
--- Malam Harinya, Miralius ---
"Lalu, Bam!! Hob itu jatuh tidak sadarkan diri karena tendangan ku itu" Remina menceritakan kembali latihan mereka tadi
"Anak ayah memang luar biasa" Ayah Remina berkata sambil mengelus kepala anaknya
"Haah!? Sebagian dari usaha menjatuhkan Hob itu juga milikku, jadi jangan sombong!" Verdea berkata sambil memakan roti selai yang dia miliki seperti anjing yang menggigiti tulang
Lalu, semua orang bisa menebak apa yang terjadi diantara mereka berdua. Tidak perlu diperjelas lagi
Aku hanya mencoba fokus dengan roti yang kumakan dengan sepenuh hati, mengabaikan suara mereka berdua
Hmmm~ Enak~!
*Plak!*
"APA!?" Aku berteriak pada Cyrus
Kenapa coba dia tiba-tiba memukul kepalaku? Dan juga, dia tidak melakukannya dengan perlahan sama sekali!
"Kamu sebagai guru mereka seharusnya memberi komentar lebih pada hasil mereka bukan?" Cyrus berkata
"Hmph. Mereka cukup baik, dan melebihi ekspektasiku" Aku berkata
"Lalu siapa yang lebih unggul diantara kami!?"
"Aku ingin mendengar jawabanmu Oberon!"
Ah, uh, eh...
...
Hah?
Sebentar dulu...
...
Tadi itu cuma latihan bukan?
"Kenapa kalian pikir hal ini semacam kompetisi?" Aku bertanya pada mereka berdua
Mereka berdua ingin membuka mulut serentak, tapi kemudian malah undur diri dan berpikir sejenak
Verdea kemudian menggelengkan kepalanya
"Aku tetap ingin dengar siapa yang lebih unggul" Dia berkata
"Aku juga" Remina mengikuti
...
Aku tidak mungkin memilih salah satu bukan...!?
Kenapa mereka harus membuatku memilih...!?
...
Begini saja
"Yang terbaik adalah yang tahu cara duduk sopan sekarang ini dan memiliki tata krama" Aku berkata
Mereka langsung terlihat cemberut menatapku, kemudian menatap satu sama lain. Tapi, entah bagaimana, mereka sekali lagi menganggap hal itu semacam kompetisi, dan mulai duduk rapi sambil menikmati roti mereka masing-masing dengan lagak sopan
"Kamu benar-benar tahu cara membuat mereka tenang, hm...?" Bisik Cyrus padaku, sambil melirik sedikit kearah mereka berdua
"Seorang pawang harus tahu cara menangani monyetnya" Aku berbisik
__ADS_1
Cyrus terkikik kecil mendengar jawabanku, kemudian ikut duduk dengan rapi
Claudia melihat kami semua sambil terus mengunyah roti selai nya, menikmati setiap pertukaran kalimat yang dilakukan
"Kalian... Terlihat tenang dalam situasi ini ya...?" Claudia bergumam
"Maaf?" Aku membalas karena samar-samar mendengarnya
"... Maksudku, apa kalian tidak takut ada yang menyerang tempat ini lagi?" Dia melanjutkan
...
"A- ah! Aku tidak bermaksud merusak suasana. Hanya saja..." Dia meminta maaf
"... Apa mungkin kamu ingin mempercepat semua hal yang terjadi?" Aku membalas lagi
Semua temanku hanya diam hening menatap kearahnya
"... T- tentu saja aku ingin segera menyelesaikan hal ini. Kamu tahu kalau aku ini tidak seharusnya tetap hidup bukan?"
"Tidak apa"
Aku kemudian menatap ke semua teman-temanku di sekeliling
"Uh... Kenapa suram begini? Kenapa tidak melanjutkan percakapan tidak penting kalian coba?"
Mereka semua langsung bersorak kearahku disertai dengan tawaan, selagi aku hanya tersenyum jahil
Memang tidak penting juga. Kenapa coba mereka marah? Hihi...
...
"Veri. Ordelia. Aku ingin pergi menghirup udara sebentar" Aku berkata
"Hm? Mau kemana?" Tanya Verdea dengan mulut yang masih penuh
"Berkeliling. Hitung saja 5 menit, aku tidak akan lama"
"Habiskan dulu rotimu" Aku berkata, sambil melirik kearah tumpukkan roti selai yang berada di depannya
Dia hanya diam cemberut, kemudian meneruskan makannya. Aku pun beranjak dari tempat dudukku sambil pamit sekali lagi pada Ordelia, kemudian pergi sendirian
"Hey. Carikan aku buah atau semacamnya! Kalau ada" Ivor berkata
Aku hanya mengacungkan jempolku selagi aku menghilang dalam kegelapan
...
...
