Book Of Flowers

Book Of Flowers
Negosiasi Darius


__ADS_3

--- Malam harinya ---


...


...


Fyon dan para Elf ternyata memakan waktu yang cukup lama untuk meneliti sigil iblis yang dicopot oleh Leshy


Verdea bahkan terlihat mengantuk hingga Remina harus memastikan dia tidak akan terjatuh ketika tertidur. Leshy juga sudah terlihat terlalu asyik berbicara dengan Veskal dan Natasha selagi menunggu konfirmasi dariku


Hmph...


Sepertinya Sigil itu memang menyulitkan hah...?


Aku ingin para Dark Elf untuk menelitinya terlebih dahulu. Aku setidaknya ingin tahu struktur macam apa yang dimiliki oleh kekuatan seorang setengah iblis, dan mendapatkan informasi lebih banyak seandainya ini merupakan titik lemah mereka


Tetapi mereka sudah memakan waktu cukup lama, semenjak matahari mulai terbenam hingga sekarang ketika malam sudah larut


Walaupun begitu, aku tetap saja harus menghargai usaha mere-


"Vainzel"


Eh-? Fyon-?


"Sudah selesai??" Aku bertanya dengan antusias


Aku menoleh kearah teman-temanku, tetapi sayangnya Verdea sudah tertidur hingga Remina kesulitan menahan badannya. Veskal dan Natasha bahkan terpaku kearah anak itu terlebih dahulu sebelum fokus kearahku


"Uh... Sebaiknya kamu bawa saja Verdea ke dalam dan tidurkan di dalam kamarnya" Aku meminta kepada Veskal


"Heeh?? Lalu bagaimana dengan-"


"Oh maafkan aku tuan romantis. Tetapi kamu bisa mengurus pacarmu nanti setelah kamu membantu Remina agar tidak kesulitan"


"Aku sungguh minta tolong...!!" Remina menyela


Anak yang satu ini lagi seharusnya sudah pulang bersama ayahnya, tapi tetap diam bersama kami karena penasaran


Veskal pun mengeluh karena tidak ingin menjadi target sarkasme milikku dan mulai menuruti apa yang kumau setelah meminta izin kepada Natasha


Remina pun ikut di belakangnya yang membopong Verdea setelah pamit dariku, dan ketiganya pun masuk ke dalam Miralius selagi aku mulai fokus dengan Fyon


"Jadi?" Aku bertanya


"Formula dari sihir itu bisa kami bongkar dengan baik. Semuanya juga berkat bantuan dari sihir pelindung transparan milik penjaga Leshy" Fyon membalas


Dia pun menjentikkan jarinya agar bawahannya yang membawa sigil itu untuk mendekat


"Sihir ini lebih rumit dari yang kita perkirakan. Justru, aku yakin ini bukanlah sebuah sihir, tetapi kerjanya sama seperti sebuah gumpalan Mana yang dilepas paksa dari tubuh seseorang" Fyon menjelaskan kemudian


Gumpalan Mana...?


Wajar saja dia kesulitan sejak tadi. Rupa-rupanya dia meneliti sebuah gumpalan Mana


Meneliti gumpalan Mana sama saja artinya dengan mencari tahu setiap detail dari inti seseorang yang memilikinya


Tapi dia bilang kalau hanya kerjanya saja yang sama


...


Oh-!


"Konsepnya mungkin sama dengan segel milik Verdea..." Aku bergumam, dikonfirmasi oleh anggukan Fyon


"Tapi yang berbahaya dari gumpalan Mana ini adalah karakteristik iblis yang ada di dalamnya. Dia mengambil tanpa memberi, jadi kami tidak boleh menggunakan Mana kami terlalu banyak dalam menelitinya"


"Sungguh terdengar seperti iblis..."


"Itu karena datangnya benda ini juga dari seorang setengah iblis bukan? Mereka tidak berbeda jauh"


Lalu dia bilang kalau Sigil itu menerima tanpa memberi


Menerima tanpa memberi. Datangnya dari seorang setengah iblis. Mematikan


...


