Book Of Flowers

Book Of Flowers
Acara Tahun Baru


__ADS_3

--- Keesokan paginya, Gerbang Hutan ---


...


Akhirnya. Akhirnya kami tiba di tempat ini...


Aku sudah bisa bernapas dengan lega sekarang. Setelah menunggu nyaris seharian penuh, juga berkat bantuan paman Zero, kami akhirnya tiba di Gerbang Hutan. Pintu masuk Miralius


"Seren. Biarkan aku dan semua orang ini masuk" Aku bicara ke suatu arah


Teman-teman manusiaku seketika terlihat bingung, tidak paham dengan siapa aku bicara. Tapi tanpa memberi penjelasan, aku melangkah ke depan, menuju pepohonan lebat yang terlihat melingkari batang satu sama lain


"Bentuk pohon ini aneh..." Veskal berkomentar


"Karena mereka tidak terbentuk secara alami" Luxor membalas. "Kalian akan melihat sesuatu yang lebih menakjubkan lagi, tenang saja"


Verdea melihat Luxor mengedipkan sebelah matanya dan mulai antusias setelah mengalihkan pandangannya kepadaku


Kami berjalan cukup lama untuk melingkari pepohonan itu. Hingga, kami pun menjumpai sebuah area di tengah-tengah lingkaran mereka. Sebuah cahaya kehijauan keluar darinya, datang dari sebuah pintu portal yang terbuat dari ranting, dahan dan daun pohon zaitun. Sebuah pohon yang terlihat tidak cocok tumbuh diantara lingkaran pepohonan ini. Pintu yang terlihat tidak terlalu kokoh ataupun tebal, namun entah kenapa terasa tidak dapat diruntuhkan


Kami mendekati pintu itu. Kekaguman Verdea mulai meningkat, terlihat dari matanya yang mulai berbinar dengan terang. Tetapi hal itu belum memuncak


Langkah kami terhenti sejenak, selagi sebuah dengusan keras bisa terdengar dari belakang pintu portal itu. Tidak perlu lama kami menunggu, kepala layaknya seekor kadal naik ke udara mengangkat dirinya sendiri. Dan tubuh hijau milik kepala itu, membuat dia nyaris tidak dapat dibedakan dengan warna rerumputan dan dedaunan hijau di sekitarnya


Seekor naga. Seekor naga duduk disana, seakan sedang menjaga pintu tersebut dari bahaya luar


Atau memang itulah, tugas milik naga tersebut. Wajahnya mulai tersenyum melihatku, sebelum dia sedikit membungkuk untuk memberi hormat atas kedatangan rajanya


"Akhirnya kamu tiba, Oberon. Aku sudah menantikan dirimu..." Suaranya yang terdengar halus namun bergema itu berkata


Dan disanalah, Verdea bersama Veskal nyaris melompat-lompat girang atas kekaguman mereka. Keduanya mulai terengah seakan tidak bisa bernapas atas rasa takjub yang menyergap


Sementara itu, Cyth spontan bersembunyi di belakang Ivor karena ketakutan. Dia masih tidak bisa menangani makhluk raksasa dengan baik


"Naga!!!" Verdea mulai menunjuk selagi berseru keras


Aku tertawa kecil melihat tingkah kedua anak itu. Betapa polosnya mereka berdua


"Bagi semua orang yang belum tahu, perkenalkan. Dia adalah penjaga gerbang masuk menuju Miralius, dan satu-satunya naga yang tersisa di seluruh Vitario. Eldwyrm Seren" Aku berkata


"U-um..."


Veskal terlihat mangut-mangut dikarenakan rasa takjubnya, sehingga bahkan Seren mampu memperhatikan hal itu dan mengarahkan tatapannya kepada anak itu


"Ada sesuatu yang kamu perlukan, nak?" Seren bertanya


Veskal menyadari pemberian perhatian itu, dan membalas tanpa ragu lagi


"Aku dengar kalau naga adalah makhluk yang sangat berbangga diri. Jadi aku tidak yakin harus menyapamu seperti apa..."


...


Seren mulai terkikik mendengar pernyataan Veskal itu, dia sampai-sampai mulai menggelengkan kepala. Veskal langsung memerah karena malu, hingga Seren berkata, "Kehormatanku sudah tidak diperlukan semenjak aku tidak mampu terbang bebas lagi", dengan nada yang sangat halus


"Aku adalah naga yang melayani sekarang. Aku tidak perlu dihormati terlalu tinggi" Seren menambahkan. "Lagipula, jika kamu adalah tamu milik Oberon, maka posisimu sudah pasti lebih tinggi dariku"


"Bahkan jika aku orang jahat?"


