Book Of Flowers

Book Of Flowers
Tinggal Lebih Lama


__ADS_3

"Jadi... Kita harus kembali dengan jalan kaki lagi?"


Cyth langsung memasang wajah lemas. Wajahnya menunjukkan dengan jelas kalau dia tidak ingin berhadapan dengan para monster raksasa itu lagi


Jadi, dia menolak. Namun, dia harus tetap memberanikan dirinya karena jika dia terus begitu, dia sudah pasti tidak akan bisa kembali nanti


"Aku ingin kita tinggal lebih lama disini, Vain. Aku ingin orang ini mengajariku trik menembak miliknya terlebih dahulu, sekalian istirahat dari perjalanan" Luna berkata sambil menunjuk kearah Cyth


"Datang saja kita susah, apalagi pulangnya nanti... Beri kami waktu 1 minggu, Vain" Luxor berkata


Luna dan Luxor juga menolak untuk pulang


"Ada elf bernama Zaphir yang kutantang untuk latih tarung kemarin. Aku ingin melawan dia dulu sebelum kita pulang"


Veskal Menolak? Dan aku harap dia cukup beruntung bisa tahan melawan ayah Luna lebih dari 10 detik


Kenapa coba dia menantang Elf bulan terkuat?


Ivor dan Lyralia hanya menggelengkan kepala mereka. Itu artinya mereka juga masih ingin tinggal disini terlebih dahulu


"Aku akan masakkan sesuatu. Aku rindu memasak" Ivor berkata sambil beranjak dari tempat duduknya


Tunggu dulu! Kenapa dia malah pergi?


Ordelia kemudian memegang bahuku. Aku meresponnya dengan memindahkan tangannya itu ke pipi kananku


"Aku ingin kamu tinggal bersama orang tuamu lebih lama lagi" Dia berkata


"Dan aku ingin mengelilingi tempat ini lebih dulu" Verdea menambah sambil mengayunkan kakinya


Aku langsung mengelus kepalanya yang duduk di pangkuanku itu. Kami bertiga kemudian tertawa kecil dengan satu sama lain


"Baiklah. Kita tidak akan kembali sekarang" Aku berkata


Beberapa teman-temanku langsung bersorak senang mendengar keputusanku. Yang lainnya hanya tersenyum sambil menepuk tangan mereka dengan pelan


"Tapi aku hanya akan menambah 3 hari saja. Hanya 3 hari. Ingat?" Aku berkata sambil mengacungkan 3 jariku kepada mereka


Mereka semua bersorak setuju


Dan dengan itu, pertemuan kami berakhir


Semua orang kembali sibuk dengan satu sama lain lagi


Luna mengajak Cyth untuk latihan menembak dan disetujui oleh Cyth dengan acungan jempol


Veskal sibuk memakan hampir semua manisan buah yang ibuku hidangkan selagi berbicara dengan Luxor


Lyralia beranjak dari tempatnya dan mencari Ivor di dapur rumahku


"Rumah kita jadi ramai, ya..." Ibuku berkata


Aku hanya menghela napas dengan senyuman kecil di wajahku


"... Omong-omong Vain. Kapan kamu akan menikah dengan Ordelia?" Tanya ibuku


Semua orang langsung diam. Aku, juga Ordelia terkejut dan mulai bertingkah gelagapan


"Jangan dibahas sekarang ibu..." Aku berkata pelan dengan wajah yang tersipu malu


Ordelia langsung membuang wajahnya yang memerah sambil melirik kearahku sesekali


Ya ampun...


"Ah ya! Kalian kan sudah bertunangan selama 50 tahun" Luxor berkata


Luxor....!


"50 tahun!? Mereka setua itu!?" Seru Veskal dan Cyth, nyaris bersamaan


"Umur mereka sudah 150 tahun lebih. Ordelia lebih muda 2 tahun" Luxor berkata


Veskal dan Cyth langsung tercengang


"Lalu kenapa bisa kalian bertunangan selama 50 tahun coba!? Bukannya terlalu lama ya?" Veskal menambah


Verdea kemudian melirik wajahku dan Ordelia yang semakin memerah


"M- M-"


"M?"


"Mentalku belum siap tahu!" Aku berkata


"Aku sudah siap, tapi aku tidak ingin memaksa!" Ordelia menambah


"Dan itulah kisah sepasang kekasih yang tidak akan pernah menikah dengan alasan, 'Mental' mereka yang belum siap" Luna berkata dengan nada seperti seorang narator


"50 tahun, dan mental mereka tidak pernah siap" Cyth berkata sambil tertawa terbahak-bahak


Mengikuti Cyth, semua orang disana tertawa, kecuali Ordelia dan Aku yang nampak dengan wajah memerah karena malu


Ah... Aku ingin menghajar mereka satu persatu...


