
--- Beberapa saat kemudian ---
"Lalu, apa penjelasan kalian dengan hal ini?" Tanya Ordelia yang terlihat marah
Dia menyilangkan tangannya di dada dan terlihat siap memberi hukuman
Aku dan Luna hanya duduk di depannya dan bertingkah seperti anak-anak yang dimarahi ibunya...
Pemandangan hutan di sekitar kami yang berantakan akibat pertarungan kami itu sudah jelas membuat Ordelia murka. Dia bahkan menyeret anggota klan bunga kemari
Para Fae dan Elf bunga sibuk menumbuhkan ulang pohon-pohon yang ada disana dan terlihat kewalahan karena betapa berantakannya tempat itu
Namun, kami masih duduk di tanah selagi Ordelia berdiri di depan kami
"Dia yang menantang ku duluan" Aku berkata sambil menunjuk kearah Luna
"Tapi kamu menerimanya" Luna membalas
"Sudah selesai berdebatnya?" Ordelia menyela
Kami langsung merinding ketika mendengar suaranya yang dingin itu
Sementara kami dimarahi, Veskal, Verdea dan Cyth hanya melihat sekeliling dengan mulut ternganga
"Dahsyat sekali..." Veskal berkata dengan kagum
Verdea langsung mengadu meminta turun, dan Cyth hanya melepasnya ke tanah karena tidak bisa menahannya
Verdea kemudian berlari kearahku dengan mata berbinar
"Vainzel. Bagaimana hasil pertarungannya?" Dia bertanya
Aku tersenyum bangga sambil menunjuk diriku dan berkata
"Tentu saja a-"
Tetapi, wajah Ordelia yang masih marah itu membuatku terdiam lagi dengan tambahan ekstra keringat dingin
Ordelia kemudian menghela napas lelah
"Kenapa kalian harus begini...?" Tanyanya
Aku menanyakan hal yang sama Ordelia... Jangan salahkan aku...
"Sebentar lagi tumbuh bukan? Lagipula area ini tidak dengan pemukiman-"
"Bukan berarti kalian harus meratakan tempat ini sampai jadi debu!"
Luna langsung diam dan menunduk ke bawah
Beginilah Ordelia. Setiap kali ada kekacauan yang melibatkan kerusakan alam, sifatnya yang dingin dan tegas akan keluar di depan pelakunya
Tapi, kenapa harus aku yang dimarahi sekarang ini......!?
Aku meringis kesal memikirkan perbuatanku, selagi Ordelia menoleh kearahku
"Untung saja kamu tidak menggunakan tongkat sihirmu"
"Vain punya tongkat sihir!?" Verdea berseru
Kami semua yang ada disana menoleh kearahnya
"Ya... Aku punya"
Diikuti perkataanku itu, aku memulai rapalan doa milikku. Dalam waktu sekejap, cahaya hijau muncul di tanganku dan membentuk wujud sebuah tongkat sihir panjang dari kayu
Tongkat itu memiliki ujung yang melingkar, dan di dalam lingkaran itu, sebuah permata sihir besar berwarna hijau terletak disana
Tongkat itu sendiri dibuat dari kayu khusus sehingga hampir tidak bisa patah sama sekali. Itu sebabnya aku bisa menggunakan tongkat itu menjadi senjata jarak dekat
Verdea terkagum melihat tongkat itu. Dia bahkan berusaha memegangnya, tapi aku menghilangkan tongkat itu sebelum sempat disentuh
Verdea langsung cemberut kearahku yang tersenyum meledek
"Jika dia menggunakan tongkat itu apa yang akan terjadi?" Tanya Veskal
Cyth juga jadi ikut penasaran
"Gampang saja. Tanah di tempat ini bisa terbalik karena kekuatan tongkat itu" Ordelia berkata sambil menginjakkan kakinya dengan keras ke tanah
Cyth dan Veskal bersiul kagum mendengar hal itu
"Sekuat itu?" Tanya Verdea
Ordelia tersenyum kearahnya sambil mengangguk
"Lalu, kenapa kamu tidak mengajar bertarung untukku di kastil?" Tanya Verdea kesal
Wajah cemberutnya terlihat lagi, namun aku tutupi dengan mengelus kepalanya
Jelas saja aku tidak ingin mengajarinya. Jika dia mencoba bertarung denganku, dia mungkin tidak akan belajar apa-apa
Walaupun aku sudah menahan diri juga nantinya, Ivor mungkin akan menjadi rusuh dan memintaku bertarung dengannya karena tidak tahan melihatku bersikap lemah
Dan alasan utamanya aku tidak ingin mengajari anak ini disana adalah, aku ingin memastikan kerusakan di kastil itu tidak cukup besar sehingga tidak menjadi puing
Pertarunganku dan Luna saja sudah cukup memporak-porandakan tempat ini, apalagi jika kastil Thyme nanti
"Alasan tertentu" Aku berkata
"... Kalau begitu ajari aku sekarang" Verdea berkata
Ahahaha....!
