
--- Beberapa saat yang lalu ---
*Tok tok!*
...
Tanpa persetujuan lebih lanjut dari dalam ruangan, pintu kamar itu pun terbuka
Seorang wanita duduk diatas kasurnya dengan sangat tenang, tanpa memedulikan orang yang masuk. Rambut hitamnya dia biarkan terurai, tanpa diikat sedikitpun
Kulit putihnya yang menawan bagai boneka, dan mata birunya itu bersinar seperti permata ketika disentuh oleh cahaya bulan. Badannya sangat ramping, namun terasa kokoh
Dia tidak sedikitpun menoleh kearah pintu yang terbuka itu. Terlebih lagi, dia bahkan tidak khawatir dengan orang yang perlahan masuk ke dalam ruangan dan melangkah kearahnya
"Claudia..."
Wanita itu masih tidak menolehkan pandangannya sedikitpun. Angin pun berhembus, meniup tirai tipis di depan jendela tempat ia melihat
Claudia. Itulah nama miliknya. Tapi, mendengar namanya disebutkan oleh orang itu, dia merasa ingin mengganti namanya segera
Rasa jijik dan marah muncul di dadanya ketika nama itu disebut
Karena kesal, orang bertubuh besar itu pun memutar kepala Claudia dan memalingkan pandangan Claudia kearahnya
Claudia tidak sedikitpun berkedip. Dia tidak panik, tidak juga takut. Hanya rasa marah yang sama dengan orang itulah yang dia rasakan
"Pergilah Darwin. Aku tidak ingin melihatmu"
Claudia akhirnya mau bicara. Kata pertama yang keluar dari mulutnya itu menusuk hati Darwin. Dia tidak bisa menyakiti Claudia, walaupun dia ingin
Darwin Von Ziegler, dan Claudia Dolores. Kedua orang itu sedang mengalami konflik hati dengan satu sama lain
Mendengar perkataan Claudia, dia pun melepaskan tangannya dari wajah Claudia dan mundur beberapa langkah. Wajahnya terlihat sangat sedih karena perkataan Claudia itu
Tapi, tanpa memedulikan sedikitpun perasaan Darwin. Claudia hanya menoleh kembali kearah Bulan dari jendelanya
...
...
"... Ingin makan?"
...
"... Aku lebih baik mati daripada bersamamu sekarang ini"
"Claudi-!"
Darwin menahan dirinya agar tidak melampiaskan amarah
Dia hanya menanyakan sesuatu yang biasa, tapi Claudia selalu bersikeras untuk menjauh darinya
Padahal dia sudah berusaha sejauh itu untuk mendapatkan kembali Claudia. Menghancurkan Hutan Para Elf, dan mengambil inti Pohon kehidupan milik mereka
Namun usaha itu nihil hasilnya. Usahanya selama ratusan tahun
Claudia sudah tidak ingin bersamanya sama sekali. Setiap kali dia bertemu Claudia, dia hanya akan menunjukkan ekspresi jijiknya kepada Darwin
Ekspresinya itu juga berlaku pada semua orang di kubu Darwin. Baik itu Rosalia, Damien, Yael, Yuriel, atau siapapun itu, dia selalu menunjukkan ekspresi jijik
Apapun yang mereka lakukan, apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lihat, ekspresi jijik itu selalu terlihat di wajah Claudia
"... Claudia. Apa lagi yang harus kulakukan agar kita bisa bersama?"
Darwin sudah pasrah. Tidak satupun hal yang dia lakukan yang membuat Claudia senang sekarang. Lupakan soal apa yang dilakukan Darwin, Claudia bahkan tidak ingin melakukan apapun lagi selain duduk diatas kasurnya dan menatap keluar
Bahkan ketika makan dan mandi untuk Claudia, Darwin dan para pelayan istana harus melakukannya dengan paksa
"Katakan sesuatu Claudia..."
