
Sial! Apa yang terjadi!?
Aku mendengar sesuatu yang keras menghantam tanah barusan dan membuat tanah bergetar. Lalu semua suara tiba-tiba menjadi senyap!
Sial! Kenapa aku harus terluka disaat seperti ini!?
Sylph ini terbebani karena aku. Kepalaku juga masih sakit sehingga aku tidak bisa menggunakan kekuatan para Fae
Menjengkelkan!
Seren! Bertahanlah!
"Lebih cepat! Sudah kubilang jangan pedulikan aku!"
"Tidak bisa Oberon! Aku takut lukamu akan semakin fatal! Kamu bahkan belum pulih sepenuhnya!"
Urgh!!! Tubuh sialan!
Kenapa kamu tidak bisa sembuh lebih cepat?!
"Aku bilang cepat!!"
"Tidak! Ini untuk kebaikanmu, dan juga perintah dari Nyonya Amelia!"
Sylph ini sama sekali tidak mau mendengarkanku
Mana-ku juga benar-benar terkuras. Keadaanku sekarang benar-benar sangat menyedihkan. Jika aku mati nanti, aku malu bertemu dengan para pendahuluku
"Hoy! Kami menemukan pasukan nyonya Amelia!"
Ah!
"Segera turu-"
!!!!!
Apa-
Apa yang-
Mataku pasti... Menipuku-
Tidak mungkin...!
Tidak mungkin!
"SEREN!!" Aku meneriakkan
Melihat tubuh Seren yang lemas di tanah membuat jantungku berhenti untuk beberapa detik
"Oberon! Segera kemari!"
Sylph yang membawaku akhirnya mau menurunkanku. Aku pun memaksa untuk bergerak sendiri, tapi segera tersungkur ke tanah dan akhirnya harus dibantu juga oleh Amelia
"Seren...!"
Dia masih bernapas... Dia masih bernapas...
"Vainzel...."
"... Seren...?"
Dia berusaha membuka matanya dan mengangkat kepala, tapi dia justru jatuh kembali ke tanah dengan lemasnya
"Tidak perlu bergerak! Kamu pasti terluka parah!" Aku berkata padanya
"Kamu sudah memanggil Elf spesialis sihir penyembuh?" Aku bertanya pada Amelia, kemudian direspon dengan anggukkan darinya
"Tidak perlu..." Seren berkata
"Apa maksudmu!?"
Dengan senyum kecil di wajahnya, dia menunjukkan sebuah tanda di dadanya yang membuat mataku terbelalak
Urgh! Sudah kuduga penjahat itu berasal dari kaum iblis!
Dan aku malah mengirim Seren untuk melawannya!! Betapa bodohnya aku!!
"Setidaknya... Kamu masih... Hidup..." Seren berkata lagi
"... Berhenti bicara. Simpan tenagamu. Jika kamu mati, aku tidak akan memaafkanmu"
"Heheh... Aku akan mati... Tapi tidak hari ini..."
"Kalau begitu berhenti bicara. Ini perintah!"
Simpan tenagamu. Kutukan dari kaum iblis itu pasti sangatlah menyakitkan. Zaphir pernah mengatakan hal itu karena dia pernah terkena kutukan seorang iblis yang membuatnya tidak bisa apa-apa lagi selama 1 tahun lamanya
Setidaknya Seren masih bisa sembuh. Masih ada cara...
Aku memerintahkan para Sylph untuk menggunakan sihir angin dan mengangkat Seren secara perlahan kembali ke Gerbang Hutan
Agar tidak menghambat pekerjaan mereka, untuk sementara waktu aku mengambil posisi duduk yang nyaman di tanah sambil fokus memulihkan diri
Tapi tidak lama, aku mendengar sesuatu yang tidak ingin kudengar sewaktu itu
"VAINZEL!!!"
Suara itu!
"Vainzel!! Apa yang terjadi!!?"
"Apa yang kamu lakukan disini Verdea!? Tempat ini berbahaya-"
"Itu tidak penting! Kenapa Seren terbaring disini!?" Verdea memotongku setengah berteriak
Disaat itu, Veskal juga ikut mendarat mengikutinya. Dia hanya menunduk ketika aku memberi tatapan yang berkata, 'Kenapa kalian bisa ada disini!?'
"Aku akan menjawabnya nanti! Segera kembali ke Miralius-"
__ADS_1
"Jawab aku!! Berhenti mengalihkan pembicaraan!!" Dia berteriak padaku lagi
"... Sudah kubilang aku akan menjawabnya nanti. Kami harus fokus membawa Seren kembali terlebih dahulu"
"Kalau begitu biar aku membantu"
"Verdea!"
