
--- Tahun 257, Kalender Kedamaian ---
Sebuah kastil yang megah. Kastil yang dibuat dari marmer putih itu terlihat indah ketika diterpa oleh sinar matahari. Arsitekturnya yang indah menambah kesan yang cantik istana itu dimata orang yang melihatnya
Bunga-bunga yang bermacam jenis dan warnanya tumbuh dengan indahnya dan memberi kesan warna yang menambah kecantikan bangunan-bangunan kayu yang tidak kalah bagusnya di kota ini
Kupu-kupu dan anak-anak bermain di jalanan kota dengan senangnya, ditemani dengan suasananya yang riuh dipenuhi orang-orang yang selalu memasang senyum di wajahnya
Itu menjadi pemandangan indah di mataku
Aku yang baru saja tiba di kota yang disebut Hortensia ini sangat menantikan apa yang akan kutemukan di sana, melihat suasana yang ramah dan nyaman itu
20 tahun lamanya aku berkelana dan meninggalkan kampung halamanku, Baru hari ini aku melihat suasana yang sangat ramah seperti ini
Kunaikkan tas berkelana yang sedikit berat milikku keatas pundak. Aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju gerbang kota yang bahkan terlihat megah itu, sama seperti bangunan lainnya di kota ini. Aku benar-benar merasa bersemangat dengan harapan penuh mengenai perjalananku di dalam kota yang megah. Aku bahkan sudah memikirkan hal-hal yang akan kulakukan disana, mulai dari melihat-lihat banyak barang, mencari pekerjaan dan bertemu orang baru
Tapi, harapanku sirna seketika
*Bruk!*
Para prajurit yang berjaga di dekat gerbang itu mendorongku agar menjauh dari gerbang kota, hanya karena sebuah alasan
Hal itu dilakukan kepadaku karena aku tidak punya paspor resmi dan izin dari raja kerajaan ini untuk masuk. Dan cukup adilnya, aku memang memaksa untuk masuk
Ya, wajar saja juga kerajaan ini damai. Mereka benar-benar kuat membuat sistem keamanan seperti ini, dan aku yakin kalau hampir tidak ada penyusup yang berani macam-macam disini
Aku membersihkan bajuku yang berwarna kuning itu karena ditempeli debu ketika aku jatuh terdorong. Aku lalu menolehkan mataku yang tersembunyi di balik kerudung jubah yang kukenakan kearah penjaga yang mendorongku
“Lalu bagaimana caranya aku mendapat paspor resmi?” Tanyaku sambil terus membersihkan seluruh pakaian yang ku kenakan
“Kamu harus melalui beberapa tes dan mendapat cap tangan langsung dari raja”
Hah… Ada prosedurnya. Aku tidak masalah ada atau tidaknya, tapi berdasarkan penjagaan seketat ini, aku yakin prosedurnya sulit dan ketat juga
Mungkin lain kali saja...
Tanpa pikir panjang aku langsung pamit kepada penjaga itu. Aku tidak ingin terlalu bermasalah dan terlalu repot untuk masuk kesana
Tapi, sayang sekali. Padahal aku sudah berharap tinggi...
......................
--- Desa Magnolia, teritori kerajaan Hortensia ---
“Oh! Si bocah tengik sudah kembali!” Seru seorang pria dengan wajah sangar yang tampak seperti penjahat yang baru keluar dari penjara
Semua orang disana bersorak gembira, kecuali aku yang tahu apa yang akan mereka lakukan kepadaku
“Traktir Kami!”
“Pesta! Pesta!”
Sorak sorai mereka yang berniat mengambil dan memeras uangku lagi terasa menusuk telingaku sampai ke bagian terdalam
Aku baru kembali dan masuk ke dalam tempat makan ini, mereka langsung berusaha menindas ku
Tangan pria itu kemudian melingkar di bahuku, membuatku tidak nyaman dan segera ingin pergi, terutama dengan semua mata yang tertuju kepadaku
“Ayo, berikan uangmu dan traktir kami” Bisiknya pelan
Aku hanya menghela napas pasrah dan menundukkan kepalaku
“Aku sudah tidak punya uang”
“Hah!? Kemarin kamu punya banyak, kan?”
“Kalau dihabiskan memang ada sisanya?”