"Itu menjelaskan kenapa Yael menjadi sangat lemah setelah menggunakan sigil biadab ini"


Menerima tanpa memberi. Artinya sigil ini memakan kekuatan milik Yael. Dan setelah menerimanya, sihir mematikan ini pun bisa dilempar


Eh-? Tidak


Bagaimana bisa aku tahu kalau sigil itu dilempar? Ada satu cara lagi yang mendapatkan kemungkinan terbesar ketika baru terlintas di kepalaku


Sigil itu meledak seperti sebuah kotak yang bermuatan terlalu banyak dan dipaksakan. Itu sebabnya Yael tidak bisa mengatur kekuatannya untuk dia bisa lempar dengan aman


Sigil itu meledak, menguras Mana-nya, sekaligus menyakiti dirinya sendiri


...


...


...


"Harus ada yang kuhubungi segera. Kalian boleh beristirahat" Aku memberi perintah


Fyon pun terlihat bingung dengan perintahku, begitu juga Dark Elf yang lainnya. Tetapi salah satu dari mereka hanya mengangkat bahu, dan semuanya pun setuju untuk pamit masuk ke Miralius.


Jadi yang tersisa disana hanyalah Natasha, Leshy, dan aku


Cukup aman menurutku. Natasha juga sudah mengetahui betul isi pesan dari pengirim yang akan kami hubungi ini


Ya. Aku akan menghubungi Darius dengan benih sihir ini sekarang juga


"Tes, tes. Apa kamu bisa mendengarkan?"


...


...


"Tes. Tes"


"Aku menunggu lama, Oberon"


Ah-!


Suaranya membuatku kaget hingga aku spontan tersentak


Yah, setidaknya dia menjawab


"Darius. Itu kamu bukan?" Aku bertanya


"Tentu saja ini aku. Dan tenang saja. Collin bersamaku sekarang dengan seorang penyihir yang bisa kami percaya. Kami bisa bicara dengan leluasa bersamamu karena ruangan ini sudah ditutup oleh sihir pelindung" Darius menjawab, diikuti oleh sebuah suara dari Collin yang terdengar ingin berteriak namun ditahan Darius


"Baguslah kalau begitu. Tapi aku tidak sangka masih ada orang yang berani melawan Rosalia disana"


"Uang adalah segalanya Oberon. Aku hanya melempar sedikit kearahnya, dan gelombang kedua akan datang setelah pembicaraan ini"


Wajar saja...


"Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan, Darius?"


Aku tahu dia akan memberiku informasi sebagai bukti janjinya, tapi aku hanya ingin tahu apakah ada lebihnya atau tidak


"Hanya beberapa. Pola gerakan Rosalia dan Yael, seberapa banyak yang mereka ketahui, dan lain-lain lagi"


"Itu mungkin bisa berguna. Tapi itu hanya mengartikan kalau kamu akan menjadi pengganti Artorius semata dalam membantuku"


"Aku masih punya banyak hal yang bisa kuserahkan kepadamu Oberon. Tapi mari kita mulai dari dasarnya dulu tanpa tergesa-gesa"


Orang ini lebih cerdas dari yang kuduga. Aku pikir dia sama bodohnya dengan kakaknya Damien...


"Silahkan mulai" Aku berkata


"Baiklah" Darius dengan senang hati menerima


...


Tapi tidak seperti yang aku inginkan, dia justru diam


Aku tahu dia masih disana, tapi dia hanya terdiam, dengan mulut terbuka


Napasnya masih teratur, jadi tidak mungkin ada sesuatu yang membahayakan dirinya disaat ini disana


Tapi disaat aku hampir bertanya mengenai keadaannya, aku mendengar Darius menarik napasnya panjang seakan siap untuk berbicara


"... Rosalia memiliki pasukan yang lebih besar dari yang kamu kira, Oberon"


...


