
--- Keesokan Harinya ---
"Pisau belatimu?"
"Sudah"
"Baju-bajumu?"
"Sudah"
"Batu permata yang kamu curi dari halaman rumah Elf?"
"Su- dah....?"
Aku menoleh kearah Verdea yang terlihat panik menggunakan tatapan tajam
Tatapan kesalku membuatnya tidak bisa menatap mataku secara langsung dan melihat kesana kemari
Dia pikir aku siapa sehingga dia bisa menyembunyikan sesuatu yang dicuri dari area kerajaan ini?
"Aku ingin kamu mengembalikan benda itu nanti"
"Tapi... Para Fae yang menyuruhku mengambilnya. Untuk iseng"
Aku langsung mencubiti kedua pipinya setelah itu. Dia mengadu kesakitan selagi berusaha melepaskan tanganku dari wajahnya
Iseng atau tidak, dia tetap mencuri. Aku tidak mendukung perbuatannya itu sama sekali
"B- b- baiklah"
"Mencuri itu perbuatan tercela, bercanda ataupun tidak"
Perlahan cubitanku terlepas dari pipinya. Dia langsung memeganginya karena masih terasa perih
Wajah cemberutnya itu membuatku tersenyum kecil sambil menghela napas
Tidak lama, pintu kamar kami terbuka. Ibuku masuk ke dalam kamar dan berdiri di hadapan kami berdua
Tinggi antara aku dan ibuku sangat jauh berbeda sampai-sampai aku harus menjongkok untuk menatap wajahnya langsung
"Kamu yakin ingin pergi sekarang, nak?"
Aku mengangguk pelan. Ada rasa penyesalan yang sebenarnya hinggap di hatiku, tapi aku harus tetap menguatkan diri dan mengutamakan masalah ini
"Ayah di mana?" Aku bertanya
"... Dia sedang di kamarnya. Dia bilang sedang tidak enak badan"
...
Alasan itu lagi...
Setiap kali dia tidak mau melihat wajahku, dia pasti akan begitu. Itu caranya mengungkapkan rasa kecewanya, yang disebabkan dirinya yang benar-benar tidak ingin aku pergi lagi
Ibuku memegang wajahku dan mencium keningku perlahan
"Jaga dirimu anakku. Soal ayah, ibu bisa mengurusnya dengan baik" Dia berkata pelan dengan senyuman lembut di wajahnya
Aku membalas senyumannya itu dan kami saling berpelukkan untuk mengucapkan selamat tinggal
Mereka tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Itu karena mereka tidak bisa. Jadi, aku hanya memeluk mereka untuk meyakinkan mereka aku akan selalu aman
Dia mengelus lenganku setelah itu dan terlihat seperti ingin menahan tangisnya
Perlahan tangannya terlepas dari tanganku
"Sudah siap Veri?" Aku bertanya
Dia mengangguk pelan dengan senyum kecil
"Ibu pergi dulu ya, nak"
Mengikuti perkataannya, ibuku perlahan keluar dari kamarku, kembali ke kamarnya
...
Aku sedih melihat ibuku itu
Dia memang tidak mengatakannya, tapi dia sudah pasti ingin aku tetap tinggal
...
"Baiklah, ayo kita berangkat"
"Ayo!"
Hmph. Anak ini sedang sangat bersemangat. Kita lihat seberapa lama semangatnya bisa bertahan
Dan yang terpenting untuk nanti, aku harus memastikan tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang mencoba membunuh atau menculik Verdea lagi
......................
"Aku akan bertanya sekali lagi. Apa kalian yakin dengan hal ini?" Fyon bertanya pada kami semua
"Ya, tentu sa-"
Plak!
"Yang ditanya bukan kamu" Lyralia memotong sambil memukul kepala Cyth
Kenapa hubungan mereka berdua bisa sampai ke tahap kekerasan begitu, ya?
Lupakan...
"Kamu berkata seperti itu seakan aku akan mati" Aku berkata pada Fyon
"Jangan bercanda. Kamu berurusan dengan sesuatu yang tidak kita ketahui kau tahu!?"
