
--- Hortensia Tahun 252, Kalender Kebebasan ---
Cyth sibuk sekali diatas dek saat itu. Sibuk membagi-bagikan makanan
Seluruh anggota kru itu semakin bertambah jumlahnya semakin tahun bertambah. Dan disaat mereka sadar, jumlah anggota kru yang dulunya kecil-kecilan ini mulai bertambah hingga menjadi 27 orang. Mereka semua berkumpul diatas dek saat itu untuk makan-makan karena tidak ada ruang yang cukup di dalam kapal untuk memuat semua orang ini
"Hey! Berhenti mengambil dua mangkok! H- Hey! Jangan sampai tumpah di bajuku bodoh!"
Dia sibuk sekali disaat itu
Alice hanya tertawa melihat Cyth yang kewalahan dan mencoba berjalan kesana kemari selagi melompati semua orang yang duduk
"Dia sangat kewalahan ya...?" Broke berkata sambil memakan sup di mangkoknya
"Ini memang sudah jam miliknya untuk membantu Amanda. Tidak perlu terlalu menghiraukannya, paman" Alice merespon
Broke hanya tertawa kecil selagi menggelengkan kepalanya
"Hah... Akhirnya selesai..." Cyth berkata
Dia berjalan kearah Alice dan Broke dengan tangan kosong. Hal itu tentu membuat keduanya bertanya-tanya
"Dimana sup milikmu?"
...
"SIAPA DARI KALIAN YANG MENGAMBIL DUA HAH!?" Cyth meneriakkan
Tapi tidak ada yang mengaku selagi dia melihat sekeliling. Mereka semua justru tertawa usil melihat wajah kesal Cyth
Alice pun ikut menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu
"Ah, aku melihat ada sesuatu di belakang Walter!" Alice berseru
"AHA!"
Cyth mendekat kearah Walter, kemudian mengambil mangkok sup yang dia sembunyikan
"Ah, kapten tidak seru"
"Harusnya biarkan saja dia"
Mendengar sorakan kecewa para kru nya, Alice hanya memasang wajah usil
"Kapten memang terlalu sayang kepada Cyth" Walter berkomentar
Orang yang memiliki rambut keemasan dan mata biru yang indah itu menarik perhatian Alice dan Cyth
"Mereka mungkin berpacaran. Siapa tahu sudah..."
Semua orang langsung bersorak liar selagi Cyth dan Alice memerah. Mereka bahkan menyetujui perkataan Walter
Walter pun hanya tersenyum usil karena puas melihat reaksi kedua orang itu
"Heh! Awas kamu ya!" Alice berkata dengan wajah memerah, kemudian mendekat untuk memarahi Walter
Cyth hanya diam mematung selagi tetap memegang sup di tangannya
......................
Cyth tetap kepikiran dengan perihal pagi itu. Dia merasa malu, walaupun tidak dalam artian yang buruk. Hanya saja, dia memang merasa malu karena dia memang tertarik pada Alice
"Entah sejak kapan ya, aku suka dengan kapten...?" Dia bergumam sendiri
Beberapa dari para kru sedang sibuk mengatur kapal di dek. Tetapi, Cyth sedang tidak mengerjakan apapun, tidak juga dia melihat adanya pekerjaan kosong. Setelah anggota kru ini bertambah jumlahnya, nyaris tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan di tempat itu karena selalu terisi
Karena itu, dia pun berniat untuk masuk saja ke bagian dalam kapal, untuk berbaring sejenak
Tidak dia sangka dia menemukan Erin dan Walter sibuk mengintip dari balik pintu ruang kerja Alice di lorong kabin
Mereka berdua menyadari keberadaan Cyth, lalu memintanya untuk tetap tenang tanpa suara. Mereka kemudian kembali sibuk mengintip dari balik pintu itu
Cyth yang penasaran pun ingin ikut dengan kedua orang itu. Dia mengambil tempat yang nyaman untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan yang mereka intip diam-diam
Pastinya, ada orang-orang yang sedang bercakap di sana. Terdengar seperti Alice dan Broke
"Alicia... Aku sudah bilang kalau kita melakukan hal ini hanya untuk berjaga-jaga. Aku ini sudah tua, dan tidak akan selalu menjagamu"
"Aku tidak mau dengar itu paman! Kamu akan selalu menjadi tangan kananku, kapanpun itu! Tidak mungkin kamu akan pergi begitu saja!"
"!!!"
