Book Of Flowers

Book Of Flowers
Pengakuan Natasha


__ADS_3

--- Beberapa jam kemudian, Miralius ---


...


"Akhirnya kamu diizinkan masuk hm?"


Suara itu pun mengagetkan Natasha, yang sedari tadi hanya duduk merenung selagi melihat langit malam. Suara yang langsung hadir bersama sebuah sosok di hadapannya, tepat di depan jendela itu selagi menunjukkan senyumnya


Kerudung jubahnya itu pun dia turunkan, semakin memperlihatkan wajahnya yang bersinar diterpa cahaya bulan dari belakang itu. Posisi yang seharusnya menciptakan bayang-bayang, namun entah kenapa justru membuat wajahnya berkilau


Natasha menyapa orang yang hadir tanpa diundang dengan senang hati, membalas senyum yang ditujukan padanya itu


"Aku sudah tidak apa Veskal. Oberon juga sudah menunjukkan sikap belas kasihnya kepadaku"


Veskal yang berdiri di hadapan jendela itu hanya tersenyum kecil, sebelum dia melompat masuk dan duduk di sisi kasur Natasha dengan santai


"Tidak mengundangku masuk juga?" Suara itu pun terdengar, membuat Natasha terkejut karena asalnya bukan dari Veskal


Melainkan, dari seseorang yang lain yang juga dia kenali


"Siapa yang melarangmu? Ini kerajaanmu, bodoh"


"Oh ayolah. Aku hanya sedang merasa perhatian karena ada dua burung kecil yang sedang bermesraan"


Aku pun mulai menunjukkan diri di hadapan jendela itu, melipat tanganku diatasnya, dan menyapa kedua orang di dalam ruangan itu


"Aku disini untuk mengawasi Veskal karena hari sudah terlalu larut. Verdea akan menangis jika temannya yang satu ini tidak terlihat dimana-mana"


"Verdea akan memukulmu jika dia mendengarkan barusan..."


Dia ada benarnya. Juga...


Berbeda dengan Veskal yang terlihat biasa saja aku berada disini...


Aku tidak bisa bilang kalau Natasha sedang merasa senang sekarang


Dia mungkin yakin aku sudah tahu mengenai sihir hitam miliknya itu, hingga dia tidak punya nyali lagi bicara denganku


Sihir hitam hah...?


Selagi aku berbincang dengan Veskal, mataku tetap mengawasi Natasha yang terus saja menunduk. Dan itu semakin membuatku yakin, kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar


Sangat, besar...


"Lagipula Natasha, kenapa bisa kamu merasa mual ketika berada di dekat Chimera itu?" Veskal pun beralih dariku kepada Natasha


Natasha tidak menjawab. Dia ingin, tetapi mungkin takut aku akan menyangkal atau membuat argumen yang lebih tepat


Dia hanya bungkam, memalingkan wajahnya selagi pandangan matanya samar melirik kearahku, seakan sedang meminta bantuan


...


Jadi dia ingin aku yang menjelaskan hah...?


"Natasha mengalami ledakan Mana. Sama seperti Fyon ketika dia mengumpulkan terlalu banyak Mana kotor di dalam tubuhnya" Aku pun menjelaskan kepada Veskal


"Begitukah? Rupanya serius juga..."


"Hanya karena dia bisa berjalan tidak berapa lama tadi bukan berarti dia baik-baik saja, Veskal. Dia harus mengatur kembali Mana di dalam tubuhnya, dan itu sebabnya aku mengizinkan dia masuk"


Miralius adalah tempat yang murni dipenuhi oleh Mana. Tempat yang bisa dijadikan sebagai peristirahatan bagi para perapal sihir yang ingin menyembuhkan diri


Setiap hirupan udaranya sangat menenangkan, ditambah dengan para Fae dan hewan-hewan mistis lainnya yang selalu menyebarkan Mana milik Ayahanda ke seluruh penjuru tempat ini, terkecuali Hutan Gelap yang sepenuhnya diisi oleh Mana beracun dan kotor


Dan sekarang, malam sedang hujan. Kumpulan tetesan kecil yang mengeluarkan suara rintik hingga beberapa kodok mulai melantunkan lagu mereka


"Jika kamu meminum sedikit air hujan disini, Mana-mu akan jadi lebih stabil" Aku berkata lagi, menengadahkan tangan untuk menampung beberapa air hujan yang tidak seberapa itu


"Ini pertama kalinya aku melihat Miralius dalam cuaca hujan. Bahkan ketika salju menumpuk di area Goeitias dulu, tempat ini dan area yang mengitari Gerbang Hutan sama sekali tidak diisi oleh salju" Veskal berkomentar kepada Natasha, membuatnya jadi penasaran


"Itu karena Ayahanda tidak suka salju"


"Kenapa?"


