
--- Malam Hari, Kastil Thyme ---
"Hm? Masih belum tidur?"
Veskal masuk dengan ekspresi terkejut karena melihat Verdea yang masih bangun di ranjangnya
"Vain dimana?" Tanya Verdea
"Masih sibuk membantu para Fae. Aku saja yang akan menemani mu tidur kali ini" Veskal membalas
Veskal menghela napas lelah setelah duduk di pinggir kasur Verdea
"... Kamu terlihat lelah"
"Itu karena aku bertemu dengan Tuan Putri lagi..."
Ketika melihat Veskal, Verdea menyadari kalau bukan dia saja yang merasa lelah karena hal itu
Dia jadi penasaran, apa aku juga lelah karena hal itu. Dan jika aku lelah, kenapa aku terus bekerja keras?
"... Veskal"
"Ya Veri?"
Veskal sering memanggilnya dengan nama panggilan itu sekarang, dan hal itu membuat hati Verdea senang
Verdea kemudian terlihat sedang memikirkan sesuatu. Veskal hanya mengabaikannya dan menunggu Verdea tidur sambil melihat ke atap
"Bagaimana kalau kita cari Vainzel?" Verdea berkata tiba-tiba
Veskal menoleh kearah Verdea dengan wajah kaget
"Hah!? Dia akan membunuhku kalau dia tahu kamu belum tidur!" Veskal protes
Tapi mengabaikan perkataannya itu, Verdea turun dari kasurnya
"Bilang saja aku yang mau pergi. Ayo"
Dia yang masih memakai piyama itu langsung berlari keluar dari kamarnya
Veskal tidak bisa menghentikannya lagi. Karena hal itu, dia hanya menghela napas dan pergi menyusul Verdea dari belakang
"Tunggu aku" Veskal berkata
Verdea meneruskan larinya sambil berhati-hati dengan sekitar dan berusaha tidak membangunkan yang lain
...
--- Hutan kecil di dekat kastil Thyme ---
Angin malam yang sejuk bertiup sepoi-sepoi. Jangkrik mulai menyanyikan melodi di sekitar kami. Dan tidak lupa, Kunang-kunang yang beterbangan di dekatku ini
Aku masih sibuk membuatkan para Fae beberapa rumah untuk mereka tinggali. Tapi di tengah-tengah kesibukkan milikku itu, para Fae berkumpul di dekatku dengan wajah khawatir
"Kamu boleh pergi tidur Tuan Vainzel. Kami mengkhawatirkan kesehatanmu" Para Fae membujukku
Mereka bilang begitu, tapi kesehatan mereka sendiri bagaimana. Baru beberapa saja rumah layak yang sudah terbentuk, dan masih banyak Fae yang belum memiliki rumah
Aku tidak mungkin membiarkan mereka tidur di tanah. Aku yang mengundang mereka, jadi aku harus bertanggungjawab dengan kenyamanan mereka
Belum lagi kalau mengingat aku itu raja mereka. Raja macam apa yang membiarkan subjeknya begitu saja coba?
"Lanjutkan saja pekerjaan kita. Aku juga tidak akan bisa tidur kalau belum menyelesaikan ini"
Mengabaikan para peri yang terlihat khawatir, aku melanjutkan membentuk rumah pohon kecil mereka
Aku membentuk rumah pohon dari sulur-sulur tanganku. Dan setelah terbentuk sepenuhnya, aku memutuskan sulur itu dari pergelangan tanganku
Memang sakit, tapi dibandingkan dengan melubangi batang pohon atau membuat rumah pohon dari kayu, cara ini lebih cepat dan efisien
"Ini nyaris larut tuanku. Kamu pasti sudah lelah, terutama karena perjalanan tadi" Salah satu dari mereka berkata
"Kalian sendiri tidak lelah?" Aku membalas sambil terus fokus dengan pekerjaanku
Mereka semua langsung diam mendengar perkataanku. Karena yakin mereka tidak bisa membujukku lagi, mereka hanya ikut membantuku kembali
Mereka membantu agar sulurku bisa membentuk dengan benar sambil menyarankan bentuk apa yang harus kubuat
Lalu...
"Vain!"
...
Aku langsung memutar kepalaku ketika mendengar suara Verdea itu
Ketika melihatnya dan Veskal yang masih bangun, mataku berkedut
__ADS_1
Aku yakin kalau aku meminta Veskal untuk menidurkan Verdea, bukannya mengajak dia bangun
"Kenapa kamu menggunakan tanganmu begitu?" Tanya Verdea yang melihatku bekerja
"Kenapa kamu belum tidur?" Aku bertanya balik
Verdea langsung membuang wajahnya karena tidak mau menjawab
"Rumah yang ini sepertinya sudah cukup Tuan Vainzel"
Seorang Fae keluar dari pintu rumah yang sedang kubuat itu. Dan karena mendengar perkataannya, aku memutuskan sulur itu dari tanganku dan menyudahi membentuknya
Melihat hal itu, Veskal dan Verdea menjerit panik
"Tanganmu!" Verdea berkata panik
Anak-anak ini...
"Kalian lupa?"
Tanganku kembali tumbuh dengan cepatnya dalam hitungan detik
"Aku bisa regenerasi dengan cepat" Aku melanjutkan
"Tapi kenapa kamu harus memotong tangan-"
Veskal menghentikan perkataannya sementara ketika dia melihat bahan bangunan pembentuk rumah para Fae itu
...