Ketiga orang itu tersentak mendengar percakapan itu. Suasananya terasa sangat berat, entah apa yang mereka sedang bicarakan dengan satu sama lain
Menjaga. Tangan Kanan. Kematian. Entah apapun itu, topik itu sama sekali tidak terdengar menyenangkan saat itu
"Kita harus memilih tangan kanan yang handal untukmu nanti. Aku sudah berumur 50 tahun lebih, dan semua anak muda itu akan bekerja lebih baik di posisiku ini"
"Aku tidak mau dengar, paman! Berapa kali aku harus katakan hah!?"
...
"Pokoknya, aku tidak ingin kamu pergi! Kru ini memang keluargaku, tapi aku tidak dekat dengan yang lain sedekat aku denganmu! Kamu adalah orang yang paling kupercaya di dunia ini, dan bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi dari kru ini?"
...
Alice kemudian terdengar sedang meringis. Napasnya mulai terdengar berantakan ditambah dengan suara hidung tersendat
"... Alicia. Aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya ingin istirahat di suatu tempat. Semua orang butuh itu..."
...
Alice tidak terdengar senang dari kesunyian itu. Cyth sendiri merasa bersalah karena sudah mendengar pembicaraan ini
"Aku... Jika aku ingin bilang, mungkin Walter dan Cyth akan menjadi kandidat yang baik. Erin memang sangat pintar dan cerdas, tetapi dia tidak sekuat ataupun dekat denganmu dibandingkan kedua orang itu"
"T- Tunggu paman!"
Semua orang terkejut melihat Cyth yang tiba-tiba menunjukkan diri
Walter menepuk dahinya selagi Erin hanya tersenyum canggung kearah Broke karena sudah ketahuan
"Paman akan pergi? Kemana??" Cyth bertanya
"... Tidak jauh. Mungkin di kampung halamanku di Orion, desa Mintaka. Tidak jauh dari pesisir, dan juga tempat yang nyaman untuk ditinggali"
...
Cyth terlihat ingin menolaknya. Tetapi, Broke juga tidak salah ketika meminta untuk beristirahat. Dia juga sudah meminta secara baik-baik kepada Alice
Alice mengusap semua air matanya yang mengalir, kemudian berkata, "Terserah. Sekarang beri aku waktu sendirian"
Dia kemudian pergi keluar tanpa memedulikan apapun lagi, masuk ke kamarnya yang terletak tidak jauh
...
"Paman... Sungguh akan pergi?" Erin bertanya
"... Ya. Memang tidak perlu, tetapi aku ingin mengakhiri semua ini. Aku... Kebetulan mengingat sesuatu"
"Apa itu, paman...?"
"... Ayah Alice, Alfi, pernah berkata padaku, agar ketika sudah waktunya Alice dewasa dan memiliki banyak orang di sekitarnya, aku harus melepaskan anak itu dari perlindunganku. Dia bilang kalau aku juga butuh istirahat setelah 30 tahun lebih mengabdi pada kru ini. Dan ini sudah lebih dari 30 tahun"
Broke menoleh kearah ketiga orang yang berdiri di dekatnya itu dengan tatapan lesu
"Aku juga tidak ingin pergi meninggalkannya. Hanya saja... Wasiat dari temanku sebelum kematiannya itu tidak bisa kuabaikan...
__ADS_1
Aku ingin setidaknya salah satu dari kalian untuk menggantikan ku. Kalian masih muda, tapi kemampuan kalian sudah sangat ahli, bahkan melebihi orang dewasa di kru ini. Bertahun-tahun kita berlayar bersama, aku bisa melihat hal itu"
Suasana pun kembali hening. Tidak ada respon lagi yang bisa diberikan untuk mengganti pikiran Broke disaat itu
"... Kalau begitu istirahatlah, Paman" Walter berkata dengan nada sedih
Cyth dan Erin hanya bisa menunduk menanggapi Broke, selagi dia tersenyum penuh rasa terima kasih kepada Ketiga anak itu
......................
"Intinya... Paman Broke ingin pergi ya...?" Walter berkata. "Sejujurnya, jika aku menjadi dia, aku akan tetap berada di sisi Kapten. Aku juga penasaran kenapa Kapten terdahulu itu memintanya untuk beristirahat" Dia menambahkan
Cyth dan Erin hanya terdiam. Mereka juga ingin berkata hal yang sama, tetapi juga ingin menentang perkataan Walter
"Kalian juga berpikiran begitu bukan? Sikap Paman membuatku sedikit kesal saja..."
