
--- 5 Tahun lalu, Kota Calendula ---
"VAINZEL!! VAIN-!"
"Nak, sudahlah..."
Karena perkataan Frank dan menyadari kalau aku sudah tidak terlihat di mata, Verdea berhenti berteriak dan hanya bisa menangis keras
Dia perlahan mendekap Frank dan terus menangis di pelukannya
Veskal yang melihat hal memilukan itu pun hanya ikut menangis tanpa bisa berkomentar
"... T- tuan Gold" Luna menyela diantara suasana itu
Frank, Verdea dan Veskal kemudian menoleh kearah Luna dan Paman Zer yang terlihat bingung harus apa dengan Artorius yang pingsan
"... Aku akan urus dia nanti" Frank menjawab sambil mengalihkan pandangannya dari Artorius
"Tapi, aku tidak yakin dia akan bertahan lama jika-"
"Persetan dengan orang itu"
...
"Tuan Gold...?" Tanya Paman Zer
"Kakek?"
Luna dan Verdea langsung terkejut ketika melihat Frank yang tiba-tiba mengeluarkan air mata dan memasang tampang marah
"Kakek..." Verdea yang gelisah berkata
"Aku tidak apa-apa cucuku. Aku hanya tiba-tiba ingat dengan ibumu" Frank berkata sambil mengusap matanya
"Kake-"
"Tuan Gold. Aku mohon. Denyut nadinya semakin melemah" Luna menyela lagi
Verdea dan Veskal yang mendengar perkataan Luna itu pun langsung panik
"Aku tidak akan menolong orang itu, berapapun kamu akan membayarku" Frank berkata dengan wajah yang semakin terlihat marah
"Aku moho-"
"Tidak! Aku tidak akan-"
"Kakek!"
Mendengar Verdea, Frank langsung berhenti bicara dan beralih kearah cucunya itu. Air mata Verdea jatuh dengan derasnya. Tatapan matanya itu dengan jelasnya meneriakkan 'Tolong bantu ayah'
Melihat cucunya itu, Frank bertanya di dalam hati, 'Kenapa kamu menginginkan hal ini?'
Kemarahannya akan putrinya yang meninggal karena Artorius masih tersirat di hatinya. Frank tidak mungkin melupakan hal itu begitu saja. Walaupun Artorius sudah bertanggungjawab sebesar apapun, Frank tidak mungkin melupakan kalau Artorius lah penyebab Marianne meninggal
"Kakek, aku mohon"
Verdea akhirnya mengatakan hal itu dengan jelas
Hati Frank yang semakin goyah melihat Verdea itu, langsung merobohkan pendiriannya untuk tidak menolong Artorius
Frank pun mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk kearah tokonya tanpa berpaling
"Bawa dia masuk dan bawa ke kamarku. Cari toples berisi bubuk berwarna jingga di dalam rak tokoku, kemudian segera serahkan padaku" Frank menjelaskan
Luna mengangguk paham, berterima kasih pada Frank, sementara Paman Zer menghela napas lega
"Terima kasih Tuan Gold. Veskal, kemari"
Membantu Luna, Veskal pun menopang sisi kiri tubuh Artorius, selagi Luna menopang sisi kanannya. Mereka pun segera membawa Artorius masuk, diikuti oleh Frank, Verdea dan Paman Zer yang mengikuti dari belakang
...
"Rebahkan saja dia diatas sofa tamu itu"
"Baik"
Luna dan Veskal perlahan meletakkan Artorius dalam posisi berbaring diatas sofa itu
Luna langsung melesat pergi untuk mencari obat yang dimaksudkan Frank
Veskal pun bergerak mundur beberapa langkah ketika Frank maju dengan membawa sebuah gelas dan sebotol susu
Verdea mendekat ke ayahnya yang sedang pingsan itu selagi Frank menaruh beberapa takar susu ke dalam mulutnya setiap beberapa saat, sambil membuat Artorius meneguknya perlahan
"Apa ayah akan baik-baik saja?" Tanya Verdea yang matanya sudah sembab
"Kemungkinan besar. Jika tubuh ayahmu memang tidak kuat melawan racun di dalam tubuhnya sekarang, dia tidak akan bisa bertahan sejauh ini"
"Permisi, ini obatnya"
"Campurkan 3 sendok bubuk itu dengan air, kemudian tambah dengan perasan lemon di kabinet itu, lalu aduk" Frank berkata sambil menunjuk sebuah kabinet diatas kursi goyangnya
Luna langsung mengerjakan semua hal yang diperintahkan
Frank terus fokus memperhatikan kondisi Artorius. Dan setelah mengecek beberapa saat, dia kembali memberi Artorius beberapa takar susu
BRAK!
