
--- Malam harinya ---
"Ha!"
Ayunan yang sangat dipenuhi oleh rasa frustasi
"Ha!"
Ayunan yang hanya membelah udara semata dan bergerak dalam satu pola saja
"Ha!"
Ayunan yang menandakan seseorang yang masih kokoh dan gigih dalam mempelajari pengalaman yang telah diberikan kepadanya
Pengalaman berpedang yang sangat elegan dan mematikan. Sesuatu yang terlihat seperti sebuah tarian, walaupun diperuntukkan untuk memotong sesuatu
Sebuah teknik dalam menggunakan sebuah senjata. Sebuah pedang
Remina mencoba mengingat kembali setiap serangan yang diarahkan oleh Edwin kepadanya. Setiap lekuk tubuh, setiap gerakan tangan, dan setiap arah pandangan yang telah dia gambarkan dalam kepalanya
Setiap tipuan yang juga membuatnya kalah setiap kali pedang mereka harus beradu
...
"AAAH!!! Pola serangan orang itu sulit sekali!"
Kepalanya sudah terasa sangat panas mencoba mengingat semua itu, hingga dia hanya bisa merajuk sembari mengguling-guling diatas tanah yang dingin karena udara malam
Bajunya sudah sangat kotor, dan dia punya beberapa lebam. Walaupun bisa sembuh keesokan harinya, rasanya masih sangat menyengat setiap kali lebam itu tersentuh oleh sesuatu
Sesekali dia meringis di tanah selagi berbaring tanpa daya. Tetapi dia sudah mengajukan diri ke dalam sesuatu yang tidak bisa dia tarik kembali. Pertama pemilihan petinggi baru, dan kedua latihan berpedang dari Edwin
Dia harus bisa menuntaskan keduanya secepat mungkin. Waktu semakin menipis, dan dia sebentar lagi harus masuk ke tahap ujian pemilihan petinggi itu
"Aku penasaran Verdea dan Veskal sedang apa sekarang..." dia bergumam pelan
Matanya kemudian menatap kearah sisi, tepat kepada pedang yang ada di tangannya—pedang yang dia buat dari sihirnya sendiri
Pedang itu dia angkat ke hadapan wajahnya, hingga dia bisa menelaah benda itu dengan sangat seksama
Sebuah pedang yang terlihat sangat normal. Dan dari apa yang dia ingat dari toko senjata di hari itu, Remina sudah yakin kalau pedang yang dia buat dengan sihirnya ini adalah sebuah tiruan yang sempurna
Beratnya. Ketajamannya. Bahkan seluruh simbol yang diukir di gagangnya
Dan apabila dia memang gagal meniru sesuatu, benda itu tidak akan bisa mengambil wujud fisik sepadat ini
...
Tetapi penyesalannya hanya satu
"Seharusnya aku mencari pedang yang lebih ringan..."
Ya. Pedang itu terlalu berat untuknya. Walaupun dia bisa dengan layak mengayunkan dan menjadikannya sebuah senjata, bobot dari benda itu masih bisa dia rasakan dengan sangat baik
Bahkan Edwin juga berkata, 'Pedang yang terbaik untuk penggunanya bukanlah pedang yang ditempa oleh penempa senjata terkenal ataupun yang memiliki kualitas terbaik...'
"... Pedang terbaik adalah sesuatu yang bisa berkomunikasi dan tidak menghambat penggunanya..."
Sebuah pedang yang bisa dengan baik dia ayunkan tanpa merasakan bobotnya. Sebuah pedang yang tahu dia harus diarahkan kemana tanpa menyeret ataupun membuat penggunanya kewalahan
Sebuah pedang yang ideal adalah sebuah senjata yang mampu menjadi bagian tubuh penggunanya
"... Dan itu berlaku kepada sebuah senjata. Tetapi pedang adalah senjata yang spesial..."
Karena pedang adalah senjata yang paling sempurna dan seimbang. Juga, karena keseimbangan itulah, kamu dan dirinya harus menyelaraskan diri dengan satu sama lain. Bukan semata karena dia baik digunakan untuk melindungi diri sekaligus menyerang
Dan dengan teknik yang tepat, senjata apapun bisa jadi sangat mematikan
...
Dia mengulangi kembali setiap kalimat yang diutarakan Edwin kepadanya tadi. Setiap kalimat yang tidak boleh dia abaikan dalam menekuni ilmu berpedang
Semua kata kunci yang dia butuhkan mengenai keberhasilan mempelajari ilmu ini terkandung dan larut dalam kalimat itu
...