BERI AKU ISTIRAHAT!
Kenapa kamu harus menginginkan hal itu Veri......!?
"Tidak" Aku berkata sambil menahan tangisan batinku
"Ajari aku"
Apa dosaku hingga harus dipaksa seperti ini...? Kenapa dia harus bersifat pemaksa...?
"Baiklah... Tapi nanti sore, ya...?"
Tangisan batinku itu pun berubah menjadi tangisan asli karena kesal. Tapi, aku berusaha menahannya sekuat tenaga
Sementara itu, mengabaikan mataku yang berair karena kesal, Verdea bersorak senang
"Yap. Tanggung jawabmu" Luna berkata sambil bangun. "Bertahanlah" Tambahnya sambil menepuk pundakku dan mengedipkan sebelah matanya
Aku hanya meringis kesal ketika melihat dia yang pergi dengan santai tanpa beban sama sekali
"Aku juga ingin ikut" Veskal berkata sambil mengangkat tangannya
VESKAL!!!
Cyth hanya tertawa melihat wajahku yang lemas, selagi kedua anak itu terlihat antusias
......................
--- Sore Hari ---
Aku tidak ingin datang...
Tapi semua teman-temanku mendadak sudah mendengar kabar latihan kami dan ingin menonton...
Alhasil, aku dipaksa pergi kemari oleh semua temanku, terutama kedua anak itu
...
Aku tidak boleh begini. Aku sudah berkata 'ya' pada mereka tadi. Aku juga harus bersemangat
Hmph!
Di sebuah area luas di tengah hutan ini sudah cukup bagus untuk latihan kami. Aku sengaja membawa mereka ke tempat yang jauh dari pemukiman agar memastikan tidak ada kerusakan parah sama sekali
Semua teman-temanku yang menonton berdiri tidak jauh dari kami bertiga
Dan selagi mereka duduk dengan rapi dan menonton, aku berdiri di hadapan kedua anak itu dan mengingatkan mereka tentang aturan dasarnya
"Ingat. Aku hanya akan mengajarkan kalian untuk hari ini saja"
Veskal dan Verdea mengangguk paham
"Kalian harus berjanji jangan menggunakan kekuatannya sembarangan"
"Jangan seperti dia!" Ordelia menyela dari kejauhan
Verdea dan Veskal tertawa mendengar Ordelia, sementara aku memberi tatapan kesal kearahnya
Mengabaikan Ordelia, aku melanjutkan perkataanku
__ADS_1
"Dan yang terakhir, jangan merusak tempat ini hanya karena kalian sedang latihan"
"Ingat! Jangan seperti dia!" Fyon ikut menyela dari kejauhan
Fyon...!
Semua orang yang menonton kami tertawa mendengar Fyon, sementara Verdea dan Veskal mencoba menahan tawa mereka di hadapanku
Kuhela napasku sedalam mungkin
"Kalian siap?"
Mereka berdua mengangguk
"Omong-omong, memangnya sekuat apa sihirnya?" Cyth bertanya pada Luna
"Kamu akan segera tahu" Jawab Luna
Jika aku ingin mengajari mereka sihir...