"Apakah kamu orang jahat, Veskal Grandier?"


Veskal tersentak mendengar namanya disebut, bahkan sebelum dia memperkenalkan diri lebih lanjut. Tetapi bukannya merasa takut, dia justru merasa senang


"Aku terhormat bisa bertemu dengan naga terakhir Vitario. Namaku Veskal Grandier, dan senang bertemu denganmu, Eldwyrm Seren" Dia pun memperkenalkan diri sembari membungkuk hormat layaknya bangsawan


"Tolong" Seren membantah. "Tidak perlu menyebutku sebagai Eldwyrm. Aku semata-mata hanyalah anak dari pemilik gelar itu"


"Dia adalah salah satu anak dari Fafnir, sang naga pertama" Aku berbisik kepada Verdea, dimana anak itu langsung mengangguk paham


"Dan aku Verdea Hortensia! Salam kenal juga!" Verdea kemudian berseru dengan mantap, sebelum senyum khas nya itu terlihat


"Pangeran kelima Hortensia. Sungguh kehormatan bertemu dengan tuan dari tuanku"


Aku langsung tertawa canggung mendengar itu. Sungguh, selama ada angin di dunia ini, tidak ada yang terlewat dari telinga Seren. Itulah kalimat ungkapannya, sampai seseorang paham kalau semua hal yang terjadi pada kaum Elf akan disampaikan melalui Seren terlebih dahulu sebelum diarahkan kepadaku


"Jaga rahasia ini dari Zaphir. Dia akan naik darah jika tahu..." Aku berkata, dimana Seren mengangguk paham


Lalu, matanya beralih kepada yang lain


"Cyan Keith 'Cyth', dan Zero. Para anggota kru-mu sudah ada di dalam Miralius sekarang ini dan berada dalam kondisi aman. Lalu, aku tidak yakin aku pernah bertemu denganmu, walau kamu terasa familiar, Zero"


Ketimbang Cyth yang sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan anggota kru-nya, paman Zero langsung mengusap janggutnya karena sesuatu


"Anggap saja aku ada di masa lalu" Paman Zero berkata kemudian


"... Baiklah kalau begitu"


Seren pun menundukkan kepalanya kembali ke posisi nyaman, diatas lipatan badannya. Dia terlihat ingin tertidur lagi, walaupun matanya masih terbuka untuk memberitahukan kami satu hal penting


"Leshy menitip salam kepadamu, Oberon. Dia sangat marah"


...


"Sampaikan kepadanya untuk tidak menyakiti para roh hutan..."


Seren lagi-lagi terkikik, sebelum matanya terpejam tanpa menghalau kami masuk sama sekali. Dan karena itu, kami semua pun masuk, sembari Verdea melambaikan tangan tanda sampai jumpa kepada Seren


Kami semua pun masuk tertelan kedalam portal itu, dan pemandangan baru pun menyambut kami semua dari balik pintu Gerbang Hutan


"Utopia..." Cyth bergumam, takjub melihat isi Miralius secara keseluruhan


Ya. Dari tempat masuk kerajaanku ini, kami bisa langsung melihat seluruh area yang ada di Miralius


Belasan daratan mengambang di udara, dan itu adalah hal pertama yang menangkap mata semua orang yang baru datang kemari. Mereka bisa melihat kalau mereka mengambang seakan berada di air, bergerak perlahan keatas dan kebawah. Ada sulur atau akar pepohonan yang mengikat satu dan yang lainnya, memastikan agar mereka tidak terlalu berjauhan


Lalu, yang menangkap mata semua orang selanjutnya adalah banyaknya macam daratan di bawah posisi ini


Di utara kami bisa melihat gunung bersalju yang menjulang tinggi. Daerah yang terlihat sangat dingin, sama seperti musim salju di Hortensia.


Lalu melihat kearah timur, kami bisa melihat daratan pasir dan hutan hujan. Lyralia dan Ivor langsung terlihat lega dapat melihat daerah kekuasaan mereka berdua lagi


Baik itu di barat yang memiliki pepohonan kristal yang berwarna keunguan, atau selatan yang memiliki hutan bunga yang cantik dan menyegarkan mata, setiap pemandangan yang diterima Verdea dan Veskal membuat mereka takjub. Setiap tempat yang ada di Miralius sungguh terlihat sangat ajaib, sehingga keduanya mulai melompat girang. Terutama ketika mereka melihat kumpulan hewan aneh yang terbang diatas atau mendekat kepada kami


Hingga...


