
--- Sebelum hari itu, mimpi Verdea ---
...
"Kamu masuk lagi kemari" Suara itu menyapanya
Dia tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa pemilik suara yang sudah dia kenali dengan sangat baik itu
"Marcellus"
Verdea kemudian berbalik untuk menatap Marcellus, mendapati wajah senyuman yang terang darinya. Tetapi ketidakhadiran dari Canopus dan Spica kali ini membuatnya merasa sedikit tidak tenang
"Kamu bertanya-tanya kenapa kedua orang itu tidak hadir kali ini?" Marcellus pun bertanya, seakan tahu persis isi pikiran Verdea
Dan Verdea hanya mengangguk. Tetapi dia segera mengalihkan hal itu dengan berkata, "Sebaiknya kita bicara berdua saja. Baik 2 orang itu hadir ataupun tidak, aku tidak akan mempermasalahkannya"
Marcellus setuju dalam diam terhadap tawaran Verdea, mempersilakannya untuk mendekat selagi mereka menikmati pemandangan sinar matahari yang masih tetap muncul setengahnya saja di cakrawala dalam mimpi itu
"Ada sesuatu yang menyulitkanmu kali ini?" Marcellus membuka pertanyaan, ketika Verdea baru saja duduk di dekatnya
"Lebih kearah menyulitkanku secara keseluruhan..." Verdea menjawabnya, setengah menghela napas. "Sesekali bicara kepada seseorang selain Vainzel yang keras kepala itu bisa membantu" Dia kemudian dengan ketus menambahkan
"Temanmu melakukan sesuatu yang buruk?"
"Tidak kepadaku. Kepada dirinya sendiri" Verdea memasang wajah lemas. "Sulit sekali mengajaknya bicara ketika dia bertingkah tidak seperti umurnya"
"Terdengar seperti orang yang berpendirian tinggi"
"Terlalu, tinggi"
Marcellus kemudian tertawa pelan sembari menggelengkan kepalanya
"Ah. Dan aku belum pernah bilang kalau dia tidak mempercayaimu sedikitpun" Verdea pun mengutarakan
"Aku tidak heran" Marcellus yang kali ini harus membalas. "Semua ras Elf tidak akan menyukai namaku, mengingat sejarah yang ada dan mereka ingat"
"Sangat disayangkan. Walaupun kamu memang melakukan hal buruk di masa lalu, aku yakin kamu sudah berubah sekarang"
"Sayangnya bayaran dari perubahan itu adalah kakakku dan kedamaian dunia ini"
Marcellus yang menyeret nama kakaknya di dalam pembicaraan itu segera membuat Verdea hening. Mengungkit masa lalu yang menyakitkan bukanlah topik favoritnya—tidak satu kali pun
"Itu sebabnya para bintang harus ada, Regulus. Dan mereka harus ada, sepanjang manusia masih membutuhkan bimbingan"
Roh itu perlahan menatap Verdea yang terlihat tertegun. "Tapi jujur. Kita semua ada, hanya untuk menaikkan sang bintang fajar. Termasuk aku sendiri..." Dia pun mengutarakan
"Sirius..." Verdea kemudian bergumam. "Haruskah orang itu menanggung beban dari semua ini? Sebagai sang cahaya terakhir?" Pertanyaan itu keluar setelahnya
Dia sudah memikirkan hal ini sejak awal. Verdea tahu, kalau menjadi seorang bintang adalah sesuatu hal yang tidak sepele, ataupun bisa dikatakan sulit semata. Nasib seluruh dunia ada di tangan mereka
Jika mereka gagal, gagal sudah. Tidak ada lagi kesempatan kedua untuk menyelamatkan dunia ini
Tapi diantara kesepuluh sosok yang akan muncul sebagai para bintang penerang jalan dunia, Sirius adalah pembawa tanggung jawab yang paling besar. Cahaya fajar yang bertugas untuk menandakan datangnya pagi hari, sebelum dia pergi, menyatu dalam cahaya matahari
Dan Verdea sama sekali belum mengetahui sedikitpun sosok dari seorang Sirius. Setidaknya, dia ingin tahu kenapa dia harus bertarung, untuk apa dia harus membantu sang bintang fajar naik. Tapi dia tidak tahu, dan dia mulai sedikit bimbang mengenai konsep para bintang ini