Mungkin aku harus mulai dari sihir tanah yang paling mudah
Aku memperagakan kuda-kuda dasar merapal sihir tanah kepada mereka
Kedua kakiku terbuka lebar, dan terpaku kuat ke tanah. Tangan kananku naik ke depan setinggi bahuku. Mataku tertutup rapat dan pernapasanku kuatur perlahan
Mereka memperagakan persis seperti yang aku lakukan dan sesekali melirik kearahku, untuk memastikan kecocokan gerakan mereka dengan gerakanku
Aku melirik kearah mereka dan menyuruh mereka untuk tetap fokus
Dan disaat seterusnya, Mana mulai terkumpul di tanganku selagi aku merapal
"Oh, roh tanah yang agung. Berikanlah aku kekuatanmu untuk menggoyahkan bumi ini. Flying Stone"
Mana itu langsung berbentuk menjadi sebuah batu kecil yang tajam, dan ketika terlontar
Fwush....!
BRAK!!
Tabrakannya langsung membuat 3 pohon di depanku berlubang
Suara tabrakannya yang menggema itu sendiri membuat hampir seluruh hutan kaget
Mereka berdua ditambah Cyth yang menonton langsung ternganga melihat hal itu. Sementara itu, para teman elf ku hanya melihat dengan wajah tersenyum, kecuali Ordelia
Ups... Aku membuatnya marah lagi...
Aku membuang napasku perlahan dan menoleh kearah Verdea dan Veskal yang justru malah menatapku, menganga
"Aku ingin kalian mengulangi rapalanku tadi" Aku berkata
"Tapi, bagaimana cara menembaknya?" Tanya Verdea
"Gunakan pikiranmu, sama seperti saat terbang"
Verdea dan Veskal mengangguk paham, walaupun Verdea masih terlihat tidak yakin dengan caranya
"Baiklah! Aku akan coba!" Veskal berkata dengan semangat
Dia membenarkan posisinya dan mulai merapal. Tapi...
"Flying Stone!"
Fwush!
Krak!
Justru batunya yang pecah ketika menghantam sebuah pohon. Tapi, aku seharusnya memuji dirinya karena langsung bisa melontarkan sihir
Namun, wajah Veskal terlihat sedikit kecewa
"Kenapa sihir yang kulontarkan tidak sekuat milikmu?" Dia bertanya
Aku menghela napas
Mereka benar-benar tidak tahu apapun sama sekali tentang sihir
Aku mendekat ke Veskal dan membenarkan posisinya
"Baiklah. Aku ingin kamu menahan seranganku" Aku berkata sambil mulai melepas sarung tangan dan memanjangkan tanganku
"Hah?"
"Tu-"
Tapi sebelum dia sempat berkata-kata lagi, Tanganku terayun dari haluan samping kearah Veskal. Dia kemudian menghindarinya dengan sukses dengan melompat tinggi
Setelah dia mendarat dia kemudian menoleh kearahku dengan wajah kesal
"Kenapa coba!?"
Aku mencoba menganalisa perbuatannya tadi
"Rupanya kamu tidak cocok menggunakan sihir air dan tanah" Aku berkata
"Hah!? Kenapa begitu?" Veskal berkata dengan kesalnya
"Gampang saja, dan ingat perkataanku ini---
--- Air dipengaruhi oleh pikiranmu, Api dipengaruhi oleh semangatmu, Tanah dipengaruhi oleh tubuhmu, Angin dipengaruhi oleh gerakanmu, dan Cahaya dipengaruhi oleh hatimu"
"Pikiran, Semangat, Tubuh, Gerakan, Hati..."
"Yap. Badanmu tidak kuat sama sekali ketika merapal sihir tanah itu, dan menyebabkannya menjadi lemah"
Veskal menunduk kesal, sadar akan kekurangannya
"... Lalu, sihir apa yang cocok untukku?" Dia bertanya lagi
Mari kita lihat...
"Angin mungkin yang paling cocok. Kamu mengandalkan nalurimu untuk melakukan sesuatu dan gerakanmu juga sangat cepat"
"... Begitu..."
