
--- Keesokan harinya ---
Hari keempat perjalanan kami
"Kalian sudah mau pergi?" Tanya Frank, menatapi kami semua yang sudah siap beranjak di depan gerbang kota
Verdea mengangguk pelan. Sebenarnya dia sendiri jadi enggan untuk melanjutkan perjalanan ini, mungkin karena ingin menemani kakeknya. Poin yang adil jika aku bilang, mengingat betapa sendirinya kakeknya ini di dalam kota Calendula
"Hm... Sayang sekali. Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan cucuku"
...
"Ada perjalanan yang harus kami selesaikan, tuan Frank. Maaf mengecewakanmu"
Dan maaf karena aku harus mengecewakanmu juga, Veri. Tapi kamu sendiri tahu, bagaimanapun juga kamu tidak akan bisa tinggal selamanya di sisi Frank. Dunianya dan duniamu sangatlah berbeda, hingga area kerajaan bukanlah rumah baginya
Akan mudah berkata kalau kamu bisa kabur dari kehidupan istana. Tapi itu tidak menjamin kalau kamu tidak akan diburu oleh mereka. Bagaimanapun, seseorang yang sudah dinamakan sebagai anggota kerajaan tetaplah penting bagi keluarga itu
Frank paham itu. Verdea juga. Hati kami pilu tentu, tapi tidak ada yang bisa kami lakukan melebihi sampai jumpa sekarang ini
Frank hanya tersenyum kepada kami. Kepalanya tertunduk lagi, mencoba menutupi kesedihannya selagi dia mulai membalikkan badan untuk pergi.
Tetapi sebelum dia berbalik pergi, "Kakek", Verdea memanggilnya
Frank pun berhenti melangkah. Badannya berbalik kembali kearah kami dan menunggu Verdea yang ingin mengatakan sesuatu padanya
Kedua orang itu saling fokus menatap kearah satu sama lain. Mata keduanya masih dipenuhi harapan kalau suatu hari mereka bisa berada di sisi satu sama lain. Tetapi untuk sekarang, perpisahan sementara ini akan dilakukan
Jadi...
"Tolong jaga Ibu" Verdea pun menyampaikan
Frank diam, kemudian tersenyum. Senyumnya kemudian berubah menjadi tawa kecil. Tawa yang dia keluarkan diluar dugaanku, sehingga aku spontan tersenyum bersama Verdea ketika melihatnya senang
"Tenang saja cucuku. Dia memang ibumu, tapi dia anakku. Tidak ada orang yang tahu cara merawat dirinya lebih baik daripada aku" Dia berkata dengan percaya diri kemudian
Verdea tersenyum mendengar perkataan kakeknya. Dan sebelum kami akhirnya berpisah, sampai jumpa yang disampaikan kali ini terasa lebih pantas
Dia naik keatas gendonganku. Tangannya mulai melambai kepada kakeknya yang membalas hal itu, selagi kami mulai berjalan menjauh ke timur untuk melanjutkan perjalanan ini
"Sampai jumpa! Aku akan berkunjung lagi!" Dia menyerukan, dimana kakeknya hanya membalas dengan lambaian tangan balik itu
Kuelus kepalanya karena merasa bangga dia mulai bisa berucap kepada kakaknya. Dengan senang dia tersenyum kearahku selagi tangannya turun, dan dia semakin melebarkan senyum itu
Aah...
Siapa yang bisa membenci anak ini... Senyuman itu sendiri sudah cukup membuat hati semua orang luluh...
Aku akan menjagamu, Veri. Tenang saja. Kami semua akan menjagamu
......................
