Book Of Flowers

Book Of Flowers
Latihan Sihir


__ADS_3

--- Beberapa saat kemudian ---


"Lalu, apa penjelasan kalian dengan hal ini?" Tanya Ordelia yang terlihat marah


Dia menyilangkan tangannya di dada dan terlihat siap memberi hukuman


Aku dan Luna hanya duduk di depannya dan bertingkah seperti anak-anak yang dimarahi ibunya...


Pemandangan hutan di sekitar kami yang berantakan akibat pertarungan kami itu sudah jelas membuat Ordelia murka. Dia bahkan menyeret anggota klan bunga kemari


Para Fae dan Elf bunga sibuk menumbuhkan ulang pohon-pohon yang ada disana dan terlihat kewalahan karena betapa berantakannya tempat itu


Namun, kami masih duduk di tanah selagi Ordelia berdiri di depan kami


"Dia yang menantang ku duluan" Aku berkata sambil menunjuk kearah Luna


"Tapi kamu menerimanya" Luna membalas


"Sudah selesai berdebatnya?" Ordelia menyela


Kami langsung merinding ketika mendengar suaranya yang dingin itu


Sementara kami dimarahi, Veskal, Verdea dan Cyth hanya melihat sekeliling dengan mulut ternganga


"Dahsyat sekali..." Veskal berkata dengan kagum


Verdea langsung mengadu meminta turun, dan Cyth hanya melepasnya ke tanah karena tidak bisa menahannya


Verdea kemudian berlari kearahku dengan mata berbinar


"Vainzel. Bagaimana hasil pertarungannya?" Dia bertanya


Aku tersenyum bangga sambil menunjuk diriku dan berkata


"Tentu saja a-"


Tetapi, wajah Ordelia yang masih marah itu membuatku terdiam lagi dengan tambahan ekstra keringat dingin


Ordelia kemudian menghela napas lelah


"Kenapa kalian harus begini...?" Tanyanya


Aku menanyakan hal yang sama Ordelia... Jangan salahkan aku...


"Sebentar lagi tumbuh bukan? Lagipula area ini tidak dengan pemukiman-"


"Bukan berarti kalian harus meratakan tempat ini sampai jadi debu!"


Luna langsung diam dan menunduk ke bawah


Beginilah Ordelia. Setiap kali ada kekacauan yang melibatkan kerusakan alam, sifatnya yang dingin dan tegas akan keluar di depan pelakunya


Tapi, kenapa harus aku yang dimarahi sekarang ini......!?


Aku meringis kesal memikirkan perbuatanku, selagi Ordelia menoleh kearahku


"Untung saja kamu tidak menggunakan tongkat sihirmu"


"Vain punya tongkat sihir!?" Verdea berseru


Kami semua yang ada disana menoleh kearahnya


"Ya... Aku punya"


Diikuti perkataanku itu, aku memulai rapalan doa milikku. Dalam waktu sekejap, cahaya hijau muncul di tanganku dan membentuk wujud sebuah tongkat sihir panjang dari kayu


Tongkat itu memiliki ujung yang melingkar, dan di dalam lingkaran itu, sebuah permata sihir besar berwarna hijau terletak disana


Tongkat itu sendiri dibuat dari kayu khusus sehingga hampir tidak bisa patah sama sekali. Itu sebabnya aku bisa menggunakan tongkat itu menjadi senjata jarak dekat


Verdea terkagum melihat tongkat itu. Dia bahkan berusaha memegangnya, tapi aku menghilangkan tongkat itu sebelum sempat disentuh


Verdea langsung cemberut kearahku yang tersenyum meledek


"Jika dia menggunakan tongkat itu apa yang akan terjadi?" Tanya Veskal


Cyth juga jadi ikut penasaran


"Gampang saja. Tanah di tempat ini bisa terbalik karena kekuatan tongkat itu" Ordelia berkata sambil menginjakkan kakinya dengan keras ke tanah


Cyth dan Veskal bersiul kagum mendengar hal itu


"Sekuat itu?" Tanya Verdea


Ordelia tersenyum kearahnya sambil mengangguk


"Lalu, kenapa kamu tidak mengajar bertarung untukku di kastil?" Tanya Verdea kesal