...


"Pasukan seperti apa?"


"Monster, sebuah kota kaum Dwarf, dan juga sebuah negara"


...


Monster. Aku tidak terlalu terkejut mendengar hal itu


Hanya saja aku tidak bisa menebak kota Dwarf yang mana yang mau bekerja sama dengan Rosalia...


Dan aku punya satu tebakan tentang negara mana yang dengan bodohnya mau berkomplot dengan orang itu


"Crux..."


"Benar sekali. Jadi aku akan memperingatkanmu untuk tidak terlalu banyak memberi informasi kepada negara ibuku itu"


"Lalu segera beritahukan aku tentang Dwarf yang berkomplot dengan mereka"


"Lapius"


Oh ya ampun kenapa aku tidak terkejut!?


Lapius yang berada di area Crux! Kebetulan yang sangat tidak menyenangkan!


"Itu sebabnya mereka memiliki cukup banyak benda sihir untuk digunakan. Wajar saja ego milik Eloy menjadi sangat tinggi"


Eloy tidak bohong ketika berkata kalau dia itu cukup kuat untuk menghabisiku. Dia punya bantuan dari beberapa kaum Dwarf, sebuah kaum paling handal dalam membuat sesuatu alat


"Maksudmu... Kota Dwarf itu..." Natasha ikut berkomentar


"Siapa itu, Oberon?" Darius bertanya, tidak sengaja mendengar Natasha yang berbicara denganku


"Seorang teman baru. Kamu bisa mencari tahu tentangnya nanti"


Karena kamu masih punya banyak hal yang perlu kamu jelaskan


Dia tahu apa yang aku pikirkan, ditandai oleh helaan napas menyerah darinya


"Aku tidak perlu membuat khawatir tentang monster itu, jadi kita langsung lompat saja ke topik yang lain"

__ADS_1


Dia terdengar seperti sedang bersiap untuk mengatakan sesuatu yang serius...


"Aku ingin bergabung denganmu untuk menjadikan Verdea seorang raja" Dia pun berujar, setelah beberapa saat aku menunggu


Hah?


Menjadikan Verdea raja...?


"Kenapa? Apa untungnya menjadikan Verdea seorang raja untukmu?"


"Kebebasan, Oberon"


Itu jawaban yang subjektif dan hanya membuat pertanyaan lebih banyak...


Jika aku pikir kembali...


Darius memang tidak pernah memiliki sebuah niat buruk kepada Damien ataupun saudaranya. Walaupun mulutnya sangat kasar, dia tidak pernah menjadi ancaman besar bagi seseorang


Seakan dia itu sengaja menahan diri. Bahkan dari apa yang aku ketahui, Darius menjadi lebih 'rasional' akhir-akhir ini. Tidak seperti Damien ataupun Artorius yang merasa tertekan dengan ancaman Rosalia


Dia juga anak yang berbakat, harus kuakui itu. Seandainya dia punya ibu atau bimbingan yang lebih baik, dia bahkan mungkin bisa melampaui kakaknya jika ingin ikut bermain dalam papan maut ini


Dan baru sekarang ini, dia berkata kalau dia ingin kebebasan? Semacam kebebasan untuk berkehendak, begitu?


Aneh. Darius yang aku dan Verdea ketahui adalah orang yang sangat tidak teratur karena pengaruh ibunya, Sofia


...


"Tidak mungkin hanya itu yang kamu inginkan bukan?"


Sikap waspadaku tidak kuperlukan, tapi aku harus tetap menegakkannya


Namun, hal itu segera runtuh seketika disaat Darius menjelaskan satu hal lagi yang dia inginkan


"... Aku ingin kamu membunuh seluruh anggota keluarga Hortensia, kecuali Collin dan Verdea"


!!!


Satu hal pun terlintas di kepalaku. Mengenai keinginan pertamanya yang dia utarakan kepadaku


Kebebasan yang dia inginkan itu...


