
--- Beberapa saat kemudian ---
...
Intinya, gadis ini tiba-tiba menghampiri kereta kami karena kebetulan melihat Veskal ketika dia sedang berkeliling
Lalu Veskal menyambutnya dengan senang hati...
"Aku tidak sangka kamu punya teman sebelum kami..." Verdea berkata lagi
"Kamu pikir aku itu apa coba sampai tidak bisa punya teman" Veskal membalas ketus
"Ketiakmu bau. Mulutmu kasar. Bahkan kamu sangat kaku sebelum kita berjum-"
"Oke. Mau kupukul?"
Verdea hanya tersenyum mengejek melihat respon Veskal, selagi aku menggelengkan kepala
"Lalu, apa yang kamu lakukan kemari, nyonya..."
"--- Natasha"
"Ya benar. Nyonya Natasha"
"Tidak perlu menggunakan nyonya. Aku juga tidak berstatus sebagai bangsawan disaat ini"
Jika aku tidak salah, dia bilang kalau dia berkelana bukan?
Sendirian? Bukannya itu berat? (Bicara dari pengalaman hidup)
"Aku yakin kamu cukup kuat untuk bisa berkelana sendirian"
"Ah tidak juga. Aku punya kelompok yang ikut bersamaku. Isinya ada empat orang termasuk aku"
Ooh~
"Senang bertemu denganmu. Di zaman sekarang aku nyaris tidak bisa bertemu dengan sesama pengelana. Namaku Vainzel Alpensia"
Yah, walaupun paman Zer juga bisa dibilang pengelana sih...
"Natasha Epsilon. Senang berkenalan denganmu"
"Epsilon?"
Itu nama salah satu keluarga bangsawan Crux. Tapi aku dengar kalau keluarga itu sudah musnah seluruhnya ketika Eloy menjabat dan meruntuhkan pemberontakan
Yah, keluarga itu juga memang menjadi pemberontak. Sayang sekali mereka tidak bisa menjatuhkan Eloy dari atas takhta dan justru berakhir di eksekusi
Dan sebaiknya aku tidak perlu mengungkit hal itu kepada Natasha
"Lalu, apa tujuanmu berkelana?" Verdea yang kali ini bertanya
"Hanya untuk membantu orang. Ketika Blood Sabbath terjadi, aku dan ketiga temanku itu kebetulan bertemu. Kami pun memutuskan untuk pergi mengelilingi dunia untuk melihat keadaan semua kaum manusia"
"Jawaban bagus
Lalu, namaku Verdea Hortensia. Maaf tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu"
"Oh?? Tidak aku sangka aku akan bertemu dengan pangeran kelima Hortensia yang sedang ramai dibicarakan itu. Dan artinya, tuan Vainzel ini..."
Dia menoleh kearahku, tetapi aku segera menggelengkan kepala
"Tidak. Tidak perlu panggil aku tuan jika kamu tidak memperbolehkanku untuk memanggilmu nyonya"
"Tapi kamu adalah sang Oberon! Walaupun reputasimu masih diperdebatkan, aku justru yakin kalau kamu itu sangat membantu semua orang di Vitario!"
Ah. Senangnya mendengar orang selain temanku menghargai usaha kami setelah mengingat perjalanan 5 tahun yang menyakitkan itu
Ivor tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang hingga menarik perhatianku kepadanya
"Vainzel. Kita harus berangkat. Semua pengemudi keretanya sudah siap untuk pergi" Dia berkata
Benar. Kami harus bergegas
"Naik ke kereta, kalian berdua. Kita harus bergegas"
Lalu untuk tamu tidak terduga kami ini
"Dan untuk Natasha, kami semua harus pamit dahulu" Aku berkata kepadanya
"Heh? Tidak apa kita meninggalkannya disini?" Veskal terlihat protes
"Teman-temannya berada tidak jauh bukan? Memangnya kamu ingin mengantarnya naik kereta apa?"
