Book Of Flowers

Book Of Flowers
Dulu di Hutan Elf (1)


__ADS_3

--- Tahun 114 kalender kebebasan, hutan Elf ---


"Apa? Anakku akan menjadi Oberon?"


"Ya. Sang pohon agung sudah berkehendak"


Memori masa lampau...


Aku masih kecil saat itu. Duduk di dalam kamar yang seadanya, aku mendengarkan pembicaraan ayahku dan salah seorang petinggi Elf dari klan-ku


Oberon...


Sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiranku, posisi itu selalu kosong dan tidak ada yang menempatinya


Pohon agung juga mulai melemah disaat itu, tapi dia tidak memilih satupun Elf untuk menjadi Oberon. Dan pada akhirnya, dia menunjukku langsung untuk menempati kedudukan itu


Aku sebenarnya tidak mau menjadi seorang Oberon. Aku tahu seberapa beratnya tanggung jawab posisi itu, bahkan sejak kecil. Setiap orang yang waras pasti tahu, kalau posisi seorang pemimpin memiliki beban yang besar untuk dipikul


Tetapi, ketika aku bermain sendirian di dekat Pohon Agung waktu itu, aku bisa merasakan langsung dia memanggilku


Pohon Agung mengajakku bicara secara langsung. Aku menyentuh batangnya dan duduk diatas sebuah akar miliknya


Dia menanyai namaku dan kujawab dengan jujur


Dia menanyai aku berasal dari klan apa dan aku jawab lagi dengan jujur


Dia menanyai berbagai hal kepadaku dan semuanya kujawab dengan jujur


Aku hanya duduk di depannya sambil terus menjawab. Mendengar suara yang menenangkan itu, aku langsung takluk dan mengikuti iramanya


Semua Elf dan para petinggi yang menyaksikan hal itu langsung takjub melihatku duduk di akar Pohon Agung sambil bicara dengannya selama beberapa jam


Dan karena itu, seorang anak biasa dari klan Elf bunga yang baru lahir itu diangkat menjadi Oberon


"Diberkatilah kamu, nak" Kata petinggi yang menghampiriku disaat itu


Aku duduk di dalam ruanganku, masih mendengarkan pembicaraan ayahku dan petinggi itu yang masih berlangsung, bahkan setelah berapa lamanya. Aku tidak peduli lagi seberapa lama, karena rasanya pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir


Ibuku kemudian mengetuk pintu kamarku dan masuk. Dia memelukku yang kebingungan seerat mungkin dengan wajah bahagia


"Kamu adalah anak yang diberkati" Dia berkata


Aku masih tidak setuju dengan hal ini. Aku masih ingin tetap bermain disaat itu. Melompat kesana kemari, mengganggu seseorang dan bicara dengan para bunga


Tapi semua hal itu akan sirna karena hal ini. Aku akan mulai mengambil sebuah posisi yang berat untuk kerajaan ini. Posisi yang sebenarnya tidak kuinginkan sama sekali


Petinggi itu dan orang tuaku membawaku untuk langsung berhadapan dengan Pohon Agung secara langsung


Aku hanya memegang tangan ayahku dengan eratnya sembari kami berjalan kesana. Sekali lagi aku harus berhadapan dengan pohon yang ukurannya ribuan kali lipat dariku itu. Pohon yang memilihku menjadi pemimpin para Elf. Pohon Agung yang merupakan wujud dari Elf pertama setelah 'kematiannya'


"Anakku. Kamu datang kembali"


Suara lembut pohon itu menyambutku. Kusentuh batangnya sekali lagi, sama seperti sebelumnya. Tetapi...


Sebuah cahaya biru terang menyilaukan mataku. Aku berusaha menutupnya, tapi cahaya itu sangat terang sehingga menembus bayangan tangan di mataku


Tidak lama, cahaya itu meredup. Kubuka mataku perlahan dan saat aku menyadarinya, aku berada di sebuah hutan yang tidak kukenali sama sekali


Para elf yang berdiri di belakangku daritadi menghilang entah kemana, meninggalkanku sendiri di tempat aneh ini


Aku panik, tapi menyempatkan melihat sekeliling. Sebuah hutan yang tidak sedikitpun ada cahaya matahari. Satu-satunya cahaya yang ada di tempat ini adalah batu berwarna biru yang bersinar, menempel di tembok di sisiku dan langit-langit


