
--- Kota Bargalos ---
Verdea dan Frank masih terus berpelukkan selagi yang lainnya ditolong oleh para Dwarf yang membawa mereka ke tempat perawatan
Zaphir terlihat tidak ingin pergi dari sisiku, walaupun aku yakin luka di lehernya itu terasa sangat sakit. Padahal para Dwarf sudah memperingatkannya juga, tapi dia tetap saja berdiri di dekatku
"Pergilah sebentar Zaphir. Aku akan segera mengikutimu nanti"
"... Aku tidak percaya dengan para Dwarf ini"
Memangnya makhluk selain Elf yang mana yang kamu percayai Zaphir...?
Dia mau tidak mau harus membuka diri walaupun hanya sedikit kepada ras lain...
"Maaf, tapi biarkan saja dia disini dulu. Terima kasih dengan kekhawatiran kalian" Aku berkata pada para Dwarf
Mereka hanya melihat kearahku dan Zaphir dengan wajah kecewa namun tersenyum, kemudian pergi sambil sesekali melihat ke belakang
Aku hanya melambaikan tangan pelan sambil tersenyum mengantar kepergian mereka
"Sudah puas?" Aku bertanya pada Zaphir ketika mereka sudah jauh dari pandangan
"Tidak. Suruh manusia ini menjauh dariku" Balasnya sambil menunjuk Artorius yang berdiri di sampingnya
Artorius hanya diam disana. Dia terlihat ingin bicara mengenai sesuatu, tapi merasa tertindas oleh Zaphir yang sedang kesal
Aku heran kenapa orang itu bisa jadi raja paling ternama milik Hortensia. Dia tertindas hanya karena perkataan seseorang dan lebih terlihat seperti pengecut...
Aku tidak akan memaksanya bicara. Toh, kalau tidak penting untukku, aku tidak perlu membuang waktu juga. Dia juga bukan ada hubungan yang terlalu baik denganku atau semacamnya
"Kami tidak apa-apa kakek. Misi sukses" Bisik Verdea pada Frank yang masih memeluknya dan menangis
Dia pun merenggangkan pelukan mereka dan melihat langsung mata kakeknya itu
"Lihat. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit dipenuhi debu. Aku takut kakek bersin kalau terlalu dekat denganku sekarang"
Mereka berdua kemudian tertawa kecil
Pemandangan yang menghangatkan hati...
Verdea kemudian bangun bersamaan dengan Frank dan mendekat kearahku
"Vain. Lama tidak berjumpa" Verdea berkata
Aku tersenyum sambil mengelus kepala anak itu. Dia menepis pelan tanganku dengan wajah cemberut seperti sedang mengatakan, 'aku bukan anak kecil lagi'
Melihat wajahnya itu, aku hanya tertawa kecil
"Salam ku untuk Oberon yang terhormat" Frank berkata
Frank kemudian menunduk hormat, namun aku langsung mencegatnya sebelum dia sempat membungkuk lebih jauh. "Tidak perlu menunduk" Aku menambahkan
"Terima kasih sudah memastikan cucuku kembali dengan selamat" Frank berterima kasih
"Ahaha. Aku ini teman sekaligus pengawalnya. Memang sudah tugasku untuk memastikan keamanannya" Aku membalas
Zaphir tiba-tiba menatapku dengan tatapan dingin nan kaku yang mematikan. Dia seakan-akan bertanya 'apa maksud kata pengawal itu hah?'
Aku hanya menggelengkan kepala, dan dia langsung diam tanpa melakukan apapun lagi
...
Lagipula, alasan aku mengirim Verdea kemari juga memang untuk memastikan keamanannya. Aku tidak tahu kenapa dia senekat itu menerobos masuk wilayah Hortensia
Atau...
