
“S- Sebentar dulu. Biar kuluruskan pelan-pelan…”
Dia diculik. Dia sudah bilang juga kalau dia menyadari kejadian itu. Dia diculik kemarin sore, sebelum akhirnya aku menemukannya di malam hari. Tapi…
Dia… Pangeran Hortensia…
…
...
GAWAT-!!
Kalau aku mengantar dia kembali nanti, kemungkinan terbesarnya kepalaku tidak akan menempel ke badanku lagi
Aku mungkin akan disangka menculiknya. Tapi, dia bisa meyakinkan orang tuanya kalau aku tidak menculiknya, kan? Tapi bagaimana kalau mereka tetap tidak percaya?
Aduh, kepalaku tersayang…
Aku yang merasa kasihan dan sudah bertekad mengembalikan Verdea ke rumahnya dengan selamat malah jadi terduduk lemas dan merasa ragu ketika mendengar identitasnya
Kami sedang duduk di meja luar milik kedai makan kecil yang berada di desa Magnolia sekarang ini. Wajahku tertanam ke mejanya karena panik sementara Verdea sibuk memakan potongan paha ayam dengan saus cabai diatasnya dengan lahap
Kuangkat wajahku yang tertempel ke meja dan melihat kearah Verdea yang sedang makan. Melihat cara makannya yang seperti itu, aku ragu jubah berkerudung yang baru kubeli itu akan tetap bersih
Aku sengaja membelikan dia jubah berkerudung untuk menutup pakaian mahal yang dia kenakan itu. Siapa tahu ada orang yang curiga padaku kalau melihatnya, atau lebih parah, orang yang ingin menculiknya
Tapi resikonya, uangku yang kusembunyikan di dalam bajuku habis seketika...
Matanya terlihat berbinar sekali sambil terus menggerogoti 5 potong paha ayam itu dengan cepatnya
Sementara aku harus berhutang untuk kali ini. Hutangku sebenarnya menumpuk dimana-mana karena aku juga tetap perlu kebutuhan harian untuk tetap hidup. Tapi, orang-orang jahat itu tetap mengambil uangku yang kudapat dari kerja keras
Kuhela napasku pelan. Verdea yang menyadari helaan napas keluh milikku itu berhenti mengunyah dan melihat kearahku untuk sesaat
Dia kemudian menyodorkan ayam yang sudah setengah dimakan itu kepadaku. Satu-satunya potongan ayam yang tersisa dari piring yang disuguhkan untuknya. Kulihat potongan itu dan kemudian melihat kearahnya dengan tatapan bingung
“Maaf, tinggal segini” Dia berkata
“Ah, eh... Aku tidak makan daging”
“Hm? Kenapa?”
Oh ya… Aku belum memberitahunya
Aku melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memperhatikanku. Dan ketika sudah merasa aman, aku pun menunjukkan sesuatu yang kusembunyikam di balik kerudungku
Kuturunkan kerudung jubah milikku sedikit dan memperlihatkan wajahku. Wajah hijau seperti sebuah batang tanaman dan mata besar berwarna jingga terang. Rambut yang mirip seperti akar tanaman berwarna hijau gelap dan bunga tanaman teratai di kepalaku, sebagai penanda kehidupanku. Aku tidak memiliki bibir sama sekali sehingga mulutku hampir tidak terlihat ketika tidak dibuka, sehingga orang yang menatapku harus memperhatikannya dengan baik sebelum bertanya mengenai hal itu
Dia menatapiku kaget. Aku yang menyadari tatapannya itu menjadi gelisah dengan apa yang dia pikirkan
...
...
...
“… Kenapa kamu berwarna hijau?”
Ah, dia tidak paham
“Aku ini Elf. Lebih tepatnya Elf bunga”
Ekspresinya langsung berubah menjadi bersemangat
“Sungguh?? Jadi peri dan Elf itu rupanya seperti ini??”
Dia terlihat antusias sekali. Dia bahkan meletakkan ayam yang dia makan daritadi itu kembali ke piringnya
“Uh, ya, begitulah. Kami punya banyak wujud, dan memang tidak jauh dari manusia”
“Tapi, cerita di buku dongeng bilang kalau kalian itu berwujud kecil dan punya sayap”
Aku yakin kalau orang yang membuat buku itu tidak pernah melihat jenis peri selain apa yang dia ceritakan di bukunya itu...
“Elf itu ada bermacam-macam. Misalnya, Elf yang kamu gambarkan sekarang ini disebut sebagai Fae. Mereka kecil, hanya seukuran genggaman tanganku”
“Hooh…! Begitu!”