Nada Darwin semakin melemah. Dia sudah sangat putus asa dengan keadaan ini, tapi dia tidak ingin melepas tangan Claudia
"Kamu sudah menyuruhku untuk tidak melakukan apapun yang Rosalia perintahkan. Kamu juga sudah menyuruhku untuk berdiri di bawah matahari, padahal kamu sudah tahu kalau itu akan membakar ku. Tapi, apa hal-hal itu masih tidak cukup untukmu?"
...
__ADS_1
Claudia pun berdiri. Dia berjalan kearah Darwin dan perlahan mengangkat tangannya
Mata Darwin terbelalak melihat hal itu. Bukan karena dia bahagia, melainkan...
Karena Claudia menodongkan kuku Darwin kearah dadanya sendiri
Dia pun melihat langsung kearah mata Darwin yang mulai bergetar. Matanya pun mulai mengalirkan air mata ketika dia sudah mulai bersiap bicara
"Bunuh aku Darwin. Aku tidak akan pernah marah lagi padamu jika hal itu kamu lakukan"
Amarah Darwin langsung memuncak mendengar perkataannya itu
"Tidak! Tidak mungkin aku akan membunuhmu setelah apa-!"
"Jadi kamu lebih khawatir tentang usahamu yang sia-sia dibandingkan diriku!?"
Badan Darwin semakin bergetar. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada Claudia sekarang ini. Kepalanya perlahan tertunduk. Dia bahkan tidak lagi berani menatap langsung mata Claudia
Itulah yang dia inginkan selama ini. Untuk mati kembali
...
*Fwush!*
Angin kencang tiba-tiba tertiup, bahkan sampai ke dalam ruang kamar Claudia
Merasakan adanya kejanggalan dengan hal itu, mereka berdua melihat keluar. Tapi, tidak ada apapun yang aneh terlihat di mata mereka
Tapi...
"... Yael dan Walter sudah kembali"
Mendengar Darwin menyebut nama itu, Claudia kaget. Terutama ketika Darwin tiba-tiba beranjak pergi
Claudia hanya berdiri disana, diam. Dia hanya meratap kepergian Darwin dari tempatnya berdiri
Dan tiba-tiba...
*Ting!*
Benang itu menuju ke suatu tempat, dan dia merasakan kalau tempat itu cukup dekat. Dia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya, dan karena penasaran, ia pun menyusul Darwin dari belakang
......................
Dadanya terus berdegup kencang. Tapi dia tidak tahu kenapa. Degupannya sangat kencang seakan dia rindu dengan seseorang yang sudah lama tidak dia lihat
Dia terus berusaha berjalan dan menopang dirinya di dekat tembok untuk memastikan dia tidak jatuh
Badannya yang hanya berada diatas kasur itu sejak awal, sekarang susah sekali digerakkan. Jarak dari kamarnya ke tempatnya sekarang ini terasa sangat jauh, padahal jarak itu tidak seberapa untuk orang yang normal
Napasnya terengah-engah karena kelelahan. Dan tidak berapa lama, dia pun terjatuh ke lantai di lorong kastil
Dia meminta agar badannya tidak menyerah terlebih dahulu, tapi badannya itu hanya menunjukkan usaha yang nihil. Dia bahkan tidak bisa bangun kembali, dan badannya terus menjatuhkan diri ke lantai
Karena itu, dia pun mencoba menyeret badannya dengan tenaga di tangannya. Dia melakukan hal itu dengan sangat susah payah, sampai-sampai dia berkeringat hebat karenanya
Dia mengerang kesakitan di lantai sambil terus menarik badannya maju.
Sayangnya, tidak butuh lama sehingga seseorang menyadari dirinya yang berada di lantai itu
Darwin yang baru kembali diikuti oleh beberapa orang prajurit di belakangnya menyaksikan langsung Claudia yang menyeret diri di lantai. Mata mereka semua terbelalak karena perbuatan Claudia yang mendadak itu
Darwin langsung melesat untuk membantu Claudia karena panik
"Apa yang kamu lakukan!?" Tanya Darwin
Tapi Claudia hanya menepis tangan Darwin dan kembali berusaha menyeret badannya
Darwin pun harus menahan badan Claudia dengan paksa agar dia tidak bisa melawan
"Claudia! Sadarkan dirimu! Ada apa!?"