Ada sebuah gerombolan Elf datang dengan antusias kearah kami. Keduanya berhenti melompat girang, selagi semua orang mulai mempersiapkan diri untuk menyambut gerombolan itu


Dan yang pertama tiba adalah...


"IVOOOR!!!"


Namanya diteriakkan, dan Ivor langsung tersentak panik. Suara wanita itu melengking hingga membuat seluruh Miralius seakan bergetar. Ivor tanpa sedikitpun basa-basi segera melompat turun dari posisi kami. Verdea dan Veskal keheranan, sebelum melihat ada siluet kemerahan yang mirip seperti Ivor — melesat cepat mengikuti Ivor yang kabur. Kami pun bisa mendengar dua orang yang membalas kalimat sembari berteriak keras dari kejauhan


"AAAAH!! MENJAUH DARIKU DASAR ORANG TUA TIDAK PUNYA KERJAAN!!"


"KAMU BERKATA BEGITU KEPADA IBUMU!!? AKU AKAN PASTIKAN KAMU TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU LAGI!!"


"VAINZEL TOLONG AKU!! JANGAN BIARKAN DIA MEMELUKKU!!"


Kedua teriakan itu berakhir dengan suara hantaman yang keras, sebelum kami semua hanya tersentak kaget dan memasang wajah canggung


"Barusan tadi ibunya?" Veskal bertanya


"Aku yakin tadi cukup jelas..." Verdea menjawab, termangu


Lalu, sebuah aura hitam pun muncul dan menghantamkan diri ke tanah, membuat Verdea bersama dengan Veskal terkejut dengan kehadirannya


Dari balik aura hitam itu, Fyon pun terlihat memberiku salam hormat. Verdea dan Veskal bisa bernapas lega. Kerisauan mereka kalau aura hitam barusan adalah Yael pun perlahan pudar


Aku memandang kearah Fyon dengan tampang ketus. Utamanya...


Karena aku tahu dia akan meledekku.


"Lama juga ya?"


"Kata orang yang terluka dan tidak bisa apa-apa lagi setelah itu" Aku membalas ledekannya


"Hoy, kepala bunga. Kita mau ada masalah atau semacamnya...? Kalau begitu aku akan senang hati memberikanmu masalah...!"


"Ya benar! Kamu memangnya bisa apa, rambut aneh...?"


"Rambutku tidak aneh! Gayanya saja yang memang begitu!"


"Kalau begitu kamu memang sudah aneh sejak lahir! Kasihan!"


Aku dan Fyon terus-terusan mendengus kearah satu sama lain selagi melempar ledekan. Verdea dan Veskal pun mulai heran melihat tingkah kami itu, selagi Veskal kemudian menepuk dahinya


"Kalian para Elf sungguh aneh..." Dia bahkan berkomentar


"Tidak lebih aneh dari kalian para manusia" Sebuah suara membalas Veskal yang mengataiku


Dan dibalik bayangannya, tibalah seseorang lagi. Seseorang pria yang tubuhnya menjulang 2 meter, membuat Veskal langsung diam tertegun melihat timgginya itu. Seseorang yang tampangnya mirip sekali dengan Luna, namun memiliki wajah keriput dan mata yang tidak bersinar lagi


"Siapa... Anak manusia ini...? Dan kenapa ada 2?" Orang itu pun bertanya


Dimana, aku langsung menyela diantaranya dan Veskal


"Teman-temanku. Kita akan bahas nanti, jadi jangan coba-coba mendekati mereka kecuali mereka mendekatimu dalam waktu dekat ini" Aku pun berkata


Di sisi lain, Luna hanya diam, namun perlahan mengangguk setuju selagi mata pria itu menangkapnya


"... Aku akan mengawasi mereka berdua dengan hati-hati"


Dan pria itu pun menghilang lagi ke dalam bayangan, entah kemana kali ini, sembari berkata, "Selamat datang kembali, Oberon"


Napas lega mulai kukeluarkan, selagi berbalik kearah Verdea dan Veskal untuk memastikan mereka baik-baik saja. "Zaphir Lunaris. Ayah dari Luna" Aku dengan singkat memperkenalkan pria tadi, sehingga membuat Veskal dan Verdea spontan berpaling kearah Luna


"Dia benci jika harus berurusan denganku" Luna berkata kemudian, sebelum memalingkan wajahnya kearah kerumunan yang semakin mendekat. Sebelum Verdea dan Veskal sempat risau dengan keadaannya, Luna berkata lagi. "Lihat, ayah dan ibumu ada disana, Vainzel. Ordelia juga ada disana"