“…”
Aku tidak berani menatapnya. Takut karena aku mungkin harus memukul wajah orang ini. Aku kemudian perlahan menghitung mundur detik dalam hati dan…
*Bruk!*
Aku dihantam sampai melayang ke sebuah meja yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri tadi, membuat meja itu terbelah menjadi dua ketika aku mendarat
Tubuhku langsung terasa cukup nyeri karena menghantam meja itu dengan kerasnya
Perlahan aku berusaha mengangkat tubuhku, tapi pria itu kemudian menggenggam bagian atas kerudungku dan membuatku melihat wajah busuknya yang terlihat kesal itu
“Kamu… Sudah berani bicara balik rupanya”
Aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam
Pria itu kemudian tersenyum dan menghantamkan kepalaku ke lantai sebelum dia melangkah pergi, mengambil tasku, kemudian mengataiku “Pecundang"
Gelakan tawa semua orang disana terdengar sangat keras. Aku yang akhirnya sudah berhasil duduk hanya menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahku dibawah jubah kerudung yang kukenakan
Hatiku terasa panas. Tapi aku tetap berusaha menahan rasa sakitnya dan tidak ingin terbawa emosi
Tidak tahan mendengar tawa-tawa itu terlalu lama, aku bangun dan berlari keluar dari tempat itu, meninggalkan tasku yang diambil
......................
Hari ini mungkin hari paling sial untukku.
Aku sudah memiliki harapan tinggi yang hancur dalam sekejap ketika tidak dibiarkan melewati gerbang kota Hortensia
Aku kehilangan barang-barangku yang diambil orang-orang itu. Badanku juga masih terasa ngilu ditambah dengan bajuku yang semakin kotor. Mungkin seharusnya aku menghajar satu atau dua orang di dalam tadi...
Belum lagi baju ini berwarna kuning terang, membuat nodanya terlihat jelas sekali
Aku berjalan entah kemana, keluar dari desa itu. Matahari sudah mulai tenggelam dan aku mulai kelaparan
Untung saja si pengurus rumah makan itu membuang beberapa selada tidak termakan di gang belakangnya. Setidaknya aku punya sedikit makanan. Tapi, cukup tidak ya…?
Ya sudahlah. Makanan tetap makanan. Aku habiskan saja sebelum berjamur
Aku sibuk mengunyah beberapa selada di mulutku. Kakiku terus berjalan sementara aku masih sibuk mengunyah
Terus dan terus…
Akhirnya setelah makananku habis, aku menyadari kalau kakiku membawaku ke sebuah hutan, tepat saat matahari sudah mulai tidak terlihat
Suasana tiba-tiba menjadi gelap dan hening. Suara-suara di sekitarku hanya dipenuhi oleh suara jangkrik dari kejauhan, tapi terdengar jelas saking heningnya
Aku memerhatikan sekeliling, dan menyadari sesuatu. Setelah mengingat semua tempat yang kulalui, aku merinding ketakutan
“… A-“
Sial. Hutan ini biasanya dipenuhi bandit setiap malam. Aku tidak pernah melalui tempat ini ketika berkelana karena hal itu
*Sruk, sruk!*
Suara sebuah semak yang disentuh terdengar di telingaku. Aku panik dan berusaha lari, tapi malah bersembunyi di balik sebuah pohon karena tidak sempat bergerak terlalu jauh
Perlahan kuintip arah suara itu berasal dan menemukan seorang pria dewasa yang memakai pakaian serba hitam terlihat berjalan diantara semak-semak itu dengan susahnya dengan seorang pria lain yang membawa sesuatu yang terlihat berat
“Kamu yakin kita harus lewat sini?” Tanya Pria yang membawa sesuatu itu
“Ya. Aku tahu jalan ini tidak akan aman. Tapi ini jalan tercepat jika ingin kabur”
Tunggu. Mereka terlihat mencurigakan begitu, tapi aku tidak merasa kalau mereka itu bandit. Bandit biasanya datang dalam bentuk kelompok
__ADS_1
Tapi kenapa mereka berusaha kabur? Benda apa yang berada di pundak orang itu?