"Aku sudah bilang aku ingin apa bukan?! Jadi aku akan tetap membantu!"
"..."
"... Anggap saja ini bayaran karena kamu membuatku teleportasi ke Miralius dengan paksa tadi"
...
Dia benar-benar langsung mencoba membantu. Dia memegang pundak Amelia dengan tangan kanannya untuk memperkuat sihir angin itu
Sementara itu, Veskal mendekat kearahku yang duduk di tanah
"Sudah kubilang dia akan marah dengan perlakuanmu itu bukan?" Veskal berkata dengan senyum kecil di wajahnya
"Kamu yang menyarankan agar kita membuatnya pingsan. Bahkan kamu juga yang melakukannya bukan?" Aku membalas dengan nada ketus
"Habisnya kamu ingin aku membuatnya ikut dengan para penduduk bukan? Memangnya ada cara lain yang lebih efektif?"
"..."
"Tidak ada bukan? Tidak kusangka, Raja Oberon yang serba bisa ini bisa kehabisan ide"
"... Aku ini sama sekali tidak serba bisa. Aku bahkan mengirim salah satu temanku ke sarang maut. Beruntung dia masih hidup. Yang kulakukan itu hanyalah rencana dadakan yang beruntung. Sedikit saja kesialan, semua rencanaku akan gagal"
Tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar disaat sesuatu sedang kacau. Seakan aku juga ikut teraduk kekacauan itu sehingga harus mengambil rencana dadakan
"Menurutku tidak begitu. Kamu tahu? Tanpa Seren, Aku dan para anak-anak kota Andromeda akan tewas di bombardir oleh maniak itu"
"Tapi bayarannya tetaplah kalian atau Seren. Ujung-ujungnya, aku hanya memilih siapa yang terluka dan tidak"
"... Kamu masih belum bisa menjadi pemimpin rupanya..." Veskal bergumam
"Apaan coba?"
"Tidak ada~ Lalu, si besar itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu"
Zaphir berjalan kearah kami dengan tampang kecewa
Aku langsung merasakan ada sesuatu yang salah hanya berdasarkan ekspresi lesunya itu
"... Bagaimana Zaphir? Kamu pernah terkena kutukan seperti itu, jadi kamu juga pasti tahu cara menyembuhkannya"
"..."
"Zaphir?"
"... Seren sudah tidak bisa tertolong"
...
"Itu kutukan dari Iblis tingkat Duke, Vainzel. Kutukan yang kuterima itu lebih rendah dari miliknya, walaupun tidak jauh
Sudah jadi keajaiban dia masih hidup. Iblis yang menyerangnya ini sama sekali bukan iblis sembarangan!"
"...!"
Ah begitu rupanya...
Takdir sang naga sudah diukir diatas langit. Tidak ada lagi yang bisa mengubah hal itu
Aku pun melihat kearah Seren yang mulai terangkat dengan sihir angin para Sylph dengan wajah lemas
...
Ah sial...
Aku benar-benar membuatnya terbunuh perlahan seperti ini...
"Jadi kesimpulannya, dia tidak bisa diselamatkan lagi bukan?" Veskal bertanya
"Tidak, kecuali jika iblisnya mau berbaik hati. Sayangnya, tidak ada iblis yang seperti itu"
"... Sayang sekali. Seorang pelindung sepertinya harus mati seperti ini"
"... Benar... Juga---"
Veskal dan Zaphir melirik kearahku yang meringkuk di tanah sambil meneteskan air mata
Mereka terdiam melihat setiap tetes yang jatuh, bahkan tidak berusaha menenangkan ku
"Aku ini-- Pemimpin yang buruk--- Seren--!"
Veskal hanya menghela napas mendengar kalimatku yang terisak-isak
Dia mengeluarkan sapu tangannya, kemudian menyerahkannya padaku untuk membersihkan wajah
Tapi aku masih terisak. Hal itu pun membuat Veskal menamparkan sapu tangan itu kearah kepalaku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku memperhatikannya
"Bersihkan semua air matamu"
"... Baik"
Kuterima sapu tangan itu, kemudian membersihkan bagian bawah bola mataku saja
"Hah? Tidak sakit mengelap matamu?" Tanya Veskal
"Kamu lupa kalau wajah dan tubuhku itu seratus persen kayu? Apa gunanya kubersihkan dengan benda ini?" Aku menjawab sambil terus membersihkan tetesannya
"Ah, benar juga"
...
__ADS_1
"Kamu ingin memberi komentar bukan?" Aku bertanya sembari menunduk ke bawah
"Ya. Aku hanya menunggu kamu selesai"
"... Lanjutkan saja"
"... Vain. Kamu itu pemimpin yang payah"
...!
