
--- Kota Andromeda, Kerajaan Crux ---
...
...
"Kota ini... Sepi juga ya?"
Veskal ada benarnya
Kota ini terlihat cukup besar, baik dari luar maupun dari dalam. Tapi... jumlah penduduknya mungkin kalah dari jumlah penduduk kota Calendula dulu
Memandangi sekeliling, kami juga menyadari kalau mayoritas penduduk disini diisi oleh wanita dan anak-anak. Nyaris tidak ada pria tidak terlihat, dan yang terlihat juga bisa dihitung jari
Apa ada kaitannya dengan Red Sabbath 5 tahun lalu?
Tapi aku mengintip sebuah laporan militer kalau di seluruh dunia, paling banyak 50% dari penduduk setiap perkotaan dan pedesaan meninggal dalam bencana itu
Crux juga adalah salah satu kerajaan yang paling aman dan terlindungi, mengingat kalau Yuriel memiliki kuasa disini. Dia tidak mungkin membiarkan rakyatnya sendiri musnah begitu saja bukan?
Dan sepertinya, melihat sekeliling lagi, aku memperkirakan kalau para wanita dan anak-anak itu didahulukan keselamatannya pada saat bencana itu terjadi
Dan sebagai gantinya, para pria pun harus menanggung kematian tidak terelakkan itu
Menjengkelkan. Hal ini sangat membuatku frustasi mengingat berapa banyak nyawa yang sudah melayang di tempat ini
Tidak seperti Orion, Xiang dan Hortensia, semua kerajaan di seluruh dunia terlihat sangat porak-poranda
Dan aku pikir kalau Crux juga termasuk kerajaan yang aman, tapi dugaanku sangat meleset
Selama perjalanan kami saja banyak sekali tanah yang diabaikan dan pedesaan yang hancur tak berpenghuni. Dan tidak hanya pedesaan, aku yakin kota-kota di kerajaan ini juga tidak ada yang rapi, walaupun masih berpenghuni
...
Yah, melihat kota ini, aku yakin penduduk lokal disini memiliki sebuah terowongan bawah tanah untuk kabur seandainya ada bencana atau serangan
Para penduduk desa juga sudah pasti akan pergi ke kota-kota itu, dan alhasil, tempat itu pasti penuh
Lagi, kota ini masih terlihat tengah memulihkan diri sendiri, mungkin karena raja Crux ingin memulihkan kota-kota penting terdahulu sehingga harus mengabaikan yang satu ini
Kota-kota itu juga sudah pasti sangat penuh dikerumuni orang-orang yang mencari mimpi dan tempat tinggal baru
Wajar saja tidak ada Elf yang ditawan di kerajaan ini. Laporan dari para petinggi sudah sangat akurat. Satu masalah setidaknya sudah lepas dari pundak dan kepalaku
"Kita... Sebaiknya pergi saja dari kota ini" Aku berkata
Verdea tersentak mendengar perkataanku. "Kenapa?" Dia melontarkan pertanyaan
"Karena aku tidak ingin sulit dan menyulitkan. Tempat ini masih memulihkan diri, dan penduduknya pasti membutuhkan makanan yang cukup. Tapi aku juga tidak berniat membantu mereka karena kita punya waktu terbatas untuk mengambil kembali batu jiwa Ayahanda" Aku menjawab
Dia diam menatapku dengan tatapan tidak setuju. Mengabaikannya, aku perlahan berbalik kembali kearah gerbang kota
Tetapi, dia menggenggam pergelangan tanganku, menghambat kepergianku dari kota itu
"Bantu mereka Vain. Aku mohon" Dia berkata pelan
Aku berpaling kearah wajahnya dengan raut wajah terganggu
__ADS_1
...
Sial. Dia benar-benar tahu cara membuatku mengeluarkan sisi lembutku
Aku akan berbohong kalau aku tidak ingin menolong mereka, tapi waktu kami juga memang sangat tipis seperti seutas benang
...
Hah... Membantu tidak akan ada salahnya...
Aku pun mengangguk setuju untuk merespon Verdea
Verdea langsung tersenyum senang. Sementara itu, Zaphir terlihat sangat kesal dengan keputusanku dan bergumam "Lagi-lagi kamu menolong manusia..."
Tapi, aku jadi bingung harus melakukan apa...
Apa aku harus menggunakan sihirku untuk menumbuhkan sayur-sayuran kah...?
