
--- Malam hari, Miralius ---
...
'Semua hal akan kupercayakan kepadamu, Veskal...'
Betapa dia berharap, kalimat itu datang dari kedua temannya...
Tetapi naas. Orang yang mempercayai dirinya adalah sesama pengkhianat yang memiliki pemikiran mereka tersendiri. Dan apa yang Frank katakan mengenai tujuannya melakukan semua itu masih terngiang di kepala Veskal
Selagi dia terbaring diatas kasur dalam kamarnya itu, dia hanya bisa mengingat semua hal yang terjadi selama 24 jam ini
"Aku tidak yakin melakukan itu akan membuat Verdea senang sama sekali..."
Tapi dia tidak menolak, kalau itu akan sangat membantu mereka semua di masa depan. Dia bisa melihat gambaran yang dilihat oleh Frank, dan dia patut mencoba untuk mengikuti jalur yang pemikirannya sama dengan dirinya itu
Gambaran yang sempurna...
Itulah yang dirasakan Veskal, ketika dia mendengarkan tujuan Frank demi kami semua
...
...
...
"Masuklah. Aku tahu kamu berada di depan pintu, siapapun itu" dia tiba-tiba berucap
Kalimatnya entah bagaimana mengundang reaksi terkejut dari orang yang dia maksudkan itu. Dan dengan ragu, orang itu pun mengetuk pintu terlebih dahulu, sehingga Veskal yang sedari tadi berbaring tenang mulai menghela napas
Dia pun bangun duduk di sisi kasur dengan rasa terpaksa untuk menyambut tamu yang datang, dan alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang tidak dia duga itu
Natasha masuk ke kamarnya dengan pakaian yang belum diganti sama sekali sejak pagi tadi. Satu-satunya orang yang Veskal ingin hindari selama seharian penuh
Tetapi karena dia tidak punya apapun yang dia perlu lakukan di hari ini selain tidur, dia pun menerima kehadiran Natasha dan menggeser badannya sedikit ke sisi kaki kasur—agar Natasha bisa duduk di sampingnya
Wanita muda itu terlihat sedikit ragu, namun sama sekali tidak berhenti bergerak hingga dia terduduk di samping Veskal dalam kesunyian
"Aku tidak bisa menawarkan cemilan apapun untukmu. Verdea memakan semuanya hari ini tanpa sepengetahuan Vainzel" dia berkata, menggaruk kepalanya dengan risih
"Tidak perlu. Aku juga datang kemari karena aku ingin melihat wajahmu saja" Natasha meyakinkan
"... Hanya itu saja?"
"... Sejujurnya... Ya"
...
Dia ingin mengusir Natasha keluar, tetapi tidak tega juga karena mendengar kalau dia sudah mencari dirinya seharian setelah eksekusi itu dilakukan. Jadi dia hanya mengusap wajahnya dengan pasrah, selagi Natasha terlihat risau kalau dia sudah mengganggu Veskal dengan hadir tanpa undangan
"Kamu sama sekali tidak berubah, Tasya... Sama sekali tidak..." Veskal pun berkata
Natasha pun hanya tertunduk mendengarkan itu. Dia paham dengan apa yang Veskal maksudkan, karena dia memang sungguh tidak berubah
Veskal juga tidak berubah dengan mengeluh seperti itu...
...
Natasha jadi senang mengetahui hal itu...
"Aku jadi ingat ketika aku selalu mengikuti setiap langkahmu dulu. Seperti anak bebek kepada induknya" dia berkata. "Tapi kamu biasanya mengusirku dulu"
"Aku hanya melakukan itu pada bulan pertama kita berteman. Seharusnya kamu tahu kalau aku sudah terlalu terbiasa dengan tingkahmu sekarang ini" Veskal berkata, sekaligus berdecak
Natasha spontan tertawa mendengar itu
"Bahkan caramu mendecak sama sekali tidak berubah!" dia berseru di tengah tawanya
Veskal diam tersenyum mendengar tawa itu, selagi terus melirik kearah Natasha
Tawanya pun terhenti secara perlahan-lahan. Keheningan kemudian datang, selagi keduanya tersenyum dengan kepala tertunduk, mencoba mencari pembicaraan lain untuk bisa mengisi waktu
...
