
--- 4 hari kemudian ---
Ah...
Akhirnya kami sampai ke istana kecil ini kembali. Semua orang nampak kelelahan setelah berhari-hari dalam perjalanan, baik saat di laut maupun darat
Banyak yang berubah... Bahkan kami harus menyempatkan diri untuk bersih-bersih sedikit sebelum masuk ke dalam tempat ini. Aku tidak akan membahas perbaikan yang akan dibutuhkan untuk memperbaiki beberapa bagian kastil yang rusak ini
Akan kuminta saja Artorius untuk mencarikan tukang nanti. Kasihan teman-temanku
Pasukan Orion meninggalkan dan menyerahkan kami ke tangan pasukan Hortensia setelah kami sampai di pelabuhan Typha. Perjalanan itu sendiri sudah SANGAT melelahkan
Kami memang menaiki kereta kuda untuk berjalan kemari, tapi perjalanannya memakan waktu karena keberadaan jelmaan iblis. Aku tidak pernah ke Hortensia semenjak 5 tahun lalu, jadi aku tidak tahu sama sekali kalau jumlah jelmaan iblis di daerah tidak berpenghuni meningkat. Dan bentuk mereka bukan main-main sama sekali. Umumnya, mereka sekarng mulai terlihat seperti singa atau gajah, dan mereka tentu sulit dihadapi
Ditambah lagi, aku dan teman-temanku yang harus membersihkan mereka. Para prajurit kerajaan yang bersama kami sama sekali tidak bisa diharap...
...
Dan mengenai prajurit kerajaan...
Kenapa orang ini duduk bersama kami sekarang? Kenapa Frank repot-repot menyuguhkannya teh yang sama dengan milik kami? Apa dia dikirim oleh Rosalia sebagai pengawas kami?
...
Yah, anggap saja dia mengawasi kami atas perintah Rosalia. Semua orang disini bisa menebak hal itu
Lagipula, siapa orang yang lebih pantas dan lebih kuat untuk mengawasi kami selain Edwin, si kesatria hitam kerajaan Hortensia
Wah! Orang yang kubenci semenjak aku bertemu dengannya! Aku tidak tahu apa Rosalia memang sengaja mengirim makhluk ini untuk membuatku kesal!
Baiklah aku akan jujur. Tidak ada satupun orang Hortensia yang aku senang ketika mereka berada di sekitar, selain Verdea
"Um... Kenapa Edwin ada disini?" Verdea bertanya
Benar bukan!? Aku ingin langsung menendangnya keluar seandainya dia hanya kebetulan lewat
"Oberon. Ekspresimu menunjukkan kalau kamu tidak menyukai keberadaanku"
"Lupakan dirimu. Aku bahkan membenci kalian semua, dasar Hortensia sialan
Jangan hiraukan aku Verdea, Frank"
"Bagaimana dengan Yang Mulia Artorius?"
"Oh, maksudmu pemilik istri empat ini? Tidak terima kasih. Dia bukan temanku. Dia AYAH dari temanku"
Artorius hanya menunduk kesal karena perkataanku, tapi aku tidak peduli dengan perasaannya. Dia yang membuat kekacauan ini dengan menikahi keempat orang itu. Seandainya dia cukup tegas sebagai seorang raja dan hanya memilih menikahi Marianne, aku yakin semua ini tidak perlu terjadi
Setidaknya, walaupun aku tidak akan bertemu Verdea, aku ingin dia bahagia. Aku ingin semua orang bahagia
"Lagipula, kenapa kamu hanya mengincarku untuk memberi pertanyaan? Bukannya kamu ingin berbasa-basi dengan rajamu ini" Aku menunjuk lagi pada Artorius
"... Tidak diperlukan. Tuan Putri Rosalia hanya memintaku untuk mengawasi dirimu dan Verdea" Edwin berkata setelah menggelengkan kepala sejenak
Yah, setidaknya dia jujur. Kejujurannya mempersingkat masalahku sedikit
"Singkatnya, aku tidak perlu bertemu denganmu. Kamu juga tidak perlu memperkenalkan diri karena aku sudah tahu kamu siapa. Jadi enyahlah dan lakukan hal yang lain selagi Verdea beristirahat"
"Kamu memerintah diriku?"
"Aku mengancam dirimu. Jika kamu mengganggunya ataupun mencabut sehelai rambut pun dari kepalanya, akan kupastikan tulangmu patah, Edwin"
Edwin hanya tersenyum sinis meresponku yang sedang kesal
"Istirahat?" Verdea menyela
"Kenapa? Jangan bilang kamu tidak merasa lelah setelah perjalanan itu?" Aku meresponnya
"Hmmm... Boleh aku latihan sebentar? Lagipula, matahari mau terbenam bukan?"