Seseorang tiba-tiba masuk melalui pintu itu dan berkata
"Maaf aku mendobrak, tapi APA-APAAN DENGAN LANGIT MERAH ITU"
...
"Haaa!? Kapten Cyth!!??" Veskal berseru dengan mata terbelalak
"Oh, halo- HAA!?? KENAPA KALIAN ADA DISINI!!??" Cyth berkata
"ITU PERTANYAAN KAMI!" Veskal langsung membalas
"Maaf aku tidak bisa menahannya...! Aku bukan petarung handal...!" Paman Zer berkata sambil berusaha menarik Cyth keluar
"Lepaskan aku pak tua" Cyth berkata pada Paman Zer
"Aku tidak bisa menjelaskan lebih rinci, jadi jawaban untuk pertanyaanku yang pertama adalah 'Red Sabbath' " Luna menyela
...
"Tunggu, tunggu. Kamu pasti bercanda. Red Sabbath itu cuma mitos"
"Terserah apa pendapatmu, tapi kami tidak punya waktu lagi dan harus pergi" Paman Zer berkata setelah berhenti menarik Cyth
"Tapi, Vainzel bilang kita tidak punya waktu lagi. Lagipula, kemana kita akan pergi, Paman Zer?" Tanya Veskal
"Kota Para Dwarf yang terdekat, Bargalos. Letaknya berada di bawah pulau tak berpenghuni yang cukup jauh dari Selatan benua Flos" Veskal berkata
"Hah!? Kira-kira berapa lama kita bisa sampai kesana?"
"Bisa cepat dengan teleportasi. Tapi...
Aku tidak yakin kalian berdua anak-anak bisa menahan beban teleportasi itu"
"Hah!?" Verdea dan Veskal berseru serentak. "Maksudmu kita harus jalan kaki?" Tambah Veskal
"Tidak. Kita bisa memperkecil jarak kita antara kota itu untuk mengurangi penggunaan Mana untuk kalian. Hanya saja..."
"Apa lagi?"
"Seandainya ada orang yang memiliki kapal disini..."
...
Semua orang yang mengenal Cyth pun langsung menatap kearahnya
Cyth mengeluarkan suara batuk satu kali kemudian mencoba mengatur nadanya
"Baiklah. Tapi, jika ingin cepat, kru ku mungkin akan mati kelelahan duluan"
Paman Zer menepuk tangannya sekali dengan keras, kemudian memasang wajah senyum dan berkata, "Maaf, tapi Kru mu harus menggunakan banyak sihir angin kali ini"
Cyth mengeluh pasrah dengan situasi
"Aku tidak yakin kami akan bertahan lama, pak tua. Hanya beberapa saja dari kru ku yang bisa memakai sihir" Cyth berkata
"Hm... Ah! Rasanya mustahil sekali kita kabur dari tempat ini"
"Jangan bilang begitu paman" Verdea menyela
Mereka semua langsung menatap kearah Verdea yang terlihat sangat teguh itu
Verdea mengingat sesuatu tentang perkataanku. Segel di tangan kanannya dapat digunakan untuk memperkuat sebuah sihir
Dan perkiraannya adalah, segel itu juga bisa memperkuat sihir seseorang
Jika dia menggunakan segel itu untuk membantu awak kapal yang menggunakan sihir, maka...