Bagus kamu paham
Potongan ayam setengah habis itu dia ambil lagi kemudian dikunyah sampai tersisa tulangnya saja
“Tapi, sayang sekali. Padahal rasa ayam ini enak, tapi kamu tidak mau memakannya”
Mulut Verdea yang sibuk mengunyah membuatnya terdengar sedikit tidak jelas ketika berbicara
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataannya yang tidak jelas itu
Lagipula aku tidak menduga dia bakal suka makanan jalanan seperti ini. Aku pikir semua bangsawan lebih suka makanan mewah yang dibuat koki khusus milik mereka
Tapi, ketika melihat Verdea makan tadi, dia tidak terlihat seperti seorang bangsawan dengan etika meja makan miliknya yang berantakan itu. Cara bicaranya saja yang terlihat sopan
Bahkan saus ayam itu berlumuran di sekitar mulutnya...
Ketika anak ini merasa nyaman, entah kenapa dia malah terlihat seperti anak kecil biasa lainnya yang hidup di desa. Pakaian bangsawan yang dia kenakan entah kenapa jadi tidak relevan
Kukeluarkan sapu tanganku dari saku celana dan kulap mulut Verdea yang berlumuran saus dengan itu
“Kamu ini, tidak terlihat seperti keturunan bangsawan pada umumnya”
Dia tersentak mendengar perkataanku. Wajahnya tiba-tiba saja tertunduk dan terlihat suram setelah aku selesai mengelap mulutnya, seperti tidak ingin membahas tentang hal ini sama sekali
Aku menyadarinya dengan cepat dan segera mundur dari pembicaraan itu
Setidaknya aku paham kalau hal ini membuat dia tidak nyaman...
“Omong-omong, kita harus cepat membawamu pulang. Yang mulia raja pasti tidak senang dengan berita kalau kamu menghilang"
"Baiklah..."
"..."
"Tapi... Aku mau berkeliling sebentar. Boleh?"
...
Aku tidak bisa berkata tidak sekarang... Tidak akan adik jika begitu...
"... Sebentar saja"
Matanya berbinar mendengar responku. Dia tiba-tiba menunjukkan senyum yang tidak kusangka dia bisa tunjukkan. Senyuman lebar seperti anak kecil yang senang ketika mendapatkan hal yang dia inginkan
Aku tidak menyangkanya sama sekali karena dia berekspresi dingin dari awal kami berjumpa. Aku pikir dia tidak mau menunjukkan ekspresinya yang seperti itu. Tapi ketika dia melakukannya...
Dia akhirnya terlihat seperti anak kecil biasa. Seutuhnya
Aku ikut senang melihat wajahnya yang ceria seperti itu. Tanpa basa-basi, aku langsung bangun dari tempat dudukku dan mengajaknya berkeliling, diikuti olehnya dengan langkah yang girang kemudian memegang tanganku, bersiap mengelilingi desa kecil ini
...
Rasanya... Kami benar-benar hanya berkeliling. Aku hanya memastikan saja kami tetap aman selama dia pergi dari satu toko ke toko yang lainnya
Dia juga hanya datang untuk menghampiri toko-toko itu, dan kami kemudian akan keluar dengan tangan kosong atau diusir
Juga, aku memperhatikan kalau dia tertarik dengan benda-benda yang berbahaya seperti pedang. Dia bahkan mengangkat sebuah pedang tanpa izin dan tidak sengaja menghunuskannya ke lantai, membuat si penjaga toko marah dan mengusir kami karena sudah merusak properti miliknya
Lalu, dia bahkan meminum sebuah ramuan di toko sihir tanpa izin dan membuat dirinya berubah menjadi kadal. Aku harus berhutang karena kerugian peramunya, ditambah untuk membeli penawar untuk Verdea
Anak ini terlalu bersemangat. Dia berlari kesana kemari membuatku kehilangan jejaknya beberapa kali. Dia bahkan hampir membuat masalah kepada orang-orang disini. Untungnya aku cukup cepat untuk membawanya bersembunyi
__ADS_1
Padahal aku yakin kalau dia anak pendiam yang lebih suka baca buku, tapi ternyata dia sangat menyusahkan ketika diurus...
Dan setelah semua itu, aku pun berjalan dengan lemasnya, melihat ke Verdea yang sibuk melihat kesana kemari sambil berjalan di depan
"Maaf kalau aku bilang begini. Tapi kamu ternyata sedikit menyusahkan..." Aku menggerutu
"Jahat. Padahal aku cuma berkeliling" Dia berpaling dan menjawab
"Itulah hal yang merepotkan darimu, nak"
"Aku tidak suka dipanggil nak"
"Lalu mau dipanggil apa? Bocah?"