Tempat ini lebih mirip seperti gua yang tinggi dan ditempeli oleh akar-akar pohon yang baru kusadari jenisnya. Namun ada beberapa tumbuhan yang tumbuh, sejauh mata memandang


Hanya satu pohon yang memiliki bentuk kayu seperti ini, dan pohon itu adalah Pohon Agung sendiri


Aku berada di dalam Pohon Agung, aku juga tidak tahu disaat itu. Dan saat aku semakin ketakutan dan bertanya-tanya, aku merasakan kehadiran seseorang


Suara gemerincing terdengar dengan jelasnya, ditambah dengan bayangan sebuah sosok yang menempel di lorong yang dipenuhi cahaya biru itu


Dia datang dan semakin mendekat. Dan semakin mendekat. Dan akhirnya, aku bisa melihat sosoknya


Kepakkan sayapnya yang lebar terdengar seperti gemerincing lonceng kecil, badannya yang tinggi namun tidak terlalu besar, dan sepasang baju dan celana yang terbuat dari bunga dengan wajah biasa seperti seorang manusia dengan telinga panjang khas seorang Elf


Dia meletakkan kakinya perlahan di tanah dan kami saling bertukar tatapan


Tatapan yang lembut dengan senyuman yang menenangkan. Sejenak, aku lupa kalau aku hanya sendiri dengan elf yang tidak kukenali itu disini


"Selamat datang, anakku"


Ketika dia mulai berbicara, aku mengenali suara miliknya nyaris seketika. Suara khas yang sangat lembut, layaknya seorang ayah penyayang kepada anaknya yang masih kecil. Sebuah suara yang baru tidak lama ini kudengar


"... Pohon Agung?" Aku mulai berucap


Itulah sosoknya. Sosok dari seorang Elf pertama—Elf yang merupakan ayah dari kaum ini


Dia tertawa pelan mendengar responku yang polos itu. Bahkan suara tawanya membuatku tertegun karena kelembutannya


"Anakku. Kamu boleh memanggilku siapapun. Tapi, aku punya satu nama yang selalu kupegang erat...


Nama itu adalah Alf"


Alf... Itu adalah namanya. Tidak ada yang tidak mengenal nama itu dengan baik, terutama jika orang itu terlahir dari kaum Elf sendiri


Aku bangun dan berdiri menghadapnya yang masih terus tersenyum. Dia mengelus kepalaku dengan lembutnya dan memberiku sebuah sambutan lagi, selagi aku masih terpukau dengan sosok agung yang ada di hadapanku waktu itu


"Selamat datang di rumahku, Vainzel"


......................


Setelah berbicara beberapa saat dengannya, aku memutuskan aku akan memanggilnya 'Ayahanda'. Panggilan itu terasa cocok dengan seorang Elf dengan gelar 'Ayah Para Elf'


Sekarang ini, dia menyuruhku mengikutinya ke tempat tujuan yang tidak dia jelaskan apa dan dimana


"Ayahanda mengundangku kemari untuk bicara?" Tanyaku


"Ya. Lebih tepatnya untuk melihat langsung sosok Oberon di masa ini" Jawabnya


Oberon...


Terlintas kembali di kepalaku mengenai tujuan dari pertemuan yang ditakdirkan ini


"... Kenapa ayahanda memilihku menjadi Oberon?" Aku pun bertanya lagi

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak mau?"


Aku diam sambil terus berjalan mengikutinya entah kemana. Aku tentu tidak bisa menjawab sejujurnya, karena aku tidak ingin mengecewakan sosok agung di hadapanku ini


Melihatku yang bungkam, dia kembali melanjutkan perkataannya


"Aku tidak memilih seorang Oberon secara acak anakku. Ada... 'Sesuatu', yang membuatmu terpilih menjadi seorang Oberon"


"... Lalu, 'Sesuatu' itu apa, Ayahanda?"


"Kamu bisa menyebutnya 'Koneksi' denganku atau semacamnya"


"Misalkan, seperti saat saya bicara dengan ayahanda melalui Pohon Agung?"


