Book Of Flowers

Book Of Flowers
Ladang Bunga Abadi


__ADS_3

--- Sementara itu ---


*Btoom! Brak!!*


*Dor! Dor!*


"Sial! Kenapa mereka ada banyak sekali, vampir-vampir ini?!" Cyth mengeluh


"Kapten! Jika seperti ini terus, kita akan terpojok! Pasukan Dark Elf juga kebanyakkan sedang disembuhkan oleh Nyonya Ordelia!" Erin meneriakkan


Cyth mendecakkan lidahnya, selagi Zaphir mendarat di sampingnya dengan tampang gusar


"Bagaimana ini, Zaphir? Peluruku hampir habis, tetapi jumlah vampir ini terlihat tidak berkurang sama sekali"


Zaphir diam, dan sudah jelas kalau dia juga ingin mengakhiri semua ini secepat mungkin


Tetapi, banyak hal diluar rencana terjadi. Utamanya para Dark Elf yang sedang terluka itu


Tidak membahas kalau Luxor juga tidak mampu bertarung, dan Fyon sudah menggunakan ledakan Mana nya untuk menyelamatkan yang lain


Semuanya akan bergantung kepada semua orang yang tersisa. Dan jika mereka tidak sanggup, tamatlah kami semua


"Tch. Seandainya aku meminjam senjata suci milik Luna terlebih dahulu, kita tidak akan kesulitan sekarang" Zaphir ikut mengeluh


"Aku tidak yakin senjata itu akan membantu" Cyth memberi komentar


Luxor kali ini berlari mendekati mereka dengan napas terengah-engah


"Zaphir... Aku...!"


Zaphir berpaling kearahnya, dan langsung menangkap Luxor sebelum dia jatuh ke tanah


Napasnya semakin memberat, selagi dia mulai kehilangan kesadaran karena sudah bertarung terus-menerus


"... Kamu terlalu memaksakan diri. Kamu tahu betul kalau kamu tidak memiliki daya bertarung"


"Haha... Tetapi Vainzel percaya kepadaku untuk... Memimpin kalian saat ini...


Pemimpin macam apa yang mundur ke belakang... Selagi semua orangnya mengorbankan diri...?"


"... Kamu bicara seperti Vainzel. Tetapi, istirahatlah"


Zaphir perlahan membaringkan Luxor ke tanah. Dan disaat itu, seekor vampir nyaris menusuknya, tetapi dihadang oleh Cyth yang terlihat kewalahan menangani kekuatan lawannya


Zaphir pun berpaling kearah vampir yang berniat menyerangnya itu dengan niat membunuh yang luar biasa, bahkan membuat musuhnya bergetar ketika melihatnya


"Mati"


Di detik selanjutnya, tubuh vampir itu terbelah menjadi 6 bagian, menghancurkan jantungnya—dengan Zaphir yang berada di belakangnya memegang senjata suci miliknya


"Kamu. Beritahu aku sisa semua orang yang bisa bertarung" Zaphir bertanya kepada Erin


Erin dengan ragu menjawab, "22 orang, termasuk kita bertiga"


Zaphir mengangguk paham kemudian, memasang senjata sucinya dengan posisi yang benar


"Itu lebih dari cukup untuk bertahan selama beberapa menit"


Dia meneriakkan kepada semua orang untuk terus bertahan tanpa berpikir untuk menyerah sedikitpun


"JANGAN MUNDUR!! TERUSLAH MAJU DAN GAPAI CAHAYA DI DEPAN!!"


Sebuah seruan yang sangat menggelegar hingga semua orang termotivasi untuk tetap berada di tempat mereka


Kaki yang awalnya gemetar, perlahan mulai berhenti, dan wajah yang menunjukkan rasa takut digantikan oleh wajah penuh optimisme


Cyth bersiul takjub mendengarkan Zaphir, kemudian mendekat ke sampingnya, dan memegang bahunya


"Tidak apa jika aku pinjam kata-katamu itu untuk nanti bukan?" Cyth bertanya dengan senyum di wajah


"Siapa yang peduli? Kita punya masalah yang lebih penting sekarang ini" Zaphir menjawab, masih fokus ke depan


Senyuman Cyth semakin melebar, hingga dia berpaling dengan pose yang gagah menghadapi semua anggota krunya yang masih bisa bertarung


"Kalian dengar bukan, para badut?? Jika kalian tidak ingin merasa terhina, pastikan tidak ada bola yang jatuh dari tangan kalian!! Bersediakah kalian untuk mengikuti pertunjukkan ini?!"


"SIAP!! HIDUP BLACK HUNT!!"