Mataku spontan berbinar mendengar itu, sebelum aku menangkap adanya 2 kepala Elf yang diatasnya tumbuh bunga. Mereka berdua sangat pendek dan kerdil, tetapi aku bisa menangkap siapa dan siapa diantara kerumunan yang bermacam-macam tinggi badannya itu


2 Elf yang di kepalanya tumbuh bunga teratai, sama sepertiku, mendekat dengan tergesa-gesa bersama Ordelia yang senang untuk menyambutku. Aku spontan mendekat, diikuti oleh semua teman-temanku yang tersisa. Lyralia langsung tersentak melihat keberadaan keluarganya. Luxor segera berlari kearah orang tuanya. Luna hanya mengikutiku perlahan bersama dengan Veskal, Verdea dan paman Zero. Lalu, Cyth mulai gembira kembali melihat anggota kru-nya mulai berlarian sambil meringis, "Kapten!!"


Kami semua mulai datang kearah kelompok masing-masing selagi kami mendengar. "Selamat datang kembali!" berulang-ulang berkumandang. Diperuntukkan kepadaku dan teman-temanku


Lalu dengan antusias, aku menunduk di depan kedua Elf yang kulihat tadi. Antusias, aku membuka kedua lenganku, sebelum keduanya melempar diri masing-masing ke dalamnya


"Papa... Mama..." Aku berkata. Kerinduanku tidak bisa tertahan lagi, selagi aku mengeratkan pelukanku di tubuh keduanya


"Sudah 5 tahun ya...?"Ayahku berkata


"Kami merindukanmu, selalu" Ibuku di sisi lain mulai meringis

__ADS_1


Ordelia di sisi lain, melihat kami dengan tatapan lunak, selagi kedua tangannya menyatu bersamaan dengan sebuah napas lega


Akhirnya...


Akhirnya kami bisa bernapas lega lagi... Akhirnya kami sudah tiba di tempat tujuan kami...


Dan akhirnya, aku bisa melihat senyuman hangat semua orang lagi. Bahkan milik Verdea dan Veskal...


Aku lega...


...


Masih ada satu hal lagi yang perlu kulakukan, jadi kulepas pelukan kami bertiga dan menyingkirkan badanku sedikit ke tepi


"Papa, Mama. Perkenalkan kedua teman baruku..." Aku pun mempersembahkan kepada kedua orang tuaku Verdea dan Veskal. "Yang kecil itu bernama Verdea, dan yang lebih besar bernama Veskal" Aku pun memperkenalkan keduanya


"Manusia..." Para Elf mulai bergumam, termasuk juga kedua orang tuaku.


Mata semua orang disana terlihat sangat terheran dan penasaran apakah orang-orang yang kubawa itu adalah orang-orang yang berbahaya. Verdea dan Veskal terlihat sangat tidak nyaman dengan semua tatapan itu, selagi Cyth hanya menghela napas


Hingga...


Ibuku pun berinisiatif untuk mendekati Verdea terlebih dahulu dengan wajah penasaran dibandingkan menghakimi. Perlahan tapi pasti, keduanya pun menatap diri satu sama lain


"... Anak yang manis ya?" Ibuku pun berkata dengan sebuah senyum


Mata Verdea langsung berbinar, membalas senyuman kecil itu. "Terima kasih mau menerima kami disini" Dia pun berkata dengan sangat polos, sebelum tertawa senang diikuti oleh ibuku


Veskal di sisi lain, hanya tersenyum kecil selagi menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan para Elf pun mulai lunak melihat perlakuan kecil itu, selagi mereka tersenyum antusias untuk menyambut ulang teman-temanku


Huh... Setidaknya mereka bisa diterima dengan baik...


"Namaku Lilo, dan suamiku bernama Toto. Senang bisa bertemu denganmu"


Terutama oleh Ibuku... Dia sungguh wanita yang berhati baik


"Jadi, bagaimana kalau kita masuk saja dan mempersiapkan acara tahun barunya?" Aku pun mengingatkan kepada semua orang kenapa kami datang kemari selagi berdiri kembali


Para Elf mulai girang, begitu juga teman-temanku. Dan dengan antusias, beberapa dari mereka mulai mendekati Veskal, Verdea dan semua anggota Black Hunt untuk mempersiapkan diri mereka, sembari berulang-ulang mengatakan, "Teman Oberon harus dijamu!"