"Biarkan aku bekerjasama dengan Kru kapalmu, kapten" Verdea berkata
"Hey, nak. Kamu-"
"Percayalah padaku kapten. Hal ini mungkin berhasil"
Hanya Veskal saja yang mengetahui kejelasan dari segel itu, mengesampingkan Verdea dan aku. Orang-orang lainnya disana hanya menatap dengan penuh kebingungan karena kata-kata Verdea
"Baiklah. Obatnya sudah kuberikan padanya. Kita mungkin harus segera bergerak sekarang" Frank berkata sambil meletakkan air seduhan obat itu diatas meja
Luna yang mendengar hal itu langsung mengangkat Artorius ke punggung dan siap membawanya
"Membawanya sekarang memang tidak akan baik jika tubuhnya tidak kuat. Tapi, kita sudah tidak punya waktu" Frank menambah
"Tidak apa-apa kakek. Aku yakin ayah akan kuat" Verdea membalas
Frank tersenyum hangat mendengar perkataan cucunya itu
"Baiklah. Kita harus segera pergi" Paman Zer berkata
Semua orang disana langsung pergi dengan cepatnya, keluar dari kota Calendula sambil berlari secepat mungkin
Kota ini adalah kota yang paling dekat dengan garis selatan benua ini. Jadi, kapal Cyth yang diparkir sembarangan itu terletak tidak terlalu jauh. Hanya harus menuruni sebuah bukit kecil, dan sampai
Mereka langsung naik ke atas dek kapal itu. Seluruh kru kapal terlihat sangat gelisah dan cemas, dan tidak sedikit yang menanyakan banyak hal pada Cyth
Tapi Cyth hanya diam tidak menjawab dan menyuruh mereka untuk segera melayarkan kapal kearah Selatan
Tidak lupa dia memberitahu pada seluruh kru nya agar yang bisa menggunakan sihir segera naik keatas layar kapal
"Gunakan sihir angin sekuat tenaga kalian untuk membawa kapal ini secepat mungkin. Dan juga, salah seorang dari kalian bawalah anak ini keatas sana"
"Hah!? Kapten-"
"Bicara lagi dan kita semua akan mati!! Cepat bergerak!!" Cyth berseru
Mereka yang terheran itu hanya bersorak paham. Salah satu dari kru kapalnya, Erin, langsung membawa Verdea di punggungnya, menaikki tiang kapal Black Hunt
"Kamu tidak takut dengan ketinggian kan, nak?" Tanya Erin
"Tidak. Aku hanya takut mati" Jawab Verdea
Dia tidak ingin mati terlebih dahulu
...
__ADS_1
Dia tahu persis kalau aku akan merasa sangat sedih jika dia mati. Dia bertekad untuk tetap hidup agar dia bisa bertemu kembali denganku
Berapapun lamanya itu
"Jawaban yang menggugah. Pegangan yang erat!" Erin berkata sambil menaiki tiang kapal itu
......................
Jangkar sudah naik. Beberapa dari barang-barang yang tidak penting dibuang dari kapal. Layar sudah dibentangkan, dan para kru kapal yang akan merapal sihir pun sudah siap, ditambah dengan Verdea yang sudah siap memegang bahu Erin dengan tangan kanannya
Dengan sebuah aba-aba dari Cyth, para kru kapal itu pun langsung menggunakan sihir angin mereka
Dan tidak diduga sama sekali, kapal yang berukuran sangat besar itu bisa melaju cukup kencang hanya karena hembusan dari tangan Erin yang diperkuat
Erin ternganga dengan hal itu, kemudian menoleh sedikit kearah Verdea. Verdea hanya diam dan terus menatap ke depan
Erin tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. 'Sungguh, anak ini dan teman-temannya itu sangat tidak terduga sama sekali' Dia berkata dalam hati
Mereka terus melaju dengan cukup cepat diatas air laut itu
Semua kru kapal terus bekerja keras untuk menetapkan kecepatan kapal, didorong dengan perasaan gelisah mereka dengan langit yang semakin gelap itu
Terus dan terus dan terus. Sampai...
BOOM!
"...!"
