
"...!"
Teman-temanku semakin tersentak mendengarkan perkataanku
"Kamu bercanda! Jangan panggil dia seka-!"
"Tenanglah Zaphir, dan dengarkan aku" Aku memotong sebelum dia sempat protes lebih jauh
Aku kembali fokus mendengarkan suara dari benih itu. Belum ada respon sama sekali
"Halo?" Aku berkata sekali lagi
'Vainzel? Ada apa?'
Ah, itu dia. Akhirnya aku bisa mendengar suara Seren
Ivor dan Luxor perlahan mendekatkan telinga mereka untuk ikut mendengarkan pembicaraan kami
"Seren. Aku butuh bantuanmu"
'Kamu berada dimana sekarang ini? Aku akan segera kesana'
"Aku ada di Kerajaan Hortensia sekarang ini"
...
'KAMU GILA!? UNTUK APA KAMU KESANA!?'
Karena teriakkan Seren itu, benih yang mengeluarkan suaranya bahkan nyaris pecah, sama seperti gendang telinga kami
"Wow... Dia benar-benar marah, sampai-sampai aku bisa mendengar suaranya" Lyralia yang duduk berseberangan dariku berkata
Remina dan kedua manusia itu mengangguk ketakutan
Aku mencoba memperbaiki pendengaranku sambil melihat ketus kearahnya
"Kami tertangkap dan sedang mencoba mencari jalan keluar sekarang ini. Intinya, aku ingin kamu datang keatas sebuah kastil paling kecil di kerajaan ini, dengar?" Aku berkata pada Seren
'Cih. Kamu benar-benar merepotkan. Baiklah. Aku akan segera pergi'
"Terima kasih. Dan juga, hati-hati. Tetaplah diam diatas awan sampai kami datang nanti"
...
"Apa yang kamu pikirkan coba?! Memanggilnya sekarang ini sama sekali bukan keputusan yang tepat!" Tanya Zaphir
"Itu bisa jadi keputusan paling tepat, atau keputusan paling buruk" Aku membalas sambil bangun dari tempat dudukku. "Berhasil atau tidaknya, semuanya bergantung pada kita semua dan Seren" Aku menambahkan
Aku kemudian menolong Ordelia bangun, dan teman-temanku yang lainnya pun mengikuti, bersiap untuk kabur
"... Lalu? Apa niatanmu itu untuk membuat kericuhan di kastil Thyme?" Tanya Zaphir sekali lagi
"Benar. Aku akan membuat kericuhan disana agar Seren bisa turun dari atas tanpa disadari terlalu cepat. Lalu, ketika kita akan lepas landas, kita semua yang bisa bertarung harus melindungi Seren" Aku berkata
"... Rencanamu gila. Tapi, itu saja cara paling efektif untuk memastikan keberhasilan 2 rencana ini" Zaphir berkata sambil tersenyum
"Benar. Tapi, aku ingin kalian juga berhati-hati dan menjaga Claudia. Inti itu berada di dalam badannya. Dan jika dia mati, inti itu juga akan mati" Aku berkata
Claudia tersentak mendengar perkataanku
"Lalu, bagaimana kamu akan membunuhku nanti!?" Dia berkata
Aku hanya tersenyum di balik kerudungku, kemudian berkata, "Aku punya caranya"
Mendengar perkataanku, Claudia diam sejenak, kemudian mengangguk percaya
Aku tidak berbohong ketika mengatakan hal itu. Lagipula, aku hanya bisa melakukan 'pembunuhan' itu ketika kami berada di Miralius nanti
"... Apa kalian sudah siap?"
Mereka semua mengangguk membalas perkataanku
Baiklah, waktunya untuk mengeksekusi rencana ini
Kami punya satu peluang. Jika kami gagal menggunakannya, kami mungkin akan kehilangan nyawa kami
Dengan tekad yang diperkuat, kami pun pergi melangkah keluar, menuju koridor kastil
Darwin di sisi lain, masih tidak bisa bergerak dari tempatnya terkapar, walaupun dia masih memiliki kesadaran penuh
Dia mencoba menggigit lidahnya karena kesal, tapi jangankan lidah, bola matanya saja bahkan tidak bisa dia gerakkan sedikitpun
Dia merasa sangat kecewa ketika Claudia mengkhianatinya seperti itu. Hanya air mata yang keluar, mengalir di pipinya selagi dia menatap kepergian kami semua
......................
"Baiklah. Pastikan kalian tidak bersuara sedikitpun nanti dan ikuti aba-abaku" Aku berbisik pada mereka
Mereka mengangguk paham. Ordelia siap maju sambil memeluk Remina yang berada di gendongannya. Sementara itu, kedua manusia yang ikut dengan kami mendekat ke Ivor dan Zaphir, sementara Claudia menempel di dekat Lyralia dan Luxor untuk memastikan keamanan diri
Aku membentuk tim untuk memastikan kami semua tidak menarik perhatian karena pergi bergerombol. Kami juga berencana berpisah melalui beberapa jalur untuk memastikan posisi para penjaga dan posisi para Elf yang ditawan
Tidak ada satupun Elf yang diletakkan di ruang bawah tanah kastil ini selain yang sudah mati dan diawetkan
__ADS_1
...
