
--- Beberapa hari kemudian ---
"Baiklah! Kita akan mulai bekerja keras hari ini!"
"... Kenapa kamu berpakaian biasa seperti itu?"
"Karena kita akan bekerja keras!"
Verdea hanya menganga bingung melihatku sambil duduk di ranjangnya. Dia baru saja bangun sekarang ini, sehingga kepalanya masih tidak bisa memproses apa yang kubicarakan
"Tolong ulangi...?"
"Intinya bangun dan ganti pakaianmu sekarang!"
"Tidak perlu mandi apa?"
"Tidak!"
Tidak lama, dia bangun dan berjalan lemas ke tengah ruangan. Aku sibuk mengambil pakaian biasa di lemarinya, sementara dia sudah mulai merentangkan kedua tangannya, siap untuk dipakaikan pakaian olehku
Aku merasa bersemangat pagi ini. Dan karena itu, aku benar-benar ingin melakukan perubahan di kastil ini sekarang
Verdea menguap dan masih kalah dengan rasa kantuknya. Dia berdiri dengan lagak lemas di hadapanku yang sibuk memakaikan baju biasa kepadanya
"Kenapa juga harus mengenakan baju dulu?" Dia bertanya lagi
"Ada banyak hal melelahkan yang akan kita lakukan hari ini, dan aku yakin kalau kamu tidak ingin bajumu kotor nantinya" Aku menjawab sambil mengganti baju di badannya
"Terdengar seperti kerja kasar..."
"Tepat sekali!"
...
"... Tunggu dulu. Kamu sungguh-sungguh!?"
"Yap!"
"Haaah!?"
Dia menatapku dengan ekspresi kaget. Aku sebenarnya menikmati reaksinya yang menandakan kalau dia tidak suka dengan hal ini. Tapi ini kulakukan untuk kenyamanannya di kastil ini juga, jadi antara aku dan dia sama-sama dapat untung
Tapi untung milikku itu lebih memuaskan~
--- Beberapa saat setelahnya ---
"Jadi, kita mulai dari memecat orang-orang yang tidak kamu sukai disini"
Aku menyerahkan daftar nama semua pelayan yang bekerja di kastil ini ke tangan Verdea. Sekali lagi dia bingung dengan apa yang kukatakan, terlihat di wajahnya
"Kamu bercanda"
"Tidak. Aku serius"
"Tapi pelayan-pelayan itu dipekerjakan yang mulia, ayahku, untukku. Dia mungkin akan marah kalau aku melakukannya"
Aku selanjutnya menyerahkan sebuah surat dan amplop kepada Verdea yang dimana tertulis izin langsung dari 'yang mulia' itu untuk melakukan hal ini disertai sebuah cap kerajaan dan tanda tangannya
"Aku mengirimi surat kepada yang mulia Artorius untuk mendapatkan izinnya memecat pelayan disini"
Artorius dan aku juga sudah mulai bertukar surat dengan satu sama lain. Dia biasanya menanyakan tentang keadaan Verdea melalui surat-surat itu, tapi tidak ingin Verdea tahu soal itu
Aku selalu bingung dengan hubungan anak ayah milik mereka ini. Tapi, untuk sekarang aku tidak perlu memikirkannya
Intinya, aku memanfaatkan surat menyurat kami untuk memberitahukannya segala hal yang ada disini. Aku yakin dia setuju dan memberi izin memecat pelayan disini karena laporanku
"Kamu bercanda"
"Sekali lagi aku bilang, aku serius"
"Wow..." Dia dengan takjub berdecak melihat daftar pelayan itu. "Kalau begitu pecat semuanya" Katanya mantap
Sudah kuduga dia akan berkata begitu. Toh, aku juga tidak suka dengan satupun pelayan disini. Dan kalau dia benar-benar serius ingin memecat semuanya...
"Baiklah"
"Hah!? Kamu serius!?"