"Bisa dibilang begitu. Tapi, aku bisa merasakan ikatannya saat aku menyadari kehadiranmu"


Dia terbang sedikit tinggi dan mengambil sebuah anggur yang tumbuh diatas tempat ini. Anggur itu lepas dengan sangat mudah dari rantingnya, selagi Ayahanda membawa buah itu kembali turun


Perlahan dia kembali ke tanah dan memberikan anggur itu padaku, persis dia letakkan diatas tanganku yang kecil


"Terima kasih" Responku sambil mulai memakan anggur itu satu-persatu


Dia hanya mengangguk pelan dan kembali terbang kearah tempat yang kami tuju, entah dimana


Kuteruskan langkahku mengikutinya sambil terus memakan anggur itu, buah demi buah. Rasanya sangat manis, sehingga aku tidak bisa berhenti memetik bulatan ungu itu dan memasukkannya ke mulutku


"Aku akan memberikanmu sesuatu di tempat tujuan kita nanti"


"Sesuatu?"


"Ya. Kamu akan tahu nanti"


Kami terus berjalan cukup lama. Terus dan terus. Tempat itu mulai terasa tidak berujung bagiku


Dan satu hal lagi yang aneh untukku adalah anggur yang bahkan tidak terlihat berkurang sedikitpun itu


Aku sudah memperhatikan anggur itu dengan seksama. Tapi berapa banyak pun buah yang sudah kumakan atau kupetik dari tangkainya, anggur itu masih terlihat banyak sekali dan tidak berkurang


Perutku bahkan terasa tidak terisi sama sekali. Aku yakin aku menelan banyak sekali buah anggur itu sebelumnya


"Ayahanda. Perasaan saya saja, atau anggur ini tidak berkurang sedikitpun?" Aku pun mengutarakan kebingunganku


Dia menoleh kearahku sedikit dan tersenyum


"Kalau kamu tidak ingin memakannya lagi, kamu boleh menyerahkannya padaku" Dia berkata pelan


Aku hanya terheran-heran dengan perkataannya. Setelah melihat dan berpikir kembali kalau perjalanan ini masih terasa akan sangat panjang, aku hanya diam dan terus makan


Tapi, untuk berjaga-jaga, aku mulai memperhatikan sekeliling


...


Sudah terasa seperti berjam-jam lamanya kami berjalan. Buah itu benar-benar tidak berkurang, sebanyak apapun yang sudah kumakan


Aku berhenti mengikuti Alf karena lelah dengan hal ini. Dia menyadari hal itu dan berbalik menghadapiku


"Kenapa?" Dia bertanya pelan


"... Kita berputar-putar bukan?"


"Aku memperhatikan sekeliling, dan batu-batu di sekitar kita memiliki bentuk dan tempat yang sama daritadi"


"... Tapi, kamu menyadari sesuatu yang berbeda bukan?"


Aku memperhatikan sekeliling sekali lagi. Dan benar saja. Bentuk akar-akarnya sudah mulai terlihat menebal dari sebelumnya dan batu biru bercahaya itu semakin redup cahayanya daripada sebelumnya


"Sekarang? Apa kamu mau menyerahkan anggur itu padaku?" Tanyanya sekali lagi


Tangannya dia sodorkan kepadaku. Dan karena itu, aku yakin dengan satu hal


Aku menyerahkan anggur itu ke tangannya dan dia memegangnya sambil menutup mata


"Kamu menghitung berapa banyak yang kamu makan?"


Dia membuka matanya perlahan sambil terus tersenyum


"Tidak" Balasku sambil menggelengkan kepala


"... Ini adalah sebuah tes untukmu"


...


Aku sudah menduganya. Aku terlalu lambat memikirkan hal ini karena aku menurut padanya sejak tadi


"Lalu, kamu tahu apa fungsinya anakku?"


Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi, hingga senyumnya melebar. Namun, dalam waktu yang bersamaan, sebuah ekspresi sedih terukir di wajahnya


"Ini berfungsi untuk menghitung umurmu menjadi seorang Oberon"


Aku tersentak


Umurku? Itu hanya mengartikan satu hal


"Kamu sudah memakan kurang lebih 500 buah dari anggur ini. Jumlah anggur dalam satu tangkai ini berjumlah 20 sehingga membuat umurmu menjabat sebagai Oberon lebih dari 10000 tahun"


Tubuhku bergetar dipenuhi rasa panik. Mendengar tentang perkiraan akan umurku itu tentu membuatku mencoba untuk menolak kebenaran dari ucapan itu


"Tapi, itu tidak terlalu benar bukan, ayahanda?"