Aku berusaha melihat benda apa yang dibawanya itu, dan ketika orang yang membawanya berbalik membelakangiku, aku kemudian menyadari kalau benda itu adalah seorang manusia
Aku kaget dan secara tidak sengaja mengeluarkan suara kecil, mengakibatkan dua orang itu ikut kaget
Kusembunyikan lagi kepalaku dan kututup mulutku tepat saat kedua orang itu melihat kearah tempatku bersembunyi
Orang yang tidak membawa manusia itu berjalan kearahku bersembunyi. Karena panik mendengar suara langkahnya yang mendekat, aku berusaha lari. Tapi dia menyadariku dengan cepat dan melempar kaki kananku dengan sebuah pisau lempar, sebelum aku berhasil lari terlalu jauh
Orang itu kemudian berlari mendekatiku yang merintih kesakitan dan menginjak kepalaku, sementara yang satunya mengikuti dari belakang
“Sial. Ada seseorang yang melihat kita”
“Bagaimana menurutmu?"
Orang yang menginjakku itu mengeraskan tekanan di kakinya dan membuatku semakin kesakitan
“Kita habisi saja. Orang yang membayar kita tidak akan senang kalau ada saksi”
“Tunggu! Tunggu dulu! Aku tidak berniat apa-apa! Aku-!“
“Diam bocah. Atau kepalamu harus kuhancurkan dulu?”
Dia memotong perkataanku. Jika begini, aku tidak bisa bernegosiasi sama sekali
Injakan orang itu semakin keras. Aku merintih karena rasa sakit yang kurasakan dari tekanan orang itu
Aku terdesak. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi...
Aku terpaksa menggunakan kekuatanku lagi kali ini
“Lempar Mereka!” Aku berseru keras
Seketika sebuah akar tanaman merambat dari tanah dan mengangkat kedua orang itu ke udara dalam posisi terbalik. Mereka berdua kaget dan menjerit-jerit karena bingung dengan apa yang terjadi
Wajah mereka yang tertutup kerudung hitam itu kemudian tersingkap dan memperlihatkan ekspresi mereka yang ketakutan
Tidak lama, akar-akar itu melempar mereka berdua ke udara, menjauh dariku entah kemana
Aku hanya melihat dan berdoa agar mereka mendarat di tempat yang aman dan tidak membunuh mereka
…
Ah… Aku ikut campur dengan urusan orang lagi...
Aku meringis kesal pada diriku sendiri menyadari hal yang kulakukan sambil melingkarkan badanku di tanah
Tapi aku sumpah, ini hanya karena aku takut mati. Sebaiknya aku segera pergi sebelum aku terjerat ke masalah yang lebih rumit
“Pohon agung... Tolong bantu aku...”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar lagi dan membuatku tersentak. Aku menoleh kearah suara itu dengan takutnya dan melihat orang yang mereka bawa tadi tergeletak di tanah
Dia terlihat seperti mengigau dalam keadaan pingsan dan terlihat kesakitan
Ketika aku memperhatikan orang itu lebih jauh, aku pun menyadari...
Kalau dia masih anak-anak
...
...
...
Anak laki-laki ini terlihat seperti masih berumur 7 atau 8 tahun dengan tubuh kecilnya itu...
Kudekati anak itu perlahan. Dia terlihat masih tidak sadarkan diri, tapi untuk memastikan, kusentuh pipinya sedikit dengan jari telunjukku
“…”
Dia tidak bangun…
Aku harus apa ya…? Tidak mungkin kubawa anak ini ke sembarang tempat. Belum lagi bajunya membuat dia terlihat seperti seseorang dari keturunan bangsawan. Aku mungkin akan dituduh menculiknya nanti...
…
...
...
Sepertinya aku tidak bisa mengabaikan moralku begitu saja...
Hah… Lebih baik aku segera membuat sedikit pertahanan disini agar para bandit tidak mendekat. Kalau dia sudah bangun nanti, aku akan tanya dimana dia tinggal agar aku bisa mengantarnya pulang
Mungkin aku harus menyakiti 1 atau 2 orang lagi hanya untuk melindungi anak ini…
…
Secara perlahan-lahan pohon yang kuperintahkan menggerakkan akarnya, mengangkat anak itu keatas dahannya hingga akar-akar pohon itu menyelimuti tubuh kecilnya agar anak itu tidak jatuh
Sementara aku memerintahkan beberapa tanaman lain untuk memperhatikan orang yang lewat di sekitar kami, kemudian menyusul anak itu naik keatas pohon dan duduk di dahan yang sama di tempatnya tertidur
Kuperhatikan wajahnya yang terlihat seperti sedang mengalami mimpi buruk itu. Perlahan kudekati dia lagi dan memeriksa wajah dan lehernya
Memastikan dia tidak terluka, aku memeriksa sekujur tubuhnya serta menyingkap baju bagian lengan dan kakinya
Dia tidak mengalami luka apapun, syukurlah…
Namun, dia masih terlihat seperti kesakitan. Keringat dingin mengucur di dahinya dan badannya merinding seakan dia ketakutan akan sesuatu
Napasnya terasa berat sekali seperti dia habis lari dikejar sesuatu. Rasa iba tiba-tiba menggerogotiku melihat kondisi malang milik orang yang asing bagiku ini, utamanya karena dia memang masih sangat muda
Rasanya sangat tidak pantas untuk seorang anak kecil ini untuk merasakan penderitaan...