"... Mari, kita pergi ke peristirahatan dahulu" Frank berkata lagi
Aku membuyarkan pikiranku dan segera mengajak Zaphir untuk ikut denganku. Dia sudah terlihat pucat sekarang ini, mungkin karena lukanya terasa semakin sakit
Yah... Aku sudah memintanya untuk pergi tadi. Jangan salahkan aku kalau dia semakin sakit sekarang. Toh, tidak ada orang yang bisa memaksanya melakukan apapun, bahkan aku
Dan...
Dia pasti tidak akan merasa senang dengan sihir penyembuhan milikku nanti...
......................
--- Kediaman pemimpin kota ---
"AAAAAAAHHHHHHHHH!!!!"
"Berhenti berteriak dan berhenti bergerak sekarang juga!!" Aku membentak
Zaphir kemudian berusaha menahan rasa sakitnya lagi sekuat mungkin
Teriakkan miliknya membuat telingaku sakit...!
Padahal aku mencoba menyembuhkannya saja. Ini untuk kebaikannya juga tahu!
Rasanya seperti aku sedang berhadapan dengan Darwin saja. Telingaku terasa berdengung sekarang karena aku yang berada paling dekat dengannya sekarang ini
"Kira-kira kapan dia mau berhenti berteriak?" Tanya Verdea yang sedang duduk sambil menutup telinganya dengan kedua telapak tangan di depan ranjang tempat aku dan Zaphir duduk
Veskal duduk tepat di sampingnya sambil ikut menutup telinga juga
"Diam boca- AAAAHHH!!!"
Mereka berdua hanya menutup telinga lagi dengan wajah kesal ketika Zaphir berteriak sekali lagi
"Dia benar, Zaphir. Kamu setidaknya harus belajar sedikit ketahanan diri" Aku membalas
"Rasanya sangat sakit kamu tahu!?"
Oh wow. Sekarang dia baru merengek mengatakan luka itu sakit. Seandainya dia mau mendengarkanku tadi dan mau melakukan penyembuhan biasa dahulu, sudah pasti dia tidak perlu begini
Sihir penyembuhan ku juga sangat lemah dibandingkan Ordelia. Luka di leher Zaphir ini nyaris tidak tertutup sama sekali walaupun aku sudah menyembuhkannya selama 30 menit ini
__ADS_1
"Vain. Biarkan aku melawan orang ini nanti" Veskal berkata
"Ha- AAAAHHHHH!!"
"SUDAH KUBILANG BERHENTI BERGERAK!!"
Aku ingin memukul kepala Zaphir sekarang ini, tapi aku masih harus tetap fokus menyembuhkan lukanya
"Ya Tuhan, Elf ini..." Gumam Verdea
Hah... Maaf kalau dia mengganggu...
Kami juga sedang berada di rumah walikota Bargalos sekarang ini...
Aku merasa bertanggungjawab karena teriakan Zaphir yang mungkin mengganggu kenyamanan orang yang tinggal disini...
Verdea dan Veskal saja terlihat terganggu...
"Veri-"
'VAINZEL!?'
Woah. Kaget aku...
Apa-apaan itu? Aku bahkan terkejut sekali sampai-sampai aku tidak sengaja melepaskan mantra penyembuhan ku
"Apa itu?" Tanya Zaphir
Aku tidak tahu, tapi...
Asalnya dari kantong celanaku
Verdea dan Veskal yang barusan tidak mendengarkan pun ikut penasaran. Mereka berdua perlahan mendekat kearahku selagi aku meraba kantong celanaku
Dan dari dalam celana itu, aku menemukan sebuah benih pelacak
...!
'Vainzel!? Vainzel!?'
"Halo!? Seren!?" Aku membalas suara itu
'Vain!? Syukurlah, kamu selamat...!'