"Ahaha~ Adik kecil Fyon sedang mengkhawatirkan ku"
Wajahnya memerah karena ledekanku itu
Dia sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir. Aku dan yang lainnya bisa menjaga diri
Namun, kami tetap harus menjaga anak ini. Setelah kami kembali ke kastil nanti, aku akan memastikan setidaknya 2 dari temanku akan mengawasinya nanti
Aku bahkan sempat bernegosiasi dengan pemimpin para Fae untuk mengizinkan beberapa dari klannya untuk ikut dengan kami
Aku tidak bisa membawa elf karena aku tidak yakin ada cukup tempat tidur di kastil. Dan aku butuh banyak bantuan, itu sebabnya aku beralih kepada para Fae yang badannya berukuran lebih kecil
Ada hutan yang berada di area kastil Thyme, dan hutan itu sama sekali tidak terlihat disentuh oleh manusia. Mereka bisa tinggal disana jika kami sudah selesai membuatkan rumah yang layak
__ADS_1
Mereka akan sangat membantu untuk menjaga kastil itu nanti
Aku menoleh kearah semua temanku yang akan ikut kembali. Mereka semua tersenyum mantap dan terlihat yakin dengan keputusan mereka ini
Baiklah, kami semua sudah siap
...
"Omong-omong, apa kamu sudah mengambil sesuatu untuk bayaranmu dari tempat ini, Cyth?"
Cyth menoleh kearahku karena namanya disebut. Dia kemudian menggaruk kepalanya dan melihat kearah langit
"Jika kalian ingin membayar ku, aku ingin meminta agar kerajaan Hortensia tidak memburu Black Hunt" Dia berkata dan menambahkan senyum lebar di ujung perkataannya
...? Dia diburu oleh kerajaan Verdea?
...
"Baiklah, aku akan mencoba meyakinkan Raja Artorius nanti"
Dia tertawa dengan nada lega
Aku bisa meyakinkan Artorius nanti. Lagipula kenapa mereka ingin memburu para kru Black Hunt?
Mereka semua orang baik. Aku bahkan heran kenapa mereka sejak awal dipanggil bajak laut
"Baiklah, ayo berangkat"
"Yah!" Semua temanku bersorak
Setelah puas mengucapkan sampai jumpa, kami semua membalikkan badan dan mulai keluar ke Gerbang Hutan secara satu-persatu
...
Aku sebenarnya berharap ayah dan ibuku ada disini untuk mengantarku pergi
Tapi, aku tidak akan memaksa mereka. Aku tidak mau terlalu egois melebihi ini. Aku bahkan tidak bisa memenuhi keinginan mereka
Maaf ayah, maaf ibu. Aku harus melakukan ini. Maaf jika hal ini telah membuat kalian marah
Semua temanku sudah melangkah keluar ke Gerbang Hutan. Setelah cukup melihat sekeliling dan tidak bisa menemukan orang tuaku, aku pun ikut melangkah keluar
Fyon yang melihat kepergian kami langsung menyatukan kedua telapak tangannya dan berdoa untuk keselamatan kami. Semua Elf yang berada di tempat itu kemudian ikut berdoa untuk kami juga
...
"T- t- tunggu dulu... Kita akan n- n- naik d- d- dia?"
Seluruh badan Cyth gemetar, termasuk tangannya yang menunjuk kearah Seren
Seren yang beranjak dari sarangnya setelah sekian lama itu hanya menghela napas lelah. Di wajahnya tersirat jelas kalau dia mengatakan, 'Kenapa aku mau melakukan hal ini?'