"Alasan pribadi"


Aku tahu. Tapi, aku tidak akan membahas tentang hal itu dengan Veskal


Ada banyak hal terjadi di musim dingin. Dan ketika musim semi datang membawa rotasi kehidupan yang baru, beberapa hal sudah tidak ada lagi bersama kami...


Sebagai orang yang juga membenci salju, aku bisa paham perasaan Ayahanda...


Veskal terdiam. Dia sama sekali tidak merespon, tahu seberapa sensitif topik yang sedang dibahas ini. Begitu juga dengan Natasha yang sama sekali tidak bergeming, selagi mataku mulai bercahaya kembali melihat kalau tanganku sudah mulai digenangi air hujan


Aku pun menyodorkan genangan kecil yang hanya bisa dihirup satu kali itu kepada Natasha, selagi dia dengan ragu-ragu mulai meminum setiap tetesannya. Veskal yang hanya mengamati itu pun mulai menyadari ada perubahan kecil dari wajah Natasha


Dan bukan hanya dia. Aku juga cukup dikejutkan oleh perubahan dari Natasha barusan ini. Spesifiknya, warna bola mata, juga rambutnya mulai berubah


Dari coklat dan hijau, berubah menjadi putih dan merah. Warna yang sangat kontras dengan satu sama lain, sehingga perubahannya sangatlah mencolok


"Warna... Matamu...?" Veskal dengan gugup bertanya


Natasha pun diam, kemudian menelaah apa yang dimaksud oleh Veskal dengan pertama-tama melihat warna rambutnya. Dan ketika dia melihat helai rambut putih itu, Natasha hanya diam tanpa menunjukkan reaksi berlebih


"Sudah kuduga akan ketahuan begini..." Dia bergumam


Baguslah kalau dia sudah paham situasinya. Yah, sekarang aku hanya perlu menjelaskan satu atau dua hal kepada Veskal


"Natasha. Kenapa kamu menggunakan sihir hitam?" Aku mulai bertanya


"Aku hanya-"


"Ah ya, jangan coba berbohong. Jika kamu bilang hanya untuk belajar, tidak mungkin kamu mempelajarinya hingga tingkat tinggi bukan?"


Mataku tidak bisa tertipu. Mana kotor miliknya sama sekali tidak berjumlah sedikit, ataupun memiliki daya yang lemah


"... Aku memang menggunakannya untuk belajar..." Dia justru menjawab


"Sudah kuduga kamu hanya akan mengeluarkan omong kosong" Aku pun mendengus, selagi Veskal mulai paham dengan situasinya dan menjadi waspada kepada kami berdua


"Kenapa kamu menyembunyikannya...? Vainzel tidak akan melarang penggunaan sihir hitam kamu tahu...?" Veskal pun bertanya dengan serius


"Dia tetap akan menanyakannya bukan? Aku bahkan bukan temannya, dan mendengar konflik diantara kalian dan para penyembah iblis, aku-"


"Kamu bicara seakan kamu tidak meminum darah iblis" Aku memotong, membuat mereka berdua terkejut


"Tasya-!" Veskal yang terkejut itu spontan bangun, menatap Natasha yang wajahnya dipenuhi teror itu


"Vainzel! Kamu tidak sembarangan bicara bukan?!" Dia kemudian beralih kepadaku yang sedang menatap mereka berdua tajam


"Tidak. Baunya mengingatkanku kepada Yael, dan aku tidak suka itu. Ditambah lagi, mata merah..."


Sisanya, Veskal pun paham dengan apa yang kumaksudkan, selagi dia kembali beralih kepada Natasha dengan wajah kecewa


"Kamu... Salah satu dari mereka...?" Dia pun bertanya, direspon dengan hening dari Natasha


...


"Ya. Tidak diragukan lagi dia memang salah satu dari para penyembah iblis" Aku pun berkata lagi

__ADS_1


"Tidak-! Aku hanya-!"