Sorak sorai untuk menyemangati diri mulai terdengar diantara mereka semua, membuat Cyth puas dengan hal itu dan kembali menghadap ke depan


"Baiklah! Musnahkan mereka! Lindungi semua orang yang terluka!" Cyth meneriakkan sekali lagi, memotivasi semua orang


Sorakan keras mulai terdengar, selagi mereka maju ke depan dan menghadapi semua musuh yang maju


Ordelia yang menatap mereka, juga Albert dan Claudia yang sibuk menyeret Luxor ke tempat aman pun hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kami semua


"Tuhan. Ayahanda. Setidaknya, pastikan semua orang bisa terus hidup ke depannya..." Ordelia berdoa, tanpa mengetahui doa itu tercapai atau tidak


Matanya pun tertuju kearahku yang berada di udara menghadapi Darwin. Dia sadar, jika aku bertarung seperti itu, itu berarti kalau Verdea sedang tidak bersamaku sesuai rencana


Di tempat yang aman itu, dia mendekap dirinya dan menunggu adanya cahaya yang datang untuk menyelamatkan kami semua


Dan jika yang buruk menjadi yang terburuk, maka dia tidak tahu harus apa lagi


......................


Sial!!!


*BTOOM!!!*


*BRAK!!!*


...


Berapa kali aku harus menggunakan kekuatan penuhku untuk memukul jauh dirinya...??


Pertarungan ini sangat membuatku kesal. Aku bisa melanjutkannya, tapi semua hal tentang pertarungan ini membuatku sangat kesal


Sudah jelas kalau dia berniat untuk menyita waktuku disini. Dia bertarung bukan karena berniat membunuhku terlebih dahulu, tetapi dia ingin memastikan semua temanku mati di hadapanku


Dia tidak ingin aku pergi ke salah satu temanku dan melindungi mereka. Satupun!


Mengesalkan!

__ADS_1


Sudah 4 menit berlalu. Verdea seharusnya sudah menanam benih itu sekarang, tetapi Collin belum memberi kabar


Aku masih harus menunggu. Kami harus bisa bertahan


"Menyingkir!!"


Kulempar benih tanaman yang kubuat, menumbuhkan sebuah sulur berduri untuk menangkap semua orang itu. Tetapi Darwin dan beberapa dari mereka berhasil menghindarinya


Dengan seringai yang lebar, Darwin maju ke hadapanku dengan cakarnya yang sudah keluar dan bersinar seperti pisau belati


...


--- Verdea ---


"Verdea!! Kita melewatkan tempat itu!!" Remina meneriakkan


"Aku punya rencana, jadi kita harus kesini terlebih dahulu!"


Verdea dan Remina yang berlari dengan banyaknya orang yang mengejar mereka, mulai berbelok kesana kemari untuk menemukan tempat yang diinginkan Verdea


"Disini, Remina!!"


Mereka pun berbelok, dan...


Jalan buntu. Hanya ada jalan buntu di hadapan mereka sekarang


"APA YANG KAMU MAKSUDKAN DENGAN INI??" Remina yang panik bertanya


Tetapi ketika dia mencoba mencari Verdea di sampingnya, temannya itu tidak terlihat dimanapun


Dan disaat itu, dia pun paham dengan apa yang dimaksudkan Verdea, kemudian segera mengubah dirinya menjadi air


Ketika para pengejar mereka sudah sampai di jalan buntu itu, mereka terkejut karena tidak menemukan siapapun disana. Hanya sebuah genangan air


Tetapi belum sempat mereka berbalik untuk pergi, sebuah tanaman semak berduri tumbuh di belakang mereka


Tidak hanya itu, lapisan semak berduri itu pun ditambah oleh sihir tanah yang menutupi lubang-lubang kecil diantaranya, dan mengurung mereka di tempat itu, menyisakan sebuah ruang kecil yang sangat sempit di dekat langit-langit


Dan disaat selanjutnya, mereka bisa mendengar sebuah seruan dari luar


"REMINA!! TENGGELAMKAN MEREKA!!"


Genangan air itu pun berubah kembali menjadi Remina, membuat mereka semua terkejut. Tetapi terlambat


Disaat selanjutnya yang mereka ketahui, Remina sudah selesai merapal doa mantranya


"Flooding Castle!!"


Semburan sihir air pun keluar dari tubuhnya dengan cepat dan mendadak, mengisi ruang tempat mereka semua terjebak dengan air, dan menenggelamkan mereka secara perlahan


Memastikan setiap inci dari ruangan itu sudah terisi oleh air, Remina pun mengubah dirinya lagi dan berenang keluar dari ruang kecil yang tersisa


Verdea terlihat kagum dengan mata yang dipenuhi sinar ketika melihat Remina


"Tidak kusangka kamu bisa melakukan sihir tingkat tinggi. Padahal mengisinya perlahan saja bisa bukan?"