Dia memang benar. Tapi, aku terkesan dia masih memiliki tenaga. Maksudku, 5 petinggi Elf yang terkesan kuat ini saja terlihat tidak berdaya sekarang ini. Napas mereka terengah-engah seakan nyaris mati, wajah mereka pucat, dan keringat mereka bercucuran
Anak yang mengagumkan
"Baiklah. Tapi jangan terlalu lama, takutnya kamu sakit"
"Tenang"
Dia melompat turun dari kursinya dengan penuh semangat, kemudian meminta pedang kayu miliknya yang dibawa oleh Luna. Tidak lama setelah pedang itu diserahkan kepadanya, dia langsung berlari keluar ke halaman belakang kastil
...
"Dia ingin latihan pedang?"
"Kenapa? Ingin protes?"
"Kenapa kamu sangat agre-?"
Edwin berhenti melontarkan kalimatnya, kemudian berkata, "Lupakan"
Baguslah. Dia mengingat kalau aku tidak menyukainya sama sekali
Kami diam sejenak. Tidak sengaja karena mendengar suaranya, kami berdua menoleh kearah Verdea dari jendela. Dia terlihat mengayunkan pedangnya kesana kemari, tapi tidak secara asal-asalan. Setidaknya dia belajar banyak dari Veskal dalam hal ini, mengingat tidak satupun Elf memiliki pedang sebagai senjata mereka
Tapi...
"Rasanya... Dia sedikit lemah dalam membentuk posisi bertarung" Edwin berkomentar
Sesungguhnya... Edwin benar. Mungkin karena Veskal lebih menjurus ke pengguna pisau, Verdea dilatih olehnya untuk membuat posisi bertarung seringan mungkin agar bisa bergerak dan menghindar dengan cepat
Tapi, Veskal sajalah pelatih pedang terbaik untuk Verdea. Tidak ada satupun dari petinggi Elf yang bisa menggunakan teknik pedang yang bisa dicapai manusia. Aku sudah cukup puas jika apa yang ingin dilatih oleh Verdea bisa terpenuhi
__ADS_1
Edwin tiba-tiba bangun, dan berjalan keluar. Semua temanku termasuk aku sendiri langsung mengangkat kepala ketika dia bergerak
"Dia mau kemana, Vainzel?" Ivor bertanya
"Entahlah. Tapi aku harap dia tidak mengganggu Verdea" Aku berkata dengan tenang, kemudian mulai menikmati teh di cangkir milikku
Sayangnya, dia memang mengganggu Verdea latihan. Verdea terlihat dengan jelas berhenti mengayunkan pedangnya ketika Edwin berada disana
Melihat itu, aku langsung menyembur keluar teh yang kunikmati, kemudian berlari keluar secepat mungkin meninggalkan Luxor yang duduk di sampingku dan wajahnya basah karena semburan itu
"Sudah kubilang jangan-!!!"
"--- Seandainya aku menjadi guru berpedangmu, apa itu tidak akan masalah untukmu?"
Ah-?
Apa yang baru saja kudengar itu?
Verdea menoleh kearahku, seakan meminta persetujuan. Edwin juga mengikutinya secara bersamaan, menunggu jawabanku
"T- tunggu. Jelaskan kenapa kamu mau menjadi gurunya?"
"Sudah jelas bukan? Aku ingin dia melatih kemampuan berpedang miliknya"
Itu bukan alasan yang kuinginkan
"Jika aku bilang tidak, bagaimana?"
Edwin menatapku tajam karena respon barusan. Tapi aku hanya mengembalikan tatapan tajam itu kembali padanya
"Maka tidak perlu. Lagipula, Edwin masih belum bisa kami percaya, jadi maaf" Verdea berkata
Syukurlah dia mau sependapat denganku...
Verdea kembali mengayunkan pedangnya dengan tekun, selagi Edwin berdiri disana di sampingnya. Aku mengajak Edwin kembali, tapi dia terlihat tidak memerhatikan ku
Dia tiba-tiba merampas pedang Verdea, mengayunkan pedang itu, dan...
KRAAKK!!