Diantara semua bintang yang ada, hanya Sirius saja yang tidak diketahui identitasnya. Bahkan para bintang menolak untuk memberitahu apapun kepadanya, karena mereka masih berada di dalam wujud roh
"Apakah bintang yang lain juga akan berada dalam posisiku sekarang ini...?" Verdea pun bertanya dengan nada lelah
"Percayalah kepadaku, teman" Marcellus menjawabnya. "Jika waktu para bintang selanjutnya tiba, bahkan kamu akan menolak untuk memberitahukan jawaban mengenai sosok seorang Sirius"
"Mengherankan. Kamu bahkan percaya diri aku akan seperti itu"
"Aku sangat yakin kamu akan begitu"
Verdea hanya mendengus sebelum menanam dagu diatas kedua lututnya, selagi terus menatap kecut kearah Marcellus
"Gambaran yang kamu berikan mengenai dirinya hanyalah, dia memiliki cahaya berwarna emas bukan?" Dia melontarkan pertanyaan lagi—dimana Marcellus menjawab dengan menganggukkan kepala
"Setelah aku menggunakan sisa energi kehidupanku untuk memanggil kalian, dia adalah orang pertama yang mengulurkan tangan kearahku" Balasan itu pun diberikan
"Ketika aku hanya menangis dengan keras, tangan emas itu terulur tanpa keraguan. Dan ketika aku mengangkat kepala, aku melihat sebuah senyuman yang sangat hangat—aku sempat berpikir dia adalah seorang malaikat yang ada dalam mitos. Tapi nyatanya, dia hanyalah sebuah jiwa yang ditakdirkan untuk dilahirkan demi mengirim cahaya kepada umat manusia di seluruh penjuru Vitario
Aku memanggil jutaan jiwa disaat itu. Jutaan, mungkin miliaran. Tetapi diantara lautan roh itu, hanya satu yang menjawabku, dimana 8 jiwa kemudian ikut merespon setelah 1 itu mengundang mereka secara pribadi
Dia hanyalah 1 orang, tetapi apa yang bisa dia lakukan sangatlah tidak terbatas. Dia selalu berada diluar ekspektasi kita, dan tidak ada yang bisa melihat gerakan yang akan dia buat scara harfiah, ataupun kiasan belaka
Sirius senang bercanda, tapi tidak akan ragu untuk bersikap serius ketika diperlukan. Dia benci pembohong dan sangat simpatik juga empatik, terlihat dari perlakuan pertamanya kepadaku. Dia bukanlah seseorang yang sangat baik—tidak. Dia adalah orang yang melakukan apa yang diperlukan, selagi masih terikat dengan nilai moralnya, dan janjinya kepadaku
__ADS_1
Jika aku bilang, mungkin ketika dia terlahir ke dunia nanti, dia akan menjadi seorang raja. Jika memang begitu, maka dia akan menjadi raja yang sangat baik. Sayang aku tidak bisa menyaksikan kejayaannya sampai segel itu sampai di tangannya"
Mendengar gambaran Marcellus itu, Verdea bahkan ragu kalau dia sendiri bisa melihat masa Sirius berlangsung
Hanya melalui segel itu. Segel di tangan kanannya itu
Ketika dia sudah tiada nanti, bintang selanjutnya akan mewarisi segel ini tanpa dia perlu diperlukan. Segel ini akan mengetahui pemilik mereka sendiri dan akan menyesuaikan diri. Setelah itu, melalui segel itu juga, Verdea akan bisa berkomunikasi dengan penerusnya nanti, sama seperti Marcellus kepada dirinya sekarang ini
"Aku penasaran seperti apa perjalanan Aldebaran nanti..." Dia berujar dengan sebuah senyuman kecil, menatapi segel di tangan kanannya itu
Bintang selanjutnya yang akan naik adalah Aldebaran. Bintang yang akan memiliki cahaya yang lebih besar dari yang dimiliki seorang Regulus
"Tapi masih ada jalan yang harus aku buat untuknya—untuk mereka semua" Dia kemudian meneruskan, selagi mengepalkan tangannya dengan erat
Wajahnya mulai serius ketika dia memikirkan hal itu. Mengingat betapa panjangnya perjalanan mereka itu—dan masih ada lagi hingga rasanya tidak akan berakhir
...