Dia menatapku lembut dengan wajah sedih. Dia sepertinya bisa merasakan kegelisahan yang ada pada diriku mendengar pernyataan itu


"Beginilah caraku meramalkan seorang Oberon anakku. Tidak ada satupun ramalanku yang meleset"


"...!"


Panik, gelisah, dan rasa takut menyergap badanku secara langsung dan bersamaan


10000 tahun adalah waktu yang lama. Tidak ada satupun Oberon dalam sejarah Miralius yang memerintah lebih dari 2000 tahun. Aku tidak bisa membayangkan diriku sanggup menanggung posisi ini selama 2000 tahun, apalagi 10000 tahun


"Apa ini sungguhan...?" Tanyaku


Aku spontan mulai meringis karena memikirkan hal itu. Dia menatapku dan raut wajahnya semakin terlihat sedih

__ADS_1


Dan dari wajahnya pun aku tahu, kalau dirinya juga tidak memiliki kuasa untuk mengubah hal ini


"Maafkan aku anakku. Ramalan sebuah takdir tidak bisa kuubah sama sekali" Dia pun mengkonfirmasi


Aku semakin meringis. Bunga di kepalaku mulai terlihat layu perlahan-lahan, mengikuti kesedihanku itu. Menunjukkan kepadanya kalau aku hanyalah seorang anak kecil yang disodorkan sebuah beban berat oleh takdir. Seseorang yang tidak ingin, namun tidak juga dapat menghindar


Dia tentu merasa iba. Tapi sekali lagi, dia tidak memiliki kuasa untuk melakukan apapun dalam hal itu


"... Tenanglah anakku. Lihat, kita sudah tiba di tempat tujuan" Alf mencoba meyakinkan diriku—satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk saat itu


Dia perlahan menggendongku yang masih sedikit meringis dan membawaku ke ujung tempat ini hanya dengan sebuah lambaian tangan


Sebuah pintu yang dibuat dari kayu terlihat dibalik kegelapan. Dia membukanya perlahan dan terlihatlah sebuah ruangan yang sangat luas


Ruangan itu terlihat nyaris kosong, diisi oleh beberapa hiasan yang terlihat berharga dan berkilau. Tapi, hal yang menangkap mataku adalah sebuah cermin berbentuk meja bundar yang sangat besar di tengah ruangan


Cahaya putih yang menyilaukan terpancar dari cermin itu, walaupun tidak ada cahaya yang menyentuhnya dari atas ruangan ini selain dari setiap batu-batu bercahaya biru itu


"Ini dia!" Seru Alf sambil mempersembahkan cermin besar itu kepadaku


Aku melihat sedikit ke arah cermin itu sehingga tubuhku menyender ke depan


Langit. Ada langit di dalam cermin itu, lengkap dengan awan dan burung-burung yang terbang berkelompok. Tapi, suasananya terlihat seperti aku sedang berada di dalam hutan yang lebat. Seakan aku adalah tanah yang dipijak dan melihat keatas


Alf kemudian kembali bicara


"Cermin ini akan meramalkan semua hal besar yang akan terjadi dalam hidupmu"


Aku menoleh kearah Alf, kemudian kembali memandangi cermin itu. Aku berusaha fokus kepada cermin itu dan memperhatikannya. Sebuah cermin yang menunjukkan sebuah daun yang tertiup dibawa angin yang cukup kencang


Cermin itu terus fokus kepadanya, seakan daun itu merupakan tokoh utama dari cerita di dalam cermin itu


Langit di belakangnya tiba-tiba perlahan berubah menjadi malam dan terlihat bergerak mengikuti pergerakan daun itu. Aku tersentak, utamanya karena cahaya di cermin itu juga terasa menghilang seakan hari sedang malam


Seolah-olah seperti mengikuti irama daun itu, bintang-bintang di langit bersinar dengan warna yang berbeda-beda. Namun, mereka secara bergilir menghilang ketika daun itu melewati tempat mereka. Tidak peduli besar kecil dan redup terang bintang itu, mereka semua menghilang ketika daun itu melewati mereka


Tapi, semua bintang itu dilewati dengan cepat oleh daun itu dan digantikan dengan bintang yang lainnya. Terus begitu sehingga bintang terakhir yang dilewatinya redup dan menghilang dari cermin. Dan jumlah dari para bintang yang dilewatinya itu ada 9


Daun itu akhirnya terjatuh ke tanah, setelah lama terbang tanpa tujuan di dalam kegelapan malam yang kelam. Dan saat dia mulai menjadi kuning, cermin itu memperlihatkan semua bintang yang ada di langit tadi, kembali bersinar dengan terangnya


Lalu, diantara semua bintang yang sudah bersinar diatasnya sebuah bintang yang tidak terlihat sebelumnya, muncul dengan mencolok, melebihi bintang yang lainnya


Sebuah bintang berwarna emas yang menangkap mata


Sebuah bintang yang bisa dilihat jelas dengan mata telanjang


...


