
"Ah, akhirnya aku bisa bertindak leluasa disini"
Rosalia berjalan kearah kami dengan wajah sinis. Perlahan tapi pasti, seakan sedang meremehkan kami
Secara refleks, aku menyuruh Luna dan Veskal untuk bersiaga dan menjaga Verdea darinya, bersama denganku juga
Kami mundur beberapa langkah dari Rosalia. Tapi rupanya, Rosalia justru mengarah ke Yuriel yang ikut memasang wajah sinis
"Menikmati pestanya, Oberon?" Tanya Rosalia
Aku melihat ke seluruh ruangan dan menyadari kalau hanya aku, Veskal, Luna dan Verdea saja yang masih bergerak selain mereka berdua
Semua orang disana diam dengan mulut menganga dan mata kosong, seakan mereka di hipnotis oleh sesuatu
Dan tepat saat kekhawatiran ku memuncak, Yael muncul di dekat mereka berdua, setelah aura hitam yang membawanya tidak lama ini sudah menghilang
"Kamu...!" Aku berkata dengan geramnya
"Hey, hey~ Tenang dulu. Nikmati saja pestanya" Yael menjawab dengan nada santai
"Kalian berkomplot!?" Aku meneriakkan
"Tepat sekali" Rosalia menjawab tanpa penyesalan
"Oh ya. Aku harap si Vampir itu sudah melakukan apa yang kita suruh" Sela Yuriel
Apa yang mereka suruh? Vampir? Apa yang dia maksudkan itu Darwin?!
Darwin sedang melakukan sesuatu, dan aku rasa itu bukan hal yang menyenangkan sama sekali
"Apa yang kalian lakukan!?" Tanya Luna yang sudah siap menembakkan anak panahnya
"Tenang dulu, nona. Kami hanya akan melakukan sesuatu yang meriah" Yuriel membalas
"Apa maksudmu?"
Tepat saat Luna bertanya lagi, langit tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Entah apa yang terjadi, tapi langit berubah menjadi merah...
Kami semua terbelalak melihat hal yang mendadak terjadi itu. Hal yang tidak mungkin terjadi tanpa buatan sebuah tangan itu
Hal yang paling keji, yang pernah direkam oleh sejarah
"Kamu-!"
"Kalian tidak mungkin-!"
"Yap. Blood Sabbath!" Yuriel memotong perkataanku dan Luna
Makhluk-makhluk menjijikan-!!
Apa mereka tahu kalau melakukan Blood Sabbath adalah perbuatan paling tidak manusiawi di dunia!? Apa mereka punya akal sehat??
Red Sabbath atau Blood Sabbath, atau yang biasa dikenal dengan Hari Berdarah, adalah serangan sihir yang memiliki ukuran skala dunia. Sihir ini digunakan untuk melenyapkan makhluk di seluruh Vitario
Seorang penyihir hitam pernah melakukannya dulu. Marcellus dan Lazarus harus bekerjasama untuk menghentikannya, namun hal itu hanya memperkecil efeknya saja
Penyihir itu membunuh banyak sekali orang untuk menembakkan sihir ini satu kali, dan darah mereka semua dijadikan pengisi Mana untuk mengaktifkannya. Dan ketika Mana yang terkumpul sudah sangat banyak, dia melepaskan sihir itu ke dunia, tapi terbunuh oleh Lazarus dan efeknya diperkecil oleh Marcellus
Banyak sekali korban yang jatuh walaupun efeknya sudah diperkecil, baik itu sebelum maupun sesudah Blood Sabbath. Orang-orang sinting ini tahu dengan akibat dari perbuatan ini, tapi hal itu sama sekali tidak menghentikan mereka dalam melakukannya
Satu-satunya tempat aman untuk menghindari serangan itu sekarang ini adalah Miralius, karena tempat itu adalah sihir ruang yang tidak seharusnya menjadi bagian dunia, dan ada Seren yang melindungi bagian luarnya
Tapi, kami sangat jauh dari Miralius sekarang ini. Aku tidak yakin-
"ARGH!"