"Hah~! Penginapan manusia itu sangat nyaman ditinggali~" Lyralia berkata dengan nada nyaman
"Aku jadi ingin memiliki rumah di pemukiman manusia. Kebanyakan dari mereka sangat ramah..." Ordelia kemudian menambahkan apa yang sudah dikatakan Lyralia
Perjalanan kami sudah cukup jauh sekarang sehingga kota Calendula sudah tidak terlihat lagi di belakang. Yang ada hanyalah hamparan salju putih dan beberapa hutan yang tidak lagi hijau ataupun berdaun. Semuanya mulai terlihat kosong lagi, namun itu tidak mampu untuk membuat kami gusar
Justru, rasanya nyaman bisa berjalan kembali. Setiap langkah yang kami ambil rasanya sangat menyegarkan setelah beberapa waktu selang istirahat. Mungkin karena aku juga lelah setelah kemarin...
Veskal juga masih diam. Dia masih belum mau bicara
"Rasanya, bertualang tidak buruk juga. Aku jadi paham kenapa kamu ingin melakukan hal ini. Hutan Miralius terasa menyesakkan dibandingkan dunia luar, walaupun kita hanya berjalan di Padang salju tidak berwarna sejak tadi" Ivor kemudian berkomentar
"Dan pendapatmu mengenai manusia?" Aku bertanya kepadanya
Dia pun hanya mengangkat bahu. "Mereka tidak buruk, kurasa" Kalimatnya pun dia keluarkan
"Beberapa sesungguhnya sangat menyenangkan diajak bicara. Tidak seperti dugaan awalku" Luxor juga menambahkan
Luna hanya mengangguk setuju di dalam diam, membuat Luxor senang mengetahui dia juga sepemikiran
"Kenapa kalian berpikir kalau semua manusia itu akan bersifat buruk?" Veskal pun bertanya, dengan nada ketus
"Sejarah" Ivor pun membalas. "Kamu tidak akan paham, karena kamu masih bocah!" Dia kemudian memasang wajah tidak acuh seperti preman kepada Veskal
"Hah!? Kenapa kamu mengataiku bocah coba!?"
"Karena kamu memang bocah! Kami jauh lebih tua darimu!"
Aku dan Verdea menutup telinga kami masing-masing saat mereka mulai berisik seperti anjing yang menggonggong. Entah kenapa Ivor sekarang ini suka sekali mencari musuh, terutama kepada Verdea dan Veskal. Mungkin karena dia masih belum bisa mengakui kalau manusia itu bisa membuatnya nyaman
Dan kasihan Luna yang selalu mengontrol semua orang disini. Dia memang begitu setiap harinya saat kami berangkat. Hanya dengan satu tatapan darinya, Ivor dan Veskal langsung tunduk diam—melanjutkan langkah mereka sana
Maaf Luna. Aku tahu kamu kesusahan, tapi aku juga tidak tahan dengan tingkah mereka. Bertahanlah
*Plok*
Luxor tiba-tiba menepuk pundakku untuk mengambil perhatianku. Spontan aku berpaling heran, selagi Verdea yang berada di gendonganku juga mengikuti
"Lalu, kita akan kemana sekarang?" Dia kemudian bertanya kepadaku
Mudah saja. Kota yang ada paling timur di Hortensia, dan salah satu pelabuhan utama mereka dalam hal bisnis berlayar
"Kota yang kita harus tuju sekarang adalah Kota Lotus. Kita akan menaiki kapal melalui pelabuhan kota itu nanti"
"Kapal?" Verdea menyela
Dia mulai antusias hm?
"Yap! Kita akan naik kapal nanti!"
"Kapan!?"
Ahahaha! Jika dia seantusias ini akan naik kapal, aku yakin dia akan pingsan disaat kami tiba di Miralius nanti!
Oh ya. Dia tidak pernah pergi terlalu jauh dari area kerajaan. Jika ada tempat diluar kerajaan yang sudah dia datangi, tempat itu hanya desa Magnolia
Jadi secara teknis dia tidak pernah melihat laut? Wajar saja dia penasaran dengan perasaan menaiki sebuah kapal...
"Tenang saja. Mungkin dalam 2 hari. Jika langkah kita cepat juga maksudku" Aku meyakinkan
Dia mulai bergerak tidak sabaran. Kakinya mulai menendang-nendang dengan antusias, selagi aku hanya menahan setiap hantaman ke perutku itu dengan wajah tersenyum
Eh-?