"Menyingkir aku-!"
*Ting!*
__ADS_1
Sekali lagi perasaan itu muncul. Tapi rasanya sangat keras sekarang ini
Dan hal itu terjadi ketika beberapa tubuh beberapa orang di bawa melewatinya
Tubuh dari kami semua yang berhasil tertangkap oleh Yael dan Walter
*Ting!*
Sekali lagi perasaan itu bergetar. Matanya pun tertuju kearah badanku yang kaku, dibawa oleh 2 prajurit sekaligus
Sayangnya, dia hanya bisa melihat tubuhku yang dibawa itu melewatinya
Tangannya yang bergetar perlahan terangkat dan menunjuk kearah kami yang perlahan menghilang dari pandangan
"S- siapa mereka...?" Tanya Claudia
Darwin diam karena melihat Claudia yang terlihat sangat penasaran itu
"... Mereka orang-orang yang menyelamatkan para Elf yang dijual"
Mendengar jawaban Darwin, Claudia menoleh kearah wajahnya dengan mata terbelalak. Dia spontan menampar Darwin, tapi tenaganya itu sama sekali tidak menghasilkan tamparan yang keras
"Kalian orang-orang menjijikan...!" Claudia berkata
"Oof~ Sakit~"
Seorang wanita mendekat kearah mereka bersama beberapa orang di belakangnya
Wanita bergaun merah seperti kelopak bunga mawar. Rambutnya yang pirang itu terlihat sangat indah seperti kain sutra, dengan sebuah pita mawar di sisi kirinya. Tatapan mata meremehkan tersorot dari mata hijaunya itu
"Rosalia Hortensia..."
"Hey, wajahmu kenapa kaku begitu?"
Rosalia tertawa kecil meledek Claudia
Rosalia kemudian menggunakan kipasnya untuk menaikkan dagu Claudia
"Kami bisa juga menunjukkan wajah ini rupanya~" Rosalia berkata
"Bagaimanapun bentuk mukaku, kamu tidak perlu mengurusnya, dasar perempuan hina!" Claudia membalas
*Plak!*
Rosalia langsung menampar wajah Claudia dengan kipasnya dan membuat kipas itu bengkok dan patah seketika, menandakan kalau dia menampar Claudia sekeras yang dia bisa
Pipi Claudia bahkan sampai mengeluarkan darah karena itu
Darwin yang melihat itu hanya diam dan masih berusaha menolong Claudia yang terjatuh ke lantai
"Maafkan dia Rosalia. Aku akan mendisiplinkan dirinya nanti" Darwin berkata
"Sebaiknya begitu Darwin. Wanita ini perlu dihajar sekali"
Rosalia melempar kipasnya yang patah itu ke belakang, dan kipas itu ditangkap oleh seorang prajurit
"Baiklah. Aku akan pamit ke kamarku. Akan ada banyak pengumuman yang akan kulakukan besok, jadi aku harus tidur sekarang. Dadah~"
Rosalia pun bergegas kembali ke kamarnya ditemani beberapa prajurit, dan tidak lupa dengan Yael
Sementara itu, Walter dan Darwin hanya melihat kepergian mereka
"Hah... Aku juga ingin tidur sekarang. Bisnisku akan luar biasa besok"
Walter terlihat sangat girang sekali. Dia pun ikut pergi, namun mengarah keluar dari kastil Lily
Melihat kalau mereka saja yang tersisa di lorong itu, Darwin pun beralih kembali ke Claudia yang menunduk ke bawah
"Tidak apa-apa?"
"... Bawa aku ke tempat orang-orang itu"
"... Claudi-?"
"Bawa aku sekarang Darwin! Ini permintaanku!"
__ADS_1
Darwin bergetar ketika mendengar Claudia berteriak. Walaupun ragu, dia pun mengangguk setuju untuk membawa Claudia melihat kami