
Tak!
Tak!
Suara pedang kayu yang beradu sejak tadi antara Zaphir dan Veskal sama sekali tidak menghibur Verdea yang menonton latihan itu
Dia, Luna dan Cyth duduk di sebuah pohon sambil melihat Zaphir dan Veskal yang berlatih tarung
Namun, Verdea merasa bosan. Itu karena hasilnya sama saja sejak tadi
"Agh!"
Veskal tersungkur ke tanah sekali lagi. Itu adalah yang ketiga kalinya dia sudah kalah melawan Zaphir
Verdea terkesan dengan keteguhan Veskal yang terus menantang Zaphir itu
Sementara itu, Zaphir hanya melihat kearahnya dengan tatapan tidak terhibur
"Kamu punya potensi, tapi masih lebih lemah daripada Luna" Ia berkata, kemudian melangkah pergi seakan tidak memedulikan Veskal lagi
"Percaya atau tidak, itu pujian pertama yang dia berikan padaku" Bisik Luna pada Cyth dan Verdea
Cyth langsung tertawa kecil dan berkata "Pencapaian untukmu"
Luna kemudian menghajar kepala belakang Cyth setelah dia selesai bicara, selagi Verdea hanya memasang wajah datar dan terus memperhatikan Veskal
Kesan pertama Verdea kepada orang bernama Zaphir itu adalah, dia orang yang sombong
Dari caranya bicara saja, sifatnya itu sudah terlihat. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya
Aku juga dengan sepenuh hati setuju dengan Verdea. Tidak ada satupun petinggi yang suka dengan sifat Zaphir, termasuk aku. Dia terlalu kaku dan serius di setiap saat, hingga mengajaknya bicara saja terasa sangat menyusahkan
Veskal merungut dan mencoba bangun. Wajah kesalnya sudah tidak bisa tertahan lagi dan mulai terlihat di mata semua orang
Tapi tidak seperti sebelumnya, dia hanya diam di tanah, meratap. Dia bahkan tidak berusaha menantang Zaphir sekali lagi
Verdea turun dari atas pohon dengan bantuan Luna, kemudian ia segera mendekati Veskal
Veskal yang masih terduduk mengabaikan Verdea yang perlahan menjongkok di dekatnya
"Tidak apa-apa. Orang itu memang kuat" Verdea berkata
Dari dilihat sekilas saja sudah jelas kalau Zaphir itu kuat
Tetapi, Veskal tidak terlihat senang sama sekali. Dia menggenggam tangannya sekuat mungkin untuk menahan rasa kesal
"Justru karena dia lebih kuat itulah aku kesal" Veskal merespon
"Kenapa?"
"... Karena aku harus bisa melindungi kalian"
...
"Omong-omong dimana Vainzel?" Tanya Luna
"... Aku tidak tahu" Verdea menjawab
Veskal hanya diam tidak menjawab. Tapi wajahnya yang berkata kalau dia tahu sesuatu itu membuat Luna sedikit curiga
"Dimana dia Veskal?"
"... Tidak tahu"
"Beritahu aku. Wajahmu itu tidak bisa menyembunyikannya lagi"
Veskal membuang wajahnya. Luna kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada dan semakin memberi tekanan batin pada Veskal
Selagi hal itu terjadi, Verdea hanya menoleh kearah mereka berdua sesekali secara bergantian
"Hey. Aku kelewatan apa?" Aku menyapa sambil mendekat kearah mereka
Mereka semua langsung menoleh kearahku, dan Verdea langsung melesat maju dan memelukku
"Kamu dari mana saja?" Tanya Luna padaku
"Pohon Agung. Seperti biasa"
__ADS_1
"Ah.... Aku paham sekarang"
Dia mungkin berpikir aku hanya basa-basi dengan Pohon Agung saja seperti biasa. Sebenarnya, aku pergi untuk konsultasi masalah anak ini
......................
--- Beberapa saat sebelumnya ---
"Semoga seluruh hutan memberkatimu anakku" Alf berkata sambil menyambut kedatanganku
"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu, Ayahanda" Aku berkata sembari duduk di atas sebuah akar miliknya
"Telingaku selalu terbuka untukmu"
Aku pun langsung menceritakan semua hal yang diberitahukan Vainzel, terutama tentang mimpi dan sosok di dalam mimpinya
Aku tidak menyembunyikan satu detail pun cerita yang kudapatkan dari Verdea itu
Alf langsung diam. Hal itu biasanya menandakan kalau dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar
"Aku ingin meminta saran Ayahanda untuk melepas ikatan antara Verdea dan Marcellus" Aku berkata dengan nada tegas
"......
Aku sebenarnya tidak tahu cara yang benar melepas ikatan itu"
"Hah!?"
"Maksudku adalah, sama seperti ikatanmu denganku, aku tidak yakin melepas ikatan mereka berdua akan mudah. Kecuali..."
"Kecuali?"
"Aku hanya mengatakan jika, namun...
JIKA, anak itu mati, ikatan mereka sudah pasti hilang"
"..."
Tidak ada cara...?
