji, dan sebuah uluran tangan untuk membantunya. Bayarannya adalah, aku harus melakukan keinginannya itu" Dia sekali lagi berkata


"... Aku tidak paham maksudmu adikku" Rosalia menyela


"Aku tidak akan memberitahunya. Tapi, teman-temanku pasti paham setidaknya setengah dari semua itu"


...


"Jadi kamu sekarang ini dipaksa untuk melakukan sebuah tugas hm...?" Rosalia mencoba menebak


"Begitulah...


Tapi, aku tidak menyesal. Karena jika tidak begitu, aku tidak akan pernah bertemu dengan Vainzel di malam itu..."


Veri...


...


Tangan kanannya pun mengepal selagi dia mengangkat dan menunjukkan gambar segel itu kearah Rosalia


Sebuah tatapan tajam pun terbentuk, selagi dia menusuk kearah itu, menunjukkan keteguhan dirinya kepada 2 orang lawannya itu


2 orang yang akan selalu melintasi jalan yang sama dengan dirinya dan teman-temannya, selalu menghalangi sisi satu sama lain dalam mencapai tujuan masing-masing


Kedua sisi yang tidak akan pernah bisa bersatu, bagaimanapun caranya...


"Aku harus melakukan ini kakak. Seperti yang kamu bilang, ini tugasku! Tugas demi membentuk masa dimana semua teman-temanku bisa hidup dengan damai dan tenang!


Bahkan jika kita harus berakhir seperti Marcellus dan Lazarus, aku akan menghentikan dirimu! Sikap radikalmu itu hanya akan mengancam semua kebahagiaan orang-orang yang kupedulikan di dunia ini!" Deklarasi itu pun keluar dari mulut Verdea


Sebuah deklarasi yang menggetarkan seluruh ruangan itu, hingga masuk ke hati kami semua


Kami bertiga sekali lagi tersentak mendengar perkataan Verdea. Takjub bercampur dengan rasa bingung dan bangga


"Begitukah...?"


Rosalia mulai tertawa, seakan sedang mengejek


Dia tiba-tiba mulai bangun perlahan setelah merasa puas dan mendekat kearah Verdea. Sekarang, mereka sudah berhadapan satu sama lain, satu wajah kepada yang lainnya


Kedua tatapan mereka bertemu, dan mulai beradu untuk menindas satu sama lain


Kedua orang yang berdiri berhadapan itu bukanlah kakak beradik semata. Mereka adalah lawan sehidup semati. Kemenangan sisi yang satunya adalah malapetaka bagi sisi lainnya


"Marcellus dan Lazarus hm? Baiklah, harus kuakui kalau itu perumpamaan yang bagus untuk situasi ini"


"Tapi itu tidak lucu sama sekali. Kamu sebaiknya serius di dalam pertempuran hidup mati ini, kakak"


"... Aku benci matamu. Mengingatkanku pada seseorang saja"


"Orang itu juga sama sekali tidak akan setuju dengan perbuatanmu sekarang ini, seperti yang kamu katakan tadi. Itu sebabnya aku akan menghentikanmu sesuai keinginannya juga"


"... Kamu bicara seakan lebih tahu tentang Marianne dari diriku..."


Keduanya tidak tertindas sama sekali. Salah satunya tersenyum, dan yang lainnya terlihat sangat serius menanggapi lawannya


"Kamu memang saudaraku kakak. Aku sungguh sayang padamu


Tapi cukup tetaplah cukup. Ada sebuah batas yang tidak seharusnya kamu lewati, apalagi ketika hal itu menyangkut masa depan seluruh umat manusia"


"Tapi jika batas itu tidak dilewati, manusia akan tetap menjadi bodoh..."


Rosalia mulai memejamkan matanya. Terlihat sekali rasa pedih yang dia pendam itu mulai meluap. Namun dalam sekejap, dia kembali menekan perasaan di dadanya itu


"... Tantangan diterima. Mari kita lihat apakah kamu sungguh bisa melakukannya atau hanya berbicara belaka"


Tantangan telah disetujui oleh kedua pihak berlawanan


Kedua pihak yang sudah menunjukkan dengan jelas jurang diantara keduanya


Jawabannya yang sama sekali tidak kuduga. Hasil yang keluar tanpa disangka. Membuat kami khawatir dan waspada dengan setiap langkah yang kami akan buat mulai dari sekarang


Apa yang Rosalia inginkan sudah terbongkar secara garis besar. Sekarang, kami hanya perlu mencari cara untuk memagari seluruh garis itu agar rencananya tidak bisa berjalan dan berhenti


...


Masa depan dimana kami bisa hidup dengan tenang dan damai...


Sebenarnya tidak buruk, walaupun tidak akan ada banyak keseruan di dalam hal itu nantinya


Tetapi selama semua temanku ada bersamaku, aku yakin kami akan selalu menemukan cara untuk mewarnai hari-hari itu


Dan demi itu semua, kami akan bertarung di sisi Verdea. Mulai dari saat ini, sekarang juga di detik ini...


Verdea lah yang akan memimpin...


Dia sepenuhnya sudah cukup baik untuk melakukan hal itu. Dia bahkan sudah mulai selangkah lebih maju dariku, di dalam permainan ini


Hormatku jatuh kepadanya. Sepertinya aku memang memilih orang terbaik untuk dilayani


...


Tapi, bohong jika aku berkata pada saat itu aku tidak merasa khawatir akan kehidupan anak ini


Dia mendeklarasikan sesuatu yang besar. Sesuatu yang mungkin membuat dia jatuh terlalu keras, atau justru menaikkan dia keatas awan


Seperti yang dia bilang, akhir dari kedua sisi itu bisa saja seperti Marcellus, atau Lazarus. Kedua akhir itu juga memiliki pro dan kontra, tergantung dari perspektif yang menginginkan


Aku ingin dia bisa seperti itu, sungguh. Tapi kekhawatiranku memuncak disaat dia mengatakan kalimat itu kepada Rosalia. Sama sekali tidak menurun hingga akhir dari perjalanan kami


...


Tapi seharusnya aku tidak merasa khawatir kepadanya saja disaat itu...


Hanya saja, orang itu memang tidak ingin dikhawatirkan. Dan jika aku bilang...


Dialah pahlawan sejati kami. Pahlawan yang membawa Verdea dan kami semua kedalam masa emas kehidupan Vitario


Namun...


Seiring waktu berjalan, aku mampu memahami maksud dari perbuatan orang itu. Perbuatan yang mulia...


...


Sungguh, kisah ini bercerita tentang kepercayaan kami kepada diri sendiri dan teman-teman kami. Tidak ada satupun dari kami yang tidak bisa diandalkan. Justru, kami selalu melebihi ekspektasi satu sama lain...


Mulai di hari itu, kisah ini baru mulai memasuki bagian *******

__ADS_1


Diantara seorang raja Elf, seorang pangeran terabaikan, dan seorang pembunuh yang dimanfaatkan, takdir yang dibawa kepada kami bukanlah suatu yang bisa kami sangka


...\=\=\=\=\=\=\= Arc Hati Mawar tamat \=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_2