"Jangan begitu, Walter" Cyth menyela
...
"Hah? Jangan bilang kamu merelakan kepergiannya begitu saja?"
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya ingin agar kamu menghormati niatnya saja"
"... Untuk apa menghormati orang yang sudah tidak ingin bersama keluarganya coba? Kamu aneh"
"Walter!"
"Cyth, tahan saja!" Erin menyela diantara mereka berdua
"... Lupakan. Aku juga tidak ingin keterlaluan, jadi aku pergi saja. Terserah apa yang diinginkan orang itu. Intinya, aku juga kecewa sama seperti Kapten"
Walter pun melangkah pergi sebelum mereka sempat bertukar kata-kata lagi
...
"Jaga emosimu Cyth. Kita tidak boleh membuat kegaduhan selagi Kapten Alice sedang menenangkan diri" Erin berkata
"Aku tahu. Maaf"
Erin hanya menarik napas lega selagi Cyth menunduk gusar
"Walter memang berkata dengan cara kasar seperti itu, tapi dia juga sebenarnya berpikiran sama seperti kita. Sungguh, dia juga tidak ingin paman pergi begitu saja setelah sekian lama kita bersama"
"Aku tahu..."
...
"... Kamu sangat menyayangi paman ya, Cyth?"
Hal itu sudah jelas jawabannya, setelah bertahun-tahun mereka bersama. Dan bukan hanya dia, Cyth yakin kalau semua orang di kapal ini menyayangi Broke
"... Dia yang merawatku ketika aku baru bergabung dulu. Dia sudah seperti ayah bagiku. Tidak mungkin aku rela dia pergi seperti itu saja dari kehidupanku"
Erin pun tersenyum pahit
"Paman juga sudah bilang kalau dia juga tidak ingin pergi. Walaupun hanya karena wasiat, aku juga menganggap kalau hal itu penting. Semua manusia di dunia ini membutuhkan istirahat. Paman tidak terkecuali" Erin berkata lagi
...
Erin benar. Apapun itu, kapanpun itu, dimanapun itu, bagaimanapun itu, manusia akan selalu membutuhkan istirahat. Hal itu berguna agar mereka bisa terus mencapai esok tanpa kendala yang besar
"Aku juga ingin meminta agar kamu membujuk kapten Alice agar dia baikan. Tapi tunggu saat yang tepat" Erin berkata
Cyth pun mengangguk. Mereka berdua kemudian melanjutkan langkah mereka keatas dek dengan hati yang masih terasa berat
......................
--- Malam Harinya ---
Cyth masuk ke dalam kamar itu setelah mengetuk pintunya 3 kali. Walaupun tidak diizinkan tapi karena khawatir, dia masuk kesana untuk memastikan keadaan Alice
Menyadari Cyth masuk, Alice pun menutupi dirinya dengan selimut
"... Kapten. Kamu melewatkan makan malam. Makan siang mu juga tidak tersentuh"
...
Alice hanya diam tidak menjawab dari balik selimutnya. Cyth langsung semakin khawatir dengan kebaikan kaptennya itu
"Kapten, makanlah dulu"
"... Tidak mau"
...
"Kapten-"
"Aku sudah bilang tidak mau"
"Kapten!"
Cyth menarik paksa selimut Alice. Alice tentu saja langsung kesal dan bangun, tetapi Cyth langsung memegang kedua bahunya agar dia mau tenang
"Kapten! Makanlah!"
"Aku tidak mau!"
"Paman tidak akan senang dengan hal ini!"
"Aku tidak peduli!!!"
"...!"
Alice baru saja berteriak dengan keras. Hal itu membuat Cyth terkejut dan langsung menyesal, ditambah dengan air mata Alice yang tiba-tiba mengalir
"Dia bisa pergi! Terserah apa maunya! Aku tidak mau peduli lagi!" Dia melanjutkan, kemudian menutup kepalanya dengan kedua tangannya
Air matanya tidak bisa berhenti. Cyth langsung ikut meneteskan air mata karena hal itu, tetapi justru malah membuat Alice berhenti
"Cyth..."