...


"Kamu ingin aku membunuhmu juga...?"


...


"Bagusnya begitu..."


Aku...


Aku tidak tahu harus bicara apa...


"Sungguh. Apa tujuanmu sebenarnya, Darius Hortensia?"


"Mati, Oberon. Tujuan semua orang dalam hidup hanyalah itu. Dan anggap aku hanya ingin mempercepatnya selagi menyeret seluruh keluargaku juga ke dalam lubang neraka"


"Itu bukan perilaku orang yang ingin mati"


"Benar juga. Jadi anggap kalau aku ingin menyeret keluargaku ke lubang neraka saja"


Keras kepala orang ini mengingatkanku kepada adiknya...


...


Dia sungguh hanya ingin itu...?


Sebaiknya aku catat saja dulu baik-baik. Jika dia menginginkan sesuatu yang lebih dari itu, maka dia juga harus membayar lebih


Hanya saja...


Membunuh seluruh keluarga Hortensia kecuali kedua adiknya hah...?


...


"Aku akan tanya pendapat Verdea setelah aku memberitahukan semua hal ini kepadanya. Dan selama itu, sebaiknya kamu tetap hidup, Darius"


"Dengan senang hati"


Hah. Sekarang waktunya untukku istirahat-


"Tapi, kamu melupakan sesuatu, Oberon..."


Heh?


Apa yang dia maksud-?


Tapi sebelum sempat aku selesai bicara, aku mendengar ada seseorang yang terdorong jatuh ke tanah tidak jauh dari diriku


Dan ketika aku menoleh, aku mendapati Collin yang melihat ke bawah, tepat kearah seseorang yang tidak kukenali


Hanya lambang di seragam orang itu saja yang kukenali. Lambang menggambarkan sulur yang membentuk sebuah gambar hati. Lambang dari penyihir kerajaan milik Hortensia yang secara resmi sudah diakui oleh sang master menara sihir itu sendiri


Dan orang itu terlihat seakan dia diseret oleh Collin kemari secara paksa. Bahkan dia saja terlihat panik seakan ini merupakan sesuatu yang tidak termasuk dalam rencananya


...


Jangan bilang penyihir ini adalah orang yang membantu mereka?


Kalau begitu, kenapa mereka menyeret orang ini ke hadapanku...?


"Kamu lupa membuang sampah, Oberon"


Sam... pah...?


...


Hanya satu orang yang bisa memastikan kenapa Darius berkata begitu


Jadi, aku pun menoleh kepada Leshy untuk mengkonfirmasi isi pikiran penyihir yang tidak kukenali itu


"Aku mencium aroma ketakutan dan niat menyerang ya" Leshy berkata, tanpa perlu waktu lama setelah menelaah orang itu


"Kami membayarnya untuk bekerjasama. Kakak bilang kalau orang seperti itu sama sekali tidak bisa dipercaya" Collin pun menyela


...


Aku tahu kalau dia benar...


Tapi pemikiran kalau kami harus menghabisi orang ini sekarang juga, ide yang tertempel di kepala Darius dan Collin, membuatku sedikit takut dengan perilaku mereka


Maksudku, Collin itu hanya anak kecil yang tidak jauh usianya dari Verdea. Dan mendengar kalau dia memiliki pikiran radikal itu tanpa sebuah rasa penyesalan membuatku sedikit...


...


Dan orang itu...