Semua orang mulai terlihat kewalahan dengan perhatian itu, selagi para Fae — Elf yang ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan namun memiliki sayap, mendekati kami dan membawa pergi Verdea bersama Veskal kearah selatan Miralius


Keduanya dibawa terbang, selagi kami hanya menggelengkan kepala melihat antusiasme para Fae


"Jangan khawatir! Mereka hanya membawa kalian kerumahku!"


"Oke!" Veskal berkata selagi keduanya semakin berada jauh dari kami


...


Baiklah, kalau begini...


"Sebagai penutup sambutan ini, bagaimana kalau kita adakan lomba lari?" Aku berkata kepada teman-temanku


Paman Zero langsung mendengus dan mengusap janggutnya melihat kami yang tidak bisa ditahan lagi itu, selagi Cyth hanya tertawa canggung karena tahu dia sama sekali bukan kompetitor untuk kami para Elf


Fyon pun hanya menunduk diam selagi memejamkan matanya. Senyumnya perlahan terbentuk, tetapi dia tidak ingin ikut serta di dalam kesenangan kami


Dan karena itu, Luna yang berapi-api itu mulai setuju, bersama dengan Ordelia, Luxor dan Lyralia. Tapi tidak hanya mereka


"AAAH!!! AKU JUGA INGIN IKUT! JADI SINGKIRKAN WANITA INI JIKA AKU MENANG!!"


Ivor dari kejauhan datang kembali dengan sangat cepat, masih dikejar oleh ibunya, Gwen


Kami pun tidak mau kalah. Dan kami berempat setuju menjadikan Ivor sebagai penanda untuk memulai lomba kecil kami ini


Satu menit lagi sebelum dia tiba di bawah posisi kami


"Hey Vainzel..." Luna tiba-tiba berkata kepadaku


Aku merespon untuk mendengar apa yang dia ingin katakan, dan menangkap, kalau dia terlihat sangat senang. Senang dengan senyum kecil yang jarang terlihat itu. Sebelum, wajahnya kembali terlihat gusar akan sesuatu...


...


"Verdea... tidak akan apa-apa bukan?" Dia pun mengatakan sebuah pertanyaan


...


"Tidak akan. Dia hanya perlu tidur dan beristirahat, karena acaranya malam ini bukan?" Aku merespon


Dia hanya tertawa kecil. Lagi-lagi sebuah reaksi yang jarang sekali aku lihat darinya


"Aku tidak menyesal keluar dari Miralius, entah kenapa"


...


"Aku senang mendengar itu"


Aku sungguh senang. Terutama... Karena itu datang dari teman terdekatku di Miralius


"Tiga!"


Aku dan Luna spontan memasang posisi siap mendengar hitungan mundur Luxor. Para Elf juga mulai bersorak ramai menyemangati kami


"Dua!"


Ordelia sudah siap untuk melempar dirinya menggunakan sebuah akar pepohonan


Lalu, Luxor dan Lyralia melesat dengan cepat mengikuti Ivor, sebelum aku dan Luna juga bergerak dengan sangat cepat


"AKU TIDAK AKAN KALAH!!!" Ivor berteriak dengan sangat keras, masih berlari dengan sekuat tenaga dari ibunya


Dan melalui perlombaan kecil kami, aku pun bisa bersenang-senang kembali bersama semua teman masa kecilku


Hah... Aku tidak akan kalah!


......................


--- Malam itu ---


"Hm? Mimpi ini lagi..."


Verdea melihat sekeliling area itu. Dan dalam sekejap, dia pun menyadari kalau dia sudah tertidur — kembali kedalam mimpi aneh itu lagi


Hampir semuanya masih terlihat sama. Matahari yang baru terbit, genangan air luas yang seperti sungai, dan pohon cemara...


Hanya saja...


Sekarang ada daratan di bawah pohon cemara ini sekarang. Juga, ada beberapa hal baru lainnya disini


Obor api. Ikan koi. Kunang-kunang. Bendera hitam yang berdiri diatas tiang kayu yang tertancap di daratan itu. Bulan yang terlihat jelas berada di sisi atas matahari. Dan lukisan ibunya yang dipajang di batang pohon itu


Tidak membahas kalau pakaian yang dia kenakan adalah jubah kerudung coklat yang mirip sekali dengan apa yang Veskal kenakan. Pakaian itu dia kenakan di dalam mimpi itu, walaupun dia yakin dia hanya memakai baju yang sangat rapi tadi — baju yang ada dibalik jubah ini


Verdea menoleh kesana kemari untuk memastikan kalau dia tidak salah sudah melihat benda-benda itu. Benda-benda yang entah bagaimana muncul di dalam tempat itu. Dia yakin kalau dia baru saja tertidur karena para Fae seharian penuh memanjakan dirinya, hingga dia terlelap di pelukanku menunggu waktunya tahun berganti tiba. Tetapi, dia justru jadi merasa heran ketika melihat semua hal itu


"Sepertinya semakin banyak hiasan disini..."