"Ha- Hanya satu... Itu saja...!"


Remina pun jatuh pingsan, meninggalkan Verdea yang terlihat bingung karena kejadian mendadak itu


"Baiklah. Aku bisa mengingat semua rutenya sendirian..."


Verdea pun mulai berjalan untuk menemukan tempat dia harus menanam benih lainnya, bersama dengan Remina yang ada di punggungnya


...


Ketika dia sampai disana, dia langsung memberitahukan kepada Collin untuk mengeksekusi rencananya


"Kakak ke-4"


"Ya?"


"Eksekusi rencananya"


Dia pun tersenyum melihat cincin berukiran bunga mawar kuning yang berada di jari telunjuk tangan kanannya, berkilau dibawah cahaya obor


...


"Oberon!!"


!!!


"LAKUKAN!!"


Haha!!


Ini dia yang kutunggu-tunggu!


Kupukul menjauh semua orang yang menyerangku, kemudian mengikat mereka dengan tanaman yang berlapis jumlahnya, tidak seperti sebelumnya


Darwin yang juga tertangkap pun mendecak kesal dan geram melihat wajah senang ku yang mengejeknya. Dia mulai berusaha merobek setiap lapis dari sulur itu, bersama yang lainnya untuk menggapaiku


Tongkat suci ku akhirnya keluar, dan setelah tarikan napas yang dalam, aku mulai merapal mantra itu dengan keras hingga seluruh orang di area kastil giok bisa mendengarnya


"Oh roh suci yang agung!! Inilah berkat abadi mu, sebuah taman penuh cahaya nan indah!!"


Semua orang yang berada di atas tanah bisa mendengarkan doaku. Darwin, walaupun tidak tahu aku merapal apa, bisa merasakan adanya perasaan yang familiar berada di dekatnya sekarang


Kematian


Dia merasa terhantui dengan perasaan familiar itu, dan mulai meronta lebih keras


Di sisi lain dalam waktu yang bersaman, Ordelia yang berhasil mendengarkan doaku itu, segera mengirim Albert dan Claudia kearahku, kemudian mengeluarkan senjata sucinya


Karena 2 penjaga Ordelia sudah pergi, Zaphir langsung meneriakkan agar beberapa dari kru Black Hunt untuk mundur dan fokus untuk melindungi Ordelia, selagi dia tetap berada di garis depan dan menghalau serangan musuh sebanyak yang dia bisa


"Aku bisa, Vainzel!!!!" Ordelia meneriakkan, dengan nada yang setengah bergetar


Itu membuatku semakin yakin untuk melanjutkan mantraku bersama dengannya


"... Naungan mu, adalah berkah untuk kami. Kematian akan sirna, semua niat buruk akan dibersihkan, dan para pendosa akan diusir dari rumahmu!!"


"... Kuserahkan jiwa ragaku kepadamu, sebuah pengorbanan untuk jutaan makhluk tidak bersalah, sebuah pengorbanan untuk keadilan yang harus ditegakkan"

__ADS_1


Semakin kami merapal, semakin Darwin meronta dan berteriak ketakutan


Hingga tangannya pun berhasil keluar dari ikatan sulur itu


Tetapi belum sempat dia melakukan apapun lebih jauh, dua sosok muncul di belakangnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal


Sosok yang pertama segera menghantam


lehernya hingga patah hanya dengan sebuah tendangan. Sosok yang lainnya menusuk tangannya sebelum dia bisa mencakar apapun dengan sebuah benda seperti kayu lancip


Lehernya yang patah nyaris seketika dan tangannya itu pun tidak bisa digerakkan, membuatnya bingung. Dia pun melihat sosok Albert berdiri di hadapannya dengan senyum ramah, dan Claudia yang terlihat pasrah berada di dekatnya, dengan mata sembab


"Sudah akhirnya, Darwin..." Claudia berbisik, kepada kekasihnya itu


Amarahnya meluap, dan karena itu, wajahnya pun mulai berlinangan air mata selagi dia berteriak keras entah kemana. Sebuah jeritan putus asa karena tahu apa yang akan menimpa dirinya


"... Turunkan lah...!"


"... Secercah petak dari ladang mu yang agung"


"Dan berikan kami setetes berkahmu yang agung! Garden of Heaven!"


"Dan berikan kami setetes berkahmu yang agung. Garden of Heaven..."


Rapalannya, telah selesai...


...


Eh? Tunggu-


Kekuatan ini...