Luna langsung memanggil panahnya secara refleks dan menembak benda yang melayang kearah mereka itu. Benda itu pun berhasil berhenti dan jatuh ke laut, nyaris mengenai Black Hunt
Dan ternyata, benda itu adalah sebuah bola meriam
"ADA SERANGAN! SIAPKAN MERIAM BALASAN!" Perintah Cyth
Semua kru kapal yang bertangan kosong pun segera bekerja mempersiapkan meriam untuk menyerang balik
"ADA APA!?" Tanya Verdea dari ketinggian
"FOKUS SAJA NAK!! KITA HARUS TERUS MELAJU SELAGI KITA BISA!!" Balas Cyth
Luna pun mempersiapkan panahnya kembali. Veskal mulai waspada dan mengambil sebuah pistol di sudut dek kapal. Frank berusaha menjaga Artorius di kabin ketika mendengar serangan itu
Cyth pun berusaha memperhatikan siapa orang yang menyerang mereka itu. Kapal itu melesat dengan sangat cepat kearah mereka, seakan mereka juga menggunakan kekuatan
...
...
"Hancurkan kapal itu segera...!!!"
Cyth yang tiba-tiba geram itu langsung membuat Veskal dan Luna kaget
Kapal itu dengan cukup cepatnya mulai semakin mendekat kearah Black Hunt
"Semua meriam siap, kapten!" Seorang kru kapal berseru
"TEMBAK SEMUANYA SEKARANG JUGA. AKU INGIN KAPAL ITU TENGGELAM KE DASAR LAUT"
Mereka hanya menuruti perkataan Cyth tanpa basa-basi lagi. Seakan...
Mereka juga sama marahnya dengan Cyth sekarang ini...
"Tuan Erin... Kapal apa itu...?" Tanya Verdea yang gelisah ketika melihat kapal yang sudah sangat dekat dengan Black Hunt itu
"Aku mengenali simbol di kapal mereka. Dan aku pastikan hal ini, kami para kru Black Hunt ingin kapal itu tenggelam sesegera mungkin" Erin menjawab dengan tampang geram
"Kenapa?"
"Karena...
... Seluruh kapal itu beserta orangnya, adalah milik pengkhianat kru kami yang bernama Walter Herb"
Verdea merasa semakin gelisah dengan hal itu, terutama karena Erin mengatakan kalau itu hanya 'salah satu' dari kapal milik orang bernama Walter itu
...
Boom! Boom! Boom!
Tembakkan meriam yang saling berbalasan itu terdengar memenuhi seluruh udara diantara kedua kapal itu
"ISI ULANG! SEGERA TEMBAKKAN LAGI!" Perintah Cyth
"Siap, Kapten!!" Balas semua kru
Mereka terus berusaha sekuat tenaga mengisi ulang semua meriam yang ada di kapal
Luna berusaha menghujani kapal musuh itu dengan anak panah miliknya. Sesekali, dia mencoba untuk menembak layar kapal itu, tapi karena dilapisi oleh sihir pelindung, layar kapal itu pun tidak tergores sedikitpun
Veskal dan Paman Zer di sisi lain, ikut membantu mengisi meriam. Sesekali Veskal menembak balik semua musuh yang bisa dia tembak
"Kapten! Mereka semakin mendekat!" Seru seorang kru kapal
"Kapten! Aku sudah mulai kehabisan Mana!" Teriak seorang awak kapal yang bertugas menggunakan sihir
...
"Cih...!"
Situasinya semakin runyam
...
"Tuan Erin" Verdea berkata
"Ya, nak?" Balas Erin
"Aku ingin kamu melakukan..."
Erin kemudian memutar badannya dan menodongkan telapak tangannya kearah kapal itu
Dia pun perlahan merapal sihir api Fireball. Sihir itu pun terlempar seperti sebuah bola meriam yang di tembakkan
BOOM!!!!
Kapal itu mendadak meledak nyaris seketika ketika bersentuhan dengan sihir itu. Semua orang yang ada disana terbakar, bahkan ada beberapa yang langsung mati seketika
Beberapa mencoba melompat ke air, tapi ledakkan itu masih terus terjadi, seperti efek berantai
Kapal itu pun perlahan tenggelam, selagi dimakan oleh kobaran api. Semua orang di dek kapal Black Hunt menganga melihat hal itu
Mereka kemudian menoleh kearah Verdea dan Erin yang juga ikut menganga tidak percaya
"Apa-apaan itu?" Tanya Cyth yang bingung
Dia kemudian tersenyum kagum, diikuti oleh sorakkan bahagia para kru kapal. Tapi...