Zaphir terkejut mendengar perkataanku, kemudian mendekatkan telinganya ke benih yang kupegang itu
Verdea dan Veskal kemudian melihat kearah satu sama lain dan mencoba mengingat sesuatu. Mereka pun mengingat kalau Seren adalah naga penjaga Gerbang Hutan. Mereka juga ikut mendekat untuk mendengarkan perkataan Seren
'Kamu dimana sekarang!? Aku akan menjemputmu' Tanya Seren yang sedang gelisah
"Tidak perlu!" Aku berkata dengan cepat. "Jika teman-temanku ada disana, minta mereka untuk membuat lingkaran teleportasi di luar area Gerbang Hutan. Aku yakin itu cara paling aman untuk sekarang"
"HAH!?" Seru Verdea dan Veskal, bersamaan. "Teleportasi lagi?" Tambah Veskal
"Kalian mau Seren ditembak jatuh oleh penyihir hitam itu apa? Orang itu tidak bisa ditebak bukan?" Aku membalas. "Bagaimana Seren?" Aku bicara kembali pada Seren
"Baiklah aku akan segera pulang ke Miralius. Sampai nanti"
'Aku undur diri. Semoga Pohon Agung selalu memberkatimu'
Aku pun meletakkan benih itu kembali ke kantong celanaku
"... Jadi... Kita akan pergi ke Miralius?" Tanya Verdea
Aku hanya mengangguk meresponnya
Ekspresi penuh keluhan pun tersirat di wajahnya. Bukan hanya dia, Veskal juga begitu. Mereka benar-benar terlihat sangat putus asa sekarang ini
"Kalau kalian tidak tahan dengan teleportasi, tidak perlu ikut saja" Zaphir berkata
"Berisik. Kamu bukan siapa-siapa ku sampai kamu bisa memberitahu aku harus apa" Veskal membalas
Mereka berdua pun berusaha menindas satu sama lain, tapi tidak ada satupun yang goyah
"Berhenti sekarang juga" Aku berkata. "Aku akan segera menggambar lingkaran teleportasi nya sekarang juga"
Aku berniat beranjak dari tempat dudukku, tapi Verdea kemudian menghalangi sebelum aku sempat
Dia menatap langsung kearahku dengan wajah sedih
"Bagaimana... Kalau kita istirahat saja dulu. Kamu tahu... Jalan-jalan atau semacamnya" Dia berkata
...
"Tapi-"
"Tidak apa-apa bukan?" Dia memotong
Kali ini, wajahnya berubah menjadi memelas, seperti anjing yang meminta perhatian
Aku yang tidak tahan dengan ekspresi nya itu pun hanya mengangguk pelan
Aku mungkin akan menyesali ini... Tapi dia terlihat sangat senang sampai aku jadi tidak tega...
......................
Dia berjalan dengan riangnya sambil mengelilingi kota Bargalos bersamaku. Sesekali, dia menyapa para Dwarf yang tinggal di tempat ini dengan senyum ramah. Para Dwarf yang sudah akrab dengannya itu pun membalas dengan senyuman dan sapaan ramah
Aku hanya berjalan pelan di belakangnya sambil melihatnya dari belakang
...
Anak ini sudah besar sekali. Tubuhnya bahkan sudah nyaris sama tinggi denganku. Rambutnya jadi sangat panjang sampai-sampai dia harus membuat kuncir kuda. Dan wajah kecilnya yang dulu itu... Terlihat sama, tapi berbeda
"Kamu sudah besar sekali..." Aku bergumam pelan
Verdea entah bagaimana mendengarkan gumaman ku itu dan tersenyum kecil, kemudian melambatkan langkahnya sedikit sampai bersampingan denganku
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Verdea
Aku menunduk tanpa memandang kearahnya
"... 5 tahun sudah berlalu ya...?"
...
"... Aku benar-benar merasa canggung bertemu denganmu sekarang ini, tidak seperti yang kubayangkan" Aku melanjutkan
"... Kenapa?" Verdea bertanya
"Habisnya... Aku pikir kamu marah denganku" Aku menjawab pelan
Verdea tiba-tiba berhenti berjalan. Aku yang menyadari hal itu pun ikut berhenti beberapa langkah di depannya
Dia menatapku kembali dengan wajah sedih itu
"Kenapa aku harus marah denganmu?" Tanya Verdea lagi. "Apa karena kamu pergi meninggalkanku waktu itu?"