Tetapi sebelum aku sempat berpikir, rapalan itu sudah selesai, menjatuhkan sebuah tetesan getah emas dari udara yang turun ke tanah


Dan disaat selanjutnya, tanah dari Xiang mulai ditumbuhi bunga berwarna putih kemerahan, dengan rumput hijau nan bersih di bawahnya


Ladang bunga itu mulai menyebar ke segala penjuru. Bahkan masuk ke bawah tanah dan melapisi tembok-temboknya dengan beberapa sulur yang indah, dan mengubah wujud dasarnya menjadi batu bata putih yang terlihat mengagumkan


Veskal dan Collin takjub melihat pemandangan bawah tanah yang berubah itu. Sementara itu, Verdea sekali lagi tersenyum, mulai tertawa riang seperti anak kecil, dan menjatuhkan dirinya di lautan bunga itu


"Kita berhasil! Sangat menegangkan!!!"


Dia pun tertawa riang, selagi ladang bunga itu terus menyebar. Dia pun mengecup cincin di jarinya itu, kemudian menghela napas lega dan bangun kembali untuk keluar dari tempat itu bersama Remina


Pembatasnya itu juga berfungsi dengan baik. Mereka menghentikan penggunaan Mana kami, dan menahan penyebaran ladang bunga itu agar tidak menyebar lebih jauh


Mereka semua berfungsi dengan baik


Semua orang yang berada di luar area istana giok mungkin akan keheranan melihat ladang bunga yang tiba-tiba menyebar itu


...


Semua rencana kami...


Sukses...


Aku perlahan mulai tertawa. Semakin lama, tawaku itu semakin keras hingga terdengar layaknya seperti anak kecil


Dan untuk menambah rasa bahagiaku, aku melihat Ordelia dan Veskal berlari kearahku


Aku langsung menyambut Veskal dengan tangan terbuka, dan dia langsung melompat kearahku hingga kami berputar selagi berpelukan


"Demi pohon agung, kamu berat sekali!" Aku berkata


"Syukurlah---! Kita menang--! Kita menang sepenuhnya---!"


Benar, benar!


Giliran Ordelia yang memelukku kali ini, dan aku langsung mendekapnya selama yang aku bisa, selagi tangisannya mulai keluar


"Kamu baik-baik saja. Itu cukup bagiku" Aku berkata padanya


"Vainzel..."


Hm hm~


Kekasihku ini sangat cengeng. Tapi aku tidak menyalahkan dirinya


Dan disaat aku selesai memeluknya dengan sebuah senyuman yang saling membalas, dua orang lagi akhirnya muncul di hadapanku


Lebih bagusnya, salah satu dari mereka sudah mulai sadar


"Ehem... Aku harap kami tidak kelewatan apapun"


Aku menoleh dengan wajah senyum yang berniat usil kepada mereka


"Mau dipeluk juga, Verdea?" Aku berkata, melebarkan tanganku


Remina yang baru bangun pun terlihat bingung, tetapi perlahan mulai meringis melihat sosok kami semua di hadapannya


Karena itu, dia pun segera turun dari punggung Verdea, dan mulai berlomba dengannya untuk berlari ke pelukanku. Sesekali dia nyaris terperanjat karena masih lemas dan harus dibantu Verdea. Dan pada akhirnya, kedua orang itu menggapaiku seakan tidak ingin melepaskan diri selagi tubuh mereka bergetar hebat


Syukurlah mereka baik-baik saja...


"Temanku. Kita berhasil berkatmu" Aku berkata pada Verdea


"Tidak"


Verdea melepaskan pelukannya dariku, membuat kami semua bingung


"Ini semua berkat kalian semua yang sudah mau mempercayaiku" Dia berkata lagi, dengan sebuah senyum manis tertempel di wajahnya


...


Kami pun hanya tertawa, menanggapi perkataan Verdea. Kami semua, bahkan Luxor yang baru sadar dan masih tidak yakin dengan apa yang terjadi


...


Perayaannya nanti saja. Masih ada satu hal yang belum selesai


Aku menoleh ke kanan, dan menemukan Claudia disana, dengan Darwin yang terbaring di pangkuannya. Seluruh pasukan abnormal itu juga jatuh tidak sadarkan diri mengelilingi mereka, dengan mulut berbusa karena efek dari sihir ini yang telah membersihkan darah kotor mereka


Tetapi perhatianku tertuju kearah Darwin yang terbaring lemas. Nasibnya sudah dipastikan, dan dia tidak akan pernah kami temui lagi

__ADS_1


Sudah waktunya untuk Darwin berpisah dari dunia, sekali lagi dan untuk selamanya


__ADS_2