Ibuku tertawa kecil melihat dan mendengarkan pembicaraan yang berubah topik menjadi pernikahan ku dan Ordelia itu


Dia berkata 'Ups' dalam hatinya sambil menepuk pundakku

__ADS_1


"Makanya, segeralah menikah" Ibuku berkata dengan nada meledek


"Ibu....!" Aku mengeluh


Verdea langsung tertawa kecil bersamaan dengan ibuku ketika melihat tingkahku itu


"Ya sudah. Aku akan berkeliling sendirian saja nanti" Aku berkata sambil membuang wajahku dari Verdea


"Heeeh...! Tidak adil!" Protes Verdea


"Aku anggap ini sepadan karena kamu sudah menertawakan ku"


Lidahku menjulur meledeknya, membuat wajah cemberutnya muncul


Aku pun tersenyum kecil melihat wajahnya itu. Kepalanya kuelus perlahan dan aku mengangkatnya dari pangkuanku


"Mau jalan-jalan sekarang?" Aku bertanya


Wajah Verdea langsung terlihat senang. Dia mengangguk mantap kemudian memegang tanganku, siap untuk pergi


"Kami juga ikut" Ordelia berkata, dengan Veskal yang mengikutinya dari belakang


"Baiklah. Ayo"


Kami beranjak keluar dan memulai perjalanan kami mengelilingi Miralius


......................


"Tuanku Oberon. Selamat datang kembali"


"Tuanku. Selamat datang"


"Selamat datang kembali tuanku"


Sambutan-sambutan itu terlontar semakin jauh kami berjalan


Para Fae dan Elf mengerumuni kami dan mencoba memberikan hadiah mereka padaku


Aku sama sekali tidak bisa menolak hadiah-hadiah mereka itu. Aku pun menerima semuanya dan meminta Veskal untuk membantuku membawanya


Di sisi lain, Ordelia dan Verdea dihampiri untuk diajak bermain oleh para Fae. Mereka beterbangan di sekitar mereka dan menabur Mana mereka yang membuat Verdea nyaris melayang tanpa kendali


Untung saja aku sempat menangkapnya. Dia mungkin akan terbang sampai ke matahari nantinya....


Ordelia sendiri sudah mahir dalam menggunakan Mana para peri untuk terbang. Walaupun tidak memiliki sayap, siapapun bisa terbang dengan mudah selama Mana itu menempel di badan mereka


Terbang dengan para Fae itu permainan kami sejak kecil


Dia terbang disana sambil menuntun Verdea mempelajari cara terbang. Para Fae juga ikut membantunya belajar terbang dengan menyeimbangkan badan Verdea dalam posisi yang benar


"Kamu mau ikut terbang Veskal?" Aku bertanya


Veskal menggelengkan kepalanya selagi berusaha menyeimbangkan semua hadiah yang dia bawa


Dia bahkan nyaris terpeleset dan terlihat terganggu ketika kami berjalan melewati semak-semak


"Kenapa jalanan di tempat ini sulit dilewati?" Dia bertanya dengan nada kesal


"Karena tempat ini Hutan Elf, Veskal. Bukan kota manusia" Aku menjawab


Veskal terus menggerutu selagi kami mengikuti Ordelia dan Verdea yang terus terbang kesana kemari


"Vain!!!"


Verdea melambaikan tangannya kearahku. Dan yang membuatku terkejut adalah, dia sudah bisa terbang tanpa bantuan


Aku balik melambaikan tanganku kearahnya


Dia kemudian fokus terbang kembali dan meninggalkan kami. Ordelia saja terlihat kewalahan mengejarnya kesana kemari


Tawanya menggema di seluruh hutan diikuti suara gemerincing kepakkan sayap para Fae


"... Bagaimana cara bisa terbang seperti itu coba?" Tanya Veskal


Wajahnya terlihat penasaran dan ingin mencobanya


Aku tersenyum kecil, kemudian berhenti dan meletakkan semua hadiah yang ada di tanganku


Aku meminta seorang elf untuk mendekat dan menjaga barang kami untuk sementara. Dan tidak hanya elf itu saja. Aku juga meminta para Fae untuk mendekat dan menaburkan Mana mereka ke kami


"T- tunggu! Aku tidak bilang kalau aku-"


"Sayangnya wajahmu bilang kalau kamu ingin" Aku memotong perkataannya


Dia berkata kalau dia tidak mau, tapi wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar ingin melakukannya


...


Dia mungkin masih berpikir kalau dia hanya harus melakukan sesuatu yang diperintahkan untuknya


Wajahnya langsung memerah karena niatnya ketahuan olehku. Perlahan kakinya mulai melayang dari tanah dan dia kehilangan kendali saat merasakan badannya yang terapung itu


Sulur di tanganku mulai memanjang. Sulur itu kulilit pelan di beberapa bagian badannya agar dia tahu cara menyeimbangkannya saat terbang


Wajahnya masih terlihat bingung. Sesekali dia bahkan kehilangan keseimbangan, kemudian badannya akan terbalik di udara


"Hm... Kamu pernah berenang?" Aku bertanya

__ADS_1


"Tentu"


"Kalau begitu anggap saja terbang itu seperti berenang"


"... Lalu, bagaimana cara aku menggerakkan maju badanku?"