Aku juga penasaran trauma seperti apa yang Cyth miliki sehingga dia ketakutan seperti ini dengan makhluk raksasa
"Jika ingin aman dan cepat, dia saja pilihan terbaik kita"
Ivor bersiul takjub
"Kamu meyakinkan dia untuk mengantar kita? Rupanya Seren bisa juga menuruti orang lain selain-"
"Stop. Tidak usah sebut nama itu"
Seren akan selalu terlihat sedih dan marah ketika membahas orang itu
Karena kematian Aestas itu, Seren sangat membenci semua manusia. Dia memang tidak menunjukkannya dengan jelas. Tapi ketika kami membahasnya, dia tidak akan menghentikan mulutnya itu dan terus mencerca manusia
Dia bahkan melihat kearah Verdea seakan ingin menggigitnya sekarang ini. Padahal Verdea sedang mengelus ekornya perlahan
"Bisa kita berangkat sekarang?" Seren bertanya
Dia sudah terdengar tidak nyaman dengan hal ini
"Baiklah. Kami juga punya sedikit waktu"
"Dan jangan lupa bayaranku nanti, Vainzel"
"Tenang saja. Aku sudah meminta Fyon untuk menyediakannya"
Yang pertama naik adalah Verdea yang kuangkat keatas punggung Seren
Aku kemudian menyeret Cyth naik karena dia tidak berani bergerak sedikitpun dan mengambil posisi ketiga diatas punggung Seren
Semua temanku yang lain mengikuti satu-persatu
Ketika Luxor yang terakhir sudah naik, Seren menoleh kearah kami. Setelah memastikan kami siap, dia pun mulai mengepakkan sayapnya dan terbang ke udara
Kami naik sangat tinggi sampai berada diatas awan. Kami bahkan tidak bisa melihat tanah dari atas awan-awan yang tebal itu, tapi cahaya matahari terasa semakin terang dan hangat ketika menimpa kami
Verdea dan Veskal terkagum-kagum dengan hal itu dan tertawa lepas. Tapi suara mereka nyaris tidak terdengar karena tekanan udara di ketinggian ini
Kebanyakkan teman-temanku langsung mengambil posisi berbaring karena merasa mual, terutama Cyth yang merasa mual dicampur ketakutan
Verdea kemudian mengambil posisi berdiri selagi dipegangi Veskal. Karena mereka duduk di tempat yang paling dekat dengan kepala Seren, angin dengan kuatnya meniup rambut mereka ke belakang
Verdea yang berdiri langsung bisa merasakan kerasnya angin itu. Tapi wajahnya tidak terlihat khawatir atau takut sedikitpun. Dia justru terlihat senang dan membuka mulutnya selebar mungkin
"Hey, tutup mulutmu nak! Takutnya sesuatu bisa masuk ke mulutmu!" Aku berteriak
Mereka sudah pasti mendengarkanku, tapi mereka tetap tertawa lepas dan membuka mulut mereka
Sejujurnya pemandangan itu sangat menghangatkan hatiku. Mereka tertawa seakan-akan pikiran sebuah bahaya tidak ada di kepala mereka
Mungkin aku bisa menganggap ini waktu istirahat untuk mereka. Setidaknya mereka harus meringankan kepala mereka sesekali seperti ini
"Maaf kalau penerbangannya tidak mulus. Aku sudah lama tidak terbang" Seren berkata
"Tidak apa-apa! Kami baik-baik saja!" Aku membalas
"Yaaa!!!!" Sorak Verdea
Dia kemudian mengulangi sorakkan itu berkali-kali, dan Veskal mengikutinya
Ahaha. Aku senang melihat pemandangan ini
Seren melirik kearah mereka. Aku tidak tahu apa dia merasa terganggu atau semacamnya ketika dia melirik, tapi dia tidak berusaha menghentikan sorakkan mereka itu
Sama sekali tidak seperti Seren yang kutahu. Dia biasanya akan marah jika aku berteriak di dekat sarangnya dulu
"Di bawah kita ada kapal!" Seru Seren
Ah ya. Seharusnya sekarang ini kami sudah dekat di pantai
__ADS_1
"Turun disana terlebih dahulu" Aku berkata
Aku perlahan menggeser posisi dudukku ke dekat Veskal dan Verdea
"Baiklah" Jawab Seren
Aku menggenggam mereka berdua di bahu dan berteriak, "PEGANGAN!"
Mengikuti teriakan ku itu, Seren meluncur ke bawah dengan cepat. Kami bertiga berpegangan ke sisik Seren sambil berteriak gembira
Sementara itu, semua teman-temanku yang lain mencengkeram sangat erat ke sisik Seren dan berteriak panik. Kecuali Cyth yang nyawanya sudah setengah hilang dan terpaksa dipegang oleh Luna agar tidak jatuh
Mereka berdua benar-benar berteriak lepas. Aku ingin mengikuti mereka, tapi sesekali aku ingin tertawa karena kelakuan mereka itu
Seren melesat sangat cepat sehingga kami sampai di tanah kembali dalam hitungan detik
Dan sesuai perkiraan ku, Kami mendarat di pantai tempat Black Hunt berada
Semua kru kapal itu kaget dengan kehadiran Seren, namun merasa lega ketika aku menyapa mereka
Dan disaat yang sama, Cyth menggelinding di punggung Seren dan jatuh tengkurap diatas pasir. Suara mual yang keras pun keluar dari mulutnya
"Kapten"
Seorang kru kapal berlari menuju ke Cyth. Dia memakai kacamata dan memiliki rambut hitam yang rapi
Cyth mengangkat salah satu tangannya yang masih lemas itu
"Ang- kat- aku- Erin- Uegh!"