"Saking payahnya, sampai aku saja sadar betapa buruknya kamu dalam memimpin"
Veskal kemudian melirik kearah Zaphir. Dia tidak merespon sedikitpun tatapan Veskal dan hanya memejamkan matanya
"Rencanamu itu berantakan dan hanya dadakan. Gerakkan pasukanmu sama sekali tidak terkoordinasi hanya karena satu retakan. Kamu hanya memberi perintah sesuai dengan isi hatimu yang, 'lembut' itu"
Nadanya sarkas sekali
"... Itu karena aku tidak mau membuat kalian terluka"
"Lalu? Buktinya ada yang terluka"
"..."
"Yang paling buruk bukanlah itu. Tapi sifatmu yang selalu menolak kalau kamu bukanlah seorang pemimpin"
"...! Itu karena-!!"
"Karena kamu memang tidak ingin bukan? Tapi kamu harus. Kamu harus mau membiasakan diri dengan hal ini, karena tidak semua hal bisa menjadi pilihan
Jika kamu menjadi Elf, hiduplah sebagai seorang Elf. Jika kamu terlahir seorang manusia, hiduplah sebagai seorang manusia. Kamu hanya bisa menjalani satu, dan tidak yang lain. Egois namanya jika kamu meminta hal lain dari yang kamu miliki"
"..."
Aku hanya menatap anak itu. Anak berumur 14 tahun yang biasanya hanya bolak balik mengikutiku dan Verdea kemanapun itu, sekarang sudah bisa memberi perkataan yang sangat hebat seperti ini
Aku iri padanya. Dia cepat berubah dalam waktu yang relatif cepat, sementara ratusan tahun hidupku hanya kugunakan sambil mengeluh dengan tanggung jawab ini
"... Belajarlah menjadi seorang pemimpin, Vainzel. Kamu butuh itu mulai sekarang. Aku juga tidak akan mengikuti perintahmu lagi selagi kamu masih tetap seperti ini"
Dia berjalan pergi kearahku, kemudian melayang menggunakan sihir para Fae yang mengikutinya
"Tapi untuk sekarang, kamu sudah melakukan yang terbaik..."
Ah-?
"Jadi, istirahatlah untuk sementara waktu. Tenangkan dirimu"
Dia pun melesat pergi meninggalkanku. Dia pergi bersama para Sylph yang membawa Seren, sementara aku dibawa oleh Sylph lain karena masih terluka
...
"Veskal... Apa yang kamu katakan pada Vain?" Tanya Verdea yang terbang di sampingnya
"Hanya sesuatu yang harusnya kukatakan sejak dulu. Sama seperti kepadamu saat malam itu"
Verdea tertegun sesaat menatap Veskal yang terus fokus ke depan
"... Ah, begitu. Tapi tidak terlalu kasar bukan?"
"Aku hanya menampar kepalanya dengan sapu tanganku, tidak lebih"
"Yah, setidaknya kalian tidak berkelahi"
Veskal tertawa kecil
"Tapi, aku sedikit bangga kamu memiliki pendapatmu sendiri dan tidak hanya mengikuti perkataan Vainzel saja seperti dulu"
"Habisnya, aku kesal sekali dia membuatku dikirim paksa seperti itu. Walaupun memang kamu yang memukulku pingsan sih..."
Verdea melirik kesal kearah Veskal
"Hehe"
"Mau kugampar? Berhenti tertawa begitu"
"Terserah~"
Veskal pun menyadari kalau Verdea masih tidak menyadari keadaan yang sedang menimpa Seren. Bahwa Seren akan mati secara perlahan, dan hal itu mutlak
'Yah, sebaiknya begitu untuk sementara ini' Veskal berkata dalam hati sembari terus terbang
Aku hanya melihat mereka dari belakang bersama Zaphir yang hanya diam sejak tadi
...
"Zaphir..."
"... Aku punya banyak pertanyaan kepadamu. Hanya kamu yang bisa menjawab semuanya"
"... Baiklah, Oberon"
Belajar menjadi seorang pemimpin...
...
Tidak semua hal bisa menjadi pilihan. Tetapi, kamu bisa memilih untuk menjalaninya dengan baik atau tidak
Itulah hal yang seharusnya terlintas di kepalaku
Ah mengesalkan. Lain kali, aku harus sudah lebih baik dalam hal ini
Tapi sepertinya aku harus mengikuti perkataan Veskal terlebih dulu. Aku harus istirahat. Tidak banyak yang bisa kulakukan dalam kondisi menyedihkan seperti sekarang ini
Dan mengenai Seren...
Aku... Tidak tahu harus apa lagi...
...
__ADS_1
Kami menang, tapi akan kehilangan seorang anggota penting. Menyedihkan...
Aku tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Aku janji