Veskal pun diam mendengar responku, membuang wajahnya gusar
Hal itu tentu mengundang tawa kecil milik Natasha
"Tidak apa. Aku tidak masalah ditinggal disini oleh kalian"
Baguslah. Kami harus cepat
Sebaiknya aku juga naik
"Tapi, aku tahu kalian ingin mencari tahu mengenai para penyembah iblis"
...
...
...
Langkahku terhenti mendengar kalimatnya itu. Baru satu langkah aku meletakkan kakiku diatas kereta itu, tetapi aku langsung menariknya kembali ke tanah dan berpaling kearah Natasha
Hal itu juga dilakukan oleh Veskal, selagi Verdea dan Remina yang sama terkejutnya namun berada di dalam itu hanya menengok dari jendela kereta kami
"... Kamu tahu?" Aku bertanya kepadanya
"Tentu, jika informasi seperti itu sudah tersebar ke seluruh Hortensia" Natasha menjawab santai
Ugh. Aku masih harus menerima fakta kalau berita ini memang sudah tersebar luas. Maksudku, bahkan seorang pelancong saja tahu
...
"Lalu, apa hubungannya denganmu?" Aku bertanya
"Tidak banyak. Anggap saja...
Aku dan teman-temanku memburu mereka?"
...
Memburu, Hah...?
"Kamu sungguh yakin kamu bisa memburu mereka?"
"Tentu. Aku dan teman-temanku bahkan sudah membunuh beberapa"
"Seberapa banyak?"
"Sebanyak yang ada di jari tanganmu, tapi itu cukup banyak bukan?"
Harus kuakui memang banyak
"Tapi kamu pernah tidak mempertimbangkan kalau ada setengah iblis diantara mereka?"
Pertanyaanku itu membuat Natasha tersentak
Bungkamnya dia itu membuatku sadar, kalau dia hanya macam-macam dengan anggota tingkat rendah milik para penyembah iblis
"Jangan lakukan itu kepadamu sendiri, nyonya Natasha. Jika kamu tidak tahu bahaya terbesar yang bisa diberikan musuhmu, jangan maju" Aku berkata kepadanya
"Aku tahu"
"... Maaf?"
"Aku tahu betul kalau ada setengah iblis diantara mereka"
...
"Tapi kamu tidak tahu seberapa berbahayanya mereka"
"Aku tahu"
"Kamu tidak tahu"
...
"Kamu yang tidak tahu, Oberon"
"Tidak. Aku paham betul kalau seluruh penyembah iblis adalah manusia yang meminum darah iblis untuk mendapatkan kekuatan"
Dia tidak bisa menyangkal lagi
Argumen itu final, menandakan kalau perkataanku lah yang paling benar
Membaca catatan sejarah kerajaanku dan melawan Yael secara langsung ternyata bisa berguna di dalam sebuah argumen hah...?
"... Tapi aku tetap ingin ikut"
...
Heh?
"Eh?"
__ADS_1
"Hah?"
"Bisa cepat??"
"Masukkan kepalamu ke dalam sana dan duduklah dengan tenang Ivor!"
Kami bertiga hanya menggelengkan kepala melihat Ivor yang perlahan memasukkan kepalanya kembali
"... Naik saja. Tapi tidak masalah kalau kamu akan kami turunkan agak jauh dari desa ini setelah kita berbincang sejenak?"
Natasha pun mengangguk setuju. "Temanku juga akan tahu dimana posisiku nanti" Dia berkata
"Baiklah. Aku beri kamu 30 menit untuk bicara di dalam nanti"
Setelah itu kamu akan turun dari kereta kami walaupun kamu tidak menyetujuinya
Dia sekali lagi mengangguk
Dengan begitu, Veskal menawarkan tangannya untuk membantu Natasha naik, tetapi langsung ditolak selagi dia naik dengan sendiri
Kami berdua pun mengikuti dari belakang. Aku suruh Remina untuk duduk di samping Natasha selagi kami para lelaki duduk berseberangan dengan mereka berdua
Keretanya pun mulai perlahan berjalan setelah aku memberi permintaan kepada kusirnya, menandakan kalau waktu untuk Natasha mulai berjalan
......................