"Zaphir. Amelia. Aku sudah disini" Aku berkata di tengah keheningan
*Fwush!*
Kedua orang yang kupanggil namanya itu muncul tepat di hadapanku, membungkuk hormat
"Zaphir, Petinggi Elf Bulan menghadap sang Oberon"
"Amelia, Petinggi Elf Angin menghadap sang Oberon"
Mereka lebih cepat dari dugaanku. Biasanya mereka datang saat tengah malam saja ketika semua orang sudah tidur
Amelia dan Zaphir. Dua petinggi Elf yang sebenarnya kuberikan misi sejak kami sampai ke Miralius. Dengan pasukan yang mereka perintah, aku membuat mereka menjalankan misi tersembunyi untuk mengawasi apa yang dilakukan Rosalia dan bawahannya
Aku hanya ingin tetap waspada dengan pergerakkan Rosalia tanpa membuat teman-temanku yang lain merasa khawatir atau gelisah, itu sebabnya aku tidak membiarkan mereka berdua muncul ketika teman-temanku berada di sekitar
"Aku penasaran kenapa kalian kembali lebih awal. Aku yakin ada sesuatu yang sangat penting"
__ADS_1
"Ya. Kami menemukan hal ini"
Amelia kemudian menyodorkan sebuah batu rekaman padaku
Batu yang hanya bisa merekam 1 menit kejadian asli itu pun mulai mengeluarkan sinar terang
*Hah... Kenapa kita harus repot-repot membersihkan seluruh bagian kastil sebaik mungkin coba? Nyonya Rosalia meminta terlalu banyak, apalagi sampai meminta kastil Thyme dibenahi*
*Kastil Lily sudah dihancurkan oleh para Elf itu bukan? Tidak membahas beberapa kastil yang terkena beberapa kerusakan karena serangan itu. Dan juga, akan ada tamu penting dari seluruh benua yang akan berkumpul di kerajaan ini. Batas waktu kita hanya sampai besok*
*Aku tahu, tapi kastil kecil yang terlihat rusak ini sangat merepotkan untuk kita bersihkan...!*
*Bersabarlah. Lagipula, hal ini bukan yang terburuk yang pernah terjadi pada kita bukan? Semenjak para Elf itu memulai Red Sabbath, tidak ada manusia yang bisa tenang*
*Blip!*
Batu rekaman itu pun berakhir tepat setelah keheningan sejenak antara kedua orang yang sedang sibuk berbenah di dalam rekaman itu
Mereka... Terlihat seperti pelayan
Zaphir dan Amelia juga cukup beruntung untuk bisa mendapatkan rekaman ini. Karena, ada sesuatu yang menarik perhatianku diantara pembicaraan singkat itu
"Tamu penting dari seluruh benua hmm...?"
Perempuan itu ternyata sudah membuat gerakkan
Aku yakin kali ini dia akan berusaha menabur fitnah di kepala orang-orang itu sekali lagi
Tapi... Kenapa dia perlu mengumpulkan orang-orang penting milik kerajaan manusia dari penjuru dunia?
"Ini merepotkan... Aku merasakan hal tidak menyenangkan dari rencananya itu"
"Apa kami perlu kembali untuk memantau pergerakannya?" Tanya Zaphir
"Tidak. Seberapa ingin pun aku mengirimkan kalian, aku khawatir pergerakkan kalian akan diketahui oleh penyihir hitam itu" Aku membalas
Mereka ku tugaskan dalam tugas mata-mata karena kemampuan untuk menyamarkan seluruh keberadaan milik mereka
Namun, aku tidak yakin kalau mereka berdua akan terus bisa melakukannya, terutama ketika Yael dan Darwin sudah waspada
Berdasarkan laporan mereka juga yang kudapatkan sebelum ini, Darwin sudah sembuh sepenuhnya sekarang, menyatakan kalau aku tidak mengenai jantungnya ketika terkena lemparan sihir batu kearahnya waktu itu
"Kalian harus tetap berada di dalam Miralius untuk sekarang, dan siapkan pasukan kalian. Kita mungkin akan membutuhkannya" Aku berkata pada mereka berdua
Aku punya satu kesimpulan dari laporan ini, dan kesimpulan itu sama sekali tidak menyenangkan
Rosalia pastinya ingin mengumpulkan mereka untuk membuat diplomasi dan semakin mencemari nama kami. Tapi mengingat pola pikirannya, aku tidak yakin dia hanya akan melakukan hal itu
Kemungkinan terburuk, dia mungkin akan meminta bantuan pada mereka semua untuk membentuk pasukan gabungan...
...
Kemudian melancarkan serangan langsung pada Miralius
...
Dia benar-benar ingin ada pertumpahan darah diantara kami. Kenapa dia sangat membenci kaum Elf coba?
Jika dia memang membenciku seorang, dia tidak seharusnya melibatkan Elf yang lainnya
Apa yang membuatnya benar-benar ingin menjatuhkan kaumku...?
Amarah? Dendam yang sama seperti Darwin? Atau hanya karena dia menganggap kami sebagai penghalang?
Aku tidak tahu. Niatnya sama buruknya dengan perlakuannya sekarang. Dan Tuhan saja yang tahu bagaimana cara pikirannya berjalan
Aku harus mencari cara menghalau mereka sebisaku. Jika ada hal yang paling ingin kulakukan sekarang ini...
__ADS_1
Aku tidak ingin ada pertumpahan darah sama sekali. Baik dari sisi Manusia, maupun Elf
Aku tidak ingin mengulang sejarah terburuk yang pernah dialami dunia ini