"Panggil aku lelaki tangguh"
Kenapa dia tiba-tiba jadi menjengkelkan ya...? Dan aku pikir aku tidak bisa jengkel dengan kalimat milik seseorang, tapi anak ini membuktikan kalau aku salah
Dia diam sambil cemberut dengan pipinya yang menggembung dan terus berjalan bersamaku
"Hoh? Ada wajah yang kukenal lewat"
...
Hah... Hari yang buruk...
Suara yang kukenal itu benar-benar membuatku ingin lari menjauh sekarang juga...
Pria sangar dari kedai kemarin melangkah kearahku, kemudian melingkarkan tangannya di leherku seperti biasanya
"Halo pecundang"
Para pengikutnya ikut mendekatiku dan tersenyum sinis. Waspada dengan situasinya, Verdea berjalan mundur sedikit, menjauh dari kami
"Ada sedikit uang?"
Aku hanya berdiri kaku tanpa menoleh kearah wajahnya sedikitpun
"Kamu sudah mengambil semua barangku"
"Barang murah begitu mana cukup"
Para pengikut pria itu menggelakkan tawa pelan sambil terus tersenyum sinis
"Ayolah. Aku baru lihat kamu keluar masuk toko daritadi. Tidak mungkin tidak punya uang kan?"
Dia menepis kepalaku perlahan berkali-kali. Sementara aku hanya berdiri diam tanpa membalas. Pikiranku hanya fokus kugunakan untuk mencari cara untuk kabur dengan selamat
Tetapi, jika aku lari, bagaimana dengan...
"Maaf paman. Tapi dia temanku"
Heh?
Verdea, disaat seperti ini malah bergerak maju menghadapi pria itu. Dia memegangi tangan kananku dengan tangan kirinya sambil menatap tajam pria itu. Aku yang memperhatikan tingkah anak itu, merasa kaget
Pria itu dan pengikutnya diam dan menatap Verdea seperti mengancamnya. Melihat situasi yang menyeret dirinya sekarang ini membuatku gelisah dan mencoba memperingatkan Verdea. Tapi, tepat sebelum aku memberinya tanda untuk mundur...
*Fush!*
Seketika dia melempar pria itu dengan pasir, tepat di mata. Pria itu menggerang kesakitan dan bergerak mundur beberapa langkah dariku sambil memegangi matanya
Aku tentu panik. Tetapi tanpa basa-basi dan menungguku yang diam karena melihat kejadian itu, Verdea langsung menyeret tanganku dan membawaku lari menuju sebuah gang kecil
Orang-orang desa hanya melihat kejadian itu, termasuk para pengikut si pria. Kesal dengan apa yang terjadi, dia menyerukan dan memerintahkan para pengikutnya untuk mengejar dan membunuhku
"Dan pastikan anak kecil itu tidak kenapa-napa! Aku masih bisa menjual bajingan kecil itu!"
Kejam sekali kalimatmu...!
Kami terus berlari dari satu gang ke gang yang lainnya, diikuti oleh beberapa pengejar yang tidak mau kalah cepat dengan langkah kami berdua
Aku mencoba membuat diriku siaga dengan hal ini dan setelah siap, aku beralih memimpin jalan Verdea untuk lari dari orang-orang itu
"Tidak apa-apa selama badanku tetap utuh"
Kuanggukkan kepalaku padanya dan dengan tangkasnya, Mengangkat badan Verdea ke udara. Dia kaget dengan hal itu tapi kemudian menyadari apa yang kulakukan ketika dia terduduk di gendonganku yang terus berlari
"Pegangan erat! Ini tidak akan menyenangkan!"
Pegangannya semakin erat setelah mendengar perkataanku. Setelah memastikan kalau dia bisa aman, aku mencari pohon terdekat yang bisa kutemukan. Terlihat ada sebuah pohon cemara di sisi jalan sebelah kanan kami
"Akar! Cepat!"
Pohon itu segera mematuhi perintahku dan mengeluarkan akarnya dari tanah. Aku melompat melalui akar itu, tepat setelah melihatnya
Masih melambung diatas akar itu, aku memberikan perintah kedua
"Hempaskan aku!"
Akar itu segera memukul punggungku sekuat tenaga dan membuatku terlontar ke atap bangunan yang terbuat dari tanah liat
Verdea mendarat dengan aman berkat berada di pelukanku. Mencoba menahan sakit, aku memberikan perintah ketigaku sambil terus berlari
"Tangkap orang-orang itu!"