Aku membuang wajahku karena tidak bisa menatap kearahnya lagi
"... Kenapa kamu berkata begitu?" Tanya nya lagi dengan nada yang lebih keras
Dia berjalan mendekat kearahku kemudian mengarahkan pandanganku dengan kedua tangannya kearah wajahnya
Aku melihat langsung wajah sedihnya itu yang sudah mulai berlinangan air mata
Tapi, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus berkata apa
Aku mencoba mengalihkan pandanganku, tapi aku tetap terpaku kearah matanya
"Aku ingin bertanya sekali lagi. Kenapa-"
"Itu karena aku tidak pernah berusaha mencarimu!"
Verdea tersentak mendengar perkataanku yang tiba-tiba keluar itu
Dia perlahan melepaskan kedua genggaman tangannya dari wajahku
...
"... Hanya itu?"
"Apa maksudmu hanya itu!? Aku tidak pernah mencarimu, dengar!?"
Aku membuang wajahku sekali lagi dari pandangan matanya setelah mengatakan hal itu
Aku bodoh. Aku ingin menangis dan memukul wajahku sekarang ini. Aku benar-benar mengatakan hal itu di depan wajahnya
...
...
...
" 'Aku akan selalu menyayangimu, dimanapun kamu berada' "
Aku tersentak mendengar Verdea. Mataku melebar selagi aku perlahan melihat kearah wajahnya yang sudah dipenuhi tetesan air mata
"Aku selalu ingat itu---" Dia menambahkan, kemudian mulai mengusap air matanya
...
Dia... Menungguku selama ini?
Selama itu?
Tanpa kepastian sama sekali...?
...
"Veri... Aku-"
Duk!
Dia langsung memelukku tanpa basa-basi lagi
Matanya bergetar dan mulai berlinang air mata
Ketika aku membalas pelukannya dengan perlahan-lahan, Air matanya mengalir deras turun ke pipinya
"Kamu--- Selalu menempatkan semua kesalahan pada dirimu sendiri. Kenapa kamu selalu membebani dirimu sendiri? Semua ini bukan salahmu. Tapi--- Kamu selalu mencoba melakukan yang terbaik--- untuk kami semua. Bagaimana aku bisa marah padamu? Aku yang sudah-- Terlalu membebanimu. Bahkan sekarang juga begitu---" Verdea berkata
...
"Aku--- Aku selalu percaya-- padamu. Aku selalu berdoa--- agar kita bertemu lagi. Aku--- Selalu mengingat kata-katamu itu---
Dan sekarang--- Kita sudah--- Bersama lagi. Aku sudah lebih kuat--- Sekarang. Jadi--- Kamu tidak perlu--- Menanggung semua bebanku untukmu saja---"
...
Aku jadi ikut meneteskan air mata bersamanya
Tidak kusangka, anak kecil yang sudah besar sekarang ini masih menungguku untuk kembali berada di sisinya, seakan seekor anak ayam yang masih memerlukan induknya
Aku selalu berpikir dia akan marah padaku ketika kami bertemu. Marah karena aku meninggalkannya selama bertahun-tahun. Marah karena aku memaksakan kehendak padanya
Tapi, dia justru menangis di pelukanku sekarang. Menangis bahagia hanya karena dia bisa bertemu denganku lagi
Tidak ada dalam mimpi ku sekalipun hal seperti ini akan terjadi ketika kami bertemu. Tapi, aku benar-benar bersyukur dia menyambutku kembali dengan hangatnya
Hah... Aku benar-benar bersyukur
Terima kasih sudah mau percaya padaku selama ini Verdea
Jika ada hal seperti ini terjadi ke depannya lagi, aku tidak akan mengulangi keputusanku yang sebelumnya. Aku... Tidak akan lagi mengecewakanmu
__ADS_1
Terima kasih sudah mau percaya, nak