Ya, Leshy benar. Penyihir itu berniat menyerang seseorang untuk kabur, terlihat sekali dari gerakan tubuhnya yang mencurigakan dan ketakutan


Badan seorang perapal sihir ketika berniat menyerang tiba-tiba memang terlihat seperti itu. Tangan yang tidak sepenuhnya tertempel di tanah ketika jatuh, matanya yang panik walaupun fokus tanpa berkedip untuk mengumpulkan Mana, dan napasnya yang dia coba atur untuk mengendalikan aliran Mana miliknya dengan lebih baik


Dia berniat menyerang Collin aku sudah tahu itu. Tapi Collin juga sudah terlihat siap untuk menghindar menggunakan alat teleportasi yang kubuat untuknya


Benda yang dia jadikan kalung itu pastinya dia gunakan untuk segera sampai kemari juga, membawa orang itu secara paksa. Jadi, dia pasti sangat kelelahan sekarang ini, hingga aku yakin dia pasti akan segera pingsan disaat dia menggunakan benda itu satu kali lagi


"Oberon. Buat keputusanmu" Darius berkata melalui benih itu


Ya. Sebaiknya aku tidak memakan waktu lebih lama lagi


Jadi...


"Fireba-"


"Tidak secepat itu"


Rapalan sihirnya langsung dibatalkan ketika dia merasakan sebuah sentuhan tangan yang sangat kuat di kepalanya. Orang itu pun perlahan menoleh keatas, tepat menatap mataku yang bersinar dibawah cahaya malam ini, melihat ke bawah kearahnya seakan sedang meremehkan


"B- Bagaimana kamu bisa--"


"Berpindah dengan cepat? Menurutmu bagaimana?" Aku memotongnya


Collin pun bisa bernapas dengan lega melihat posisiku yang sudah mengamankan penyihir itu


Sekarang, dia hanya perlu melihat hasil yang dia dan kakaknya inginkan dariku. Sebuah penilaian betapa seriusnya aku menanggapi semua situasi ini


Baiklah. Sekarang apa yang harus kulakukan hm...?


Membunuh orang ini tidak akan membantu sama sekali. Membiarkannya lepas begitu saja juga akan sangat mengacaukan kami, walaupun dengan sebuah peringatan ataupun ancaman


Jadi bagaimana...?


...


"Kita akan membuat perjanjian"


Kedua orang itu tersentak mendengar perkataanku, dan reaksi yang mereka berikan setelahnya menjadi sangat berbeda


"Oberon. Kamu yakin-"


Aku hanya diam tanpa menoleh kearah Collin sedikitpun, dan hal itu mampu membuatnya terdiam sejenak. Dia paham kalau aku sedang berkata, 'Serahkan ini kepadaku', kepadanya


Dan penyihir ini terlihat senang. Dia sangat senang seakan dia bisa keluar dengan jalan mudah dari situasi ini


Malangnya orang ini. Tapi aku tidak punya simpati kepada pengkhianat


"Berikan aku nama lengkapmu, pemuda" Aku berkata


"Guilan Trounce, yang mulia!" Dia segera menyerukan


Sekarang waktunya untuk menambahkan isi perjanjian ini


"Berjanjilah kepadaku kalau kamu tidak akan mengkhianati aku ataupun kedua pangeran yang sedang membutuhkan bantuanmu sekarang ini. Dan dengan begitu, kami tidak akan menyakitimu juga"


"Baik! Baik, yang mulia!"


Lalu untuk bagian terakhirnya


"Jika kamu berpikir sedikit saja untuk berkhianat, ataupun berbohong kepada mereka...


Maka pertama, lidahmu akan terpotong. Jika kamu mencoba menggunakan tulisan untuk berkhianat, maka jarimu akan patah. Dan jika kamu mencoba menggunakan isyarat untuk melakukannya, maka kakimu akan patah. Lalu setelah itu, jika kamu masih mencoba lagi, jantungmu yang akan menanggung akibatnya, hingga kamu akan mati"


Dia sempat tersentak mendengar syarat dariku itu. Tetapi...


Orang bodoh ini hanya menelan ludahnya sedikit, dan sama sekali tidak ragu untuk menerima perjanjian itu


"Baiklah. Aku berjanji"


...


...

__ADS_1


...