Pohon Cemara itu mengeluarkan akarnya dengan jumlah yang lebih banyak dan menangkap 7 orang yang mengejar kami dan mengikat mereka ke tanah dalam waktu nyaris seketika
5 orang yang tersisa berhasil menghindari akar pohon Cemara dan terus berlari mengejar, termasuk pria sangar itu. Walaupun dengan bentuk tubuhnya yang besar dan berotot itu, dia cukup tangkas dan terlihat bergerak paling cepat dalam mengejar kami
"Tidak ada cara lain yang aman!?" Teriak Verdea padaku
"Akan kuusahakan! Tapi aku tidak boleh menyakiti mereka secara berlebihan!"
"KAMU INI REPOT SEKALI!"
"MAAF!!"
Aku berusaha melompat dari atap ke atap lainnya sambil menggendong Verdea dan berusaha memikirkan berbagai cara untuk kabur, karena aku tidak mungkin membuat pohon lain menangkap orang secepat mereka
"SIAP-SIAP MATI DASAR BAJINGAN!" Teriak pria itu kepada kami sambil terus mengejar
Aku yang mendengar teriakan Pria sangar itu langsung menoleh kearahnya
"KAMU BENAR-BENAR MAU MEMBUNUH KAMI!?" Teriakku balik
"YA! DAN AKAN KUPASTIKAN RASANYA SAKIT!"
"OKE, TERIMA KASIH!" Balasku lagi pada mereka yang membuat wajah mereka semua terlihat bingung dan terkejut, bahkan Verdea
Kalau begitu, aku bisa melakukan ini!
"Veri! MAAF!!"
Sekali lagi aku melempar badan Verdea ke udara dan membuat dia berteriak karena kaget. Pada saat dia melambung diatas, kubuka kedua sarung tanganku dengan cepat dan memperlihatkan sulur tanaman yang menggeliat di baliknya
Kubalikkan badanku dengan cepat dan menyilangkan kedua tanganku di dada
Kuayunkan kedua tanganku dengan haluan dada bagian dalam kearah pengejar kami yang mulai mendekat. Tanganku memanjang sesuai keinginanku dan menghempaskan 4 orang dalam satu ayunan seketika, kecuali pria itu
Dia melompat tepat saat tanganku menghempaskan pengejar lainnya dan mendarat dengan aman sementara aku kehilangan jejakkan kaki dan hampir terpeleset dari atap itu
Aku panik melihatnya yang semakin mendekat dengan belati di tangannya, siap menghunus dadaku
Tapi tepat saat belati itu hampir menusukku, Verdea mendarat tepat diatasnya sambil berteriak keras dan menabrak kepala pria itu dengan keras. Pria sangar itu langsung diam tidak sadarkan diri seketika, terbaring di depanku akibat ditimpa bobot Verdea yang jatuh dari udara
Uh... Itu pasti sakit sekali...
Verdea mengeluh kesakitan sambil memegangi kepala bagian belakangnya setelah pendaratan tidak mulusnya barusan
__ADS_1
Sementara itu, aku menghela napas lelah dan memendekkan tanganku kembali
"Hah...! Capek...!"
"Kenapa harus melemparku coba!? Belum kepala orang ini sekeras batu lagi!"
"Tapi... Kamu aman kan...? Aman..."
"Aman darimana??! Kepalaku sakit jadinya tahu!?"
Verdea terus meringis memegangi kepalanya sementara aku jatuh berbaring di atap itu dengan napas yang tersengal-sengal sehabis panik
"Tapi... Rasanya menyenangkan entah kenapa..."
Aku menoleh kearahnya ketika mendengar perkataan itu dan melihat wajahnya yang melihat kearahku dengan senyum kecil walaupun dia masih meringis kesakitan
"Kita lakukan lagi kapan-kapan!"
"Jangan bercanda soal hal itu!"
Dia kemudian tertawa dengan kerasnya. Kususul tawanya ketika melihat wajah bahagia miliknya itu. Tertawa kami mulai selaras dengan satu sama lain, di tengah napas kami yang masih tidak beraturan
Gelakkan tawa kami sayangnya menarik orang-orang yang marah dengan perbuatan kami, terutama pemilik bangunan yang atapnya hancur karena pijakan kami
Gawat...
Karena tidak mau ada masalah yang lebih banyak lagi, aku membawa Verdea dan mencari tempat bersembunyi di ujung desa
...
"Hah... Menyenangkan...!"
Kami berdua duduk di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari bagian luar desa sekarang ini, dipenuhi dengan keringat dan rasa puas hasil kejadian yang menegangkan tadi. Ya, seandainya aku bisa berkeringat sih...