"Um... Apakah kamu mau berjalan-jalan bersamaku?" Natasha pun menawarkan
Veskal menoleh untuk menanggapinya. Akan tetapi...
"Ini sudah hampir jam malam. Aku khawatir kalau kita akan kembali melewati jam itu nanti" Veskal membalasnya
"Tinggal berapa lama lagi hingga jam malam?"
"Hingga bulan bisa dilihat sepenuhnya dari jendela kami"
"Hm... Sudah hampir..."
Sudah setengah dari bulan sudah terlihat dari jendela Veskal, membuat Natasha sedikit kecewa. Hal itu dengan jelas menyatakan kalau mereka tidak punya terlalu banyak waktu untuk menghabiskan malam berkeliling
"... Tapi kita masih bisa kembali dengan cepat" Natasha tiba-tiba bicara lagi
Veskal pun paham kalau temannya itu ingin sekali keluar, dan itu pun membuatnya menggerutu. Dia masih tidak yakin, apakah keluar sekarang ini tidak akan memberinya sebuah sanksi
Dan bahkan jika dia memang terkena hukuman dariku, dia tidak yakin apakah itu akan menyusahkan atau tidak
__ADS_1
...
"Ah, apapun itu" Veskal menggaruk kepalanya
Dia tidak peduli lagi dengan masalah apa yang akan terjadi. Ada sesuatu yang harus dia lakukan
"Yang penting tidak terlalu jauh bukan?" dia berkata lagi
Natasha pun langsung terlihat senang. Terutama ketika Veskal mulai mengulurkan tangan mengajaknya pergi keluar melalui jendela. Dengan senang hati tangan itu dia terima, dan dengan bergegas keduanya berlari keluar, menghilang di kegelapan malam
......................
...
"Veskal"
Mereka sudah berjalan cukup lama dari titik awal, tetapi keduanya belum bicara terlalu banyak selama itu
"Aku ingin tahu, kehidupanmu di Hortensia selama ini seperti apa?" dia pun bertanya, membuka perbincangan kecil mereka
"Ada manis dan pahitnya. Jika kamu bertanya mengenai kehidupanku di Hortensia, aku hanya akan memberimu cerita di waktu aku berada dalam naungan Verdea dan Vainzel..." Veskal dengan santai menjawab
"Aku pikir kamu dijual ke gereja di saat itu? Atau aku salah dengar?"
"Aku memang dijual ke pihak gereja mereka sebagai bayangan milik Rosalia. Tapi, para uskup di negara itu tidak memiliki daya dibandingkan keluarga kerajaan. Pada akhirnya, nasibku sepenuhnya ada di tangan Rosalia, sebelum jatuh ke tangan mereka berdua"
Natasha mengangguk paham
"Bahkan kesan pertamaku dengan mereka berdua itu sama sekali tidak baik! Sejauh itu kamu tahu bukan?"
"Aku tahu"
"Kalau begitu, aku akan lanjutkan dari sana"
Veskal terdiam sejenak. Senyum lebar yang sebelumnya ada di wajahnya itu memudar, berganti dengan kesan kehangatan. Satu memori di hari yang sama dia sepenuhnya berada di pihak kami mulai tersirat kembali
"Di hari pertama itu, Vainzel bicara denganku setelah aku dan Verdea bertengkar. Aku masih ingat ketika aku naik keatas atap untuk menjauhkan diri, tapi Elf sialan itu tidak mau meninggalkanku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya menangis di hadapannya..."
"... Kenapa?"
"... Karena dia paham betapa beratnya beban yang kuangkat di saat itu"
Veskal mulai menatapi tangannya sendiri
"Dia bilang kalau aku sudah berusaha keras, selagi mengelus kepalaku. Dan disaat selanjutnya yang aku tahu, itu membuatku merasa ringan, selagi hatiku berkata 'Ah, akhirnya ada yang paham...' kepada diriku sendiri
Aku turun setelah Luna dan Ordelia memastikan aku baik-baik saja. Dan yang tidak kusangka disaat aku kembali ke ruangan utama kastil Thyme adalah, kalau Verdea akan meminta maaf kepadaku. Dia terlihat enggan, tapi dia tetap meminta maaf..."