"Seperti yang aku bilang barusan. Aku dan teman-temanku ingin bergabung dengan kalian" Natasha menjelaskan ulang
"Tapi kenapa tiba-tiba? Aku bahkan tidak ingat kalau kamu memiliki keahlian dalam teknik pertarungan" Veskal menyela
"Itu karena aku bukan ahli dalam bertarung"
Dia pun melambaikan tangannya di udara dalam bentuk melingkar. Sebuah cahaya biru tiba-tiba nampak di hadapan kami semua, tepat di tengah ruang kereta itu
Lalu satu pertanyaan keluar dari mulutnya hingga mengkonfirmasi apa yang baru saja dia lakukan itu kepadaku
"Kalian bisa melihatnya?"
"Bisa" Aku, Verdea dan Remina serentak menjawab
Kami berdua langsung menoleh kearah Verdea karena kaget, selagi dia justru terlihat bingung dengan reaksiku
"Aku bisa melihatnya. Memang kenapa?"
"Bagaimana?" Remina membalikkan pertanyaan, dibalas dengan sebuah angkatan bahu dari Verdea
Uh...
Tidak. Tentu saja dia bisa melihatnya
Aku terlalu lambat berpikir...
"Veskal. Kamu bisa melihatnya?"
Veskal yang terlihat fokus mencoba mencari tahu itu kemudian menggelengkan kepala bingung
"Itu karena Mana milikmu terlalu lemah. Benda, atau lebih tepatnya makhluk yang ditunjukkan Natasha sekarang ini adalah seorang roh"
Remina bisa melihatnya karena kemampuan sihirnya memang tidak bisa diragukan. Calon petinggi baru memang tidak boleh diremehkan
Sementara untuk Verdea, walaupun memiliki Mana yang lemah, alasan kenapa dia bisa melihat roh itu adalah karena segel miliknya. Jika dia bisa melihat Marcellus yang merupakan roh yang sangat kuat, roh yang agak lemah ini tentu dia bisa lihat
"Roh biasanya menutupi keberadaan mereka agar tidak membebani makhluk lain dengan Mana yang lebih lemah. Keberadaan mereka saja bisa memberi tekanan bagi orang yang mendekat, apalagi ketika melakukan kontrak dengannya"
"Itu artinya, aku cukup kuat untuk melakukan kontrak dengan seorang roh?" Verdea bertanya penasaran, diikuti oleh Remina yang mengangguk kepadaku karena penasaran
"Ya. Tapi aku tidak akan menyarankan hal itu kepada kalian" Aku menyela
"Kenapa?"
"Cara kerjanya sama seperti perbudakan, namun tidak bisa dilanggar"
Natasha hanya mengangguk untuk mengkonfirmasi pernyataanku
"Aku adalah seorang kontraktor roh. Aku setidaknya bisa mengontrak roh tingkat tinggi, tetapi aku melakukannya dengan tingkat menengah hanya agar aku bisa menggunakan kekuatannya secara terus menerus tanpa kelelahan"
Dia pintar membuat rencana. Perkataannya juga benar
Aku tidak pernah mengontrak roh, tetapi semua makhluk yang lahir di Miralius hidup untuk mengikuti perintahku
Hewan, tumbuhan, monster yang bersikap pasif, bahkan para Elf, mereka hidup seakan mereka hidup untukku semata. Mereka terikat seperti seorang roh kepada kontraktornya
Dan sejujurnya, aku benci hal itu. Tidak perlu kujelaskan kenapa, terutama ketika melihat kembali pekerjaanku selama 5 tahun itu
"Lalu, kenapa menurutmu kamu bisa sangat membantu?"
"Karena kami tahu betul dimana tempat persembunyian mereka"
!!!
Sesuatu yang kami tidak sangka baru saja kami dengar. Sesuatu yang mungkin bisa sangat membantu
"Dimana?"
"Tapi kamu harus setuju dahulu kalau kami boleh ikut"
...