Aku duduk di dekat kepalanya kali ini dengan kakiku yang bergelantungan dari dahan pohon
Dengan ragu-ragu aku mengelus rambut hitam mengkilap anak itu secara perlahan. Satu kali, dua kali, tiga kali. Wajah anak itu seketika berubah menjadi sedikit tenang
Napasnya masih terasa berat, tapi aku yakin dia sudah mulai tenang. Aku juga akan memastikan dia akan tenang
“…”
Malam masih panjang. Aku mungkin tidak akan tidur malam ini. Aku seharusnya tidur dan tidak beraktivitas sekarang ini karena kekuatanku yang cepat habis saat malam hari
Tapi anak ini… Aku merasa kasihan padanya. Para penjahat yang membawanya tadi berkata kalau ada orang yang membayar mereka untuk melakukan sesuatu pada anak ini
Jahat sekali. 20 Tahun aku berkelana, dan manusia tidak pernah berubah sama sekali.
Baik mereka rakyat biasa, bangsawan, raja bahkan para pendeta yang dianggap paling suci pun memiliki kejahatan yang mereka sembunyikan
Mungkin aku berkata begini karena aku berasal dari ras peri atau Elf. Kami para peri tidak memiliki pikiran jahat yang melanggar aturan dan melanggar batas seperti ini. Kami hanya melakukan sesuatu untuk mempertahankan hidup kami, tapi tidak termasuk mengambil hidup makhluk hidup lainnya tanpa alasan atau niat yang baik. Ada sebuah aturan yang melarang kami dalam melakukan berbagai hal
Aku tidak paham dengan pikiran manusia. Kenapa mereka selalu begitu? Hal-hal jahat yang keji yang bahkan tidak bisa kupikirkan sama sekali bisa dan selalu mereka lakukan
Bahkan menculik anak ini. Anak yang terlihat masih membutuhkan orang tuanya ini mereka culik dan dibawa pergi jauh...
…
Seandainya saja manusia itu seperti Elf…
Tapi kadang aku cemburu pada manusia. Mereka bisa melakukan hal ini seperti tidak terikat pada aturan apapun di dunia ini. Sementara kami para peri harus selalu mengikuti ajaran yang ribuan tahun sudah dijalankan oleh ras kami
__ADS_1
Aku ingin merasakan kebebasan seperti manusia. Aku ingin melakukan hal baru. Itu sebabnya aku berkelana dan pergi dari kampung halamanku
Tidak ada aturan yang melarang kami pergi. Tapi Elf, sebagai kaum yang direndahkan belum tentu bisa diterima baik di dunia luar
Orang tuaku sudah berkali-kali berusaha memberitahuku, tapi aku tetap bersikeras untuk pergi menjelajah dunia luar
Mereka benar. Aku hampir tidak diterima sama sekali di dunia ini. Hanya orang-orang yang memiliki nasib buruk sepertiku saja yang rela menolongku. Sisanya melakukan penindasan kepadaku
Aku memang bisa melawan balik karena aku kuat, tapi orang tuaku pasti tidak akan suka jika aku menyakiti seseorang
Aku juga benci menyakiti makhluk hidup. Jika aku menyakiti seseorang, orang itu akan menuntut balas dendam, dan bisa saja membuat masalah yang bisa berujung saling membunuh
Aku selalu berpikir begitu. Aku selalu menganggap itu benar, ditambah lagi dengan ajaran para Elf yang biasanya tidak memperbolehkan membunuh makhluk hidup yang berpikir
Aku hanya duduk disana, memikirkan semua hal yang akan kulakukan ke depannya, menunggu pagi yang masih lama datangnya. Sesuatu yang harus kulakukan untuk membantu anak ini kembali ke rumahnya
Aku menguap. Tanpa kusadari, rasa kantukku mengalahkan badanku dan pada akhirnya, aku pun tertidur...