"Teman-teman, sembunyi"
Aku yang spontan memberi perintah langsung membuat semua orang terkejut dan segera bergerak cepat melebihi kedipan mata untuk bersembunyi di pohon terdekat. Satu orang di masing-masing pohon, memastikan kalau kami tidak terlihat dengan sesuatu yang ada di depan
Luna dan Ivor langsung paham kenapa mereka memintaku bersembunyi, melihat makhluk itu
"Jelmaan iblis" Aku bergumam, dimana Verdea bisa mendengarkan
__ADS_1
Semua teman-temanku sudah tahu mengenai monster yang satu itu. Dari tatapan Veskal, aku yakin dia juga. Jadi, hanya anak ini saja yang belum mengetahui apapun tentang mereka
"Iblis tidak berakal yang berganti wujud sesuai dengan makhluk yang mereka makan" Aku menjelaskan dengan berbisik. "Mereka lemah, jadi tidak usah khawatir" Aku menambahkan
Mereka juga berwujud cukup... Jinak. Walaupun memang, mereka mengambil wujud serigala
"Hoh...! Sepertinya akan seru...!" Verdea berkata dengan nada bersemangat
"Yah, mau bagaimanapun juga kami harus melawan makhluk itu. Kamu bisa mencobanya jika tanganmu tumbuh lebih panjang terlebih dahulu"
"Heeh...? Kenapa...?"
"Mereka memang berwujud serigala, tapi aku ragu kamu bahkan bisa menghadapi hewan aslinya sekarang ini. Tubuh yang memadai juga adalah sebuah faktor yang bisa menentukan kemenangan"
Sama seperti sebuah wadah. Jika kamu memaksakan terlalu banyak hal ke dalamnya di waktu yang bersamaan, wadah itu justru akan hancur
"Walaupun begitu, serigala tetaplah hewan yang berbahaya. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil resiko melawan mereka, mengingat mereka selalu bergerak dalam bentuk kelompok"
Dan satu hal penting : Jelmaan iblis sebenarnya tidak memiliki bentuk. Mereka mengambil wujud dari makhluk berakal yang mereka makan. Jika mereka memakan serigala, maka mereka akan menjadi serigala
Juga, mereka akan mengambil kebiasaan dari makhluk yang mereka makan. Apa yang membedakan mereka dari makhluk yang asli hanya satu, yaitu mata mereka berwarna merah darah. Bahkan seorang petualang yang tidak terlalu lihai dapat melihat warna mata mereka dengan jelas di bawah cahaya redup sekalipun
Verdea mulai terlihat menggebu-gebu. Karena selama beberapa hari kami hanya berjalan saja, akhirnya dia akan melihat sedikit aksi. Veskal bahkan sudah siap dengan pisaunya yang keluar. Teman-temanku di sisi lain, tidak terlalu memerlukan senjata mereka
"10 jelmaan iblis" Luna berkata kepadaku dari tempatnya bersembunyi
Baiklah kalau begitu
"Habisi mereka"
Pada normalnya kami bahkan dilarang untuk membunuh monster...