"Tergantung. Lagipula, informasi seperti itu mungkin bisa kami dapatkan melalui pertemuan di Orion nanti"
"Kalian hanya akan tahu kalau tempatnya berada di pulau barat Goeitias. Bahkan pertanyaanmu barusan mengkonfirmasi kalau kamu sendiri, penguasa benua itu, sama sekali tidak bisa menandai keberadaan mereka"
Urgh...!
...
Kenapa dia harus benar...?
Dia sama sekali tidak meleset menembak isi pikiranku. Aku juga berpikir kalau pertemuan itu tidak akan terlalu berguna untuk kemajuan proses ini selain dengan beberapa informasi kecil
Ketiga kerajaan itu bahkan tidak pernah masuk ke area Goeitias. Alasannya tentu sudah jelas : Karena banyaknya monster disana
Mereka juga tidak berani mengundang amarah kaum Beast ataupun Dwarf yang bermukim disana dengan mencoba mengambil lahan
Hah...!!!!
"Kamu boleh ikut dalam misi ini. Tetapi kami tidak akan membayar ataupun memperbolehkan kalian untuk berada di sekitar Miralius"
"Kenapa begitu?" Veskal yang justru protes
"Karena Seren sedang tidak bisa menjaga tempat itu bodoh. Aku tidak ingin membahayakan Miralius dengan membawa orang yang tidak kukenal"
"Poin yang bagus. Aku juga tidak terlalu berharap kamu akan mempercayaiku secepat itu" Natasha berkata
"Hanya karena kamu tiba-tiba muncul dan mengatakan kalau kalian tahu keberadaan para penyembah iblis itu..."
Dia hanya tersenyum tidak merespon setelahnya
Kembali ke urusan selanjutnya
"Sebaiknya kalian tinggal saja dulu di Hortensia sementara waktu. Jika waktunya tepat, aku akan memberikan pesan kepada kalian"
Sebuah benih kumunculkan dari tanganku, kemudian kulempar kearah Natasha yang tidak perlu repot menangkapnya
"Dan aku ingin melihat bentuk rekan seperjalananmu juga. Bisa kamu beritahukan?"
"Tentu. Kalian bisa melihat mereka langsung"
Natasha pun memerintahkan roh miliknya untuk memunculkan sebuah benda seperti cermin melayang di hadapannya. Bahkan Veskal juga bisa melihatnya, terlihat dari wajahnya yang terkejut
Ah, jadi itulah kekuatan roh miliknya. Pesan cermin
Itu artinya roh nya memiliki kekuatan angin dan bisa menggerakkan alur angin untuk memberi informasi
"Ronald. Luca. Ruvia. Kalian ada disana?" Dia pun memanggil
"Tasya?? Itu kamu??" Sebuah suara bertanya dari dalam cermin itu
Tasya? Sepertinya memanggil Natasha dengan nama itu cukup bagus juga agar lebih singkat
"Ya, ini aku. Aku baru saja bertemu dengan orang yang tidak akan kalian bisa tebak" Natasha menjawab dengan antusias
"Siapa, siapa??" Sebuah suara laki-laki menyahut
Natasha pun memutar cerminnya hingga menghadap kearahku dan Veskal
"Oh!!"
"Ya ampun?"
"Apakah dia orang yang kupikirkan?"
Selagi aku mencoba menelaah tiga orang yang terlihat di dalam cermin itu, Veskal melambaikan tangannya dengan sok akrab
"... Sepertinya aku sudah cukup melihat mereka" Aku berkata
Natasha pun kembali membalikkan cerminnya walaupun teman-temannya mulai protes karena masih ingin melihatku
Mereka berempat. 2 pria, 2 wanita
Dan harus kubilang, ketiga temannya itu sungguh sangat kuat. Wajar saja mereka bisa bertahan melawan para penyembah iblis
Mereka sungguh kuat hingga aku bisa merasakan tekanan keberadaan mereka walaupun melalui cermin sihir itu
"Ayolah Tasya! Biar kami bicara dengan Oberon! Tidak setiap hari kita bisa melakukannya!"