... Menghancurkan batang pohon yang ada di hadapannya seakan itu sebuah ranting kecil. Dan hal itu dia lakukan menggunakan pedang kayu
Pohon itu langsung tumbang dan menghasilkan suara keras, membuat semua teman-temanku menjadi waspada
Aku terbelalak dengan hal itu. Bukan karena kagum, tapi karena berani-beraninya dia membuat keributan mendadak seperti itu. Bahkan Ordelia berteriak dari ruang tamu ketika melihat pohon yang sudah tumbang di tanah itu
Ceramahnya tidak akan menyenangkan sama sekali nanti...
Edwin kemudian berbalik dan menatap Verdea yang berdiri diam. Dia terkejut karena tidak sedikitpun wajah Verdea menunjukkan rasa terkesan
Dia mencoba menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali berbicara
"Bagaimana? Kamu bisa memiliki kemampuan seperti ini jika aku melatihmu"
Verdea kemudian perlahan mengulurkan tangannya kearah Edwin
"Kembalikan pedangku" Dia berkata kembali dengan nada kesal
Hal itu semakin membuat Edwin terkejut
"Tidak sopan merampas barang orang kemudian menghancurkan properti tempat tinggalnya bukan? Setidaknya kembalikan pedangku jika kamu tidak ingin kubuat membereskan semua kekacauan ini"
...
Rasanya... Verdea semakin terlihat berpendirian tinggi semakin hari berjalan. Semakin lama kami bersama, aku semakin merasa hatinya semakin teguh untuk mempertahankan pendiriannya
Aku tidak terlalu sering melatihnya bersikap begitu. Aku bahkan tidak yakin kalau Veskal yang sudah melatihnya seperti itu
Dia melatih dirinya sendiri, untuk meninggikan kepercayaan diri dan menghalau pendapat orang lain yang hanya ingin menjatuhkan niatnya. Bahkan dia sempat melawan perkataanku waktu itu bukan?
Karena Verdea tidak ingin menyerah dan mengatakan iya, Edwin pun harus menyerahkan kembali pedang itu ke tangannya
"Terima kasih. Permisi, aku ingin latihan kembali"
"Sebuah pendirian yang kuat adalah kunci utama seorang ahli berpedang. Kamu bisa menjadi kesatria terhebat jika kamu menerima tawaranku barusan, karena kamu sudah memiliki kunci itu"
"... Lalu?"
"... Apa kamu tidak menerima tawaranku karena perkataan Oberon?"
"Bisa dibilang begitu. Aku percaya padanya melebihi siapapun itu, bahkan kamu. Dia membantuku membentuk keputusan seandainya situasi seperti ini muncul"
"Itu tidak akan baik untukmu, dipengaruhi oleh pendapat orang seperti itu"
"Berkaca pada cermin sana. Kamu sendiri sedang mencoba mengubah niatku sekarang ini
Pilihanku adalah pilihanku. Pada akhirnya, tidak akan ada yang bisa memaksanya bukan?"
"..."
Percakapan mereka berhenti disana. Verdea terus mengayunkan pedangnya sejak tadi, dan hal itu membuatku semakin lega dia bisa berbicara keluar dari percakapan itu dengan sendiri
Edwin pun berjalan kembali ke dalam kastil karena permintaannya sudah ditolak. Aku bisa melihat wajah penuh kekecewaannya yang sangat jelas dan sungguhan itu
Ordelia berjalan kearahku melewati Edwin yang berjalan kedalam. Dengan wajah gusar, dia memegang pundakku dan berkata
"Lain kali, gantung orang itu diatas pohon dengan posisi terbalik", dengan nada menakutkan
Aku diam tidak menjawab. Karena wajah kesalnya itu, aku pun menawarkan untuk membantunya menyembuhkan pohon itu kembali
......................
__ADS_1
--- Malam Harinya, Kamar Verdea ---
"Um, Verdea"
"Kenapa?"
"Kamu sungguh tidak ingin menjadi murid Edwin?"
"Hah?!"
Dia membangkitkan dirinya dari atas tempat tidur dengan tampang heran
"Kamu juga yang berkata tidak boleh bukan?"