Tapi makhluk yang satu ini memang harus dibasmi jika kami melihat hanya sebatang hidung mereka sekalipun
Dan dengan begitu, setiap orang temanku sudah memiliki setidaknya satu target
Ivor langsung mematahkan semua tulang di badan salah satunya hanya dengan membanting tubuhnya sendiri keatas jelmaan iblis itu. Luna dengan cekatan membelah seekor dengan tangannya saja. Ordelia menusuk dua sekaligus dengan akar tanaman yang dia perintah. Lyralia meledakkan satu menggunakan sihir air. Dan Luxor membuat 2 ekor jelmaan iblis mulai menyerang satu sama lain melalui sihir
Veskal kesulitan karena harus menangani dua sekaligus, tetapi aku langsung mematahkan leher salah satunya dengan menginjak makhluk itu setelah bergerak dengan sangat cepat, selagi Verdea tertawa puas melihat kami menghancurkan mereka semua dengan sangat mudah
Veskal pun jadi bersemangat dan tidak ingin kalah. Dua yang tersisa pun dia incar seketika, bergerak dengan gesit hingga dia mampu menusuk leher salah satunya. Makhluk itu tumbang, dan sekarang hanya tersisa satu ekor saja
Veskal melepas belatinya yang tertancap, memberi tatapan penuh tantangan melihat jelmaan iblis yang mengerang itu
"Oh, itu pemimpin mereka. Kebetulan sekali" Aku berkomentar
"Memangnya apa beda mereka?" Verdea bertanya
"Serigala yang menjadi pemimpin dari kumpulannya selalu memiliki postur kepala dan ekor yang tegak"
Dan dia melakukan itu untuk memperlihatkan siapa yang berkuasa. Insting alamiah hewan memang menakjubkan jika kamu memperhatikan mereka dengan baik
Hanya saja, jelmaan iblis adalah makhluk yang mencuri. Dan mereka memakan serigala-serigala malang itu hanya demi mengambil wujud
"Habisi dia Veskal!" Ivor menyoraki selagi dia masih menindih mayat targetnya
"Semangat!" Lyralia mengikuti
Ah. Mereka hanya akan menyingkir hm? Baiklah kalau begitu, kami juga hanya akan melihat Veskal bertarung melawan pemimpin kelompok makhluk jadi-jadian ini
Keduanya mulai mengitari tempat mereka bertarung, seakan mencari celah diantara kelahan musuh masing-masing. Keduanya tidak ingin kalah, tapi aku tahu siapa yang akan menang jika dia benar serius
"Ayo Veskal! Jangan mau kalah!" Verdea bahkan menyoraki
Aku sudah menyaksikan sendiri bakatmu selama beberapa bulan terakhir. Berlatih di bawah Luna juga sangat membantu untukmu. Kamu bahkan bisa menghabisi satu dengan sangat cepat
Aku sama sekali tidak perlu khawatir. Veskal akan mampu menangani yang satu ini
...
...
...
Tunggu...
Apa jelmaan iblis bisa menyerap Mana dari udara...?
...
Itu tidak normal
"Veskal" Aku berkata, menurunkan Verdea dari gendonganku
Walau suaraku tidak sekeras yang lain, dia langsung mendengarkanku hingga menoleh. Aku yang berjalan kearahnya langsung membuatnya berhenti memasang kuda-kuda siaga
Terutama ketika aku terlihat serius, dimana semua orang mulai berhenti bersorak dan tiba-tiba merasakan kekhawatiran yang sama dengan Veskal
Aku pun berdiri di hadapan Veskal, menghadapi jelmaan iblis itu
Atau apakah dia sungguh, jelmaan iblis...?
...
"Tunjukkan dirimu yang sebenarnya"
Aku tidak tahu apakah perkiraanku ini salah, tapi...
Jelmaan iblis itu terlalu liar untuk mengerti cara mengontrol Mana. Mereka bahkan hanya bisa berpikir seperti binatang apabila mereka mengambil wujud itu
...
...
...
Entah bagaimana, jelmaan iblis itu menyeringai dan mengeluarkan tawa sinis, membuat kami semua merinding. Terutama Veskal yang nyaris saja melawan makhluk tidak diketahui itu
"Kamu lebih tajam dari yang aku kira..." Makhluk itu pun bicara
Jadi dia sungguh bukan jelmaan iblis. Orang ini...
Aura hitam pun menyelimuti tubuh jelmaan iblis palsu itu. Dan akhirnya, sosok asli dari makhluk itu terlihat
Manusia? Tidak juga. Dia terasa sangat berbeda dengan manusia walaupun dia memiliki wujud yang cukup normal seperti itu
Bahkan jika dia menekan Mana-nya seperti sekarang ini, itu tidak akan cukup untuk membodohiku. Orang di hadapanku ini sangat kuat hingga dia berada di level yang absurd
Aku tidak bisa melawan seseorang sekuat ini dengan Veskal dan Verdea berada di dekatku sekarang...