"Marcellus..."
"Ya?"
Dia nyaris lupa kenapa dia kemari. Dia bukan hanya datang kemari untuk mencurahkan isi hatinya semata
"Aku bisa merasakan kalau akhir perjalanan kami sudah sangat dekat. Mungkin dalam hitungan bulan" Verdea kemudian mengutarakan
Jadi, dia harus menanyakan satu pendapat yang terasa sangat penting
"Menurutmu, bagaimana aku akan berhasil dalam melakukan tugas ini?"
Pertanyaan yang sangat sepele. Tapi jawaban darinya berarti sangat banyak bagi Verdea sekarang ini
Karena di dalam dirinya juga, ada rasa takut. Takut dia harus mengakhiri semua ini dengan sebuah kekecewaan atau hati yang sangat berat. Jika begitu, perjuangannya selama ini hanya akan terasa hambar
Marcellus harus menjawab. Memberikannya sebuah kepastian yang akan dia pegang teguh dengan kepercayaan yang kuat
...
...
...
"... Namamu adalah Regulus"
"Raja kecil, adalah arti dari namamu itu. Nama dari seorang pemimpin yang lahir secara alami, dan hanya memerlukan sedikit polesan untuk menjadikannya raja yang baik"
Verdea mulai memperhatikan, tertarik dengan jawaban yang akan terdengar panjang itu
"Dengan meletakkan kepercayaanmu kepada subjekmu, mereka akan membalasnya dengan memberi kepercayaan mereka kepadamu balik. Kamu akan berhasil dengan penuh kebanggaan, sebagai seorang pemimpin yang baik. Berhasil diantara sorakan pasukanmu yang sangat kamu banggakan"
Marcellus berhenti sejenak, sebelum dia melanjutkannya dengan satu fakta yang tidak mungkin bisa dihindari
"Tetapi, kepercayaanmu itu akan memberi tanggungjawab yang besar kepada orang-orangmu. Tanggungjawab yang membuat mereka merasa, kalau mereka harus melakukan apapun untuk memenuhi ekspektasi dan membalas kebaikanmu. Maka dengan itu...
Sebuah pengorbanan, mungkin tidak akan bisa dihindari. Pengorbanan yang akan kamu sangat ingat, tapi tidak sesali. Berkabung atasnya, namun juga merasa bangga..."
...
Itulah jawabannya...
Pengorbanan. Pengorbanan tidak akan bisa dihindari di dalam sebuah peperangan
Terutama ketika hal itu mencakup menyelamatkan dunia dan umat manusia dari cengkeraman maut dan kebinasaan
Pertanyaannya adalah, seberapa banyak...? Berapa orang yang akan melakukan pengorbanan demi Verdea, hanya untuk memastikan keberhasilan mereka semua...?
Tapi Verdea tidak mengutarakan pertanyaan itu. Dia tahu, kalau bahkan Marcellus tidak akan bisa memberikan sebuah jawaban pasti
"Rupanya, kemalangan tetap tidak bisa dihindari ya...?" Dia dengan lemas kemudian berkata
Takdir memang sangat kejam kepada beberapa orang, terutama bagi mereka yang hidup dan ditakdirkan untuk bertarung di dalam masa yang kejam seperti sekarang
Dan pada akhirnya, tidak semua orang akan hidup untuk melihat cahaya di ujung pertarungan yang kelam itu...