Veskal kemudian terlihat berpikir, dan disaat yang sama, Verdea sudah mulai siap merapal dan memasang kuda-kuda yang sama
Senyum lebarnya membuatku jadi ingin melihat hasil dari anak itu
"Aku ingin belajar sihir api" Verdea berkata padaku
Aku tersenyum lebar sambil menghela napas
Perlahan aku mendekat kearahnya dan membongkar gerakan kuda-kudanya tadi
"Kamu tidak memerlukan kuda-kuda untuk sihir api. Cukup tengadahkan tangan kananmu seperti ini" Aku berkata sambil menunjukkannya cara yang benar
"Baiklah"
Dia langsung memperagakannya dan sudah mulai terlihat tidak sabar
Haha! Dia sudah siap sekali. Aku juga harus cepat merapal
Tapi, aku tidak mencoba untuk fokus agar tidak ada Mana terkumpul di tanganku
"Oh, roh api yang agung. Terimalah semangatku dan berkobar lah di hadapanku. Fireball"
Dia kemudian langsung merapal sesuai dengan apa yang kukatakan. Mana mulai terkumpul di tangannya dan sebuah bola api mulai terbentuk hingga menjadi sebesar tangan kecilnya itu
Dan selagi dia merapal, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Atau hanya pemikiranku saja?
...
...!
Hah!?
"Veri-!!!"
"Fireball"
Ketika sihir itu terlontar, aku dengan cepatnya melilit sihir itu dengan tanganku dan berusaha memadamkannya
Bola api yang dia lemparkan itu pun padam dengan segera, membuat semua orang terbelalak kaget melihat gerakanku yang mendadak itu
"Kenapa!?" Tanya Verdea yang kaget
Semua temanku yang menonton juga bertanya-tanya ada apa
Tapi wajahku yang kesakitan sudah cukup untuk menjawab pertanyaan mereka
Melihatku yang kesakitan, mata mereka semua kemudian tertuju kearah tanganku
__ADS_1
Dan alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari kalau tanganku itu meleleh hingga menjadi secair mungkin
Untung saja...
Jika aku telat melilit sihir itu, seluruh hutan akan terbakar
Semua teman-temanku yang menonton langsung mendekat kearahku dengan cepat
"Vain! Tangamu-"
Aku menaikkan tangan kananku untuk menyuruh mereka semua diam di tempat. Mataku secara tidak langsung terpaku kearah tanganku itu
Sial... Seandainya aku telat memutuskannya dari tubuhku, aku pasti sudah ikut hangus
Ukurannya bahkan jadi sangat pendek dan terasa seperti lengan atasnya saja yang masih utuh
"Regenerasi ku cepat... Tenang saja..."
Tanganku langsung tumbuh kembali perlahan-lahan setelah itu, walaupun tidak bisa secepat biasanya karena terbakar sampai meleleh
Panas api itu luar biasa...
Namun, wajah Verdea menunjukkan kalau dia merasa bersalah. Matanya yang mulai berair semakin terlihat jelas ketika dia mendekat perlahan
"Vain..."
"Tenang nak. Ini bukan salahmu"
"Tapi..."
"Tidak apa-apa. Lihat"
Aku menunjukkan tanganku yang sudah kembali utuh sepenuhnya kepada Verdea sambil memasang wajah tersenyum untuk menenangkannya
"... Maaf---"
Air matanya mulai menetes selagi dia terus melihat kearahku
"Hey... Tidak perlu menangis. Tidak apa"
Aku perlahan memeluknya dan berusaha menenangkannya
Semua temanku terlihat kebingungan dengan hal yang barusan terjadi itu
"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Cyth panik
Aku diam tidak menjawab
Itu seharusnya pertanyaanku. Apa-apaan yang barusan terjadi tadi?
Aku melihat banyak sekali Mana tiba-tiba terkumpul di tangannya, bahkan menyamai ukuran Mana seorang perapal sihir tingkat bencana
Normalnya, jika Mana yang terkumpul semakin banyak, sihir itu akan memiliki ukuran yang lebih besar dari normalnya. Itu sihir dasar, itu sebabnya dia hanya memerlukan Mana kecil untuk membentuknya saja. Semakin besar ukurannya, maka semakin kuat kekuatannya
Tapi, ukuran bola api itu sama sekali tidak membesar walaupun diisi oleh Mana sebanyak itu. Aku baru merasakan kekuatan aslinya ketika bola api itu berhasil kulilit dan melelehkan tanganku sampai nyaris tidak tersisa
Seandainya aku tidak bisa melihat Mana dan telat sedikit saja melilitnya, aku yakin hutan ini tidak akan selamat walaupun para Klan Elf air turun tangan
Hal itu benar-benar seperti dia mengompres ukuran sihirnya tanpa mengompres ukuran Mana yang dia pakai
Aku bahkan tidak yakin ada perapal sihir yang sudah ahli yang bisa mengompres ukuran sihir tanpa mengompres Mana miliknya
Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan
...