Aku tiba-tiba merasakan rasa sakit yang hebat di jantungku
"Vain! Ada apa!?" Luna bertanya
...
...
Tidak-
Tidak mungkin-
Tidak!
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN POHON AGUNG!?" Aku berteriak kearah Rosalia sambil terus menahan sakitnya
Verdea, Veskal dan Luna langsung tersentak karena teriakan ku itu
"Ah... Hanya mencungkilnya sedikit demi sedikit. Itu artinya Walter sudah ada disana bukan?"
Sial. Mereka juga ada disana!?
Aku bisa merasakan rasa sakit Pohon Agung karena aku memiliki koneksi langsung dengannya. Jika pohon itu mati, aku memang tidak akan ikut mati. Tapi, Pohon itu terlalu penting untuk kami para Elf. Jika terjadi sesuatu padanya, hanya aku yang bisa menyembuhkannya
Luna langsung geram dan menembakkan anak panah yang bisa dia tembakkan, tapi semua anak panah itu ditangkis oleh Yael dengan mudahnya
Veskal dan Luna langsung melesat dan mencoba menyerang mereka, tapi sekali lagi Yael menangkis mereka
"Harap tenang, pestanya masih berlanjut" Yael berkata sinis
...
Jadi itu alasan kenapa kami disuruh datang kemari. Itu semata-mata mereka lakukan hanya untuk menghambat kami. Lalu, siapa target mereka sekarang ini? Aku atau Verdea?
"Kamu mungkin bertanya siapa target kami, dan jawabannya adalah kalian semua"
Kami berempat tersentak. Yael tiba-tiba melesat kearah kami selagi dua sekutunya melihat dari belakang
Dan tepat saat dia hampir mencelakai kami, atap kastil itu tiba-tiba roboh menimpanya
"VAINZEL! KITA HARUS LARI!"
__ADS_1
Semua teman-temanku yang lain bersama para Fae datang menembus dari atap kastil dan menimpa Yael
Tanpa pikir panjang, aku mengikat Veskal, Verdea dan Luna untuk menjaga mereka
Lalu, mataku tertuju kearah Artorius
...
Aku langsung meraih Artorius juga dan melesat terbang bersama teman-temanku, pergi dari kastil itu
...
"Ah... Kita tidak bisa menghambat mereka..." Yael berkata dengan nada lemas
"Tidak apa-apa. Walter dan para kru nya sudah menangani Miralius"
Rosalia kemudian tertawa sinis
"Mereka tidak akan bisa kemana-mana setelah itu. Lagipula, perbatasan Goeitias sudah sepenuhnya dijaga oleh para Vampir sekarang ini"
Tawanya itu semakin keras. Sementara itu, Yuriel dan Yael hanya tersenyum sinis sambil mendengarkan tawanya
......................
"Vain! Kenapa kamu membawa orang itu juga!?" Tanya Ivor
"Dia masih hidup!" Aku menjawab
Aku juga berpikir dia sudah mati tadi. Seharusnya dia mati, tapi ternyata tubuhnya cukup kuat menahan racun itu
Aku bahkan merasakan denyutnya yang perlahan menjadi normal. Tapi darimana dia-
...
Minuman itulah penyebab dia keracunan rupanya...