Semua teman-temanku spontan melompat cepat untuk melindungi Verdea dan Veskal. Hanya Luna saja yang melompat ke sampingku untuk memastikan keamananku juga, siap dengan belati di tangan kali ini sebagai senjatanya
"Siapa kamu?" Luna menanyakan
__ADS_1
"Ah maaf. Aku yakin kalau etikanya adalah, sebelum meminta nama milik orang lain, kamu harus memberi namamu dulu"
"Diam dan jawab aku. Kenapa kamu bertransformasi menjadi jelmaan iblis itu?"
"... Hanya untuk bersenang-senang-"
"Jawab aku, penyihir hitam!"
Luna menekannya, dan orang itu mulai terlihat tidak senang. Dia memandang dari atas, seakan sedang meremehkan Luna, begitu juga kepada yang lain
Apapun itu, aku tidak akan mendekati orang ini. Setiap inci tubuhku berkata kalau dia sangatlah berbahaya
Bahkan walau dia mulai menurunkan kepalanya dan tersenyum
"... Baiklah. Perkenalkan, namaku Yael. Yael Tarasque. Aku hanya punya, 'urusan kecil' dengan kalian" Orang itu pun memperkenalkan diri
Yael Tarasque...?
"Hah! Maksudmu hampir membunuh seseorang itu 'urusan kecil' bagimu? Kamu orang yang menjijikan, mengincar anak kecil" Aku menyela
Veskal ingin bilang dia tidak senang dengan panggilanku untuknya, tapi ini bukan waktu yang tepat
"Ups, aku melakukan hal itu? Ahahaha! Maafkan aku kalau begitu~" Orang bernama Yael itu meledek
Darahku naik. Tapi aku masih harus sabar dan lebih berfokus untuk melindungi teman-temanku ketimbang melawannya secara langsung
Tapi dia tiba-tiba menghela napas. Mana-nya sempat bocor sehingga aku mendapatkan sedikit gambaran seberapa kuat dirinya. Hanya saja, aku merasa dia sedang diperintah oleh seseorang disaat ini, sehingga dia tidak bisa fokus kepada kami
"Maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Aku akan melepaskan kalian untuk hari ini" Dia tiba-tiba saja berkata
"Kelihatannya justru kamu yang ketakutan dengan kami! Mulutmu saja yang besar!" Ivor menyela, melindungi Verdea di belakangnya
Yael tertawa menanggapi ocehan Ivor
"Aku tidak takut dengan Elf kecil seperti kalian" Dia bahkan menambahkan di sela-selanya
Sebaiknya kamu menutup mulut. Jika dia ingin pergi, maka sebaiknya dia pergi. Aku tidak ingin membahayakan diri kami lebih jauh
"... Aku juga tidak takut kepadamu, Yael Tarasque" Aku pun berkata
"Hoho~?"
Dia memandang rendah kearahku, namun dia terlihat terhibur. Namun belum lama dia bisa lebih banyak berinteraksi dengan kami, dia entah bagaimana mulai meleleh seperti patung lilin yang terkena api sekarang
Perlahan, hingga yang tersisa hanyalah cairan hitam yang seketika menguap ke udara
...
Itu barusan hanya tiruan dari yang aslinya
Teman-temanku mulai menelan ludah, walaupun kami juga bisa menghela napas lega sekarang. Perjumpaan dengan Yael tadi sangat menekan kami semua, utamanya karena kami tidak tahu siapa musuh kami itu
Sial! Apa urusan orang itu sebenarnya? Aku akan pastikan orang itu tidak akan lepas lain kali
"Vain..." Verdea datang mendekat dan memelukku
Aku hanya menatap ke tempat orang itu berdiri dengan perasaan kesal. Hingga...
Aku terpikir akan satu hal, sampai-sampai aku mengalihkan mataku kepada Veskal...