Sorakkan itu tidak bertahan lama
"KAPTEN!! ADA AWAN HITAM YANG TIBA-TIBA MENGEPUL DI LANGIT MERAH ITU!!" Teriak seorang kru kapal tiba-tiba
Mereka semua pun melihat keatas untuk memastikannya. Dan benar saja. Awan hitam yang misterius itu bergerombol menjadi satu dan membantuk awan yang sangat besar, seperti akan terjadi hujan dahsyat
"KAPTEN!" Teriak semua kru kapal secara bergantian
Mereka semua berteriak panik karena hal itu. Cyth bahkan sempat kewalahan, terutama ketika menyadari kalau pulau yang dimaksudkan Paman Zer itu belum terlihat di mata
"... Suruh semua orang segera kemari. Kita akan berteleportasi sekarang!" Cyth berkata
"A- Kamu gila!? Beberapa orang disini sudah kehabisan Mana mereka. Kedua anak itu masih kecil, dan kita punya orang yang sedang terluka!" Paman Zer menentang
"Kita akan mati jika kita tidak mencobanya. Kamu harus berani bertaruh dalam hal seperti ini, pak tua. Begitulah caraku hidup. Lagipula, jarak antara kita dan pulau itu sudah semakin berkurang bukan?" Cyth membalas
"... Jika ada yang tidak selamat, kamu yang harus bertanggungjawab"
"Ya, ya. Lagipula... Aku kapten kapal ini bukan?" Semua orang di kapal ini adalah tanggung jawabku"
Cyth kemudian melihat kearah Luna, dan mengisyaratkannya untuk menjemput Frank dan Artorius yang berada di kabin kapal
"KALIAN SEMUA! TURUN SEGERA!"
Semua orang yang berada di dekat layar pun turun ke bawah mengikuti perintah Cyth. Setelah mendarat dengan aman di dek, Erin menurunkan Verdea dari punggungnya secara perlahan
Cyth kemudian menyodorkan 3 botol ramuan Mana kepada kru kapalnya itu
"Aku hanya punya 3. Kalian ber-6 harus membaginya sama-sama setengah"
"Enam?" Tanya Verdea
"Kamu juga dihitung nak. Minumlah sebelum Erin. Mulutnya belum disikat selama beberapa hari, dan aku yakin kamu tidak ingin tahu baunya" Cyth menambah
Verdea sempat terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil diikuti oleh para kru disana, meledek Erin
Erin hanya diam dengan wajah datar melihat kearah Cyth yang sedang mencoba menahan tawa
Verdea pun mengambil ramuan itu dan mulai meminumnya sampai botolnya setengah kosong. Dia kemudian menyerahkan botol itu pada Erin yang kemudian menghabiskan seluruh isinya.
Setelah itu, Luna datang dengan membawa Artorius di punggungnya. Frank mengikuti tidak jauh di belakang
Para kru juga sudah mulai mengabaikan tugas biasa mereka ketika berlayar. Mereka semua berkumpul mengelilingi Cyth sembari menunggunya bicara
Memastikan semua orang di kapal sudah berkumpul dan lengkap, Cyth pun menarik napas dalam dan mulai berbicara
"Kita harus berpisah dari kapal ini, kawan-kawanku"
Keheningan datang sejenak diantara mereka semua. Tiba-tiba, suasananya menjadi riuh dipenuhi dengan tangisan sedu para kru kapal
"Tapi, bagaimana dengan perintah dari kapten Alice?" Tanya seorang kru
Cyth terdiam sejenak. Dia memain-mainkan kalung kerang yang ia kenakan selagi bersiap dengan apa yang akan dia katakan
"Aku... Sudah berjanji padanya untuk memastikan kalian semua tetap hidup. Dia tidak pernah membuatku berjanji untuk menjaga kapal ini atau semacamnya"
"Tapi, kapal ini membawa kenangan kita semua Kapten!" Salah satu dari mereka lagi-lagi berkata
"... 'Ini hanya sebuah kapal. Suatu hari juga akan tenggelam'. Itu yang pernah kapten Alice katakan padaku...