Dan Rosalia lah orang yang menyerahkan gelas itu padanya tadi
Rosalia memang berencana membunuh Artorius sejak awal. Dan itu artinya, dia mengincar takhta Hortensia
Lalu, untuk memastikan kalau tidak ada yang akan menghambatnya saat berada di takhta, dia mencoba menyingkirkan kami. Itu karena kami yang paling tahu kedok busuknya itu
Tapi... Itu artinya dia juga akan membunuh keluarganya yang lain
Sial. Harusnya aku juga menyelamatkan mereka
Rencana mereka sudah terlalu rapi. Tapi, aku tetap harus mencari celah
Kami terus terbang, bahkan keluar dari istana
Verdea meratapi Kastil Thyme dari atas, sembari kami perlahan meninggalkan area istana
"Kita harus ke kota Calendula terlebih dahulu" Aku berkata
"Kenapa!?" Tanya Luna
Verdea menoleh kearahku. Dia tiba-tiba menangis, entah karena ketakutan atau semacamnya
Aku harus cepat. Sihir ini akan dimulai tidak lama lagi. Mungkin satu jam, terlihat dari Mana yang masih berusaha mengumpul di satu titik di langit
Mana yang terlihat seperti awan hitam di langit Semerah darah. Awan hitam yang menutupi matahari secara keseluruhan itu membuatku ketakutan
Aku hanya mendengar seberapa menyeramkannya Blood Sabbath, dan ketika melihatnya secara langsung, aku sudah paham betul dengan rasa takut yang dibuat oleh sihir ini
"Kita harus cepat!"
"Ya!"
......................
--- Kota Calendula ---
"Tuan Frank!"
"Kamu! Cucuku!"
Kami semua turun di lapangan kota Calendula. Frank dan Verdea langsung berpelukkan, diikuti dengan tangisan mereka
"Kita harus cepat pergi sekarang!" Aku berkata
Frank menoleh kearahku, kemudian menoleh kearah Artorius yang masih terkapar lemas
"Kenapa dia-"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Kita harus pergi dahulu"
Aku berniat segera mengikat Frank juga dengan sulurku...
Tiba-tiba saja, sebuah sosok hitam menghantam tanah, tidak jauh dari kami dan membuat semua penduduk disana kaget
Seorang Vampir dengan wajah kelaparan melihat kesana kemari. Seluruh Lapangan kota pun dipenuhi oleh suara teriakkan penduduknya melihat sosok makhluk yang bukan manusia itu
Vampir itu kemudian melesat kearah seorang penduduk, tapi aku dengan cepatnya menusuknya ke tembok. Kemudian, jantungnya juga ikut kutusuk dengan tangan lain dan dia mati seketika
Tapi, semua orang masih berteriak. Beberapa bahkan mencoba mengamankan keluarga masing-masing
Dan aku berdiri disana sembari menatap tubuh Vampir itu
...
...
Ah...
"Vain...?" Verdea mendekat kearahku perlahan
Tapi, dia kaget ketika melihat mataku yang meneteskan air mata dengan deras
__ADS_1
...
Aku sadar akan sesuatu. Aku tidak bisa menyeberang dengan mudahnya ke Goeitias. Para Vampir dan Monster pasti sudah berjaga ketat disana untuk menghambat ku
Dan karena tidak ada matahari, para Vampir sedang berada dalam fase terkuat mereka
Aku...
Aku tidak mungkin membahayakan Verdea, Veskal dan Frank
Pasti ada tempat lainnya di dunia ini selain Miralius. Tempat yang sudah pasti aman untuk mereka
...
Aku tidak suka ini... Air mataku semakin menetes dengan sangat deras karena hal ini...
...
Tidak tahu usaha apalagi yang bisa kupikirkan, aku pun berlutut di depan Verdea dan melepaskan kalung di leherku
Verdea ikut meneteskan air mata karena merasakan ada sesuatu yang terjadi
Aku kemudian menunjukkan kalung yang baru saja kukenakan itu, kemudian mengulurkan tangannya kearahku
Aku kemudian meletakkannya di telapak tangan Verdea, memejamkan mataku, dan berkata, "Kemarilah, Paman Zero"
Dalam sekejap, jimat itu bercahaya dan mengeluarkan sebuah bola cahaya. Bola cahaya itu kemudian mendarat di tanah di samping kami, dan terlihatlah Paman Zero dari bola cahaya itu
"Apa yang terjadi sekarang ini Vainzel!?" Tanya Paman Zero
Tapi, aku tetap menatap ke Verdea sambil terus menangis. Menatap ke matanya yang juga ikut berair itu
"Ini Paman Zero. Dia akan membimbingmu kemanapun kamu pergi. Gunakan kalung ini untuk memanggilnya, dan kamu-"
"Vain-"
"--- Akan selalu aman dibawah bimbingannya. Aku yakin itu-"
"Vain-!"