Aku menggelengkan kepalaku


"Tinggal pikirkan saja. Jika kamu ingin maju, berpikirlah untuk maju"


"Semudah itu?"


Aku mengangguk untuk meresponnya


"Siap kulepas?"


"... Baiklah, aku akan coba"


"Ingat. Jangan terbang terlalu tinggi dan pastikan setidaknya ada seorang Fae di sampingmu"


Dia mengangguk


Baiklah. Dia siap


Perlahan lilitan tanganku kulepaskan dari badannya. Tidak lama kemudian, badannya mulai mengambang


Tarikan napas terdengar darinya. Dan secara perlahan tapi pasti, dia pun bergerak maju


"Bagus. Sekarang, coba bergerak keatas perlahan"


Dia mengikuti sesuai dengan apa yang kukatakan. Ketika badannya sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari pepohonan, wajah tersenyumnya langsung terlihat, disinari oleh cahaya mentari yang menimpa wajahnya


Para Fae langsung terbang di sekitarnya sambil menari-nari untuk menandakan ekspresi senang


Aku tertawa kecil dan mendekat kearahnya


"Ayo kita kejar mereka"


"... Jangan terlalu cepat, ya?"


"Eh..."


Mata kananku berkedip kearah para Fae yang mengikutiku


Tidak lama, aku langsung melesat kearah Verdea dan Ordelia, berlawanan dengan apa yang diinginkan oleh Veskal


"HEY!" Veskal berteriak


Aku yang sudah berada jauh darinya hanya tertawa kecil ketika melihatnya terbang secara perlahan


"Hey! Aku datang!" Aku berkata pada Ordelia


Ordelia yang melihatku langsung terlihat panik main-main. Ia kemudian membawa Verdea terbang menjauh dariku


"Kita main kejar-kejaran?" Tanya Ordelia dari kejauhan


"Haha! Boleh!" Aku membalas


"Woah...! Ayo Ordelia! Lebih cepat!" Verdea berseru, diikuti oleh suara tawa miliknya


Menelusuri hutan, gunung dan lainnya lagi, aku mengejar Ordelia dan Verdea ke seluruh Miralius


Ketika kami melewati beberapa pemukiman elf tertentu, kami tidak lupa untuk menyapa mereka selagi lewat dengan cepatnya


Ada beberapa makhluk mitos yang kami lewati, dan mereka kadang melempar sesuatu sebagai hadiah untuk kami


Sesekali, aku hampir menangkap mereka, tetapi aku gagal karena gerakkan lincah milik Ordelia. Verdea kemudian akan menjulurkan lidahnya kepadaku dan melanjutkan pengejarannya


Veskal juga pada akhirnya mampu terbang dengan cepat. Namun, dia kadang sering menabrak semak dan pepohonan sehingga membuatnya terjatuh ke tanah


Kami langsung menertawakannya selagi membantunya bangun. Setelah itu, dia akan ikut tertawa walaupun bajunya kotor dipenuhi dedaunan dan salju


Kami kemudian berbaring di atas Padang salju yang luas sambil menikmati angin dingin setelah permainan kami itu


Aku sangat bahagia saat itu. Tetapi yang paling membuatku bahagia disaat itu adalah mendengar tawa mereka semua yang menggema ke seluruh tempat


Aku tidak dapat menggambarkan rasa bahagiaku saat ini


Aku bahagia ketika melihat Ordelia berani melakukan sesuatu ketika bersama banyak orang. Dia yang awalnya malu dan hanya menunjukkan sisinya yang ceria itu hanya padaku, mulai membuka dirinya pada kedua anak ini


Aku bahagia ketika melihat Veskal yang sudah mulai tidak takut untuk bersenang-senang bersama kami. Dia sudah mulai sadar kalau posisinya bukan hanya sebagai seorang pelayan, tapi juga sebagai seorang teman dekat kami


Dan juga, aku senang ketika mendengar tawa Verdea yang paling keras diantara tawa yang pernah dia keluarkan. Tawa yang tidak bisa aku lupakan setiap kali melihat wajah bahagianya itu. Tawa ceria yang murni dan menyenangkan hatiku


Aku...


Tidak ingin kebahagiaanku ini hilang


Aku justru jadi tidak ingin kembali ke Istana Hortensia. Mengingat kalau tempat itu nyaris tidak pernah membuat Verdea senang seperti ini, aku jadi berpikir untuk menjaganya di Miralius saja


Tapi, aku sudah berjanji pada sang raja untuk setia pada perkataannya, selama perkataan itu tidak memaksa


Hah...


Aku jadi ingin mencabut janji itu...


Aku jadi ingin tinggal lebih lama lagi daripada 3 hari yang kukatakan tadi itu...

__ADS_1


__ADS_2