Wajah cemberutnya terlihat lagi, namun aku tutupi dengan mengelus kepalanya


Jelas saja aku tidak ingin mengajarinya. Jika dia mencoba bertarung denganku, dia mungkin tidak akan belajar apa-apa


Walaupun aku sudah menahan diri juga nantinya, Ivor mungkin akan menjadi rusuh dan memintaku bertarung dengannya karena tidak tahan melihatku bersikap lemah


Dan alasan utamanya aku tidak ingin mengajari anak ini disana adalah, aku ingin memastikan kerusakan di kastil itu tidak cukup besar sehingga tidak menjadi puing


Pertarunganku dan Luna saja sudah cukup memporak-porandakan tempat ini, apalagi jika kastil Thyme nanti


"Alasan tertentu" Aku berkata


"... Kalau begitu ajari aku sekarang" Verdea berkata


Ahahaha....!


BERI AKU ISTIRAHAT!


Kenapa kamu harus menginginkan hal itu Veri......!?


"Tidak" Aku berkata sambil menahan tangisan batinku


"Ajari aku"


Apa dosaku hingga harus dipaksa seperti ini...? Kenapa dia harus bersifat pemaksa...?


"Baiklah... Tapi nanti sore, ya...?"


Tangisan batinku itu pun berubah menjadi tangisan asli karena kesal. Tapi, aku berusaha menahannya sekuat tenaga


Sementara itu, mengabaikan mataku yang berair karena kesal, Verdea bersorak senang


"Yap. Tanggung jawabmu" Luna berkata sambil bangun. "Bertahanlah" Tambahnya sambil menepuk pundakku dan mengedipkan sebelah matanya


Aku hanya meringis kesal ketika melihat dia yang pergi dengan santai tanpa beban sama sekali


"Aku juga ingin ikut" Veskal berkata sambil mengangkat tangannya


VESKAL!!!


Cyth hanya tertawa melihat wajahku yang lemas, selagi kedua anak itu terlihat antusias


......................


--- Sore Hari ---


Aku tidak ingin datang...


Tapi semua teman-temanku mendadak sudah mendengar kabar latihan kami dan ingin menonton...


Alhasil, aku dipaksa pergi kemari oleh semua temanku, terutama kedua anak itu


...


Aku tidak boleh begini. Aku sudah berkata 'ya' pada mereka tadi. Aku juga harus bersemangat


Hmph!


Di sebuah area luas di tengah hutan ini sudah cukup bagus untuk latihan kami. Aku sengaja membawa mereka ke tempat yang jauh dari pemukiman agar memastikan tidak ada kerusakan parah sama sekali


Semua teman-temanku yang menonton berdiri tidak jauh dari kami bertiga


Dan selagi mereka duduk dengan rapi dan menonton, aku berdiri di hadapan kedua anak itu dan mengingatkan mereka tentang aturan dasarnya


"Ingat. Aku hanya akan mengajarkan kalian untuk hari ini saja"


Veskal dan Verdea mengangguk paham


"Kalian harus berjanji jangan menggunakan kekuatannya sembarangan"


"Jangan seperti dia!" Ordelia menyela dari kejauhan


Verdea dan Veskal tertawa mendengar Ordelia, sementara aku memberi tatapan kesal kearahnya


Mengabaikan Ordelia, aku melanjutkan perkataanku

__ADS_1


"Dan yang terakhir, jangan merusak tempat ini hanya karena kalian sedang latihan"


"Ingat! Jangan seperti dia!" Fyon ikut menyela dari kejauhan


Fyon...!


Semua orang yang menonton kami tertawa mendengar Fyon, sementara Verdea dan Veskal mencoba menahan tawa mereka di hadapanku


Kuhela napasku sedalam mungkin


"Kalian siap?"


Mereka berdua mengangguk


"Omong-omong, memangnya sekuat apa sihirnya?" Cyth bertanya pada Luna


"Kamu akan segera tahu" Jawab Luna


Jika aku ingin mengajari mereka sihir...