Dia mencoba merespon, tapi tidak bisa menolak. Ada sesuatu yang ada di pikirannya, tetapi dia tahu kalau aku mungkin hanya akan menganggap itu omong kosong. Atau, ada alasan lain kenapa dia tidak bicara


Tapi kami berdua hanya diam menunggu kalimat darinya. Dan aku juga sudah menyiapkan senjata suci milikku di sisi lain jendela, tepat berada di bawah telapak kakiku. Sedikit saja dia bergerak atau mencoba menyerang, aku akan memusnahkannya di tempat


Mulutnya terasa berat dan tidak bisa bicara. Veskal di sisi lain, masih waspada kepada kami berdua, menunggu konfirmasi lebih lanjut. Tapi tidak aku ataupun Natasha sedang bicara sekarang ini, meninggalkan dirinya dalam diam


Jadi, dia pun mengeratkan giginya karena kesal


"Jangan bercanda! Beritahu aku semua hal sekarang, Natasha!" Dia pun meneriakkan


Tubuhnya mulai bergetar karena kesal. Dan karena tidak mau dia merasakan stress lebih lanjut, aku pun bicara kembali


"Aku sudah mengirim Amelia dan Gwen untuk mengecek apakah anggota kelompoknya juga adalah penyihir hitam"


Perlahan aku memainkan tongkatku yang ada di bawah kakiku itu selagi menatap dalam kearah kilau hijau batu permatanya


"Jika kamu tidak bicara, atau mereka tidak memberi konfirmasi, aku akan memberi perintah untuk mengeksekusi kalian semua di tempat" Aku berkata, kali ini dengan nada mengancam


Natasha tentu menunjukkan reaksi disaat itu, tetapi mulutnya masih tidak mengeluarkan kalimat yang jelas


Hingga...


"Tidak! Mereka- Mereka tidak terikat dengan yang ter-agung seperti diriku!" Dia pun berkata


...


Akhirnya, sebuah jawaban


"Jelaskan lebih detail" Aku berkata selagi bersikap tidak acuh


"Tapi- Tapi..."


"Tapi apa?"


...


"Aku... Jika aku bicara..."


...


Natasha pasrah. Dia pun sepenuhnya menutup mulut disaat itu, tidak lagi memberi konfirmasi lebih lanjut


Hal itu membuat Veskal geram, sehingga dia mulai mencengkeram kedua lengan Natasha yang justru memalingkan pandangan wajahnya itu


Dan dengan keras, dia pun meneriakkan, "Aku percaya kepadamu! Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada kami??!"


Napasnya tidak beraturan. Aku pun tahu kalau Veskal sekarang ini sedang terkena tekanan yang berlebih, sehingga aku pun harus menaikkan senjataku ke tangan dan ikut masuk, hanya untuk menarik mundur Veskal agar tidak menyakiti wanita itu


"Aku tidak bisa. Yang ter-agung melarangku..." Natasha bicara lagi


...


Ah, begitu...


Baiklah. Apa yang harus kuambil dari tubuhnya agar aku bisa main-main dengan bajingan itu...?


Aku pun mendapatkan ide. Dan dengan segera, aku mencopot rambut Natasha selagi mencolek keringat yang keluar dari dahinya


Dengan segera, aku pun mulai memfokuskan Mana-ku kepada sehelai rambut itu, sehingga...


"Uhuk-!!"


Sehingga, Natasha mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya, membuat Veskal yang masih memegangnya itu terkejut dan spontan mencoba ikut menahan darah yang keluar itu


"Memutuskan sebuah koneksi. Orang yang disebut sebagai yang ter-agung dan menindas Natasha sekarang ini tidak akan bisa mendengarkan kita mulai sekarang"


Dia lebih baik begitu daripada membiarkan koneksi diantaranya dan Natasha berlanjut. Jika begitu, beri aku 5 menit, dan aku akan segera tahu dimana dan siapa orang itu


Bajingan itu sungguh sangat licin. Sepertinya semua setengah iblis memang begitu


"Kalau begitu serahkan bagian keamanan teman-temanmu kepada Amelia dan Gwen. Kedua orang itu tidak akan menyakiti siapapun tanpa perintah, dan akan melindungi tahanan mereka sebaik mungkin selagi menunggu" Aku berkata lagi dengan sebuah senyum kepada Natasha


"Tapi dia masih mengeluarkan banyak darah Vain!" Veskal beralih kepadaku selagi mencari sapu tangan miliknya di seluruh kantong bajunya


"Itu bukan sepenuhnya darah miliknya" Aku membalas


Aku tidak tahu apa efek sampingnya, tapi Natasha sekarang ini sedang mengeluarkan semua darah iblis yang menyangkut di nadinya. Tunggu beberapa menit, semua sel darah iblis itu akan keluar dan segera mati, agar tidak bisa digunakan untuk pelacakan


Trik yang sangat mengesalkan jika aku boleh bilang. Sihir hitam adalah sihir yang tidak kusukai kebanyakkan waktu karena alasan ini. Mereka bisa mencurangi banyak hal di Vitario, dan membuat kekacauan menggunakannya


Tapi, aku takut Natasha terkena Anemia, jadi aku sudah siap siaga dengan satu orang yang sudah kupanggil kemari...