Hanya kematian yang bisa memisahkan mereka, sama seperti ikatanku dengan Ayahanda
"Maafkan aku anakku. Sebesar apapun niatku menolongmu dalam hal ini, aku juga tidak tahu cara yang benar untuk melakukannya" Alf berkata. Nadanya terdengar gelisah dan menyesal ketika berbicara
"... Tidak apa-apa, Ayahanda. Aku paham"
Alf sekali lagi berkata maaf padaku
Masih berpikir, aku hanya berjalan berputar di depan Alf. Aku masih mencoba mencari maksud tersembunyi dari Marcellus yang meletakkan ikatan itu pada Verdea, sekaligus cara untuk memutuskannya dengan cara aman
Tapi semua ide yang ada di pikiranku sama sekali tidak terasa mumpuni sama sekali
Melihatku yang terlihat terbebani, Alf kemudian mengusulkan sesuatu
"Hanya anak itu yang bisa melakukan hal ini"
Aku menoleh kearah Alf dengan cepatnya setelah mendengar hal itu
"Bagaimana maksud Ayahanda?" Aku bertanya
"Aku tidak bilang dia bisa memutuskan ikatannya, tapi hanya dia yang bisa mengontrol hal ini. Dialah orang yang memiliki ikatan dengan Marcellus, maka dia yang paling tahu sesuatu tentang Marcellus"
"... Dan bagaimana kalau dia tidak bisa mengontrolnya?"
"Aku sama sekali tidak tahu apapun lagi. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak itu"
Tapi, aku tidak bisa diam saja
Para Elf dan Marcellus sama sekali tidak memiliki hubungan yang baik. Dugaanku adalah dia ingin menggunakan Verdea untuk menyelesaikan kami
Dan jika dugaanku benar, aku tidak akan diam saja. Berani-beraninya dia menggunakan tubuh Verdea seperti itu
Aku harus mencari tahu kebenaran tentang simbol itu nantinya...
"Untuk sekarang, aku sarankan kamu menjaga anak itu dengan baik"
Aku menoleh kearah Alf, kemudian tertawa kecil
__ADS_1
"Aku selalu menjaganya dengan baik, Ayahanda. Aku tidak pernah ingin dia menderita" Aku membalas
Itu penyebab utama kenapa aku ingin menyingkirkan simbol itu dari Verdea. Dia hanya anak kecil, dan aku tidak ingin dia terlibat masalah sebesar ini
Aku benar-benar berharap kalau dia akan baik-baik saja jika aku membiarkan simbol itu untuk sementara waktu
"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa nanti, Ayahanda"
Aku beranjak pergi menuruni tempat itu dan menghilang dengan cepat
Alf menghela napasnya. Diam-diam, sosok aslinya tersenyum senang melihatku
"Aku bersyukur kamu bisa dekat dengan seorang manusia anakku" Dia berkata pelan
......................
Aku menaikkan Verdea keatas gendonganku, kemudian menoleh kearah Veskal yang sedang membersihkan seluruh bajunya dari debu
"Kamu tidak apa-apa?" Aku bertanya
"Menurutmu aku terlihat baik-baik saja"
Wah... Seandainya dia tahu seperti apa wujud Luna setelah latih tarung dengan Zaphir...
"Tenang saja. Ada hal yang lebih parah daripada caranya memperlakukanmu" Luna berkata
Orang yang berpengalaman menghadapi Zaphir saja setuju...
Luna kemudian menoleh kearahku. Dan ketika melihat tatapannya itu, aku merasa sangat tidak nyaman, seakan aku tahu apa yang dia pikirkan
"Setelah melihat pertarungan tadi, aku jadi ingin melawan seseorang" Luna berkata
Sudah kuduga...
Kenapa aku punya teman-teman yang selalu membuat kepalaku pusing...?
"Tidak"
"Ayolah, Vain. Jangan jadi pengecut begitu"
"Terakhir kali kita bertarung hampir seperempat bagian Hutan Gelap berantakan, jadi tidak!"
"Oh~! Aku jadi ingin melihatnya~" Sela Cyth
Veskal mengangguk mantap dengan mata berbinar
Verdea juga jadi terlihat antusias karena mereka
Hah......
"Baiklah... Tapi, apa-"
"Bertarung disini tidak apa bagiku" Luna memotong
"Lalu, dengan pedang-"
"Tidak. Dengan senjata asli milikmu"
Berhenti memotong perkataanku!!!!
Dia kemudian memanggil panah miliknya dan terlihat sudah siap
Aku benci jika situasinya sudah seperti ini
"Cyth" Aku berkata
"Ya?"
"Bawa dua anak ini lari sejauh mungkin" Lanjutku
Karena insting akan situasinya, Cyth langsung merinding dan meminta para Fae untuk membawa mereka sejauh mungkin
Dan selagi mereka kabur, aku melepas sarung tanganku perlahan dan menjatuhkannya ke tanah
"Panggil tongkatmu itu" Luna berkata dengan tatapan menantang
"... Aku tidak butuh benda itu untuk menghajar mu"
__ADS_1
Pertarungannya dimulai ketika aku melesat kearahnya