Mungkin aku harus mulai dari sihir tanah yang paling mudah


Aku memperagakan kuda-kuda dasar merapal sihir tanah kepada mereka


Kedua kakiku terbuka lebar, dan terpaku kuat ke tanah. Tangan kananku naik ke depan setinggi bahuku. Mataku tertutup rapat dan pernapasanku kuatur perlahan


Mereka memperagakan persis seperti yang aku lakukan dan sesekali melirik kearahku, untuk memastikan kecocokan gerakan mereka dengan gerakanku


Aku melirik kearah mereka dan menyuruh mereka untuk tetap fokus


Dan disaat seterusnya, Mana mulai terkumpul di tanganku selagi aku merapal


"Oh, roh tanah yang agung. Berikanlah aku kekuatanmu untuk menggoyahkan bumi ini. Flying Stone"


Mana itu langsung berbentuk menjadi sebuah batu kecil yang tajam, dan ketika terlontar


Fwush....!


BRAK!!


Tabrakannya langsung membuat 3 pohon di depanku berlubang


Suara tabrakannya yang menggema itu sendiri membuat hampir seluruh hutan kaget


Mereka berdua ditambah Cyth yang menonton langsung ternganga melihat hal itu. Sementara itu, para teman elf ku hanya melihat dengan wajah tersenyum, kecuali Ordelia


Ups... Aku membuatnya marah lagi...


Aku membuang napasku perlahan dan menoleh kearah Verdea dan Veskal yang justru malah menatapku, menganga


"Aku ingin kalian mengulangi rapalanku tadi" Aku berkata


"Tapi, bagaimana cara menembaknya?" Tanya Verdea


"Gunakan pikiranmu, sama seperti saat terbang"


Verdea dan Veskal mengangguk paham, walaupun Verdea masih terlihat tidak yakin dengan caranya


"Baiklah! Aku akan coba!" Veskal berkata dengan semangat


Dia membenarkan posisinya dan mulai merapal. Tapi...


"Flying Stone!"


Fwush!


Krak!


Justru batunya yang pecah ketika menghantam sebuah pohon. Tapi, aku seharusnya memuji dirinya karena langsung bisa melontarkan sihir


Namun, wajah Veskal terlihat sedikit kecewa


"Kenapa sihir yang kulontarkan tidak sekuat milikmu?" Dia bertanya


Aku menghela napas


Mereka benar-benar tidak tahu apapun sama sekali tentang sihir


Aku mendekat ke Veskal dan membenarkan posisinya


"Baiklah. Aku ingin kamu menahan seranganku" Aku berkata sambil mulai melepas sarung tangan dan memanjangkan tanganku


"Hah?"


"Tu-"


Tapi sebelum dia sempat berkata-kata lagi, Tanganku terayun dari haluan samping kearah Veskal. Dia kemudian menghindarinya dengan sukses dengan melompat tinggi


Setelah dia mendarat dia kemudian menoleh kearahku dengan wajah kesal


"Kenapa coba!?"


Aku mencoba menganalisa perbuatannya tadi


"Rupanya kamu tidak cocok menggunakan sihir air dan tanah" Aku berkata


"Hah!? Kenapa begitu?" Veskal berkata dengan kesalnya


"Gampang saja, dan ingat perkataanku ini---


--- Air dipengaruhi oleh pikiranmu, Api dipengaruhi oleh semangatmu, Tanah dipengaruhi oleh tubuhmu, Angin dipengaruhi oleh gerakanmu, dan Cahaya dipengaruhi oleh hatimu"


"Pikiran, Semangat, Tubuh, Gerakan, Hati..."


"Yap. Badanmu tidak kuat sama sekali ketika merapal sihir tanah itu, dan menyebabkannya menjadi lemah"


Veskal menunduk kesal, sadar akan kekurangannya


"... Lalu, sihir apa yang cocok untukku?" Dia bertanya lagi


Mari kita lihat...


"Angin mungkin yang paling cocok. Kamu mengandalkan nalurimu untuk melakukan sesuatu dan gerakanmu juga sangat cepat"


"... Begitu..."