... 'Dan, orang-orang yang berada diatasnya itulah yang membuat kapal itu hidup, bukan sebaliknya' " Cyth membalas dengan perkataan Alice
Cyth yang tersenyum dengan perasaan sedih itu pun membuat para kru nya semakin merasa sedih ketika mendengar perkataannya
"Baiklah, kalian sudah siap atau semacamnya? Kita tidak punya waktu mengucapkan selamat tinggal pada Black Hunt, jadi..."
Cyth tertawa kecil di tengah kesedihannya. Verdea dan Veskal yang melihat hal itu jadi ikut merasa sedih dan meneteskan air mata
"Kami sudah siap kapten!"
"Kami akan mengikutimu, kemana pun kamu pergi!"
"Kamu adalah kapten kami!"
Semua kru itu bersorak dengan meriahnya untuk menghilangkan suasana sedih itu
Cyth kembali tertawa kecil, dan berkata, "Dasar orang-orang aneh" dengan nada pelan
Teman-temanku tidak ada satupun yang ikut bersorak. Mereka semua hanya diam melihat suasana meriah nan memilukan itu. Suasana dimana semua orang sudah siap mengucapkan selamat tinggal pada hal yang menyatukan mereka
Tapi, Verdea yakin di dalam hatinya, kalau walaupun tanpa kapal ini, para kru Black Hunt akan selalu bersama selamanya
...
Dia jadi ingin bersamaku lagi, tapi...
__ADS_1
Dia membuat dirinya paham, kalau hal ini dilakukan olehku untuk kebaikan dirinya
Semua hal yang kulakukan selama ini dilakukan hanya untuk keselamatan teman-temanku saja. Dan itulah pola pikir yang diambil oleh Verdea
Dia merasa sangat sedih di dalam hatinya. Di lubuk hatinya yang terdalam, dia ingin terus berada di sisiku. Tapi, dia pasti hanya akan menyusahkan ketika pergi denganku
Dia selalu berpikir kalau dirinya selalu menyusahkan ku. Dan hari itu membuatnya semakin yakin, kalau dia tidak melakukan apapun untuk mempertahankan posisinya berdiri di sisiku. Akulah yang selalu mempertahankan posisinya di sisiku. Dan hal itu membuat Verdea kesal ketika menyadarinya
Dia merasa kalau dirinya terlalu lemah karena tidak bisa dan tidak mau melakukan apapun
Dia ingin sekali segera bertemu denganku. Dan dia tidak pernah menyangka, mengucapkan selamat tinggal adalah hal paling menyakitkan di dunia
Lalu, dia berdoa...
Ketika kami bertemu nanti, dia berdoa kalau dia akan cukup kuat untuk bertahan di sisiku tanpa perlindunganku nanti
Ketika sorakannya sudah berhenti, dia pun mengalihkan pandangan pada Paman Zer. Paman Zer hanya mengangguk paham dan mulai memakai sihir teleportasi paksa nya
"Kalian semua, jangan mati" Paman Zer berkata
Cahaya terang pun keluar dari kalung yang dikenakan Paman Zer
Dan dalam waktu sekejap...
ZAP!!
--- Kota Bargalos ---
Mereka, telah tiba di kota para Dwarf
Mereka semua terlihat sangat kelelahan, bahkan ada beberapa yang tiba-tiba terjatuh ke tanah
Hanya Paman Zer saja yang terlihat baik-baik saja saat itu, hanya karena efek dari teleportasi itu berbeda dengan efek teleportasi pada umumnya
"Verdea..." Veskal berkata, sambil berusaha meraih Verdea
Veskal lalu terjatuh ke tanah dengan napas tersengal-sengal
Verdea di sisi lain, sudah terbaring lemas ke tanah dengan muka yang pucat pasi dan napas yang memberat
Tubuhnya tiba-tiba memanas seketika
Luna perlahan mendekatinya, kemudian Veskal, memastikan kondisi mereka berdua
"Aku akan memanggil para Dwarf lainnya terlebih dahulu. Awasi mereka" Paman Zer berkata pada Luna
"Baiklah. Tolong cepat paman"
Paman Zer langsung berlari secepat mungkin, meminta para Dwarf terdekat untuk membantu mereka
"Verdea..."