Aku akan pergi bersama Ordelia karena kami saja yang mampu mengalihkan para penjaga itu tanpa menyakiti atau membuat panik mereka. Dengan begitu, semua temanku yang lainnya bisa dengan mudah menyelinap
Aku juga sudah merapalkan sihir gelap kepada kami semua untuk menyembunyikan 'keberadaan' kami. Mana kami tidak memiliki hawa sama sekali, sehingga membuat kami 'hilang' dari deteksi Mana milik Yael. Kami hanya akan ketahuan jika kami dilihat langsung oleh seseorang
Aku memastikan kesiapan kami semua lagi
Tapi, mataku tertuju kepada Ordelia yang memeluk Remina
...
Jika kami berjalan diam-diam nanti, kami sudah pasti merunduk. Aku tidak yakin kalau Ordelia dapat menggendong Remina dengan mudah saat merunduk nanti
...
Hah...
Sepertinya aku harus merusak pakaianku sedikit...
Aku pun fokus mengalirkan energi ke punggungku. Dengan perlahan tapi pasti, empat sulur keluar dari punggungku, melalui baju dan jubahku
"Ordelia. Biar aku saja yang membawa Remina" Aku berkata pelan
Ordelia terlihat ragu dengan hal itu, tapi dia kemudian mengangguk dan perlahan memberikan Remina kepadaku
Sulur-sulur itu pun perlahan melingkar di pinggang Remina, mengambilnya dari tangan Ordelia
Setelah Remina menempel ke punggungku, Ikatan sulur itu pun mengerat di badan Remina, tapi tidak terlalu kencang
Baiklah. Dengan begini, aku bisa membawanya dengan aman
"Kamu pegangan yang erat ya?" Aku berkata pada Remina yang berada di punggungku
Dia mengangguk pelan dan diam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun
Anak baik. Aku ingin mengelus kepalanya untuk memberi pujian, tapi tidak bisa. Lagipula, waktu terus berjalan. Kami harus cepat keluar
Dengan sebuah aba-aba dariku, kami semua mulai berjalan menuju koridor barat kastil ini, perlahan-lahan
Sambil berjalan merunduk, kami berjalan bergilir sesuai kelompok masing-masing. Walaupun bergerak berkelompok, kami sama sekali tidak berjauhan
Ada 2 hal yang menjadi target kami untuk sekarang. Pertama, kami harus keluar dari kastil ini. Kedua, kami harus bisa menyelamatkan para Elf yang ditawan
Tapi, jika benar Elf yang ditawan di istana ini dipisah-pisah ke kastil yang berbeda, rencana kami ini akan sulit dijalankan
Darahku juga sudah sangat mendidih karena mengingat para Fae dan Elf yang sudah mati diawetkan di ruang bawah tanah itu tadi. Aku bisa meledak kapanpun sekarang ini, tapi aku harus tetap menahan emosi dan fokus
Itu sebabnya aku harus fokus. Aku tidak ingin rencana ini gagal dan membahayakan nyawa teman-temanku
Aku juga harus tetap hidup untuk Verdea. Masih ada janji yang harus kutepati untuk anak itu
...
Kira-kira, apa yang akan dia katakan jika kami bertemu kembali?
Sudahlah
Kami harus mulai sekarang
Kelompok kami masing-masing akan melalui lorong yang terpisah. Kami akan bertemu kembali di pintu belakang kastil. Pintu itu mudah ditandai karena ukurannya yang sama besar dengan pintu depan kastil
Aku mulai memberi aba-aba maju, dan kami semua langsung berpisah berdasarkan rencana kami
Aku, Ordelia dan Remina bergerak ke lorong di depan kami, sementara kelompok yang lainnya mengambil lorong di sisi kiri. Disana juga mereka akan berpisah nanti
Baiklah. Aku harus fokus. Mereka tidak akan apa-apa. Fokus
Remina meletakkan kedua telapak tangannya di mulutnya sendiri untuk memastikan dia tidak mengeluarkan suara selagi kubawa. Aku dan Ordelia berjalan cepat sambil merunduk sambil mencoba mendengarkan suara-suara dengan seksama
Terus dan terus, menembus lorong yang kosong dan gelap ini
...
...
*Tap... tap...*
Mendengar suara langkah kaki itu, aku langsung memberi isyarat pada Ordelia untuk berhenti dan sembunyi
Kami bertiga langsung bersembunyi di lorong terdekat sambil mengintip sedikit. Dan sesuai dengan apa yang kudengar, ada seseorang yang berjalan ke dekat lorong itu, tepat di depan kami
Aku mencoba memperhatikannya lebih seksama untuk memastikan siapa orang itu. Sayangnya, karena tempat ini sangat gelap, aku bahkan tidak dapat melihat bentuk hidung orang itu sekalipun selagi dia pergi
Orang itu hanya berniat lewat rupanya. Suara langkah kakinya bahkan perlahan menghilang dari telingaku
Kami bertiga pun melanjutkan jalan kami ketika sudah memastikan tidak ada keberadaan seorangpun lagi selain kami
Namun, saat aku baru saja mengintip ke arah tempat orang itu pergi tadi...