"Untuk yang ketiga kalinya, aku serius"
Aku tetap berdiri tegak sambil bersilang dada di hadapannya, tidak sedikitpun goyah oleh kata-kata yang sudah aku utarakan
"... Memangnya kamu mau menanggung semua beban pekerjaan disini?" Dia bertanya kemudian
Aku tersenyum kecil sebelum membalas perkataannya
__ADS_1
"Kalau soal itu, aku ada jalan keluarnya. Jadi pecat saja siapapun itu"
Dia terlihat takjub sekali lagi dengan kalimatku. Sikapnya mulai terlihat antusias selagi dia melihat kesana kemari
Dan pada akhirnya, dia benar-benar serius untuk memecat semua pelayan disini—dengan memberi tanda sebuah anggukan kepadaku. Kami pun segera berkeliling untuk memberitahukan soal pemecatan mereka kepada semua pelayan disini
Dan kami memulainya dari kepala pelayan kastil ini
Kami mengetuk pintu kamar milik kepala pelayan itu dan dipersilakan masuk olehnya. Dia terlihat sedang duduk santai di ruangannya sambil meminum secangkir teh dengan perasan lemon
Orang ini sebagai kepala pelayan tidak terlihat memiliki niat sama sekali untuk melayani Verdea. Terlihat dari lagaknya yang tidak sopan. Seorang pelayan seharusnya tahu, ketika tuannya datang, dia harus menyambut orang itu terlebih dahulu. Tapi orang ini sama sekali tidak bergeming seakan dialah yang berkuasa
Aku yakin dia duduk disini sejak dia bangun tanpa sedikitpun penyesalan karena dia tidak mengurus Verdea sejak pagi
Sebagai kepala pelayan, dia yang seharusnya melakukan hal itu. Tapi, justru aku yang mengurusi Verdea sejak bangun sampai hari berakhir
"Ada keperluan apa mendatangi saya?" Orang itu bertanya
Kalimat yang sopan untuk orang kurang ajar sepertinya...
"Tuanku ingin memecatmu" Aku sama sekali tidak menyembunyikan niat kami
Dia diam sambil tersenyum tanpa bergetar sedikitpun
"Jadi, kalian ingin memecatku?"
"Ya, tuanku ingin kalian semua keluar dari sini dan detik ini juga"
"Kalian tahu yang mulia raja tidak akan senang dengan hal ini? Keluargaku adalah-"
Aku tanpa ragu langsung menyodorkan surat Artorius ke depan wajahnya. Dia merampas surat itu dari tanganku dan membacanya dengan seksama
"Aku sudah bilang, tuanku ingin memecatmu"
Tuanku di kerajaan ini bukan hanya Verdea, kamu tahu? Orang ini punya telinga bukan?
Wajahnya yang sombong itu pun berubah dalam waktu seketika, menjadi kaget dan panik
"... Surat ini palsu"
"Sayangnya tanda tangan dan cap kerajaan itu berkata lain"
Dia kemudian terlihat kesal dan menggigiti jarinya. Keringat dinginnya mengucur dari dahi secara perlahan
Kesabaranku mulai habis dan aku pun berucap lagi
"Tapi-"
"Kamu menolak keputusan resmi raja?"
Dia diam dan tidak mencoba berkata balik lagi mengetahui konsekuensi dari setiap pilihannya disaat ini. Dengan geram, dia kemudian membuka lemarinya dan segera mengemasi barang-barangnya
"Keluargaku tidak akan diam dengan hal ini...!"
"Apa itu ancaman?"
"Hanya peringatan. Aku akan mengingat wajahmu, Sir Vainzel"
Dia kemudian melangkah pergi setelah semua barang-barang miliknya telah di bereskan
Aku dan Verdea tersenyum dengan satu sama lain melihat kepergian orang itu
"Ternyata lebih gampang daripada yang kukira" Dia bahkan berkomentar
Yah, karena itu adalah kekuatan segel resmi kerajaan ini! Siapa warga negara yang berani menentang perintah kerajaan mereka coba?
Senyum lebar menandakan kepuasan tersirat di wajah Verdea, selagi aku menunjukkan lagak bangga di hadapannya
"Kita masih punya 14 orang lagi untuk dipecat. Jadi kita harus cepat"
"Baiklah! Tapi aku yang selanjutnya memberitahu mereka boleh?"
"Silahkan! Toh, kamu juga tuan mereka"
Dia tersenyum semakin lebar hingga aku bisa merasakan niat buruknya kepada pelayan-pelayan itu. Kami pun berjalan melalui lorong-lorong kastil Thyme untuk menemui para pelayan
Kami menghabiskan satu jam untuk mengelilingi kastil dan memberitahukan para pelayan mengenai pemecatan mereka
Mereka semua terlihat tidak terima sama sekali dengan hal ini. Bahkan ada beberapa yang dengan lancangnya meminta ganti rugi dengan alasan waktu mereka yang terbuang mengurus Verdea
Kata-kata dan ocehan kosong dari mereka tidak kami pedulikan sama sekali. Mereka seharusnya bersyukur aku tidak berniat melaporkan kelancangan mereka kepada Artorius
Dan mereka sama saja. Mereka semua pergi dengan wajah kesal dan menggerutu. Mereka bahkan tidak pamit atau memberikan salam sedikitpun kepada Verdea yang jelas-jelas sudah berbaik hati mengampuni mereka
Benar-benar tidak tahu diuntung
__ADS_1
Dan dengan begitu, langkah pertama selesai. Aku dan Verdea kemudian menepuk tangan satu sama lain dengan rasa puas setelah mengusir semua orang itu
Waktunya untuk menjalankan tahap kedua
"Kenapa kita membutuhkan ruangan yang luas?" Verdea bertanya mengenai rencana keduaku
"Untuk membuat lingkaran teleportasi"
......................