Veskal akhirnya berhasil menggapai telapak tangan Verdea yang masih lemas itu
Luna kemudian mengelus kepala mereka berdua selagi membaringkan kepala mereka di pangkuannya
Veskal menutup matanya untuk mengistirahatkan dirinya yang kelelahan. Tidak lama, mereka berdua pun terlihat seperti sedang tertidur
Tapi, sebelum Veskal sempat tertidur, dia sempat melihat para Dwarf berdatangan dan menolong mereka
Kemudian... Suara gemuruh Red Sabbath pun dimulai, terdengar dari langit
......................
"Ugh...."
Verdea menggeliatkan badannya seakan dia sudah tidur selama sangat lama hingga tubuhnya kaku
Kelopak matanya perlahan terbuka, tapi sebuah cahaya terang yang menyambutnya
Ketika matanya sudah terbuka lebar, dia menyadari kalau dia tertarik ke dalam jiwa nya lagi
Semua hal disana terlihat masih sama persis seperti saat terakhir kali dia kesana
Pohon Cemara, tanah di bawahnya, genangan air yang luas, dan Matahari
Tapi...
Entah kenapa...
Cahaya matahari itu lebih terasa redup dari sebelumnya...
"... Kamu datang lagi?" Verdea bertanya
Marcellus yang bersembunyi di balik pohon itu langsung melangkah ke samping Verdea, kemudian duduk dengan senyum di wajah
"... Kamu tahu apa yang terjadi di luar?" Tanya Verdea lagi
Marcellus hanya diam tidak menjawab
Verdea yang kesal langsung memukuli dada Marcellus sekali, tapi justru tembus dan mengenai pohon Cemara itu
"Aku ini hanya roh, Verdea. Aku tidak punya wujud fisik setelah kematianku" Marcellus berkata. "Aku juga hanya tahu semua hal di dunia makhluk hidup sekarang ini hanya sebatas darimu" Dia menambah
Verdea menangis kesal. Dia pun hanya terduduk lemas dengan posisi sebelumnya di samping Marcellus, perlahan menanamkan wajahnya di kedua lutut
"... Ada kaitannya dengan teman-temanmu?" Tanya Marcellus
Verdea mengangguk pelan tanpa menoleh, kemudian berkata, "Aku--- Terpisah dengan Vainzel---"
"... Aku sudah menduganya"
Marcellus berjalan kearah genangan air yang luas itu, kemudian melihat ke dalamnya
"... Pemandangan yang memilukan..." Marcellus bergumam
Verdea yang tidak sengaja mendengar hal itu langsung mengangkat kepalanya, menghadap ke Marcellus yang sibuk mengaduk air di genangan itu
"Apa maksudmu?" Tanya Verdea
"Genangan air ini. Mereka terlihat... Terganggu" Marcellus menjawab
Marcellus kemudian beralih melihat kearah langit
"Dan tiba-tiba, cahayanya entah kenapa meredup..." Dia melanjutkan
"... Kamu menyadarinya juga rupanya. Aku pikir cuma perasaanku saja" Verdea berkata, kemudian kembali menanam wajahnya ke lutut
"... Sulit sekali ya...?" Marcellus sekali lagi bergumam
"...! Tentu saja! Aku-!"
Verdea berhenti bicara seketika
...
Wajah Marcellus...
Sudah bisa dilihat sepenuhnya oleh Verdea...
...
Wajah nya yang rupawan itu nyaris membuatnya tidak terlihat seperti seorang pria. Dia juga memiliki rambut pirang yang panjang dan mata berwarna keemasan dengan bulu mata yang lentik, menambah kesan kalau dia lebih mirip wanita ketimbang seorang pria
Wajah nya yang terlihat lembut dan rupawan itu mengarahkan senyum hangat kepada Verdea
"Apa- Kenapa tiba-tiba wajahmu bisa terlihat?" Tanya Verdea
Marcellus berpaling kearahnya, kemudian membalas dengan senyuman
"Oh ya? Kamu bisa melihat wajahku sekarang?" Tanya Marcellus balik
"Ha- Haa? Kamu tidak tahu kalau aku tidak bisa melihat wajahmu?"