......................
GAAHH!!!
Aku tertidur!
Secara tidak sadar aku tertidur…!
Anak itu!
Aku menoleh ke samping, tempat anak itu berada sebelumnya
Dia masih tertidur dengan lelapnya, tangan kananku masih kuletakkan di atas kepalanya karena tadi malam aku terus mengelus rambutnya
Dia bahkan sudah mulai bernapas dengan teratur. Keringat di dahinya juga sudah kering, mungkin tidak sengaja kuserap dengan jariku
Syukurlah dia baik-baik saja...
Kuangkat tanganku dari kepalanya, tapi entah bagaimana, dia tiba-tiba saja terbangun dan membuatku terkejut
Akar-akar yang menyelimutinya langsung turun ketika menyadari dia tidak ingin berbaring lagi. Dia usap matanya yang masih kabur dan bangun dari tempatnya berbaring, kemudian berbalik dan melihat kearahku yang terduduk kaku, bingung harus menjelaskan apa
Kami menatap mata satu sama lainnya. Tapi ekspresi datarnya dan wajah kebingunganku membuat situasi terasa aneh
“Siapa?” Tanyanya
“Aku menemukanmu diculik!”
"…"
Aduh. Aku tidak sengaja mengatakannya dengan terlalu jelas karena bingung...
“Tolong beritahu aku hal yang tidak kuketahui dan santai saja” Lanjutnya
Wah... Dia terasa dingin sekali walaupun masih kecil...
“Baiklah…”
Aku kemudian menceritakan detail kejadiannya kepada anak itu
Dia terlihat seperti mengangguk dan setuju saja, tapi dia sepertinya orang yang cepat paham dengan situasi seperti ini. Terutama karena dia terlihat aktif berbincang denganku, menunjukkan kalau dia cukup peduli dengan situasi ini
“Informasinya tidak terlalu berguna ya…” Pada akhirnya dia pun berkata
“Tidak berguna!?”
Aku langsung merasa lemas ketika apa yang kukatakan dikatai tidak berguna oleh anak ini
“Setidaknya aku tahu kalau kita tidak jauh dari Hortensia”
Oh? Jadi dia tinggal di kota Hortensia?
Dia lalu ikut menggelantungkan kakinya di dahan pohon, sama sepertiku
“Namamu?”
“Namaku?”
“Memang siapa lagi?”
Aku masih gugup dan bingung nak... Jangan tatap aku seperti itu...
“… Vainzel”
“Ulangi?”
“Vainzel. Panggil aku Vain”
“Hm… Nama yang aneh”
“Aneh!?”
Aku duduk dengan lemasnya lagi dan menutup wajahku
Hah… Namaku dibilang aneh…
Ini pertama kalinya aku memperkenalkan diri pada seseorang, tapi dia malah memanggilnya aneh
“Tapi bagus juga kalau sudah terbiasa mendengarnya”
“Heh?”
Dia memuji namaku barusan...
“Kalau begitu giliranku. Aku Verdea. Senang berkenalan denganmu”
...
Dia… Memperkenalkan dirinya
Sudah lama tidak ada orang yang memperkenalkan namanya kepadaku dengan sopan begini
Verdea ya…
“Verdea… Verde… Veri!”
“Hm?”
“Ah, tidak ada! Aku hanya membuat nama panggilanmu yang enak kusebut saja”
Kuelus kepalaku sambil tertawa kecil. Rasa senang menyelimuti kepalaku karena setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bicara santai seperti ini dengan seseorang
Dia menatapku bingung, kemudian tersenyum kecil. Dari ekspresinya pada waktu itu, aku bisa tahu kalau dia juga merasa senang, sama sepertiku. Senang karena sudah mendapat seorang kenalan baru yang membuat diri sendiri merasa nyaman
...
Pertemuan pertama kami. Seorang anak laki-laki berumur 7 tahun yang hampir diculik dan seorang elf yang berkelana di dunia yang tidak ramah kepadanya. Kedua orang yang bertemu karena takdir dan selalu bersama karena takdir
Pertemuan pertama yang tidak pernah kulupakan, bahkan setelah sekian lamanya kami bersama
…
*Krucuk
Aku melihat kearah Verdea yang mengeluarkan suara perut itu...
__ADS_1
“Kamu lapar?”
Wajahnya memerah dan dia membalas pertanyaanku dengan sebuah anggukan pelan sambil memegangi perutnya