"... Ya. Dia memang salah satu anak buah Rosalia" Dia pun berkata, seakan tahu isi pikiranku
Dan dia tidak meleset. Tetapi, berpikir kalau Rosalia memiliki monster seperti itu di bawah perintahnya membuatku kalut
Apa yang dipikirkan orang itu sesungguhnya, aku tidak pahami lagi. Jalur yang Rosalia coba ciptakan ini membuatku bingung sekarang. Seakan mereka tidak punya tujuan jelas selain mengganggu kami
Apapun itu, orang itu pasti ingin menyakiti Verdea. Dari sorot matanya sebelum ini, dia kebanyakan menatapku dan Verdea. Seakan yang lain itu tidaklah signifikan untuk dia perhatikan
Dan dia tidak salah untuk memandang rendah kami. Orang- Atau harus kusebut makhluk itu...
Dia paham kalau kami tidak akan memenangkan apapun dengan melawannya...
...
"Kita akan bicara tentang banyak hal" Aku berkata kepada Veskal
Dia langsung mengangguk, selagi kami semua sudah siap untuk beranjak lagi mengingat kalau rintangan barusan sudah selesai diatasi. Tubuh dari para jelmaan iblis bahkan mulai menguap dan menyatu menjadi Mana di udara
Angin membawa Mana kotor itu pergi dari hadapan kami. Dan aku merasa kalau itu bukanlah sesuatu yang harusnya kami lakukan
Ada sesuatu yang salah dari penyihir hitam itu. Jika aku bisa menebak, dia pasti orang yang mengintip kami di dalam penginapan pada waktu itu
Kami harus lebih waspada lagi sekarang"
......................
--- Kastil Lily, Hortensia ---
"Maafkan aku. Dia mengetahui keberadaanku" Yael berkata pada Rosalia
"Bagaimana bisa?" Rosalia bertanya
"Dia bisa melihat aliran Mana milikku disaat aku nyaris ingin menghabisi Veskal. Orang itu lebih kuat dari yang aku kira"
"... Yah, dia juga Oberon. Seharusnya kamu tidak meremehkan kemampuannya"
Yael melemaskan badannya dan kembali duduk dengan santai. Tidak setiap hari dia diperbolehkan oleh Rosalia untuk duduk, jadi lebih baik jika dia memanfaatkan kondisi sekarang ini untuk beristirahat sebisa mungkin
"Maafkan aku sekali lagi... Aku akan lebih berhati-hati lain kali..." Dia bahkan mulai menggerutu
...
Wajah Yael terlihat kesal dan membuat Rosalia heran akan hal itu
"Kamu terlihat terganggu, Yael. Kamu biasanya tertawa dengan nada yang menjengkelkan bukan?" Rosalia menanyakan
"Hm? Ahahaha! Tenang saja tuan putri" Dia berucap
"Nah, itu dia"
Rosalia bersandar setelah mendengar tawa Yael. Dia bisa merasa lega tidak ada yang berubah
"Hanya saja... Orang itu menantangku" Yael kemudian mengutarakan
Rosalia terdiam. Tapi dia kemudian hanya memejamkan matanya seakan tidak peduli
"Ah, begitu" Responnya bahkan lebih dingin dari gerakannya
Rosalia mengambil cangkir tehnya dan mulai mencicip isinya dengan perlahan. Hanya bibirnya saja yang menyentuh minuman itu, selagi mereka dengan alami tersedot masuk ke dalam mulutnya dengan tampang yang anggun
Yael masih terlihat menggerutu, tetapi Rosalia sudah memberitahukan sesuatu kepadanya. Kesabaran adalah kunci untuk sekarang ini
"Kalau begitu pastikan dia menarik kata-katanya saja bukan?" Lanjut Rosalia
__ADS_1
Yael menoleh sejenak, sebelum tersenyum sinis mendengarkan perkataan Rosalia. Ditariknya badannya sendiri agar lebih mendekat mendengarkan Rosalia, dan dengan itu, mereka mulai merencanakan cara lain untuk mencelakai kami semua