Pada akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan kamar milik Verdea karena ketika kulihat, ruangan itulah yang paling luas dibandingkan yang lainnya
Aku menyingkirkan beberapa perabotan disana seperti sofa dan karpet dari bagian tengah kamarnya
Dan setelah memastikan tidak ada apapun lagi di lantai itu, kuambil sebuah batu Mana yang bisa berubah wujud
Batu ini bisa berubah menjadi cairan yang berwarna dan juga memiliki jumlah Mana yang terkonsentrasi di dalamnya. Batu-batu ini juga cukup mudah ditemukan dimanapun itu karena dia terbuat dari Mana yang membatu
Jadi, aku hanya menumpahkan Mana-ku ke tanah dan berubahlah menjadi batu itu. Batu seperti permata yang dominannya berwarna biru
Kuperas batu itu dengan tangan kananku dan bentuknya langsung berubah menjadi cair. Mana itu kemudian kuletakkan dalam ember yang sudah kusiapkan dan persiapan untuk langkah kedua telah selesai
"Kamu tahu bentuk lingkaran teleportasi?" Tanyaku pada Verdea
Dia menggelengkan kepalanya
Sepertinya aku akan mengerjakan langkah ini sendirian
Menggambar lingkaran teleportasi sebenarnya sangat sederhana. Hanya perlu menggambar lingkaran dan jarum mata angin yang berada diatasnya
Arah mata angin dari tempat tujuan lingkaran itu harus lebih panjang dibandingkan yang lainnya untuk memastikan koneksi antara satu lingkaran dengan lingkaran yang lainnya
Dan untuk memastikan agar tidak tercampur dengan lingkaran teleportasi lain, aku menorehkan 'Hutan ras Elf' di tengah lingkarannya. Hal itu berfungsi sebagai penanda tempat tujuan pastinya
"Kita mau ke hutan para Elf!?" Tanya Verdea kaget
"Tidak"
Dia langsung terlihat kecewa mendengar jawabanku
"Tapi, para Elf yang akan datang kesini"
Aku sudah memastikan para hewan yang bisa terbang untuk menyampaikan pesanku kepada mereka untuk datang kemari 2 hari lalu. Aku sengaja membuat berita kalau keadaannya genting
Mereka mungkin sudah membuat lingkaran teleportasinya sejak kemarin. Aku yakin mereka juga sudah bersiaga penuh dan mengirim beberapa orang yang kuminta untuk datang
Aku berdiri di bagian luar lingkaran itu dan membiarkan proses teleportasinya berjalan. Dan tidak lama, lingkarannya bersinar dari ujung ke ujung
Terus dan terus, perlahan dan perlahan. Hingga...
--- Cahaya yang menyilaukan memenuhi seluruh kastil dan memberi reaksi seperti ledakan yang membuat seluruh ruangan dipenuhi debu. Aku sempat melindungi Verdea dari hal itu agar dia tidak kaget dari efek gelombangnya
...
Dan tidak lama, kami pun bisa mendengar suara rintihan dari 5 orang sekaligus...
"Menyingkir dariku!"
"Kamu yang mengikat kakimu di kakiku, jadi kamu yang menyingkir!"
"Diam atau kubakar kalian semua!"
"Maaf teman-teman...!"
"Kalian semua payah..."
Suasana ruangan langsung terasa ricuh dengan adu mulut mereka semua. Verdea dan aku mengintip ketika debu dan asap yang mengepul di dalam ruangan sudah mulai menghilang
Tampak 5 orang Elf dari klan yang berbeda-beda tertumpuk diatas badan satu sama lain dan saling meronta untuk melepaskan diri. Mereka... Adalah teman-temanku
...
Aku merasa malu seketika melihat tingkah teman-temanku yang memalukan ini
Berbeda dengan mereka berlima langsung terkejut ketika melihat kehadiranku
"Vainzel!"
"Ah! Vainzel!"
"Apa keadaan daruratnya!?"
Aku bangun dari tempatku berlutut dan berdiri di samping Verdea. Kupegang wajahku dengan kedua tanganku untuk menahan rasa malu
"Kalian lepaskan diri kalian dulu... Kalian bertingkah memalukan sekali...!"
__ADS_1
Padahal aku berharap mereka datang dengan kerennya untuk pamer kepada Verdea...
Verdea mencoba menahan tawanya melihat mereka yang badannya seperti tali yang terikat dengan satu sama lain itu, ditambah dengan wajahku yang dipenuhi rasa malu tak berujung itu