Sosok yang berada di mimpinya waktu itu bahkan melihat kesana kemari dan memperhatikan setiap benda yang baru, mengejutkan Verdea yang baru menyadari kehadirannya


"Kenapa aku ada di dalam mimpi ini lagi?" Tanya Verdea


"Jangan tanya aku. Kamu yang memanggilku asal kamu tahu saja" Jawab sosok itu


...


Apa karena dia memikirkan soal sosok itu sebelum tertidur? Verdea tidak paham, tapi sepertinya begitu. Mungkin...


"Kenapa ada lebih banyak benda baru disini?" Tanyanya


"Sekali lagi aku bilang, aku tidak tahu. Bahkan benda-benda ini aneh dan tidak menunjukkan sifatmu..."


Sosok itu menatap kearah ikan koi yang sibuk berenang di dekat pulau


"... Ah, jadi begitu..." Sosok itu berkata


"Apanya?"


"Tidak ada"


Dia kemudian berjalan sambil melompat-lompat kecil, kemudian duduk di samping Verdea seperti sebelumnya, tepat di bawah pohon Cemara itu


"Mau menceritakan soal teman-temanmu?" Sosok itu bertanya sambil duduk manis


Verdea pun sedikit tersentak setelah sosok itu menanyakan mengenai teman-temannya


"Tidak. Untuk apa aku menceritakannya padamu?"


"Heeh?! Ayolah..."


"Tidak"


"Ayolah..."


Verdea terlihat ingin kesal, namun tidak bisa menolak juga. Jadi dia hanya menyerah, membiarkan sosok itu menang


"Baiklah... Tapi jangan beritahu mereka kalau aku bicara baik tentang mereka" Verdea berbisik


"Janji..." Roh itu berkata dengan mantap


Dia pun menceritakan semua hal yang terjadi setelah pertama kali mereka berdua bertemu


Perjalanan ke Miralius. Kunjungan di Kota Calendula. Kapal Black Hunt. Saat dikejar-kejar monster. Dan tidak lupa saat dia diculik


Dia menceritakan bagaimana semua orang sudah sangat baik dan tulus kepadanya. Bagaimana kami mati-matian berusaha menyelamatkannya, bahkan Cyth. Dia menceritakan bagaimana Veskal dengan berani masuk bersamaku, walaupun dia sendiri bisa dengan mudah kehilangan nyawanya. Lalu...


Dia mengingat bagaimana aku menyambutnya disaat dia terbangun kembali. Dia masih ingat betapa hangatnya sentuhan tangan kayu dibalik sarung tangan hitam itu. Sesuatu yang tidak akan dia lupakan


"Dan begitu..."


Verdea terlihat senang dia sudah bercerita, utamanya karena dia bisa mengingat kembali semua hal yang telah berlalu. Sesuatu yang berat, namun memiliki hasil yang manis...


...


"Keren..." Roh itu berkomentar


"Tidak keren. 3 kejadian yang terakhir itu menakutkan"


"Hahaha! Maaf, maaf!"


Verdea cemberut menanggapi respon milik sosok itu, sebelum mereka kembali tenang untuk sesaat

__ADS_1


"Aku senang kamu punya banyak teman sekarang" Sosok itu berkata pelan sambil tersenyum


"... Kenapa?"


"... Aku ingin melihatmu lebih berjaya dariku"


"Berjaya?"


"Ah, ups. Aku bicara sembarangan lagi"


Sosok itu kemudian tertawa kecil untuk menutupi perkataannya. Tetapi terlambat


Dia sudah membuat Verdea penasaran


"... Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Verdea


Hanya saja, senyum dari sosok itu memberikan tanda kalau dia memang ingin mengarahkan pembicaraan ke topik ini. Jadi...


"... Sepertinya, ini memang saat yang tepat untuk memberitahumu" Sosok itu berkata


Dia kemudian berdiri dan menyiapkan tenggorokannya seakan dia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Dan dengan sangat bangga, dia pun berseru :


"Perkenalkan, aku Marcellus!"


...


...


...


Senyap, sebelum Verdea dengan santai memperkenalkan diri balik-


"Aku Verdea-"


"Heh? Reaksimu bukannya terlalu datar ya?"