"Itu saja, Oberon...?" Darius bertanya, tidak percaya


Lalu aku pun menyerahkan benih itu hingga mendekat kearah si penyihir


"Berikan dia satu pertanyaan, 'Apakah kamu akan berkhianat atau tidak', Darius" Aku meminta kepada Darius


Dia mendengarkan hal itu dan terdengar terkejut. Tetapi dia pun hanya menghela napas sebelum mencoba melakukan apa yang kuminta


"Apa kamu akan berkhianat kepadaku ataupun Collin, Guilan Trounce" Darius pun bertanya


Penyihir itu terlihat sedikit gugup, namun dia tidak mencoba menyembunyikan senyumnya


Dan satu jawaban pun sudah menentukan nasibnya...


"Tentu tidak, pangeran Darius"


Tidak perlu sedetik


Tidak perlu sedetik sebelum dia merasakan ada sebuah darah yang menetes keluar dari mulutnya


Tidak perlu sedetik sebelum dia merasakan ada sesuatu yang kenyal namun keras di mulutnya, sehingga dia harus meludahkan benda itu keluar


Tetapi dia pun segera dikejutkan ketika melihat benda itu. Benda yang berasal dari tubuhnya sendiri, yang sekarang sudah lepas ujungnya


"A- A...!"


...


Bahkan, kalimatnya sudah mulai tidak jelas karena lidahnya yang terpotong


Sebuah jeritan penuh teror pun bisa terdengar nyaring di seluruh penjuru hutan, memberi ketakutan kepada semua orang yang tidak terbiasa melihat hal itu


Leshy hanya menanam dagunya kembali diatas kuburan Seren. Natasha terlihat sangat gelisah. Sementara, Collin terlihat ketakutan


Darius sendiri hanya bisa mendengar teriakan itu, hingga dia hanya bisa membayangkan apa yang terjadi disana dengan tubuh yang merinding


Jadi, dia pun bertanya kepadaku


"Apa yang terjadi, Oberon...?"


Aku pun melemparkan benih itu kepada Collin, yang secara refleks dia tangkap sebelum mengambil satu langkah mundur


"D- Dia- Lidahnya-! Terpotong-!" Collin segera bicara kepada kakaknya dengan nada bergetar


"Apa??"


Selagi kedua saudara itu berbicara mengenai situasi ini kepada satu sama lain, aku pun mengambil potongan lidah yang keluar dari mulut si penyihir dari tangannya, selagi dia masih ketakutan melihatku hingga semakin menempel ke tanah


Lalu aku pun menarik tangan orang itu yang mencoba meronta untuk kabur dan membuka paksa mulutnya


Tapi karena dia tidak mau berada di dekatku lagi sehingga dia mulai memukulku, aku pun membuat satu pernyataan kepadanya


"Aku akan menempel lidahmu kembali kali ini. Dan aku akan membiarkan pelanggaranmu yang ini saja"


Dia kemudian tersentak dan segera diam dengan wajah yang sangat buruk rupa karena sudah meringis ketakutan


Lalu dia pun mengangguk dengan gerakan yang patah karena tubuhnya bergetar disaat itu


"Jadi buka mulutmu dan coba julurkan lidahmu yang tidak terpotong sedikit walaupun rasanya akan sakit"


Dia mengangguk sekali lagi, dan momen selanjutnya pun terasa sangat menyakitkan


Dia mencoba melakukan apa yang kuminta, hingga dia sesekali merintih kesakitan selagi menutup penuh matanya. Tetapi dia tahu kalau aku akan menyembuhkan lidahnya kali ini, hingga dia tidak merasakan ada masalah


Aku pun melakukan hal yang persis seperti yang kujanjikan kepadanya, menyatukan kembali kedua ujung lidahnya menggunakan sihir penyembuh. Di dalam proses itu juga, dia masih merintih hingga mulutnya secara refleks ingin menutup, sehingga giginya menempel cukup dalam ke tanganku


Hanya saja, tidak perlu waktu lama untukku bisa menyembuhkan lidahnya. Aku pun segera bangun, melepas kedua sarung tanganku, kemudian berkata