Kecuali...
Karena simbol itu
Aku melirik kearah simbol di tangan kanan Verdea
...
Ada sesuatu yang aneh dari simbol itu. Aku tidak merasa itu semata-mata hanya sebuah simbol
Pertama aku melihat aliran Mana di area simbol itu, dan sekarang, simbol itu mungkin menjadi penyebab sihir yang dilontarkan Verdea menjadi aneh dan mematikan
Hal ini terlalu aneh
Tapi, untuk sekarang...
"... Aku akan mencoba mengajarimu menekan sihirmu sekarang" Aku berkata
Verdea masih merasa gelisah dan wajahnya dengan jelas menunjukkan kalau dia tidak yakin harus melanjutkan latihannya
Tapi, dia setidaknya harus bisa menekan ukuran Mana miliknya yang berlimpah itu
"... Ah, ya. Ini juga agar sihirmu bisa kamu kontrol lebih baik" Ordelia menambah
Dia masih terlihat gelisah. Tapi, akhirnya dia mengangguk perlahan
Aku langsung bernapas lega, kemudian menyuruh yang lainnya untuk mundur
Mereka melakukan persis dengan apa yang ku perintahkan
Aku kemudian berdiri dan mengambil satu langkah mundur
"Sekarang, bernapas"
Verdea menarik napas dan membuangnya
Baiklah, dia seharusnya sudah sedikit lebih tenang sekarang
"Selanjutnya, rapal sihir api milikmu"
"Tapi-"
"Rapal saja, tapi tahan di tanganmu"
Dia kemudian mulai menengadahkan tangan kanannya yang gemetar dan mulai merapal
Mana mulai berkumpul lagi di tangannya
"Oh, roh api yang agung. Terimalah semangatku dan berkobar lah di hadapanku. Fireball"
Sebuah bola api kecil muncul di tangannya. Ukuran bola api miliknya itu hanya berukuran sebesar kerikil sekarang ini
"Baiklah, tahan disitu"
Anak ini berbakat dalam sihir, dia bisa melakukan semua hal yang kuajari hanya dengan sebuah penjelasan
Dia bahkan bisa dengan mudahnya menahan sihir itu di tangannya tanpa membuatnya menghilang
Dan sekarang, aku harus menganalisa sihir miliknya...
...
"Baiklah. Aku ingin kamu menghilangkan sihir itu perlahan"
"M- menggunakan pikiranku?"
"Ya, pintar"
Dia kemudian memejamkan matanya dan mulai fokus sesuai instruksi ku
Perlahan, bola api itu mulai menciut dan menghilang menjadi asap, sesuai dengan apa yang dia inginkan
Membuka matanya perlahan, aku mengelus kepalanya sambil mengatakan, "Anak hebat" dan tersenyum lembut
"... Aku bisa...!"
Dia memelukku untuk menenangkan dirinya. Senyum lega tertempel di wajahnya seakan dia sudah melalui sesuatu yang berat
"Bagaimana?" Tanya Luna
Semua teman-temanku mendekat kearah kami, dipenuhi dengan tatapan khawatir mereka
"Tidak. Dia tidak sekuat itu dalam sihir"
"Maksudmu, sihir yang membuat tanganmu sampai hancur begitu tidak kuat sama sekali?" Luna bertanya sekali lagi dengan nada tegas
"Ya. Aku memang mengatakan itu"
"... Maksudmu apa Vain?" Tanya Verdea
"... Penyebab sihirmu kuat adalah segel itu" Aku menjawab
"S- segel!?" Semua temanku berkata dengan nada bingung
Aku cuma memasang wajah cemas, tetapi lega
Setidaknya aku sudah tahu sesuatu tentang lambang di tangan kanan milik Verdea itu
__ADS_1
"Itu bukan simbol semata. Itu segel"