"Mungkin aku harus membuat tiruan Edwin dengan Imaginary Copy"
Remina pun menepuk pipinya untuk menyemangati diri. Dan dengan tekad yang sudah kembali, dia bangun dari tanah—siap untuk melatih dirinya sekali lagi
Malam sudah larut, jadi dia tidak bisa terlalu berlama-lama
"Imaginary Copy"
Nama dari rapalan itu pun dia lantunkan, dan sihir yang datang dari Mana-nya mulai membentuk menjadi sosok seseorang, yaitu Edwin
Tiruan itu sudah jadi sangat sempurna. Sepenuhnya mengambil wujud Edwin yang berada di dalam ingatan Remina. Perbedaannya hanya satu, yaitu Edwin yang dia ciptakan ini sama sekali tidak akan bergerak ataupun berekspresi jika dia tidak perintahkan
"Aku akan tanamkan gerakan Edwin yang kuingat kepadamu, jadi jangan menahan diri dalam memperagakannya"
Tiruan dari Edwin itu pun mengangguk paham, selagi Remina memainkan jarinya di udara untuk memasukkan memori menggunakan Mana-nya ke dalam kepala tiruan itu
Tiruan itu sempat tersentak sejenak, namun segera diam mematung kembali tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Dan sesuai dengan perintah Remina...
Tiruan itu mulai memasang kuda-kuda milik Edwin
__ADS_1
"Berdiri menyamping dengan tangan kanan diatas gagang pedang yang masih disarungkan..."
Remina tersenyum ketika melihat kalau tiruan itu memperagakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang ada di ingatannya
"Sempurna! Aku bisa latihan seperti ini mulai sekarang!" dia kemudian dengan girang mengangkat tangannya ke udara tanda semangat
Tidak lupa dia mulai berlari ke sisi berlawanan, menjauh dari tiruan itu untuk memulai latihan mereka. Dan dengan kuda-kuda miliknya sendiri, kedua petarung sudah siap untuk mulai beradu pedang
"Siap?! Maju!!"
Keduanya melesat ke depan dalam waktu yang bersamaan hingga sisi kedua pedang mereka mulai menimbulkan suara-suara yang tajam
Remina dengan senyum yang sangat besar, mulai menikmati latihan itu sebelum mereka bahkan masuk ke puncaknya
...
Tetapi dia tidak sadar ada yang menontonnya sejak tadi. Seseorang yang bersembunyi dengan sangat baik di kegelapan malam
"Ah-! Bahkan tiruan seperti itu masih cukup kuat juga ya...?" orang itu bergumam selagi menelaah Remina yang baru saja dikalahkan
Lagi dan lagi dia menelaah. Setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis kecil itu membuatnya tetap terpaku dan terpikat
Dan dia disana semata-mata bukan hanya untuk mengawasi Remina, tetapi juga untuk belajar. Dia tahu kalau dia akan mendapatkan sesuatu dengan melakukan hal ini, dan dugaannya sangatlah benar
Penguntit itu belajar lebih banyak ketika mengawasi Remina ketimbang belajar secara mandiri
"Siapa kamu?"
Tetapi dia dikejutkan oleh suara yang berasal dari belakangnya. Sebuah suara yang cukup dalam dan dingin, seakan itu saja sudah mampu untuk menusuk badannya
Dia pun terpaksa berbalik, untuk menemukan kalau Veskal lah yang sudah menegurnya
Hanya saja, yang membuatnya takut bukan hanya karena dia ditemukan, tetapi karena fakta kalau Veskal bisa menemukannya ketika dia memakai teknik Elf bulan dalam menyembunyikan keberadaannya
"A- aku datang kemari dalam damai. Dan juga, tolong jangan berisik..."
"Kenapa?"
"Tuan Veskal. Gadis bernama Remina itu sedang latihan..."
Orang itu pun menyerah. Dan dengan pasrah, dia menampakkan dirinya dari balik bayangan hingga Veskal dia buat terkejut
Kenapa? Karena Veskal tahu betul dia itu siapa
"Kamu anak yang dilatih Zaphir itu? Yang paling muda?"
"Airavan. Namaku Airavan"
Veskal langsung mengangkat ujung bibirnya karena heran. Diantara semua orang yang bisa saja mengintip Remina latihan, dia tidak menyangka kalau Airavan adalah salah satunya
"Tidak dalam cara yang itu-!"