"Kamu sudah menyaksikannya?"


Aku mengangguk pelan selagi masih penasaran dengan arti cerita itu


"Daun itu adalah dirimu, anakku"


Aku mengangguk pelan sekali lagi


Saat melihat hal itu, hatiku terasa... perih.


Aku tidak tahu kenapa, Tapi rasanya perih. Hatiku sakit melihat hal itu entah kenapa


Seakan aku paham makna dari ramalan itu, tetapi tidak bisa menggambarkannya seperti apa. Sebuah perasaan yang membuat rasa frustasi memuncak


Alf hanya tersenyum sambil menatapku dengan tenangnya. Melihat apa yang kami lihat barusan, entah bagaimana membuatnya tersenyum. Tapi dia tidak berucap apapun lagi mengenai hal itu...


"Aku akan biarkan kamu memikirkan artinya sendiri"


--- Dia meninggalkan tugas itu kepadaku


Dia meletakkan diriku di tanah dan mengelus kepalaku. Kutatap wajahnya ketika dia mundur beberapa langkah dariku


"Tunggu, Ayahanda"


"Tidak apa-apa, Vainzel kecil. Sudah waktumu untuk kembali. Dan ingatlah satu hal, aku akan selalu membimbingmu, selama Pohon itu masih hidup"


Sebuah senyum lagi-lagi tersirat di wajahnya. Dia berjalan mundur semakin jauh dariku. Aku ingin menghalaunya, tapi sebuah cahaya biru sekali lagi menyilaukan mataku


Aku melihat sosoknya untuk yang terakhir kali. Bibirnya yang masih tersenyum mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sempat kudengar sebelum pergi kembali ke hutan para elf


"Jangan lupa katakan sampai jumpa lain kali"


......................


Aku terbangun kembali dalam posisi berdiri di depan Pohon Agung dengan tanganku yang masih terulur menyentuhnya. Spontan kulipat kembali lenganku itu, terkejut selagi bertanya-tanya mengenai kenyataan dari apa yang baru saja kualami


Aku melihat sekeliling dan menyadari aku sudah kembali dengan suasana yang terlihat sudah mulai malam. Semua orang disana menyambutku yang sudah mulai bergerak lagi dengan senangnya


Mereka mengatakan kalau aku sudah berdiri disini berjam-jam, diam begitu saja. Rupanya, laju waktu di dalam rumah Alf sama dengan laju waktu di tempat ini


Seorang petinggi menanyakan apa yang terjadi selama aku 'pergi'


Aku menjawab pertanyaan itu hanya dengan sebuah senyuman dan mengatakan kalau aku lelah. Semua orang hanya berdiri diam, dan orang tuaku kemudian membawaku kembali pulang ke rumahku, setelah semua petinggi yang ada memberi permohonan


Sejujurnya, walaupun mereka tidak memohon sekalipun, orang tuaku tetap akan membawaku kembali ke rumah. Mereka paham kapan aku merasa lelah dan tidak. Mereka lah yang paling paham


...


Aku terbaring di kasurku sambil terus memikirkan kedatanganku di rumah Alf tadi


10000 tahun...


Aku tersenyum kecil ketika memikirkan angka itu sekali lagi


'Setidaknya, jika aku memang hidup selama itu, aku mungkin akan mengisinya dengan hal berharga', Pikirku


Dan perkataan terakhir Alf masih terngiang-ngiang di kepalaku


"Jangan lupa ucapkan selamat tinggal lain kali..."


...


Selamat tinggal...


Lain kali...

__ADS_1


Tapi, siapa...? Apa aku akan menemui Alf di rumahnya secara langsung lagi?


Di tengah-tengah pikiranku itu, aku mulai merasakan kantuk. Perlahan tapi pasti, aku pun tertidur lelap dan mengakhiri hari itu


__ADS_2