__ADS_1
"Kalian bisa melakukannya setiap hari"
Tanpa aku sangka, Natasha tiba-tiba melempar benih yang kuberikan kepadanya. Tetapi, benih itu sama sekali tidak mendarat di lantai ruang ini
Sepertinya cermin itu juga berfungsi seperti pecahan ruang. Praktis sekali
"Benih apa ini?" Seorang temannya bertanya
"Kalian bisa bicara melalui benih itu dengan Oberon. Aku akan diam disini bersama dengan mereka dan mengikuti perjalanan ini"
"HAH???"
Aku, Verdea dan semua teman-temannya dengan serentak bersuara
"Dengar, Natasha..." Aku berkata
"Kami setuju kalau kamu ikut, tapi bukan dalam perjalanan ini..." Verdea mengikuti dengan wajah canggung
"Aku tidak masalah. Turunkan saja aku di Goeitias, dan aku akan membuat tempat menginap sendiri"
Untuk apa???
"Anggap saja aku ingin liburan"
Itu alasan paling bodoh yang pernah kudengar
...
Tidak. Alasannya bukan itu saja
"Aku tahu kamu memiliki pikiran yang lain" Aku terus terang dengannya
Dia diam sejenak tidak menjawab
"Tasy-"
Tetapi belum sempat temannya selesai bicara, Natasha sudah menghapus cermin sihir itu dari hadapan kami
...
"Kenapa kamu melakukan itu?" Verdea bertanya
"Karena aku tidak ingin teman-temanku mendengarkan tentunya" Natasha menjawab
"Kenapa?"
...
Natasha menghela napasnya lelah mendengarkan pertanyaan Verdea. Tetapi sekali anak itu bertanya, dia tidak akan mundur, dan Natasha segera sadar dengan hal itu
"... Aku tidak akan membiarkan mereka ikut"
"..."
...
"Kamu tidak ingin membahayakan mereka?" Aku bertanya
"... Ya. Mereka sudah melalui terlalu banyak hal. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang ketua
Juga, kita akan menghadapi sekumpulan manusia yang sangat kental sihir hitamnya. Adanya korban pasti akan terjamin, dan aku tidak ingin salah satu dari mereka menjadi salah satunya"
...
"Natasha..."
"Tidak perlu mengasihaniku, Veskal. Aku lelah mendengar nada iba seseorang seperti milikmu itu..."
Veskal pun tutup mulut, walaupun kegelisahannya justru memuncak
Dia khawatir kepada teman lamanya itu
"Tetapi kamu menimpakan semua hal ke pundakmu sendiri" Verdea berkata
"Aku hidup di dunia yang keras pangeran. Sangat keras, sejak kecil hingga sekarang"
Begitu juga dengan kami, Natasha
Tapi aku tidak mengatakan hal itu secara langsung kepadanya. Kesulitan seseorang hanya bisa dinilai oleh orang itu sendiri. Dan aku tidak ingin menekannya dengan menanamkan pandangan kami di dalam penilaiannya
"Lalu apa yang akan kamu lakukan di Goeitias sendirian? Menurutmu kamu bisa?"
"Ada kota Dwarf dan desa Beast di pulau barat nya bukan? Turunkan saja aku disana"
...
Tidak. Dia tidak akan diperbolehkan masuk ke desa Beast itu. Dan aku tidak tahu siapapun yang tinggal di kota Dwarf disana
"Jika kamu saja, aku mungkin bisa membiarkanmu masuk ke dalam Goeitias"
"Sungguh??"
Tidak perlu antusias begitu juga...
"Boleh. Tapi setujui perkataanku ini"
"Silahkan"
...