*DOR!!*
Kepalaku tertembak sekali lagi. Darahku langsung bersimbah di kepala Remina yang berada di punggungku
__ADS_1
"Ordelia!"
Karena refleks mendengarku, Ordelia pun langsung pergi bersembunyi sambil membawa Remina untuk melindungi diri
Aku tetap diam di balik lorong itu untuk memastikan keamanan mereka
Apa-apaan orang itu? Dia menembakku tepat di depan dahiku. Dia seharusnya bisa terlihat di pandanganku, tapi aku bahkan tidak bisa melihat sosoknya sama sekali
Apa dia orang yang barusan lewat itu?
Gawat! Mungkin yang menembakku sekarang ini adalah si pelaut bajingan itu!
Untuk menambah kegelisahan ku, ada banyak suara derapan kaki berlari tiba-tiba datang kearah kami
Karena tidak ingin tertangkap, aku pun langsung melebarkan sulur tanganku dan merangkul Remina dan Ordelia di dalamnya
Aku membentuk sulur ku yang mendekap mereka berdua itu seperti bola raksasa, kemudian menempelkannya ke punggungku
"MAAF KALAU TERLALU BERGUNCANG!"
Setelah berkata begitu pada mereka berdua, aku langsung melesat dan pergi menerobos arah penembak itu
Itu karena arah dari penembak itu merupakan arah yang sama untuk menuju ke pintu belakang kastil
Aku mengambil keputusan yang berbahaya sekarang ini. Bunga di kepalaku mungkin saja akan tertembak, tapi aku tidak akan peduli selama mereka bisa selamat
*Dor! Dor!*
Tembakan itu semakin banyak terarah kepadaku, seakan seperti sedang hujan peluru. Beberapa bahkan mengenai tubuhku, dan salah satunya mengenai pipiku
Namun, selagi aku dikejar dari belakang oleh beberapa orang, dan ada penembak yang bisa membunuhku di depan, aku tetap menerobos maju
*DOR! DOR! DOR!*
Tembakan itu semakin membabi buta semakin aku mendekat. Dugaanku adalah, kami sudah sangat dekat dengan orang itu, sehingga dia panik dan berusaha lari. Aku bahkan bisa mendengar suara langkah kakinya yang berusaha menjauh selagi menembaki ku
Semakin kami mendekat, semakin aku bisa melihat sosok orang itu
Dan ketika kami sudah sangat dekat, aku pun menyeruduk orang itu sampai dia terlempar
Dia melempar kepalaku menggunakan pistolnya sebelum terlempar dan mencoba untuk lari, tapi aku meraih kakinya sehingga dia tersungkur kembali dengan sulur dari kepalaku
"LEPASKAN AKU!" Orang itu berkata
Orang yang...
...!
"Hey! Lihat kearahku!" Aku berkata
Dia menatap kearahku dengan panik nya, tapi wajahnya perlahan berubah ketika kami saling memperhatikan satu sama lain dengan seksama
...
...
Bajingan Kepara-!
"CYTH! KAMU-!"
"MAAF! AKU TIDAK TAHU ITU KAMU, OKE!?"
Dia merangkak beberapa inci jauhnya dariku dengan wajah ketakutan
Menyadari kalau dia sudah menembakku, dia merasa panik dan menyesal, terlihat di wajahnya
"Cyth!? Vainzel, apa benar itu Cyth!?" Tanya Ordelia heboh
"Jangan sekarang Ordelia. Fokus"
Aku melepas ikatan tangan di punggungku itu dan membiarkan mereka berdua keluar
Ordelia dan Remina langsung bangun berdiri, bersamaan dengan Cyth
"Aku ada banyak pertanyaan, tapi berkat kebodohanmu, situasi ini jadi sulit" Aku berkata pada Cyth sambil menunjuk kearah suara derapan kaki banyak orang di belakangku
Aku sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dia sedang lakukan disini. Tapi, ada situasi yang lebih berbahaya di belakang kami sekarang ini
"Ok, ok. Kita lanjutkan saja larinya bagaimana?" Cyth bertanya
Aku membalas dengan sebuah anggukkan
Dan tepat sebelum dia ingin kembali berlari, aku mengambilnya, bersamaan dengan Ordelia dan Remina
Aku melebarkan tanganku dan meletakkan mereka dalam posisi duduk diatasnya. Aku memasangkan ikatan pengaman di badan mereka masing-masing untuk memastikan mereka tidak akan jatuh nanti
Setidaknya, aku cukup kuat untuk menanggung berat mereka bertiga. Baiklah...!
"Hey!" Seru Cyth
Mengetahui apa yang ingin dia lontarkan karena protes kearahku, aku hanya membalas dengan, "Kamu lambat. Lebih cepat kalau aku saja yang berlari"
Kemudian melesat maju secepat mungkin kearah pintu belakang hingga membuat dia berteriak heboh
__ADS_1