--- Sebelum Marcellus memotongnya dengan lagak kecewa


"Hah? Memangnya kenapa?" Tanya Verdea balik, sama terkejutnya


"... Tunggu. Kamu tidak tahu nama Marcellus?"


Verdea spontan menggelengkan kepalanya. Dia sungguh, sama sekali tidak tahu siapa itu Marcellus hingga saat ini


Marcellus langsung berdiri lemas karena hal itu. Helaan napas panjang dihiasi rasa putus asa itu pun keluar dari mulutnya


"Dengarkan aku. Jika kamu sudah kembali nanti, beritahukan namaku pada mereka. Mereka pasti tahu" Marcellus berkata


"... Dan kalau tidak?" Tanya Verdea


"Mereka Elf bukan?"


Verdea mengangguk bingung, hingga Marcellus berkata, "Mereka pasti tahu semua hal dan semua cerita, termasuk milikku"


Marcellus hanya menepuk tangannya seperti anak kecil


"Baiklah, sekarang untuk bagian pentingnya ketika kamu sudah mengetahui namaku!" Marcellus berkata dengan semangat


Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi menyadari sesuatu dari Verdea


Anak itu mulai terbangun di dunia luar


Jadi, dia pun hanya menghela napas, sebelum mengabaikan apapun itu yang perlu dia diskusikan dengan Verdea


"Lain kali saja"


"Apaan coba?"


Verdea mendengus kesal, selagi sosok itu hanya tertawa kecil. Dan dengan perlahan, dia meletakkan tangannya di kepala Verdea


Verdea tersentak. Dia tersentak hanya karena satu hal...


Wajah yang berseri keemasan. Bagai sebuah malaikat di negeri dongeng yang menyambutmu ke surga. Dia memakai sebuah diadem emas, dan dia terlihat sangat... Menenangkan...


Verdea terpana melihat perwujudan dari hal itu. Entah bagaimana, dia bisa melihat wajah milik Marcellus kali ini...


"Semoga cahaya selalu menyinarimu, Regulus"


Namun perpisahan segera datang kepada keduanya, selagi Verdea merasa seakan dia terjatuh — keluar dari dunia mimpi itu dalam hitungan detik


......................


"Veri. Veri. Veri!"


"Ya...?"


Verdea terbangun di gendonganku setelah aku berusaha membangunkannya selama beberapa saat. Dia mengusap matanya karena mengantuk kemudian melihat kearahku


Akhirnya dia bangun... Jika tidak, dia akan kelewatan banyak hal...


"Acaranya sudah mau mulai" Aku berkata


Semua elf berkumpul di lapangan luas di tengah-tengah Miralius untuk menyaksikan acaranya


Cahaya bulan bersinar dengan terangnya malam ini. Terasa seperti anugerah langsung untuk memeriahkan acara ini. Para Elf api berdiri di hadapan semua elf dan tersenyum lebar. Semua Elf bersorak kegirangan dan meminta agar acara itu segera dimulai


Para petinggi Elf duduk diatas balkon sebuah bangunan kayu yang terletak tidak jauh dari lapangan itu sambil menyaksikan mereka


Hanya Lyralia saja yang paling berisik dan antusias dengan pertunjukkan ini dibandingkan para petinggi yang lain. Dia dengan semangat menyoraki Ivor sekarang ini. Sebagai petinggi klan Elf api, Ivor lah yang paling terlihat berwibawa di hadapan para elf disana, di sisi ibunya Gwen


Kedua orang itu terlihat seperti kembar seiras walaupun merupakan ibu dan anak. Cara mereka berpakaian bahkan sama...


"Baiklah!! 1 menit lagi akan tahun baru! Apa kalian siap!?" Ivor berseru kepada semua orang


Semua Elf yang hadir langsung mengeraskan sorakan girang mereka, selagi aku bertepuk tangan bersama semua teman-temanku akan seruan itu


"Jangan sentuh Ivor! Dia milikku!" Lyralia berteriak pada para Elf yang mendekati para Elf api


"SSHHH!!"


Para petinggi lainnya yang terganggu akhirnya bisa membuat Lyralia duduk dengan tenang di kursinya lagi, selagi aku mulai terlihat menggelengkan kepala karena tingkahnya barusan


Para Elf kemudian mulai menghitung mundur ketika waktu sudah mencapai 30 detik


Veskal dan Cyth yang duduk di samping diriku dan Verdea langsung bergerak semakin maju untuk menyaksikan lebih dekat


Mata Verdea semakin terbuka lebar dan dia sudah siap menyaksikan acaranya


Waktu tahun ini akhirnya hanya tersisa 10 detik


"10. 9. 8. 7. 6. 5. 4. 3. 2. 1!