*Tok, tok!"


Ah, dia mungkin sudah tiba


"Masuk. Kami disini"


Orang yang kupanggil itu pun membuka pintu sesuai izin dariku, dan dengan sopannya berjalan mendekat selagi dikejutkan oleh pemandangan darah Natasha yang berceceran


"Vainzel..." Dia berkata, dengan nada bergetar, sehingga aku harus menenangkannya terlebih dahulu


"Ordelia. Kamu harus membantu sekarang"


Ordelia, yang matanya masih risau dan terbelalak itu menutupi mulutnya karena tidak percaya, selagi aku menjelaskan semua situasi yang sudah terjadi


Dan sekarang, penyembuhan milik Natasha akan kuserahkan kepada Ordelia


......................


"Jadi, sebenarnya kemana kamu tadi sehingga tidak bisa bersamaan dengan kami?" Aku bertanya


"Uh, aku... Bertemu dengan Eleanor..." Ordelia menjawab dengan jujur


Dia masih fokus menyembuhkan Natasha, dengan menstabilkan Mana miliknya dan menahan beberapa aliran darah yang keluar, agar Natasha tidak kehilangan terlalu banyak sehingga menewaskan dirinya


"Eleanor?" Veskal yang kali ini bertanya


"Ya. Aku menawarkan diri bersama Claudia untuk ikut dalam penelitian miliknya mengenai sihir hitam" Dia menjawab


"Kenapa? Fyon juga bisa bukan?" Aku bertanya


"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya...


...


Oh, oke


Aku hanya tersenyum kecil melihat reaksi Ordelia, sehingga spontan membuat wajahnya memerah karena paham aku sudah paham


"Jadi bagaimana? Apakah darahnya masih keluar?" Aku bertanya kepada Ordelia


"Masih" Dia segera merespon. "Hanya saja, dia tidak akan merasakan sakit, karena setiap tetes darah yang mengandung Mana itu sedang merambat keluar"


"Berapa... Tetes lagi...?" Natasha pun bertanya, dengan wajah yang sudah mulai pucat


"Tidak banyak. Tapi, mereka berjalan sangat lama" Ordelia menjelaskan kepadanya

__ADS_1


Natasha pun hanya menunduk lemas, dan kepalanya nyaris terjatuh. Untungnya, Veskal sempat menangkap kepalanya itu, sehingga dia mulai dibaringkan dengan benar keatas bantal yang empuk


"Veskal..." Dia mulai meringis. "Rasanya sakit..."


Mata Veskal mulai bergetar, selagi tangannya mulai mengerat, menggenggam milik Natasha tanpa melepaskannya


Dia terlihat pasrah kepada Tuhan, tertekan dengan semua hal yang baru saja terjadi tanpa tahu harus berbuat apa. Dia bahkan tidak tahu, sisi yang mana yang benar dan yang salah


"Bertahanlah sedikit. Aku mencoba sebaik mungkin" Ordelia berkata lagi


"Maaf sudah merepotkanmu, Ordelia..." Veskal menyampaikan


Dia lihat darah Natasha yang ada di tangannya yang mulai bergetar itu. Darah yang kotor karena telah bercampur dengan milik iblis. Darah yang menjadi bukti dari sesuatu yang dia harap dia tidak perlu ketahui


...


Ordelia ingin menolak kalimat itu, tapi dia tidak ingin membuat Veskal yang kepalanya tertunduk sepenuhnya itu semakin gusar


Sementara aku hanya bisa menyaksikan, tidak bisa mengambil peran diantara mereka, selain menjadi seorang saksi


"Dia akan baik-baik saja bukan?" Aku bertanya


"Kemungkinan besar, ya. Mana-nya cukup stabil, tetapi darahnya masih tertekan karena aku harus menghentikan pendarahannya yang berlebihan"


Yah, lebih baik begitu daripada dia mati dengan sangat mengerikan. Darah yang terkuras keluar seperti air mancur dari dalam tubuhmu sama sekali bukanlah sebuah kematian yang cocok untuk dilihat atau dialami


Menjijikan, dan mengerikan. Semua jalur kematian yang membunuh secara perlahan tidak pantas dilalui oleh siapapun


Kecuali 2 orang, ketika aku pikir-pikir kembali...


"Apakah teman-temanmu juga meminum darah iblis?" Aku bertanya kepada Natasha


"Vain, tolong jangan dulu..." Veskal yang justru membalas


...