Baru saja aku menyiapkan diri, Natasha langsung merasakan tekanan hebat hingga dia terbatuk dan membuat tiga orang lainnya terkejut. Sebuah sensasi yang mencekik menyelimuti lehernya selagi persiapan ini sudah kumulai
Walaupun begitu, aku tetap melanjutkan apa yang akan kukatakan kepadanya
Sebuah perjanjian dengan seorang Elf
"Jangan, dan aku serius berkata JANGAN, pernah sekalipun kamu melakukan sesuatu yang mencurigakan atau membahayakan sesuatu di dalam area Miralius ataupun Gerbang Hutan. Aku bisa tahu perbuatanmu selama disana, tapi aku akan membatasimu dengan sangat ketat"
Tatapan mataku menyorot tajam kearahnya, membuat dia masih merasakan tekanannya
Dan satu jawaban yang aku inginkan pun keluar dengan nada terbata-bata dari mulutnya
"Aku... Berjanji...!"
Tekanan itu pun segera menghilang, hingga Natasha bisa batuk dengan lebih mudah selagi menenangkan dirinya
"Tidak apa?" Veskal bertanya khawatir
Remina bahkan sudah siaga dengan sapu tangan seandainya Natasha membutuhkan benda itu. Tetapi dia langsung ditolak dengan sebuah dorongan kecil hingga tangannya yang terulur dengan sapu tangan itu pun dia tarik kembali
"Tidak apa... Itu hanya... Masalah kecil" Natasha mencoba meyakinkan
Aku khawatir dengan perspektifnya tentang besar kecil sebuah masalah. Maksudku, dia baru saja tercekik hingga rasanya nyaris mati...
Aku juga sengaja melakukan hal itu agar dia merasa terpaksa. Setidaknya ketentuan perjanjian itu juga tidak terlalu sulit
"Hah...! Padahal kamu bisa memberikan janji itu kepada kami semua, tapi kamu justru tidak memperbolehkan kami masuk ke Miralius"
"Sedikit rumit bila kujelaskan, tetapi janji dengan seorang Elf itu bisa membahayakanmu jika kamu melanggarnya sedikitpun. Dan aku tidak ingin membebani terlalu banyak orang dengan menggunakannya"
Seluruh Miralius juga tunduk di bawahku. Aku tidak ingin lebih banyak orang lagi seperti mereka...
"Perwujudan moral mu itu membingungkan. Kamu terlalu pengasih untuk dunia yang kejam, sungguh"
"Aku harap itu bukan caramu memanggilku lugu. Aku hanya tidak terlalu suka menyakiti orang lain, itu saja"
Kecuali satu orang. Aku sungguh berharap kastil Lily atau Rose terbakar dengan Rosalia di dalamnya sekarang ini...
Jadi intinya seperti itu
"Kamu boleh tinggal di Miralius. Tapi hanya kamu saja
Dan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, aku tidak akan membiarkan temanmu bergabung. Setidaknya itu saja yang bisa kulakukan untukmu"
Natasha perlahan mengangguk dengan wajah lesu
"Mereka semua terlalu berharga untukku Oberon"
Aku paham isi hatimu, sungguh
...
"Yah, setidaknya ada Veskal untuk menemanimu nanti" Aku berkata untuk meringankan suasana
"Tidak terima kasih. Bahkan ketika dia kecil dulu, dia itu menjengkelkan" Natasha berceletuk
"Aku jadi penasaran bagaimana Veskal ketika kecil dulu" Verdea mengikuti
"Tidak ada yang hebat. Dia sungguh membosankan. Parahnya dia itu satu-satunya temanku disaat itu"
"Oh ayolah. Setelah semua perbuatan baikku kepadamu, Tasya" Veskal akhirnya menyela
"Aku bisa menceritakan sedikit. Kalian mau dengar?" Natasha kemudian menawarkan
"Tidak!! Jangan pernah!!"
Ahahaha!
Dari raut wajahnya aku saja bisa tahu kalau ada sesuatu yang memalukan di dalam cerita itu
"Sudahlah. Lain kali saja ceritanya"
Verdea dan Remina langsung cemberut
Veskal yang bernapas lega itu pun mengancungkan jempolnya kepadaku, selagi Natasha hanya tertawa kecil
__ADS_1