"... Aku tahu. Hanya saja..."
Marcellus bangun dari tempatnya dan kembali duduk di samping Verdea
Setelah duduk dengan rapi, dia pun melanjutkan perkataannya
"... Itu artinya, kamu sudah tahu dirimu seperti apa bukan?" Dia berkata dengan sebuah senyuman
Verdea terdiam. Dia perlahan memalingkan wajahnya dari hadapan Marcellus
"Aku hanya tahu, aku tidak bisa sepenuhnya berpisah dengan Vainzel. Aku tidak bisa seutuhnya berpisah dengan satupun teman-temanku. Hanya mereka satu-satunya yang mau menjadi temanku
Aku tidak mungkin ingin kehilangan orang-orang seperti mereka---" Dia berkata pelan, kemudian perlahan meneteskan air mata lagi
Marcellus melebarkan senyumnya. Semakin lebar senyumnya, semakin hangat aura yang terpancar darinya
"Bukankah itu salah satu hal tentang dirimu?" Marcellus bertanya
"Lalu... Apa gunanya mengetahui diriku jika aku harus berpisah dengan sahabatku?"
"... Verdea..."
Marcellus memalingkan tatapan Verdea kearah wajahnya
"Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Begitu juga sebaliknya. Dan aku akan meyakinkan dirimu, jikalau kamu benar-benar ingin bertemu dengan sahabatmu itu, kamu suatu hari akan bertemu dengannya lagi, kapanpun itu
Percayalah. Percayalah dengan sungguh-sungguh, kalau kamu akan bertemu dengannya lagi suatu saat nanti. Jadi, tetaplah hidup dan jaga dirimu. Dan langkah terbaik untuk menjaga dirimu, adalah mengetahui jati diri milikmu sendiri"
Verdea terdiam mendengar perkataan Marcellus
Marcellus kemudian menutup perkataanya dengan mengelus pipi Verdea sekali, kemudian bangun dari tempat duduknya, pergi berjalan keatas genangan air itu
Verdea hanya terdiam melihatnya pergi. Dan disaat selanjutnya, ketika Marcellus melihat balik kearahnya...
...
...
Verdea terbangun diatas sebuah kasur dengan air matanya yang berlinang di pipi
Hari sudah mulai gelap, terlihat dari cahaya bulan yang menyela di balik jendela ruangan itu
Di sampingnya, dia melihat Veskal yang tertidur sambil duduk diatas sebuah kursi, memegang tangan Verdea seakan tidak ingin melepaskannya
...
Air matanya perlahan menetes ketika melihat Veskal
'Maaf aku merepotkanmu' Dia berkata dalam hati pada Veskal
...
Dia menyadari satu hal disaat itu, bahwa teman-temannya selalu berupaya untuk menjaganya agar tetap hidup dan baik-baik saja
Semua hal yang mereka lalui selama ini, hanya dilakukan untuk menjaga dirinya
Dan disaat yang sama, Verdea pun bertekad. Dia bertekad, kalau dia akan menjadi cukup kuat sehingga bisa menjaga dirinya sendiri
Dengan begitu, semua teman-temannya tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya
Dia tidak ingin merepotkan satupun temannya lagi
Di suasana yang hening itu, dia berdoa, agar suatu hari nanti ketika kami bisa bertemu kembali, dia sanggup untuk tetap berdiri bersama teman-temannya, dan sanggup untuk menahan rasa sakit yang sama dengan mereka
Dia berdoa, agar apapun yang terjadi di luar sana, aku akan tetap baik-baik saja, kemudian bertemu dengannya kembali
Dia berharap Tuhan mau mewujudkan permintaannya itu, walaupun itu adalah permintaan terakhir yang bisa diwujudkan Tuhan untuknya
__ADS_1