"Aku--- Aku juga tidak ingin paman pergi. Aku tidak ingin--- Aku tidak ingin dia meninggalkanku setelah selama ini"
Cyth mengusap semua air matanya yang mengalir deras ke pipinya. Alice pun ikut menangis kembali, kemudian perlahan memeluk Cyth. Cyth langsung membalas pelukan itu selagi menangis di bahu Alice
Mereka berdua menangis cukup lama di malam itu. Terus dan terus, mereka menumpahkan kekesalan mereka dalam bentuk air mata bersama satu sama lain
Broke yang melihat hal itu dari balik pintu pun hanya memberi mereka ruang untuk berdua
Waktu berlalu, dan malam sudah sepenuhnya gelap. Disaat itulah mereka baru selesai menumpahkan segalanya hingga mereka tenang saat ini
Tenang kembali tanpa apapun yang terlintas lagi selagi mereka tetap mendekap satu sama lain
...
"Cyth..."
"Ya...?"
"Tolong jangan pergi juga..."
"... Aku tidak akan pergi, Kapten Alice"
Alice menjauhkan dirinya sedikit dari Cyth, kemudian menggelengkan kepalanya
"Tolong panggil aku Alice atau Alicia saja"
__ADS_1
"... Tidak mungkin aku melakukannya" Cyth membalas ditambah senyum
"Bahkan jika aku yang minta?"
...
"Baiklah, kap- Maksudku... Alice"
Alice langsung membalas senyum Cyth, kemudian menyentuh pipinya secara perlahan. Cyth juga ikut memegang tangan Alice yang menyentuh pipinya itu selagi terus fokus pada matanya
...
...
Entah apa yang terjadi selanjutnya. Setelah cukup lama mata mereka terpaku dengan satu salam lain, dan saling menyentuh tangan satu sama lain, bibir mereka pun ikut menyatu. Bibir mereka menyatu seakan sudah lengket dengan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama...
Cyth mulai naik keatas bersama dengan Alice. Alice yang terbaring di bawahnya itu perlahan tersenyum dan memeluk leher Cyth seakan dia bergantung disana, selagi Cyth berada diatasnya seperti sebuah atap yang besar
Bibir mereka pun kembali menyatu, selagi badan mereka mulai menyatu dengan satu sama lain di tengah udara malam yang dingin
......................
"Ermh..."
Cyth terbangun. Kepalanya terasa berat sekali. Dia sudah bangun, tetapi matahari sama sekali belum terbit
...
Dia menolehkan kepalanya sedikit kanan, dan menemukan Alice, tertidur di lengannya tanpa mengenakan baju sedikitpun
Dia pun teringat kenapa kepalanya terasa berat sekali. Dia menghabiskan waktu semalaman bersama dengan Alice diatas ranjangnya. Rambut mereka berdua benar-benar berantakan disaat itu, dan Cyth juga tidak memakai sehelai pun pakaian, sama seperti Alice
Mereka menjadi satu untuk yang pertama kalinya di malam itu
...
Melihat wajah Alice yang sedang tertidur dengan tenang, Cyth merasa tidak tahan untuk mengecup dahinya secara perlahan
Dia pun melakukan hal itu sepelan mungkin
Namun, Alice entah bagaimana terbangun, dan tidak lama langsung menatap Cyth yang merasa kaget karena sudah membangunkannya
"K- Kapten. Maaf aku membuatmu bangun" Cyth berkata dengan nada menyesal
"... Tidak apa. Aku bisa tidur lagi bukan?" Alice membalas
...
"Kapten-"
"Eits~ Aku sudah memintamu untuk memanggilku Alice sebelum ini, bukan begitu?" Alice memotong perkataannya sembari meletakkan jari telunjuk di bibir Cyth
"... Alice. Kamu... Sangat cantik"
Alice tertawa kecil melihat wajah Cyth yang memerah
"Aku pikir kamu mau berkata apa. Tahu-tahunya malah melontarkan rayuan murahan"
"Sudahlah Alice. Jangan meledekku terus"
Alice pun semakin menempelkan dirinya di badan Cyth, kemudian menanam wajahnya disana
"... Sekarang kamu sudah besar ya? Aku masih ingat ketika kamu masih bocah dulu"
"Kata orang yang dulu juga masih bocah"
"Hey. Aku ini 4 tahun lebih tua darimu. Aku jelas lebih tinggi statusnya daripada kamu, bocah"
Cyth hanya tersenyum remeh selagi Alice memencet hidungnya dan mengayunkannya perlahan
"... Kamu sudah 18 tahun sekarang. Bertahun-tahun aku berlayar, dan tidak pernah kusangka sama sekali kalau malam pertamaku akan bersama bocah yang umurnya cukup jauh dariku"
"Baru dibahas sekarang? Lagipula, aku ini sudah tergolong dewasa bukan?"