"--- Kamu pasti akan tetap aman. Aku yakin"
Aku harap dia paham.... Dia harus paham...
Semua tempat di permukaan dunia sudah sangat berbahaya sekarang ini... Aku... Tidak bisa membawanya bersamaku selagi terjun dalam bahaya itu...
Dia harus pergi ke kota para Dwarf... Tepat di bawah tanah... Dimana sihir hitam itu ataupun para vampir bisa mengejarnya...
"Vain! Aku tidak mau!"
Dia mencoba menyodorkan kembali kalung itu, tapi aku tetap menahan kalung itu di tangannya
Aku mencoba menahan tangisku sebisa mungkin, tapi aku tidak bisa. Karena tidak ingin membuang waktu, aku menoleh kearah Paman Zero yang terlihat kebingungan
"Aku--- Titip dia, paman-- Aku mohon- Jaga dia-!" Aku berkata dengan terisak-isak
Paman Zer tidak tahu harus apa lagi. Dan karena situasi yang membingungkan itu, dia pun hanya mengangguk kepadaku
Verdea kemudian memelukku dan berusaha menahan ku, tapi usahanya itu sia-sia. Selagi aku berjalan ke teman-temanku, pegangannya terlepas, dan dia terjatuh ke tanah. Veskal langsung datang menolongnya
"Luna-- Maafkan aku, tapi-"
"Ya, aku paham. Aku akan menjaganya. Aku--- Akan menjaga mereka semua"
"... Terima kasih-- Terima kasih--!"
Aku memeluk Luna, di tengah semua orang yang ikut meneteskan air mata
Verdea kembali bangun. Dia berusaha meraihku lagi, tapi ditahan oleh Veskal dan Frank yang ikut menangis
Air matanya bercucuran ke tanah dengan derasnya, dan dia terus meneriakkan namaku
Tapi, seakan mengucapkan salam perpisahan, aku tersenyum kearahnya di tengah-tengah air mataku, dan berkata
"Ingat. Kita akan selalu berteman, seberapa jauh pun jarak kita. Aku akan selalu menyayangimu, dimanapun kamu berada. Jika kamu merasa sedih, panggil saja namaku
Sampai jumpa-- Kita akan bertemu kembali--"
Kita melihat langit yang sama. Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkanmu sendiri
Tapi, aku tidak bisa melindungimu sekarang. Aku tidak akan cukup kuat membawamu masuk ke dalam bahaya
Maafkan aku Verdea. Jangan goyah dan tetaplah maju. Tunggu aku...
Tangan kami terlepas dari pegangan satu sama lain, untuk yang pertama kalinya. Dan kami sama sekali tidak tahu berapa lama kami akan bertemu dengan satu sama lain kembali
Kemudian, aku terbang dengan cepat, meninggalkan dirinya yang ingin mengatakan sesuatu. Dia pun meneriakkan namaku dengan kerasnya dan membuat hatiku goyah. Tapi, aku tahu ini yang terbaik. Dia harus tetap maju
Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padanya, tidak juga ingin mendengar ucapan selamat tinggal darinya
Aku hanya ingin dia selalu aman. Dan suatu hari aku yakin, sangat yakin, kalau aku akan bisa bertemu dengannya lagi
Pertempuran ini akan usai, dan kami semua akan kembali seperti semula
"... Kamu yakin ingin melakukan ini?" Tanya Ordelia
Aku hanya mengangguk sambil mengusap air mataku, kemudian berdoa di dalam hatiku. Berdoa sekuat tenagaku
Apapun itu. Siapapun itu. Aku mohon
Jaga anak itu
Tolong...
Apapun itu--- Siapapun itu--- Aku Mohon--
Tolong jaga anak itu... Jangan biarkan dia mati...
__ADS_1
Kami berpisah jalan hanya untuk sementara. Aku harap hanya sementara. Aku mohon-- Hanya sementara...