"Hanya kamu yang berpikiran begitu, nak"
...
Veskal entah kenapa tiba-tiba jadi merasa geli ketika dia menyadari kalau dia telah memanggil seseorang dengan sebutan 'nak'. Tetapi dia tahan perasaan itu dengan mengalihkan wajahnya sejenak dan mengatur ekspresinya
"Aku datang kemari untuk menjemput Remina agar mau pulang. Tapi tidak kusangka dia punya satu penggemar sekarang" Veskal kemudian berkomentar, semakin membuat Airavan tersipu
"Sejujurnya, kenapa kamu kemari?" dia kemudian memberi pertanyaan
Airavan terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus menjawab diantara 2 hal. Hanya karena dia kebetulan lewat, atau dia memang tertarik untuk mempelajari latihan yang Remina jalani dan sempat memikirkannya sejak tadi
...
"Apakah latihan Remina itu sulit, tuan Veskal?" dia tiba-tiba justru memberi pertanyaan balik
Veskal jadi semakin heran ketika pertanyaannya tidak dipedulikan lagi. Tapi dia pun hanya menyerah, tahu kalau tidak ada gunanya mengulang pertanyaan yang sama
"Lucunya, ya. Sebagai seseorang yang dilatih oleh Zaphir dan Luna sekaligus, latihan dengan Edwin terlihat sangat ganas karena dia tidak menahan dirinya sama sekali" Veskal pun memberi jawaban kepadanya
"Bahkan tuan Zaphir??"
"Bahkan Zaphir. Maksudku, kamu pernah lihat seseorang dikalahkan dalam waktu secepat itu ketika latihan semata?"
Veskal menunjuk hingga mata Airavan menuju kembali kearah Remina yang baru saja diterbangkan pedangnya oleh tiruan Edwin. Gadis kecil yang terlihat kewalahan namun tidak menghapus senyumnya itu pun membuat Airavan paham dengan apa yang dimaksudkan
"Ketika melawan tuan Zaphir, biasanya kami akan menyerah. Tetapi dia justru tidak menyerah walaupun dikalahkan untuk yang ke-7 kalinya..." Airavan berkata
"7 kali kamu bilang?"
Airavan mengangguk merespon Veskal. "Entah itu karena pedangnya lepas dari tangannya atau dia berhasil dijatuhkan oleh tiruan itu, Remina belum menyerah sampai sekarang" dia kemudian menambahkan
Kalimat itu membuat Veskal menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Bahkan setelah dia dikalahkan 20 kali tadi, dia belum menyerah...?" gumaman darinya pun terdengar, sebelum diikuti oleh suara tawa samar. "Aku jadi takut dengan anak-anak generasi ini..."
Tetapi Airavan sudah tidak memedulikan setengah dari kalimatnya itu karena dia kembali fokus kepada Remina
"... Hanya saja, tiruan itu tetap mengulang kombinasi gerakan tertentu" Airavan berkomentar, menarik perhatian Veskal
"Maksudku, gerakannya mudah diprediksi. Seakan dia sudah terpaku dengan sebuah teknik tertentu yang dia yakin akan selalu berhasil"
Veskal pun ikut membungkuk bersama Airavan agar Remina tidak sadar dengan posisi mereka. Dan setelah beberapa saat merasa nyaman, dia mencoba memperhatikan apa yang dimaksudkan oleh Airavan
__ADS_1
Perkataannya tidak salah sama sekali. Tiruan yang diciptakan oleh Remina itu selalu saja melakukan gerakan yang sama dan seakan sudah teratur. Dia hanya mencoba mengincar sebuah bagian tubuh semata, seakan di kepalanya dia berkata 'memotong bagian itu adalah satu-satunya pilihan'
Seakan dia menolak fakta kalau memotong bagian manapun dari tubuh seseorang menggunakan pedang itu tetap saja efektif
"Dia hanya mengincar kepala Remina..." Veskal berkata
Sesuatu pun ditangkap oleh kepala Veskal setelah melihat hal itu
"Ini mungkin efek dari pengalamannya berada di medan tempur semenjak berumur 12 tahun..."