"Kamu sudah memutuskan tanganmu berkali-kali!?" Veskal bertanya dengan nada keras
Verdea yang mendengar hal itu langsung kaget setengah mati
Aku menatap mereka berdua dengan wajah bingung dan heran
"... Lalu....?" Aku bertanya dengan nada pelan
Veskal kemudian terlihat sedang mengambil napas sedalam mungkin
"ITU TANGANMU BODOH! MEMANGNYA TIDAK SAKIT APA!?" Veskal berteriak dengan nada kesal
"Pelan sedikit kenapa?" Aku membalas, setengah berbisik
"Veskal benar. Kenapa kamu menggunakan tanganmu saja untuk membuat rumah mereka?" Verdea menyela, mengikuti nadaku yang pelan
"Karena cara ini cepat. Kalian pergi tidur sana!" Aku membalas dengan nada tegas
Kenapa Veskal malah ikut-ikutan?
"Tidur!"
"Tidak!"
"Kalian harus tidur. Jika kalian lelah saat pagi nanti, jangan salahkan aku"
"Katakan itu pada dirimu sendiri"
Grrr...! Anak-anak ini...!
"Lupakan. Kalian duduk saja yang tenang disini kalau begitu"
"Tidak!"
"LALU KALIAN MAU APA!?"
Aku lebih merasa lelah bicara dengan anak-anak ini ketimbang membantu para Fae membuat rumah mereka
"Biarkan kami membantu" Verdea mengusulkan
"Kalian tidak akan membantu..."
Aku perlahan melilit tanganku seerat mungkin di sebuah pohon dan mulai membuat fondasi rumah yang baru
"Ayolah...!"
Verdea meletakkan tangan kanannya di pahaku
Dan saat aku berpaling, mencoba bernegosiasi dengannya lagi...
Krak!
"Awas-!"
Aku langsung memutuskan tanganku, dan tepat sebelum pohon itu berhasil menimpa kami, aku berhasil membawa Verdea dan Veskal untuk menghindari pohon itu
Kami terduduk di tanah dan batuk-batuk karena debu yang bertebaran dimana-mana
__ADS_1
Saat aku melihatnya, seluruh bagian atas dari pohon yang kulilit itu jatuh di tempat kami berdiri barusan. Pohon yang cukup besar untuk membunuh mereka berdua dalam waktu seketika
...
Apa-apaan tadi itu. Saat aku menggenggam erat pohon itu, aku sudah memastikan kalau aku tidak akan mematahkannya
Apa karena aku tidak fokus? Tapi, aku tidak sekuat itu sampai-sampai bisa mematahkannya dengan mudah dan cepat
"Kalian tidak apa-apa?"
Mereka berdua mengangguk pelan dan terlihat bingung, sama sepertiku
...
Tidak. Itu bukan kekuatanku. Rasanya hal itu seolah-olah kekuatanku, tapi bukan?
Seolah-olah kekuatanku...
Aku melirik kearah segel di tangan kanan Verdea
Serangkaian kejanggalan aneh yang terjadi sejak kami di Miralius mulai kukaitkan dengan segel ini
Simbol itu berada di tangan kanannya. Dia menyentuhku dengan tangan kanannya tadi. Dia juga merapal sihir sekuat itu dengan tangan kanannya...
...
"Verdea. Coba rapal sihir api dengan tangan kirimu" Aku memerintahkan
"H- hah? Kenapa sekarang?"
"Lakukan saja"
Aku jadi penasaran dengan hal ini
Kami bertiga bangun, kemudian diikuti oleh Verdea yang fokus merapal dengan tangan kirinya yang terangkat
"Fireball"
Bola api terbentuk di tangan kirinya. Tapi...
Ukurannya hanya sebesar lilin api, dan terasa seperti lilin api
"Sekarang gunakan tangan kananmu"
"T- tunggu"
Dia memadamkan api di tangan kirinya dan mulai merapal mantra sambil mengangkat tangan kanannya
"Fireball"
Bola api terbentuk di tangannya. Ukurannya tidak jauh berbeda dari bola api di tangan kirinya tadi. Namun, ketika aku mencoba menyentuhnya...
Pssh!!
Ujung tanganku terbakar hangus seketika dan apinya mulai menjalar. Aku langsung mengibas tanganku itu untuk memadamkan apinya
Veskal dan Verdea terlihat panik dan gelisah melihatku. Tapi, aku menenangkan mereka ketika ujung tanganku itu sudah sembuh kembali
"Lalu, apa tujuan hal ini?" Tanya Veskal, selagi Verdea memadamkan api di tangan kanannya
"... Dugaanku benar"
Mereka berdua langsung melihat kearah satu sama lain dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan
Para Fae juga ikut khawatir dan mengerumuni kami
Aku kemudian memegang tangan kanan Verdea dan menunjukkan segel itu pada mereka
"Sihir di dalam segel ini membuat sesuatu menjadi lebih kuat dari yang terlihat"
Mereka tersentak mendengar hal itu. Tapi, wajah mereka kemudian terlihat takjub dan kagum
"Jadi, tangan kananku ini jadi bisa memperkuat seseorang?"
"Pendapatku begitu. Tapi aku tidak yakin cuma itu saja kemampuannya, jadi jangan gunakan kekuatan itu sembarangan terlebih dahulu"
Verdea langsung memegangi tangan kanannya sendiri
"Baiklah. Aku janji" Dia berkata
Hal ini menakutkan. Dan fakta kalau Verdea yang memiliki kekuatan itu membuatku semakin merinding. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya yang memiliki kekuatan itu
Harus ada sesuatu yang aku lakukan di dalam hal ini
"Verdea"
"Ya?"
__ADS_1
Dia menatap mataku dengan wajah yang terlihat gelisah. Pegangan tangannya mengerat di jubahku selagi dia menunggu perkataanku
"... Pergilah tidur dan panggil Marcellus ke mimpimu. Lalu-"