Lalu dia menjelaskan apa yang dia dengar dariku di malam setelahnya. Bagaimana kehidupan Verdea sebelum kami berdua datang. Bagaimana sikap keluarganya kepadanya. Bagaimana dia bisa merasakan apa yang Verdea rasakan
Ketiga orang dari sisi dunia yang berbeda, dan mampu merasakan apa yang dirasakan satu sama lain
"Aku juga tidak tahu apakah mereka akan membuang diriku seperti yang dilakukan Rosalia. Aku takut, walaupun sudah mempersiapkan diri untuk melepas mereka. Tapi bahkan sampai sekarang, mereka sama sekali tidak menyerah kepadaku
Ketika aku diculik oleh Xiang dan disekap, aku semakin percaya kepada mereka disaat aku melihat wajah Vainzel dan Verdea di dalam penjara itu. Hatiku senang, dan aku tidak butuh apapun lagi melebihi hal itu"
...
Tapi dia langsung menunduk. Dan pada akhirnya...
Senyum itu memudar sepenuhnya. Bersamaan dengan itu juga, cahaya di mata Veskal padam...
"... Tapi aku harus membuat mereka melepaskan diriku sekarang..."
Natasha tersentak mendengar Veskal. Dan ketika dia menoleh setelah tertegun beberapa saat, dia menyadari ekspresi macam apa yang tersirat di wajah temannya itu
Redup tanpa kilauan rasa hangat. Layaknya sebuah cangkang tak berisi
"... Kamu melakukan sesuatu di belakang mereka..." Natasha pun mengambil kesimpulan
Veskal tidak mengkonfirmasi ataupun menolak hal itu dengan cara apapun. Jawaban itu sendiri adalah sebuah konfirmasi untuk pertanyaan Natasha
"Kamu perlu... Melakukan hal itu?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya mendapat gambaran saja, dan aku berpikir untuk berteduh sebelum hujan" Veskal pun menjawab
Semata-mata hanyalah sebuah gambaran. Tetapi jika berpikir realistis, dia bisa paham...
Kami sama sekali tidak punya kesempatan untuk menang melawan Rosalia. Bahkan jika ramalan utusan Orion itu berlaku untuk Verdea
"Aku tahu Rosalia sebaik aku mengetahui telapak tanganku. Wanita itu selalu memiliki alat yang dia sembunyikan di seluruh penjuru dunia ini. Yang aku tidak ketahui hanyalah, bagaimana dia bisa mendapatkan alat-alat itu
Bahkan jika kita tidak bertemu di hari itu, Tasya, aku yakin kalian berempat akan habis di tangannya dibandingkan di tangan kami"
"... Seberapa yakin?"
"Sepenuhnya yakin"
Jawaban itu keluar tanpa ragu sedikitpun
"Kamu tidak paham satu hal. Dia membiarkan kalian hidup selama ini hanya karena dia masih menganggap kalian berguna. Kalian adalah orang yang membantunya melakukan Blood Sabbath bukan?" Veskal pun bertanya
"Memang benar. Tapi, dia tidak memenuhi kontrak diantara kedua pihak, dan kami mau tidak mau harus memburunya"
__ADS_1
"Dia bisa menghabisi kalian disaat itu juga. Dia punya lebih dari cukup kekuatan untuk melakukan itu, walaupun tidak secara pribadi"
Natasha lagi-lagi tersentak. "Apa yang kamu bicarakan...?" dia bertanya
Veskal menundukkan kepalanya. Langkah keduanya pun terhenti, selagi atmosfir yang menekan itu sama sekali tidak meringankan tenggorokan keduanya. Bahkan ketika sebuah angin sejuk melintas
"Dia sudah memikirkan segala hal, Natasha. Tapi ada satu anomali yang sama sekali tidak dia sangka akan muncul. Dan orang itu adalah Vainzel
Disaat Vainzel keluar dan berkelana selama 20 tahun ke seluruh penjuru Vitario hingga ketibaannya di Hortensia, orang itu sudah mengacaukan seluruh rencananya, sehingga dia mulai merancang sesuatu yang lebih... berani"
Jadi itulah alasannya...