"Bukalah matamu dan bicara. Aku sudah selesai"


Penyihir itu membuka matanya dengan terkejut, kemudian segera meraba lidahnya untuk mengecek apakah masih terasa sakit atau tidak


Lalu, dia pun mencoba bicara kembali. Kalimat pertama yang menjadi pilihannya juga cukup membuatku puas dengan hasil perjanjian itu


"M- Maafkan aku---! Kali ini aku bersumpah kalau aku tidak akan berkhianat!! Jadi jangan sakiti aku lagi---!!" Dia berkata, bersujud ke tanah sedang meminta ampun


Collin masih terlihat gelisah dengan situasi itu, walaupun kali ini dia mencoba untuk mendekat kearahku yang sedang melemparkan sarung tangan kotor itu kepada si penyihir untuk membuangnya


Aku pun menoleh kepada Collin yang sudah berada tepat di sampingku dengan wajah bingung


"... Dia sungguh jujur bukan...?" Collin bertanya, ragu


"Aku paham kamu ragu. Tapi, janji Elf itu akan terus berlaku selama orang yang berjanji masih hidup


Dia tidak akan bisa melepaskannya. Hanya bisa mengganti isinya saja, dan itu juga membutuhkan persetujuan dariku dan kalian berdua" Aku menjelaskan


"Sama seperti perjanjian kepada iblis hm?" Darius menyela dari benih yang dipegang Collin


"Bedanya adalah kami tidak mengambil apapun dari janji itu. Kami hanya ingin mengikat mereka dan diri kami sendiri agar tidak keterlaluan melewati keinginan kami"


Secara intinya juga, kami memang tidak jauh berbeda dari kaum iblis. Hanya saja, kami memiliki sifat dan wujud yang berlawanan


Terbuat dari air dan terbuat dari api. Janji yang mengikat dan janji yang mengambil. Kemurnian dari tindakan masing-masing kaum


Sungguh, kami itu tidak jauh berbeda. Tuhan memang menciptakan Elf sebagai duplikat berlawanan dari iblis. Kami adalah makhluk paling kokoh dalam menyelesaikan tugas, walaupun tidak memiliki kebebasan seperti manusia


"Untuk sekarang kalian tidak perlu khawatir kepada orang ini. Dia akan membantu kalian mulai sekarang, dan dia tidak akan bisa lepas dari tanggungjawab itu"


Collin sekali lagi bernapas lega, walaupun kemudian dia menatapku dengan wajah yang masih waspada


Hmph... Dia sepertinya tidak akan menyukaiku mulai hari ini...


"Kalau begitu Collin akan pamit dari sana, Oberon" Darius pun berkata setelah Collin menyerahkan kembali benih itu kepadaku.


"Baiklah. Tapi dia harus meminum sebuah ramuan Mana terlebih dahulu"


Darius pun setuju dengan permintaanku, sebelum keheningan kembali selagi aku mencoba memanggil Zaphir menggunakan telepati


Ketiga orang yang menyaksikanku yang diam itu pun menatap satu sama lain, selagi Leshy tiba-tiba mulai mendengkur dan mengagetkan mereka semua


Mereka kemudian dikagetkan lagi oleh sosok bayangan yang tiba-tiba muncul di samping Natasha hingga dia terjatuh ke tanah. Tetapi sosok yang muncul tidak hanya satu


"Zaphir bilang kalau dia dipanggil" Veskal berkata


Dia pun melihat kalau Natasha terjatuh ke tanah, mulai tertawa canggung, kemudian membantu temannya itu untuk bangun


Selagi Zaphir dan Luna mendekat kearahku untuk memberi salam hormat


"Uh... Aku yakin aku hanya memanggil Zaphir..." Aku berkata


"Kami kebetulan sedang bersama, Oberon. Dan aku sudah membawa apa yang kamu minta" Zaphir membalas, menyerahkan ramuan Mana itu yang segera kuberikan kepada Collin untuk dia minum segera