"Maksudku, kamu bahkan tidak sedikitpun terkesan melihat tekniknya. Jika kamu seperti anak laki-laki pada umumnya, kamu mungkin akan langsung memohon padanya"
Dan juga, aku tidak pernah sekalipun melihat seorang pelatih yang memohon kepada seseorang untuk menjadi muridnya. Edwin yang pertama kali kulihat seperti itu
"... Aku hanya tidak tertarik. Veskal juga sudah bersusah payah melatihku, sampai tubuhku bahkan sudah mulai terbiasa dengan teknik yang dia ajarkan. Mengganti teknik berpedang menjadi milik Edwin... Mungkin akan membuatku harus beradaptasi lebih lama lagi"
Dia sudah memikirkan sejauh itu rupanya. Luar biasa
Dia tidak ada salahnya sama sekali. Jika kamu sudah terbiasa kepada sebuah pekerjaan, akan sulit bagi dirimu sendiri untuk menyesuaikan diri ketika pindah ke pekerjaan lain
Seorang nelayan harus belajar dengan giat untuk menjadi petani yang handal. Dan waktu yang termakan akan sangat lama
"Lagipula, aku ingin menghargai usaha kalian. Aku tidak ingin berpindah semudah itu ketika kalian sudah berusaha sebaik mungkin membantuku"
"...!"
Ah... Anak ini
Aku senang dia mau berpikiran begitu
"Terima kasih, Verdea. Terima kasih sudah mau menghargai kami"
Aku mengelus kepalanya seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, kalau rambutnya sudah menjadi kasar. Tidak selembut ketika dia masih kecil dulu. Karena itu aku teringat kembali, bahwa anak yang selalu kuelus kepalanya ini, sudah besar selayaknya seorang pria
Anak ini. Dia sudah tumbuh dan berkembang tanpa aku sadari. Aku hanya melihatnya sebagai anak kecil yang harus kulindungi, tapi tidak kusangka dia bisa bertumbuh secepat ini hingga mampu berusaha mengejarku
...
"Aku senang kamu berusaha membantuku. Tapi, aku harap, ketika ada situasi yang berbahaya, kamu bisa tahu kapan harus mundur
Berjanjilah padaku Verdea. Berjanjilah padaku kalau kamu akan selalu baik-baik saja, sekarang maupun nanti"
Aku mengulurkan jari kelingking ku kepadanya. Dia menatapku dengan bingung, kemudian bertanya
"Kenapa aku harus berjanji?"
Dia perlahan tersenyum dan membuatku terbelalak
"Aku tidak perlu berjanji. Karena, selama kalian masih tetap berada di sisiku, baik sekarang maupun nanti, aku akan tetap baik-baik saja"
...
"Jadi, kalian yang seharusnya berjanji padaku, dasar orang-orang tidak peka!"
Dia menjulurkan lidahnya kearahku. Setelah kata-kata manisnya yang diakhiri oleh juluran lidah itu, aku menarik kembali niatku untuk berkata baik tentangnya
"Hmph! Kamu sendiri saja tidak peka, dasar bocah"
"Hey! Jangan panggil aku bocah!"
Dia terus melontarkan kata-kata protes kearahku setelahnya, selagi aku hanya menatapnya dengan senyum sederhana
Habisnya Verdea, seandainya kamu tahu juga, yang terpenting bagiku adalah selalu berjalan di sisi kalian, bersama kalian. Itu sudah cukup untuk membuatku baik-baik saja
...
"Oh, Verdea"
"Ya?"
Dia berhenti berpidato dan memperhatikanku yang menoleh kearah barangnya yang belum dibereskan
Entah kenapa, wajahnya tiba-tiba pucat. Tetapi aku belum memperhatikannya disaat itu
"Sebaiknya kita bereskan barang-barangmu dulu"
"T- tunggu! Jangan sentuh barang-barangku"
...
Aku heran kenapa dia berkata begitu, terutama ketika menyadari wajah pucatnya itu
Karena curiga, aku membongkar semua barangnya, membuat Verdea menjerit panik dan melompat turun dari kasur
Lalu, aku mendapatkan botol minumnya, dan itu membuat Verdea berusaha merampasnya dari tanganku. Tapi aku menghindar dan membuatnya terpeleset di lantai
Sepertinya disini tempat mencurigakannya...
Aku menumpahkan isi botol minumnya yang berisi air itu. Sebuah genangan air yang sangat biasa ketika dilihat oleh mata telanjang keluar darinya dan tumpah ke lantai
...
Tapi sayangnya, aku tahu betul kalau itu bukan air biasa
"Apa yang kamu lakukan disini, dasar bocah nakal...?" Aku berkata pada genangan air itu
Remina pun menyembulkan kepalanya dari genangan air itu. Dia kemudian membentuk wajah sok imut
__ADS_1
Yah, kejadian selanjutnya bisa ditebak. Kedua telinga mereka kujepit dengan keras karena sudah melakukan hal ini secara diam-diam
Kenapa mereka bertingkah seperti penjahat dengan bersekongkol di belakangku coba!?