Mungkin aku harus bertanya pada orang yang memimpin di kota ini terlebih dahulu
"Ah... Permisi" Aku menyapa seorang wanita yang sedang membawa seorang balita
Dia berpaling kearahku dengan wajah bingung
"Wah~? Orang asing? Selamat datang di kota kami, tapi maaf-"
"Ahaha, tidak perlu formal. Kami hanya ingin bertemu dengan orang yang bertanggungjawab atas kota ini" Aku memotong
"Ah ya, maaf. Mengenai kepala desa, tanyakan saja nama nyonya Eleanor. Rumahnya bisa kamu lihat dari air mancur di alun-alun kota, karena kediamannya itu sendiri cukup besar" Wanita itu berkata lagi
"Terima kasih" Aku berkata
Nyaris saja aku pergi, Balita yang ada di gendongan wanita itu pun terlihat seperti ingin aku menggendongnya atau semacamnya
"Alvin. Kakak-kakak itu ada urusan, jadi tidak perlu diganggu sayang" Wanita itu berkata, sambil berusaha menenangkan anaknya
Tapi anak itu semakin terlihat terganggu dan mulai rewel, bahkan si wanita itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa
"Uh... Gendong...?" Aku berkata dengan ragu sambil menjulurkan kedua lenganku
Balita itu langsung mendadak tenang seakan tidak pernah ada yang mengganggunya. Wanita itu terlihat ragu pada awalnya, tapi dia kemudian menyerahkan anaknya itu ke lenganku untuk sementara waktu
Aku kemudian mengangkatnya di hadapanku melalui ketiaknya. Anak itu langsung terlihat senang berada dan terlihat ingin meremas wajahku atau semacamnya
"Cara kamu memegang bayi itu sangat salah bodoh. Dekap dia di pelukanmu, taruh salah satu telapak tanganmu di bokongnya, dan-"
...
Zaphir berhenti mendadak di tengah penjelasannya menggendong bayi itu. Dia kemudian diam kembali dan memalingkan wajahnya dari kami semua
Aku yang hanya mendengarkan setelah penjelasannya itu kemudian langsung memperagakannya
Taruh telapak tanganku satu disini, lalu... Mungkin yang satunya di punggungnya... Kemudian dekap dia sedikit
Dan berhasil. Balita itu semakin terlihat senang dan mulai meremas wajahku, sama seperti yang kuduga
Tapi aku sama sekali tidak merasa kesal atau semacamnya. Justru...
__ADS_1
Aku merasa terharu melihatnya senang seperti itu...
...
"Maaf ya. Tapi, Alvi memang selalu seperti itu kepada pria yang lainnya juga..." Ibu balita itu berkata
"Eh, tidak masalah. Kami juga tidak merasa terganggu atau semacamnya"
"Aku terga- ARGH!!"
Zaphir yang nyaris bicara dipotong oleh Alf yang memukul selangkangannya
"Abaikan dia. Orangnya memang agresif" Aku berkata lagi, kemudian menyerahkan anak itu kembali
Raut wajah kecewa langsung terukir di wajah anak itu, selagi ibunya hanya tertawa canggung
"Maaf sudah merepotkan ya?" Wanita itu berkata sekali lagi, kemudian pergi dari hadapan kami ke tengah kerumunan
...
"Sepertinya kita harus menolong sedikit" Aku meneguhkan diri
"Tidak perlu mengulangnya" Alf berkata
"Aku hanya ingin menyakinkan diri saja Ayahanda"
Alf hanya tersenyum dan mengangguk merespon ku
"Jadi... Kita harus pergi menemui Nyonya Eleanor ini terlebih dahulu?" Veskal berkata sambil menggaruk kepalanya
"Tidak perlu susah-susah" Sebuah suara yang terdengar tidak jauh dari kami berkata
Seorang wanita paruh baya yang bertubuh agak gemuk berjalan kearah kami. Dia memakai sebuah gaun bulu berwarna ungu dengan topi dan kipas yang serasi dengan pakaiannya itu. Sebuah tahi lalat menempel di bawah kanan hidungnya, dan dia datang kearah kami dengan seorang pria bersetelan layaknya seorang pelayan di belakangnya
"Aku kebetulan melihat wajah asing, jadi aku sendiri yang datang kesini" Wanita itu berkata
"... Maaf. Tapi apa benar nyonya ini bernama Eleanor?" Aku bertanya, dihiasi teman-temanku yang menatap bingung
"Betul. Namaku Eleanor Alveria Andromeda. Senang bertemu dengan kalian"
Dia memiliki nama tengah?
Itu artinya dia bukan bangsawan keturunan asli pemimpin kota ini
Umumnya, seorang bangsawan tidak memiliki nama tengah, di bagian manapun di dunia ini. Itu artinya, dia mendapatkan nama 'Andromeda' bisa saja dari kepercayaan pemimpin sebelumnya, atau dia merenggut paksa nama itu
Dan juga...
Wanita ini sama sekali tidak bisa kuremehkan kekuatan Mana-nya...
"... Kebetulan sekali kami ingin bertemu dengan Nyonya"
"Oh ya? Dengan alasan apa kalian ingin bertemu denganku?"
"Hanya satu. Kami ingin membantu kota ini"
Eleanor terlihat cukup curiga dan terkejut kepada kami, tapi aku hanya melontarkan senyuman kepadanya agar dia bisa sedikit tenang
__ADS_1
Elf tidak bisa berbohong, jadi aku memang benar-benar ingin membantu. Sedikit pahala mungkin bagus juga bukan?