Veskal kemudian terlihat berpikir, dan disaat yang sama, Verdea sudah mulai siap merapal dan memasang kuda-kuda yang sama


Senyum lebarnya membuatku jadi ingin melihat hasil dari anak itu


"Aku ingin belajar sihir api" Verdea berkata padaku


Aku tersenyum lebar sambil menghela napas


Perlahan aku mendekat kearahnya dan membongkar gerakan kuda-kudanya tadi


"Kamu tidak memerlukan kuda-kuda untuk sihir api. Cukup tengadahkan tangan kananmu seperti ini" Aku berkata sambil menunjukkannya cara yang benar


"Baiklah"


Dia langsung memperagakannya dan sudah mulai terlihat tidak sabar


Haha! Dia sudah siap sekali. Aku juga harus cepat merapal


Tapi, aku tidak mencoba untuk fokus agar tidak ada Mana terkumpul di tanganku


"Oh, roh api yang agung. Terimalah semangatku dan berkobar lah di hadapanku. Fireball"


Dia kemudian langsung merapal sesuai dengan apa yang kukatakan. Mana mulai terkumpul di tangannya dan sebuah bola api mulai terbentuk hingga menjadi sebesar tangan kecilnya itu


Dan selagi dia merapal, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Atau hanya pemikiranku saja?


...


...!


Hah!?


"Veri-!!!"


"Fireball"


Ketika sihir itu terlontar, aku dengan cepatnya melilit sihir itu dengan tanganku dan berusaha memadamkannya


Bola api yang dia lemparkan itu pun padam dengan segera, membuat semua orang terbelalak kaget melihat gerakanku yang mendadak itu


"Kenapa!?" Tanya Verdea yang kaget


Semua temanku yang menonton juga bertanya-tanya ada apa


Tapi wajahku yang kesakitan sudah cukup untuk menjawab pertanyaan mereka


Melihatku yang kesakitan, mata mereka semua kemudian tertuju kearah tanganku

__ADS_1


Dan alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari kalau tanganku itu meleleh hingga menjadi secair mungkin


Untung saja...


Jika aku telat melilit sihir itu, seluruh hutan akan terbakar


Semua teman-temanku yang menonton langsung mendekat kearahku dengan cepat


"Vain! Tangamu-"


Aku menaikkan tangan kananku untuk menyuruh mereka semua diam di tempat. Mataku secara tidak langsung terpaku kearah tanganku itu


Sial... Seandainya aku telat memutuskannya dari tubuhku, aku pasti sudah ikut hangus


Ukurannya bahkan jadi sangat pendek dan terasa seperti lengan atasnya saja yang masih utuh


"Regenerasi ku cepat... Tenang saja..."


Tanganku langsung tumbuh kembali perlahan-lahan setelah itu, walaupun tidak bisa secepat biasanya karena terbakar sampai meleleh


Panas api itu luar biasa...


Namun, wajah Verdea menunjukkan kalau dia merasa bersalah. Matanya yang mulai berair semakin terlihat jelas ketika dia mendekat perlahan


"Vain..."


"Tenang nak. Ini bukan salahmu"


"Tapi..."


"Tidak apa-apa. Lihat"


Aku menunjukkan tanganku yang sudah kembali utuh sepenuhnya kepada Verdea sambil memasang wajah tersenyum untuk menenangkannya


"... Maaf---"


Air matanya mulai menetes selagi dia terus melihat kearahku


"Hey... Tidak perlu menangis. Tidak apa"


Aku perlahan memeluknya dan berusaha menenangkannya


Semua temanku terlihat kebingungan dengan hal yang barusan terjadi itu


"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Cyth panik


Aku diam tidak menjawab


Itu seharusnya pertanyaanku. Apa-apaan yang barusan terjadi tadi?


Aku melihat banyak sekali Mana tiba-tiba terkumpul di tangannya, bahkan menyamai ukuran Mana seorang perapal sihir tingkat bencana


Normalnya, jika Mana yang terkumpul semakin banyak, sihir itu akan memiliki ukuran yang lebih besar dari normalnya. Itu sihir dasar, itu sebabnya dia hanya memerlukan Mana kecil untuk membentuknya saja. Semakin besar ukurannya, maka semakin kuat kekuatannya


Tapi, ukuran bola api itu sama sekali tidak membesar walaupun diisi oleh Mana sebanyak itu. Aku baru merasakan kekuatan aslinya ketika bola api itu berhasil kulilit dan melelehkan tanganku sampai nyaris tidak tersisa


Seandainya aku tidak bisa melihat Mana dan telat sedikit saja melilitnya, aku yakin hutan ini tidak akan selamat walaupun para Klan Elf air turun tangan


Hal itu benar-benar seperti dia mengompres ukuran sihirnya tanpa mengompres ukuran Mana yang dia pakai


Aku bahkan tidak yakin ada perapal sihir yang sudah ahli yang bisa mengompres ukuran sihir tanpa mengompres Mana miliknya


Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan


...