Dia pun melakukan hal itu tanpa membuang waktu. Dan setelah botol ramuan itu kosong, dia menyerahkan benda itu kembali kepadaku, hingga kembali ke tangan Zaphir


"Terima kasih, Oberon. Aku sudah lebih baik sekarang"


"Tidak apa. Kamu juga sudah jauh-jauh berteleportasi kemari. Tentu saja aku tahu kalau kamu lelah"


Collin pun hanya tersenyum selagi mengusap kepalanya seperti anak kecil yang kesalahannya sudah ketahuan


Veskal pun menyadari kalau Collin ada disana


"Ah! Pangeran! Apa kabarmu?" Veskal menyerukan


Collin pun hanya menjawab, "Baik", sebelum pergi menghampiri si penyihir yang kehadirannya itu membuat ketiga temanku mengerutkan dahi


"Tapi maaf, aku harus segera kembali" Collin berkata lagi


"Ah-! Kalau begitu tidak masalah..." Veskal membalas


Collin pun tersenyum selagi melambaikan tangan kanannya kepada Veskal, dengan tangan kiri yang tertempel di bahu si penyihir


"Ah, dan satu hal lagi sebelum aku pergi" Dia berkata, sebelum menoleh kepadaku


"Kakak bilang, sebaiknya kalian undur diri dulu dari ekspedisi barat Goeitias ini. Kumpulkan kekuatan kalian dahulu, dan jangan bertindak gegabah" Dia menjelaskan lagi


...


"Aku paham" Aku membalas


Collin pun tersenyum sekali lagi, namun kali ini kearahku


Dan dalam sekejap mata, dia pun menghilang dan melesat ke langit dilapisi cahaya biru setelah mengatakan, "Teleport location"


...


"Collin sudah kembali. Terima kasih atas bantuanmu, Oberon" Darius berkata


Baiklah, dia sudah kembali dengan aman


Kita akhiri saja malam ini


"Kalau begitu urusan kita sekarang sudah selesai. Kita akan berbincang lagi lain waktu selagi sempat melalui benih yang kuselipkan di kantong Collin"


Darius pun terdengar setuju, sebelum terdengar terkejut. Namun aku segera menutup komunikasi melalui benih itu sebelum dia sempat bicara lagi


"... Jadi kamu berbincang dengan Darius selama ini hah...?" Veskal berkata


"Aku ingin melakukannya bersama Verdea, tapi kakaknya itu nekat merencanakan semua hal setelah mencuri benih komunikasi yang kuberikan kepada Artorius" Aku memberi alasan


"Tapi siapa penyihir tadi?" Zaphir bertanya, selagi kembali berdiri dan membantu anaknya juga


"Ah... Dia orang yang membantu kedua pangeran itu" Aku berkata


Aku salah fokus kepada Zaphir dan Luna barusan...


Mataku tidak menipu bukan? Zaphir? Membantu Luna berdiri seakan itu bukan hal kecil?


Heh?


Aku tidak bohong jika aku bilang aku senang, tapi-


...


Sudahlah. Malam ini terlalu panjang


"Sebaiknya kita kembali istirahat. Aku akan duduk saja diluar kali ini untuk membantu Leshy berjaga. Para Gnome juga pantas mendapatkan istirahat untuk sesekali" Aku berkata


"Kalau begitu biarkan kami ikut" Luna berkata, disahut oleh anggukan pelan Zaphir


"Baiklah.........."


Ternyata memang ada yang aneh terjadi kepada mereka berdua. Mereka membuatku sedikit takut karena bertingkah diluar kebiasaan mereka


Hah...


'Kamu punya banyak hal yang harus dijelaskan, Zaphir' aku berkata kepadanya melalui telepati


Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit tanda setuju, sebelum kami mulai mencari posisi yang nyaman untuk menjaga Gerbang Hutan selagi Leshy tertidur lelap

__ADS_1


__ADS_2