"Kerajaan Elf adalah satu-satunya ancaman baginya, dan dia ingin pihak kalian untuk menekan ancaman itu sebaik mungkin"
...
Terbelalak tidak percaya. Itulah yang dilakukan oleh Natasha disaat itu. Tetapi dia tidak perlu mempertanyakan Veskal lagi
Selama dia pergi bersama teman lamanya ini, semua hal sudah menjadi jelas
"Tapi, menekan seperti apa...?"
"Dia ingin memastikan kami memiliki harapan palsu di setiap kemenangan yang datang. Dan ketika para pemuja iblis sudah kalah nanti... Aku bisa bertaruh sejuta emas dan nyawaku sendiri, kalau dia akan melancarkan rencana akhirnya"
"Dan itulah alasan kamu melakukan sesuatu di belakang mereka..."
"Untuk memberi sebuah harapan. Seandainya Verdea dan Vainzel bisa melihat isi pikiran Rosalia, aku tidak perlu melakukan apapun sama sekali, mengikuti tempo mereka dari belakang semata"
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahukan hal ini kepada mereka berdua?"
"Bahkan jika mereka tahu sekalipun, Rosalia tetap akan berhasil"
Veskal tidak salah. Natasha paham betul dengan bobot dari setiap kalimatnya itu
Veskal tiba-tiba tertawa kecil...
"Itu sebabnya aku bersyukur mereka tidak waspada kepada niat Rosalia...! Setidaknya kami akhirnya bisa memiliki harapan untuk menang...!"
Dia tersenyum lebar, seakan itu adalah suatu hal yang baik. Natasha bergetar karena khawatir, dan rasa ingin tahunya semakin membesar. Hingga...
Dia mengutarakan sebuah pertanyaan yang dia takuti jawabannya...
"Apa yang kamu lakukan di belakang keduanya...?"
...
...
...
Veskal tidak menjawab. Sunyi yang ada diantara keduanya diganti dengan deru angin yang lewat semata, melambaikan rambut keduanya di udara...
Mata Veskal sekarang itu menusuk hati Natasha. Dengan jelas, mata itu berkata, 'Jawaban itu harus kamu cari sendiri'
Natasha merasa gusar. Tapi dia tahu kalau dia tidak berhak gusar. Karena, setelah semua pengampunan yang kami berikan kepadanya...
Dia tetaplah orang yang tidak bisa kami percaya...
...
"Dan... Jam malam pun telah tiba"
Veskal tidak ingin basa-basi lagi. Maka dengan itu, dia segera mengambil tangan Natasha yang terdiam, kemudian menggandeng wanita muda itu kembali
Natasha berjalan dengan tertunduk, bungkam dengan rasa pedih dari kesadarannya terhadap situasi itu sendiri...
...
"... Kamu tidak akan bisa membantu walaupun kamu mau, Tasya..."
"... Aku paham"
"... Dan sejujurnya, Tasya...
Aku ingin kamu berada jauh dari masalah kami. Perkara ini jauh lebih besar dari apa yang kamu pikirkan. Aku tidak ingin menempatkan dirimu di dalam sebuah bahaya yang berada diluar kendali"
"... Aku paham"
"Bagus..."
...
Percakapan mereka berakhir disana. Keduanya bahkan tidak menatap mata satu sama lain selama perjalanan kembali yang tenang itu. Tangan mereka memang bergandeng, tetapi keduanya tidak bisa merasakan satu sama lain. Hanya dinginnya malam menyentuh kulit mereka
Batas diantara keduanya semakin melebar dari yang ada sebelumnya. Dan Natasha merasa sakit, menyadari itu
Tapi bagaimanapun juga...
Dia sudah kehilangan Veskal jauh sebelum hari itu tiba...
...
"Tapi, jika aku berkenan, Veskal...
__ADS_1
Aku akan membantumu sedikit"