Kecuali...


Karena simbol itu


Aku melirik kearah simbol di tangan kanan Verdea


...


Ada sesuatu yang aneh dari simbol itu. Aku tidak merasa itu semata-mata hanya sebuah simbol


Pertama aku melihat aliran Mana di area simbol itu, dan sekarang, simbol itu mungkin menjadi penyebab sihir yang dilontarkan Verdea menjadi aneh dan mematikan


Hal ini terlalu aneh


Tapi, untuk sekarang...


"... Aku akan mencoba mengajarimu menekan sihirmu sekarang" Aku berkata


Verdea masih merasa gelisah dan wajahnya dengan jelas menunjukkan kalau dia tidak yakin harus melanjutkan latihannya


Tapi, dia setidaknya harus bisa menekan ukuran Mana miliknya yang berlimpah itu


"... Ah, ya. Ini juga agar sihirmu bisa kamu kontrol lebih baik" Ordelia menambah


Dia masih terlihat gelisah. Tapi, akhirnya dia mengangguk perlahan


Aku langsung bernapas lega, kemudian menyuruh yang lainnya untuk mundur


Mereka melakukan persis dengan apa yang ku perintahkan


Aku kemudian berdiri dan mengambil satu langkah mundur


"Sekarang, bernapas"


Verdea menarik napas dan membuangnya


Baiklah, dia seharusnya sudah sedikit lebih tenang sekarang


"Selanjutnya, rapal sihir api milikmu"


"Tapi-"


"Rapal saja, tapi tahan di tanganmu"


Dia kemudian mulai menengadahkan tangan kanannya yang gemetar dan mulai merapal


Mana mulai berkumpul lagi di tangannya


"Oh, roh api yang agung. Terimalah semangatku dan berkobar lah di hadapanku. Fireball"


Sebuah bola api kecil muncul di tangannya. Ukuran bola api miliknya itu hanya berukuran sebesar kerikil sekarang ini


"Baiklah, tahan disitu"


Anak ini berbakat dalam sihir, dia bisa melakukan semua hal yang kuajari hanya dengan sebuah penjelasan


Dia bahkan bisa dengan mudahnya menahan sihir itu di tangannya tanpa membuatnya menghilang


Dan sekarang, aku harus menganalisa sihir miliknya...


...


"Baiklah. Aku ingin kamu menghilangkan sihir itu perlahan"


"M- menggunakan pikiranku?"


"Ya, pintar"


Dia kemudian memejamkan matanya dan mulai fokus sesuai instruksi ku


Perlahan, bola api itu mulai menciut dan menghilang menjadi asap, sesuai dengan apa yang dia inginkan


Membuka matanya perlahan, aku mengelus kepalanya sambil mengatakan, "Anak hebat" dan tersenyum lembut


"... Aku bisa...!"


Dia memelukku untuk menenangkan dirinya. Senyum lega tertempel di wajahnya seakan dia sudah melalui sesuatu yang berat


"Bagaimana?" Tanya Luna


Semua teman-temanku mendekat kearah kami, dipenuhi dengan tatapan khawatir mereka


"Tidak. Dia tidak sekuat itu dalam sihir"


"Maksudmu, sihir yang membuat tanganmu sampai hancur begitu tidak kuat sama sekali?" Luna bertanya sekali lagi dengan nada tegas


"Ya. Aku memang mengatakan itu"


"... Maksudmu apa Vain?" Tanya Verdea


"... Penyebab sihirmu kuat adalah segel itu" Aku menjawab


"S- segel!?" Semua temanku berkata dengan nada bingung


Aku cuma memasang wajah cemas, tetapi lega


Setidaknya aku sudah tahu sesuatu tentang lambang di tangan kanan milik Verdea itu

__ADS_1


"Itu bukan simbol semata. Itu segel"


__ADS_2