Tembak!"


Dan mengikuti hitungan terakhir itu, para elf api menembakkan sihir mereka ke langit secara satu persatu. Ledakan mereka yang berupa api yang memiliki berbagai macam warna itu mulai melukis di angkasa


Percikan dari api mereka mulai membentuk sebuah gambaran yang terlihat mengesankan. Seakan mereka menggambar dengan tangan mereka sendiri


"Lihat yang itu! Terlihat seperti Basilisk waktu itu!" Veskal bahkan menunjuk-nunjuk takjub selagi Cyth merinding


Semua orang terus bersorak, "Selamat tahun baru!", tanpa henti dan tanpa lelah. Ini mungkin adalah perayaan tahun baru paling heboh yang Miralius pernah lalui. Aku hanya senang Gwen dan Zaphir mau melaksanakan isi suratku dan mempersiapkan semua hal dengan sangat terperinci


Perayaan ini sangat membuatku senang, begitu juga teman-temanku


Semua Elf bersorak keras sambil menari-nari menyambut tahun baru. Verdea dan Veskal terkagum-kagum melihat sihir para Elf api yang meledak dengan indahnya di langit, selagi mereka berdiskusi bentuk apa yang mereka lihat dari setiap ledakan sihir api itu


Paman Zero hanya tertegun, sebelum samar mulai tersenyum


Cyth melihat takjub dengan tenangnya sambil memegang erat kalung yang dia pakai


"Selamat tahun baru, Kapten Alice..." Dia berkata pelan dengan tampang sedih


Para petinggi semuanya bertepuk tangan untuk menyambut tahun baru, kecuali Lyralia yang masih memanggil Ivor


"Selamat tahun baru semuanya" Aku berseru pada semua Elf


Sorakan senang mereka semakin menjadi-jadi dan tarian mereka semakin terlihat meriah


Aku pun mengalihkan wajahku pada Verdea yang matanya masih berbinar-binar melihat pertunjukkan itu. Aku tersenyum melihat semua hal itu


"Puas dengan perjalanannya?" Aku bertanya


Dia mengangguk pelan. Senyumnya melebar dan dia kemudian memelukku erat


"Aku senang" Dia berkata


"Aku juga" Veskal menyela


Kami bertiga tertawa kecil dengan satu sama lain. Dan saat tahun yang baru ini, kami bertiga berdoa untuk kebaikan satu sama lain


'Semoga aku bisa terus membahagiakan mereka berdua'


'Semoga aku bisa menjaga mereka berdua'


'Semoga... Aku bisa selalu bersama mereka berdua'


Kami kemudian melanjutkan tawa kecil kami dengan satu sama lain


Suasana malam yang sangat meriah itu terasa hangat dengan tawa mereka berdua yang bercampur dengan suasana yang menggembirakan ini


......................


Di sudut jiwa Verdea yang terdalam, Marcellus duduk sambil memperhatikan jiwa Verdea yang terlihat senang. Dia kemudian tersenyum lebar selagi mengangkat tangan kanannya ke udara. Nampak sebuah simbol diatas punggung tangan kanannya itu


Sebuah simbol dengan gambar sebuah perisai bersayap enam yang dikelilingi cahaya


Setelah melihat simbol itu cukup lama, dia pun berkata


"Aku mendoakanmu untuk tahun-tahun selanjutnya, Verdea Hortensia. Atau harus kusebut Regulus?"


Marcellus tertawa kecil. Dia merasa sedih, namun juga senang. Akhirnya, orang yang dia tunggu telah tiba di dunia ini. Seseorang yang akan memulai era baru, yang akan selalu diingat oleh Vitario


"Semoga cahaya selalu menyertaimu, Regulus..."


...


Verdea yang masih tertawa denganku sama sekali tidak menyadari sesuatu yang baru dan tiba-tiba muncul di tubuhnya


Dan selagi sebuah simbol terbentuk di tangan kanan Verdea, Marcellus hanya tersenyum kecil. Dia hanya bisa merasakan, tapi dia sudah tahu kalau simbol itu telah terbentuk


Jadi, selagi Verdea masih duduk diatas gendonganku dan perlahan kembali tertidur dengan tenang, dia penasaran. Dia penasaran, bagaimana bunga kecil ini akan menjalani perjalanannya

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\= Arc Perjumpaan Tamat \=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_2