"Tapi, kalau kamu bisa melawan daritadi kenapa kamu menahan diri coba?"
Aku menoleh kearahnya
"Sumpah Elf itu suci kamu tahu? Kami tidak seperti kalian"
"Hey. Mentang-mentang kebanyakan manusia itu bajingan yang bisa dibilang sampah, bukan berarti kamu bisa bilang begitu"
"Jaga bahasamu nak. Kamu masih kecil"
"Aku sudah 7 tahun jadi jangan panggil aku nak"
"Oh ya, maafkan orang berumur 150 tahun sepertiku ini yang memanggilmu begitu, nak"
"Kadang-kadang bahasa sarkas mu itu menjengkelkan..."
"Ya jangan salahkan aku juga kalau terlalu menyakitkan. Aku selalu menggunakannya untuk senjataku satu-satunya juga"
"Lalu tanganmu itu untuk apa?"
"Untuk melindungi diri. Bukan untuk asal menyerang"
"Payah. Padahal lebih memuaskan kalau menghajar mereka"
Dia menjulurkan lidahnya mengikuti kata-katanya itu. Aku cuma diam sambil sedikit cemberut
Dia tiba-tiba melipat kakinya dan duduk dengan rapi
"Lalu, boleh ceritakan soal 'sumpah Elf' milikmu itu?
"Ah, boleh saja"
Aku juga ikut menyilangkan kakiku dan duduk berhadapan dengannya
"Aku sudah bersumpah kalau aku tidak boleh menyakiti-"
"Sudah kuduga sumpahnya payah!"
"Hey!"
"Lalu bagaimana kalau mereka mencoba menyakitimu?"
"Kamu barusan menyaksikan apa yang kulakukan bukan?
"Hm... Jadi kamu hanya bisa melawan balik..."
Tentu saja. Kalau aku tidak hati-hati mengucapkan sumpahku dulu, aku mungkin sudah mati sekarang
"Kamu tahu? Ini menyenangkan sekali untukku!"
Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian merebahkan badannya di rumput
"Itu sebabnya aku tidak mau pulang...
Aku juga sebenarnya berencana kabur, tapi malah hampir diculik"
"..."
"Jadi aku ingin bertualang denganmu juga"
Dia tersenyum sambil melihat ke langit
Tapi di balik senyumannya itu, jelas sekali terasa kalau dia merasa sedih dan sakit hati
Kulipat kakiku perlahan dan ikut melihat ke langit
"Hey. Kalau ada yang menyusahkan untukmu, tetap hadapi saja. Yakinkan saja dirimu kalau ada orang yang akan datang untukmu"
"Memangnya orang seperti itu datang untukmu?"
...
Pertanyaan baliknya itu membuatku tertegun...
"Entahlah..." Aku pun menjawab singkat
Aku juga masih menunggu. Seseorang yang bisa menemaniku dan tertawa bersamaku. Sudah banyak hal yang kulalui selama perjalananku, tapi tidak ada satupun orang yang mau duduk di sampingku
Tapi, anak ini mungkin bisa menjadi orang itu. Aku senang menghabiskan waktu dengan anak ini. Tapi...
"Kamu tetap harus pulang. Rumahmu adalah satu-satunya tempatmu bisa merasa menjadi dirimu sendiri"
Karena, aku juga sungguh ingin pulang. Tapi, aku tidak ingin kembali dengan tangan hampa begitu saja...
Misiku berkelana mengelilingi dunia masih akan terus berlanjut untuk beberapa waktu lamanya
"..."
Dia terlihat sedang berpikir. Tapi matanya tiba-tiba berbinar sekali, menandakan kalau dia memikirkan sesuatu yang menyenangkan
"Baiklah... Tapi-"
Tepat sebelum dia menyelesaikan perkataannya, sebuah kerumunan pengendara kuda datang kearah kami dengan cepat
Kami bangun karena kaget dengan kedatangan kerumunan kuda itu
Tidak berapa lama, pemimpin pengendara kuda itu datang ke hadapan kami berdua dan terlihat sekali kalau mereka itu prajurit utusan kerajaan
"Maaf? Ada apa?" Tanyaku
Laki-laki berambut hitam pendek yang tidak tersisir rapi itu diam dan memaku pandangannya kepada Verdea yang berdiri kaku di belakangku. Verdea bahkan berusaha menghindari tatapannya, seakan dia sudah tahu betul kalau orang di hadapan kami itu sangatlah menakutkan
Dan aku pun paham kenapa dia bersikap begitu...
"Kami diperintahkan untuk mencari pangeran Verdea yang kabur dari istana"
__ADS_1
...
Sial-