"Kamu tetap masih bocah bagiku, Cyth tersayang~"
...
"Tapi tidak apalah. Toh, kamu juga orang yang dekat denganku. Pengalaman pertama yang tidak buruk, jika aku bisa tambahkan. Padahal kamu itu bocah yang juga tidak berpengalaman"
Cyth tersipu mendengar kata-kata itu, bercampur jengkel karena sekali lagi dia diledek oleh Alice
...
Mata Cyth kemudian tertuju pada kalung yang dikenakan oleh Alice. Entah kenapa... Dia bahkan tidak melepaskan kalung itu sejak tadi, ketika mereka bersatu
"Alice"
"Kenapa?"
"Aku... Penasaran dengan kalung yang kamu kenakan itu"
"... Kalung berbentuk kerang ini?"
Alice menunjukkan kalungnya itu. Betapa berkilau dan indahnya kalung itu ketika diterpa oleh cahaya bulan yang masuk ke ruangan itu
"Ini kalung pemberian ayahku. Paman Broke pernah bilang kalau dia memberiku benda ini ketika aku baru berumur 1 tahun. Ayahku berkata kalau ini akan menjadi jimat pelindung bagiku. 'Selama kalung itu tidak berpisah darimu, kamu akan selalu aman dan akan selalu menjadi kapten yang baik bagi anggotamu', atau begitulah yang dia katakan"
Cyth mendengarkan Alice dengan seksama dan terus menatap matanya
"Ayahku itu juga bajak laut. Semenjak kakekku, keluarga kami itu dipenuhi oleh bajak laut. Itu mungkin sebabnya dia takut sekali akan terjadi sesuatu kepadaku, karena kami itu orang yang tidak taat aturan"
Alice memandang kalung itu dengan tatapan sedih, kemudian mengecup kalung itu, dan melepasnya dari tangan
"Beliau meninggal ketika dia membunuh seorang bangsawan Orion yang mencoba melakukan sesuatu padaku. Dia hanya menerima nasibnya ketika dia diseret paksa ke tiang pancang itu
Tapi aku tersadar, dia melakukannya karena memang dia tidak seharusnya membunuh. Dia menganggap kalau semua hidup seseorang itu berharga, sekecil atau serendah apapun mereka. Menodai harga dari kehidupan itu, bahkan mencabut mereka, itu adalah tindakan yang salah
Aku paham sepenuhnya terhadap pemikirannya itu. Aku paham kenapa dia rela melakukan hal itu tanpa merasakan dendam sedikitpun. Tapi...
Aku di sisi lain, sangat suka melakukan kekerasan...
Aku tidak peduli dengan hal itu karena kita juga memang dikucilkan oleh para sampah itu. Aku mendorong semua orang untuk bersikap seperti anjing liar selagi menjadi orang yang ayahku tidak ingin aku jadikan" Alice bicara panjang lebar
Nada sedihnya itu, membuat Cyth merasa kalut dan ingin mencairkan suasana. Sayang, dia tidak tahu harus apa, melihat Alice yang masih ingin bicara
...
"Ayahku pasti akan kecewa padaku. Apalagi ketika aku bersikap egois dan menentang wasiatnya itu..."
...
Cyth terdiam. Suasana diantara mereka berubah. Bahkan wajah Alice juga mulai berubah sedih kembali, walaupun dia tetap tersenyum
Cyth pun tidak tahu harus apa selain membelai rambut Alice secara perlahan selagi mendekapnya dengan hangat
"Ayahmu tidak akan kecewa, selagi kamu masih punya waktu untuk berubah. Paman juga tidak akan pergi jauh. Dia memang akan jauh dari kita, tapi keberadaan mereka akan selalu kita simpan di hati. Itulah yang namanya hubungan yang kuat, sebuah keluarga" Dia berkata kemudian
...
Mata Alice langsung berbinar-binar mendengar perkataan Cyth. Bercampur dengan rasa senang dan sedih, dia semakin mendekatkan dirinya kearah Cyth
"... Terima kasih, Cyth"
Mereka berdua mendekap satu sama lain kembali. Kehangatan yang mereka bagi di hari itu, tidak akan pernah mereka lupakan sampai ujung hayat. Di tengah malam yang dingin itu, mereka mulai terlelap kembali, selagi terus membagi kehangatan itu bersama
Mereka ingin terus dekat, dan mulai di hari itu, tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka
__ADS_1