...
'Pengorbanan yang akan kamu sangat ingat, namun tidak sesali. Berkabung atasnya, namun juga merasa bangga'
Kalimat itu sendiri... Bisa membuat Verdea sedikit tenang
__ADS_1
Itu mengartikan, kalau semua hal yang dia hadapi dalam perjalanannya selama ini, tidak satupun akan berakhir sia-sia. Semuanya, akan berakhir dengan hasil yang sangat matang dan nikmat
Pahit, tetapi nikmat. Sama seperti sebuah anggur yang diolah dengan baik untuk diminum
"Aku hanya perlu mempersiapkan diri menghadapi sebuah perpisahan. Atau mungkin lebih..."
Dia merasa sedih, tetapi sebuah senyum dia tunjukkan, selagi Marcellus terdiam melihat ekspresinya
Tapi hal itu tidak bisa membuatnya menahan diri untuk ikut tersenyum
"Perpisahan..."
Ada sebuah penyesalan di hati Marcellus mengingat hal itu...
Dia hanya menyesal, perpisahan antara dirinya dan kakaknya tidak bisa berjalan dengan lebih baik. Perpisahan mereka berlangsung dengan sangat kejam dan tidak pantas dilalui siapapun
Dia tidak bisa lagi mengulangi perpisahan itu dan membuatnya menjadi benar. Tetapi setidaknya, dia bisa memperbaiki hal itu dengan terus berjalan ke depan, memastikan kalau tugas yang awalnya diberikan kepada mereka itu bisa mencapai ujung yang juga memuaskan
Dibandingkan Verdea, misinya lebih panjang. Sangat panjang, bahkan jika misi 9 bintang lainnya digabungkan sekalipun
Tapi dia merasa beruntung, ada 9 orang yang dengan senang hati membantunya dari hati mereka yang terdalam. 9 orang yang rela membimbing manusia, demi meluruskan kesalahan yang telah dibuat dirinya dan kakaknya karena telah mengecewakan perintah leluhur mereka
"Itu sebabnya, Verdea..."
Suara Marcellus membuat Verdea terkejut
Nama miliknya yang tidak biasanya disebut oleh Marcellus...
Sebuah senyum lebar, dengan tatapan yang halus mengarah kepada matahari di cakrawala itu. Dia tidak sedikitpun menoleh, dan cahaya yang menerpa wajahnya membuat dia terlihat sangat tenang selagi Verdea menatapnya
"Kamu... Sudah lebih dari siap"
......................
--- Kembali ke masa kini ---
...
...
...
Sudah siap...
"Itu, yang kamu bilang kepadaku..."
...
Namanya yang disebut Marcellus di dalam mimpi itu...
Dia merasa, kalau roh itu memanggil nama aslinya, karena dia sudah menganggap Verdea telah siap menanggung tugas ini
Seakan, Regulus yang merupakan seorang roh sebelumnya itu, telah sepenuhnya siap untuk bertugas di dunia ini—sekarang ini
...
...
...
Ya
Verdea sudah mendapatkan jawaban yang diperlukan. Semuanya
Sebagai seorang Regulus, sebagai seorang bintang...
Sebagai seseorang yang menyandang nama Verdea itu sendiri...
Dia siap untuk menghadapi semua ini...
Dia hanya harus percaya
Itulah alasan kenapa para bintang ada. Mereka...
Mereka harus percaya, kalau semua orang bisa mereka lindungi dengan cara ini. Mereka harus percaya, kalau mereka bisa berhasil melakukan seluruh misi ini...
Sebagai sebuah penunjuk arah. Sebagai sebuah lentera di langit malam...
Demi sebuah pagi hari yang lebih cerah dan menggembirakan...
__ADS_1
Dan setelah dia melihat kembali kearahku, Veskal, juga semua teman-teman kami...
Apa dia perlu sesuatu lagi untuk meyakinkan diri kalau dia bisa...?