Erin mencoba membantu kaptennya itu untuk bangun
Kami semua turun untuk sementara waktu ke tanah karena Ordelia dan Luxor juga ikut mual
Tapi alasan terpentingnya adalah, para Dark Elf yang masih berada di sana. Luna langsung mendekat kearah mereka dan memberitahukan kalau mereka semua boleh kembali
"Terima kasih sudah mengantar kapten kembali" Erin berkata
Cyth yang badannya ditopang oleh Erin itu perlahan-lahan mengacungkan jempol
"Tidak apa. Kami juga berterima kasih kalian sudah mau mengantar kami"
Erin mengangguk
"Aku harap kita bertemu lagi nanti" Dia berkata
"Tapi- jangan- di tempat- ini lagi" Cyth berkata
Aku tertawa kecil melihatnya yang lemas itu
"Kalau begitu sampai jumpa Tuan Vainzel. Kami berhutang padamu" Erin berkata, kemudian berjalan kembali ke kapalnya bersama Cyth
Aku jadi lupa kalau mereka itu bajak laut
Mereka bilang mereka berhutang padaku...
...!
Aku menyadari wajah Veskal yang terlihat sedih ketika melihat kepergian Cyth
...
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu
Dari telapak tanganku, muncul 2 benih tanaman yang dipenuhi sihir
"Erin" Aku memanggil sambil mendekat kearahnya
Erin berhenti dan langsung menoleh kearahku
Aku menyuruhnya membuka tangannya dan meletakkan 1 benih di tangannya itu
"Berikan pada Cyth nanti. Dan suruh dia menjaganya baik-baik"
Cyth sudah pingsan sepenuhnya sekarang ini
Erin kemudian menggenggam benih itu seerat mungkin dan mengangguk padaku. Yakin dengan jawabannya, aku kembali ke tempatku tadi
"Oh ya! Jangan ditanam!" Aku berkata pada Erin
Dia cuma membalas "Ya!" dari dekat kapalnya dan melanjutkan langkahnya
Sekarang, aku menyuruh Veskal membuka telapak tangannya. Dia terlihat bingung, tapi tetap melakukannya
Dan 1 benih lainnya itu kuletakkan di tangannya
"Gunakan untuk menghubungi Cyth" Aku berkata
Mata Veskal berbinar
Dia kemudian memelukku karena merasa senang. Aku membalas pelukannya sambil mengelus kepalanya
"Heh? Veskal bisa jadi lembut juga ternyata" Aku meledek
Dia langsung melepas pelukannya dengan wajah malu, menginjak kakiku sekeras mungkin, kemudian naik kembali keatas punggung Seren
Apa maksudnya coba!?
Sakit...
Kami semua kemudian kembali naik ke punggung Seren. Tidak lupa melambaikan tangan kepada para kru Black Hunt, kami semua kembali terbang ke udara
"Sampai jumpa!" Teriak Veskal dan Verdea
Luna, Ivor dan Lyralia menyudahi lambaian tangan mereka dan kembali fokus untuk membuat Luxor dan Ordelia nyaman
Para kru kapal juga terus melambaikan tangan sambil bersorak keras sampai kami semua menghilang diatas awan
"... Manusia" Gumam Seren, sebelum menggelengkan kepalanya pelan, selagi menunjukkan sebuah senyum samar
Dia kemudian melesat kearah Hortensia sekarang. Verdea dan Veskal berteriak keras seperti sebelumnya sambil mencoba berdiri di punggung Seren
Aku mencoba memperingatkan mereka sambil sesekali tertawa dan ketika Veskal nyaris kehilangan keseimbangan, aku menangkapnya
Mereka berdua terlihat panik ketika melihat wajah kesalku, tapi kembali tertawa ketika aku mengangkat Veskal ke udara dengan tanganku
Tawa riang mereka tidak terdengar terlalu keras, tapi wajah mereka itu menunjukkan kalau mereka benar-benar tertawa sekeras mungkin. Verdea bahkan sampai terbatuk-batuk karena tertawa
Di sisi lain, Seren yang melihat tingkah kami mendengus
Aku benar-benar tidak tahu sama sekali apa yang Seren sedang pikirkan sekarang ini. Tapi wajahnya terlihat seakan dia menyukai suasana itu
__ADS_1
Ivor kemudian mengikuti kesenangan kami, sementara Luna dan Lyralia cuma menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat kami
Dan dengan cahaya matahari di belakang kami, Seren membawa kami terbang menuju ke Hortensia, selagi kami yang berada di punggungnya tertawa sekeras mungkin dengan satu sama lain