Airavan tersentak takjub mendengar kalimat Veskal. "Tuan Edwin Black mengikuti perang semenjak 12 tahun??" dia bertanya dengan nada sedikit keras
"Dia bilang begitu di waktu itu. Tapi aku yakin dia tidak berbohong sama sekali" Veskal menjawab
Mulut Airavan pun tidak bisa tertutup, bahkan ketika dia mencoba memperhatikan kembali setiap gerakan kedua petarung yang mereka saksikan itu
"Teknik yang dikumpulkan dari pengalaman itu menakjubkan..." dia kemudian berkomentar
Kalimat itu juga bisa diutarakan untuk Zaphir, sebagai satu-satunya Elf yang masih hidup hingga sekarang dari masa perang ribuan tahun
Veskal yang teringat dengan hal itu bisa setuju dengan pendapat Airavan
"Kamu juga bisa mengumpulkan pengalaman dengan melawan Zaphir secara terus-menerus. Dia akan melatihmu dengan sungguh-sungguh jika begitu"
Sebagai seseorang yang mencoba membunuh Zaphir dan menantangnya sejak awal bertemu, Veskal bisa mengatakan hal itu
Bahkan Luna dengan niat usil dengan sengaja mengajarinya teknik Elf bulan hanya agar ayahnya Zaphir bisa dikejutkan oleh Veskal
Tapi itu juga lah yang membuat Zaphir berniat untuk melatih Veskal
"Dan sekarang aku bisa mencoba menyetarakan diri dengan para makhluk buas yang kekuatannya tidak masuk akal itu"
Dia memang tidak kuat, juga tidak lebih cekatan. Tapi dia lebih cerdik dibandingkan teman-temannya dalam sebuah pertarungan
"Ah, tapi ayunan kanan itu menggores leher Remina..."
Veskal pun tersadarkan dari lamunannya dan kembali memperhatikan. Betapa terkejutnya dia ketika dia menemukan sesuatu yang tidak sangka akan segera terjadi
Remina berhasil mengalahkan tiruan sempurna milik Edwin. Dia sepenuhnya berdiri diatas tubuh tiruan yang terlihat mematung itu, dengan pedangnya yang tertodong mengancam untuk membelah sisi kanan leher Edwin palsu itu
Napasnya terengah-engah setelah semua usaha yang dia lakukan. Dan pada akhirnya, semua usaha itu terbayar dengan sangat manis
Senyumnya melebar kembali selagi dia mulai melompat-lompat girang selagi bersorak kesana-kemari. Tiruan Edwin itu secara tidak langsung kembali ke bentuk asalnya—genangan air yang segera diserap oleh tanah dan meninggalkan bekas basah semata
Takjub, kedua orang itu samar menepuk tangan, sebelum menatap satu sama lain
...
...
...
"Dia menakutkan"
"Aku setuju, tuan Veskal"
Keduanya merasa dingin dan bergidik ngeri selagi menukar kalimat itu
"Juga, kamu sebaiknya tidak memanggilku dengan sebutan tuan. Namaku saja boleh"
"Tapi, kami para Elf sangat menghormati seseorang yang lebih tua. Aku yakin sebutan tuan itu sudah sangat cukup, terutama karena kita tidak punya hubungan darah"
Airavan yang bicara seakan manusia juga tidak punya tata krama yang sama membuat Veskal sedikit kesal. Apalagi karena dia bersikeras memanggilnya tuan
...
...
...
"Perasaanku saja atau kita sedang dilihati sekarang..." Veskal berkata selagi merinding
"Aku yakin bukan hanya kamu, tuan Veskal..."
Sebuah bayangan mulai membayangi mereka yang menoleh kearah sosok itu. Dan lihatlah, lihatlah
Lihatlah kelakuan kedua anak ini di tengah malam. Mengintip seorang gadis yang sedang latihan, sementara yang satunya tidak melaksanakan permintaanku
"V- Vainzel..."
"Oberon---"
Airavan ketakutan melihatku disana dan segera meringis karena tidak ingin terkena masalah, sementara Veskal terkejut dengan tangisannya yang mendadak itu
Hah...
"Bukan aku saja yang harus kamu khawatirkan disini..."
Aku menunjuk ke sisi belakangku, hingga mereka sadar kalau Zaphir dan Luna juga ikut. Zaphir menepuk wajahnya gusar dan tidak ingin mengangkatnya, sementara Luna hanya tersenyum remeh seakan berkata
'Masalah kalian, bukan masalahku'
Airavan justru semakin menangis keras, sehingga Remina yang baru saja mendekat mulai menatap dengan heran kepada kedua orang pengintip itu
Veskal pun hanya bisa tertawa canggung menghadapi situasi itu
__ADS_1