...


...


Baiklah. Aku hanya akan-


"Mereka tidak... Meminumnya..."


Respon itu sama sekali tidak kuantisipasi, begitu juga dengan Veskal. Kami berdua menatap kearah Natasha yang terlihat setengah hidup itu, memberi sebuah pengakuan yang mungkin tidak akan bisa dia berikan jika akan mati


"Mereka... Hanya mengikutiku... Untuk melayani yang ter-agung..."


Yang ter-agung, dia bilang...


"Tidak perlu memanggilnya begitu jika kamu tidak mau" Aku pun membalas balik


Natasha hanya diam dan terlihat sedang ingin menggelengkan kepalanya


Dia tiba-tiba mengeluarkan batuk lagi, sehingga kami semua dikejutkan ketika beberapa tetes darah keluar dari mulutnya bersamaan dengan batuk itu


Ordelia pun tersenyum selagi mengusap keringat di dahinya. Dan dengan percaya diri, dia berkata, "Berhasil! Kondisinya sudah aman sekarang!"


Bagus. Itu artinya semua darah iblis itu sudah keluar


Dan kami melakukannya tanpa kerusakan lebih lanjut yang menyakiti tubuhnya


"Tasya..." Veskal mulai bicara lagi, menatap Natasha dengan penuh rasa khawatir


Kedua orang itu mulai menukar pandangan dengan satu sama lain. Dan selagi mereka begitu, Natasha perlahan menunjukkan sebuah senyum kecil kepada teman masa kecil yang sedang mengkhawatirkan dirinya itu


"Aku senang kamu disini..." Dia berkata


Sebelum... Dia mulai tidak sadarkan diri


Ketika Ordelia mencoba mengecek semua pembuluh darahnya, dia menyatakan kalau tidak ada yang salah. Natasha sepenuhnya hanya tidak sadarkan diri, kemungkinan karena semua rasa sakit yang baru saja dia rasakan


Dan Veskal mulai meringis selagi tangannya masih bersatu dengan milik Natasha. Dia kembali merasa frustasi, karena lagi-lagi kepercayaannya sudah dikhianati


Tidak sedikitpun dia menyangka, kalau Natasha diantara semua orang di dunia ini, yang akan menjadi seorang penyembah iblis. Teman masa kecil yang dia cukup rindukan sangat lama itu, adalah seorang musuh, seandainya dia tidak pernah ketahuan


Veskal hanya bisa meringis, selagi aku memegangi bahunya, berharap dia bisa lebih sabar menangani hal ini


Tapi mataku mulai menuju kearah Ordelia yang terlihat sedikit risau. Dan hanya dengan sebuah gerakan mata, Ordelia paham kalau aku bermaksud untuk menanyakan, apa kondisi lanjutan milik Natasha sekarang ini


Walaupun ragu dia tetap harus menjawab. "Dia mungkin tidak akan bisa bangun selama beberapa hari dari kasur ini" dia pun berkata. "Jika boleh, sebaiknya kita memberikan tugas kepada seseorang untuk menjaganya sementara waktu"


Jika memang begitu, maka wajar kami harus meminta seseorang untuk menjaganya


"Baiklah. Mungkin Margaret Silver bisa membantu"


Dan dia masih punya cukup banyak hutang kepadaku. Mungkin karena dia dan anak laki-lakinya merasa bersalah dia telah memperbudak Remina dan ayahnya, mereka terus menganggap diri mereka memiliki hutang kepada kami


"Aku harus segera bertemu dengan teman-teman Natasha juga. Melepaskan mereka sama sekali tidaklah-"


"Vainzel!!"


...


...


Itu adalah suara dari benih komunikasi yang kugenggam di tanganku sejak tadi...


...


Aku harap ini bukan kabar buruk


"Gwen? Amelia?"


"Ini Gwen!"


"Oke. Tidak perlu berteriak"


Suaranya keras seperti Ivor. Ibu anak sama saja...


Lupakan itu


"Ada apa? Kamu terdengar panik"


"Ketiga orang yang kamu perintahkan untuk tangkap itu..."


...


Oh, demi pohon agung...


"Vain...?"


Veskal berbalik kearahku dengan wajah risau, hanya untuk menemukan aku diam mematung tanpa menunjukkan sisi depan tubuhku kepadanya


...


"Mereka kabur dan membunuh seperlima Elf yang kukirim kesana..."


Aku tahu aku seharusnya tidak percaya kepada lidah pemuja iblis...

__ADS_1


__ADS_2