Book Of Flowers

Book Of Flowers
Goeitias, Benua Para Monster


__ADS_3

--- Beberapa jam kemudian, Goeitias ---


Intinya, semua orang sekarang akan pergi menuju Miralius. Teman-temanku, para Dark Elf, dan seluruh anggota Black Hunt. Kami terpaksa membiarkan kapal itu terbengkalai terlebih dahulu, menyembunyikan keberadaannya dengan sihir dan sebuah gua untuk memastikan kalau tidak ada yang bisa mendeteksi dan mencurinya


Perjalanan ini sunyi sekali, membuat bulu kuduk semua orang merinding dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Beberapa yang merasa tidak nyaman pun bahkan mulai membuka percakapan


"Jadi... Apa hubungan kalian sebenarnya?"


Aku dan Fyon langsung menolehkan kepala kami kepada Cyth


"Kami musuh" Fyon berkata


Aku hanya mengangguk setuju sambil memberinya tatapan tegang


"Omong-omong, kenapa kita hanya berjalan jika ingin cepat?" Tanya Cyth lagi


"Tutup mulutmu dan bantu aku mengawasi sekitar" Fyon membalas dengan nada kesal, sebelum dia mendapat sebuah ide. "Pemikiran kedua, berteriaklah sekeras mungkin dan jadilah umpan untuk kami" Dia pun menambahkan


"Hahaha. Aku memang bodoh, tapi tidak tolol dan sinting sepertimu" Balas Cyth sembari mengeluarkan nada sarkas


Cyth dan Fyon langsung menggerang seperti anjing dan sudah siap untuk menggigit leher satu sama lain


Aku hanya menghela napas selagi semua teman-temanku memasang tampang lelah


Kami harus mempercepat jalan kami karena tidak ada yang namanya tempat istirahat lagi di benua ini di musim ini


Goeitias, benua para monster. Benua yang paling tidak pernah dikunjungi oleh ras manapun selain monster dan Elf


Hampir setiap sudut tempat yang dijuluki benua terbesar ini, dipenuhi oleh monster. Jika sedetik saja kami melonggarkan pengawasan kami, para monster itu akan menerkam dan menghabisi kami dalam waktu singkat


Hari sudah malam. Monster biasanya akan banyak berkeliaran di saat jam ini, terutama di area hutan. Parahnya, kami sekarang berada persis di area seperti itu—mencoba berjalan cepat setenang mungkin


Tapi kami sudah berjalan selama 2 jam, dan tidak ada satupun monster yang menunjukkan batang hidungnya


Aku harusnya bersyukur, tapi dengan ketidakhadiran monster di waktu seperti ini juga membuatku sangat curiga


Kemungkinan hal yang terjadi pada mereka antara mereka sedang hibernasi karena musim dingin, atau ada sesuatu yang membuat mereka tidak muncul


Kemungkinan keduanya adalah yang terbesar. Hanya beberapa saja jenis monster yang sedang hibernasi saat musim dingin. Sisanya sudah pasti akan berkeliaran mencari mangsa seperti hewan liar untuk dimakan


"Luna" Panggilku


Luna menoleh kearahku, tapi masih berhati-hati dengan pergerakkan Verdea yang berada di dalam gendongannya—menanam setengah wajahnya karena sedikit ketakutan dengan suasana sunyi ini


Luna menatapku seakan sedang menanti perintah. Tetapi perintah itu tidak ada sama sekali


"... Aku hanya memastikan keadaan kalian"


Dia pun tersenyum kemudian mengangguk pelan


Akan lebih baik kalau kami bisa cepat sampai ke Miralius. Fyon dan pasukan Dark Elf akan sangat membantu untuk melewati daerah berbahaya di benua ini


...


Kira-kira, apa pendapatnya ketika sudah merayakan tahun baru di Miralius, ya...?


Aku tahu ini pilihannya, tapi aku tetap berharap dia tidak kecewa...


*Sruk!*


Fyon menghadang langkahku sambil terlihat waspada karena suara itu


Tanpa bicara lebih lanjut, aku langsung tahu apa yang terjadi dan langsung menyuruh semua orang yang ikut untuk diam dan bersembunyi


Tidak lupa, aku menghapus jejak kami semua yang berada di atas salju dengan sihirku


Suara menggerang mirip seekor hewan terdengar di tengah-tengah kesunyian kami. Untuk melihat apa yang bersuara itu, aku mengeluarkan kepalaku sedikit untuk mengintip


...


Hitam. Besar. Mengerikan. Taringnya terlihat berkilau, seakan itu adalah belati yang selalu diasah dengan baik. Tubuh layaknya seekor serigala, namun berkali lipat lebih besar


Itu Direwolf. Salah satu monster terburuk yang bisa kami temui di benua ini


Mereka tidak jauh dengan serigala dalam bentuk wujudnya, tapi mereka memiliki kepintaran yang sangat luar biasa. Sangat jauh bila dibandingkan dengan serigala biasa


Mereka biasanya akan mengintai seperti ini dalam bentuk individu. Tetapi ketika mereka menemukan mangsa, mereka akan melolong untuk memberi tanda pada kawanannya


Hal yang paling parah adalah lolongan mereka sangat keras sehingga kemungkinan besar akan menarik monster lain kemari. Dan mereka akan senang hati menggunakan setiap monster yang ada untuk memulai perburuan mangsa mereka yang sesungguhnya


Jika kami berusaha melawan mereka terang-terangan, itu sama saja dengan bunuh diri


Para petinggi dan aku sendiri memang bisa selamat, tapi orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sihir tingkat tinggi akan sangat sulit bertahan hidup menghadapi mereka


Aku tidak ingin darah mereka tertumpah seperti itu. Kami harus bersembunyi dari monster malam yang satu ini


Direwolf itu terus melihat-lihat sekitarannya. Tapi kami semua tetap diam tanpa bersuara, sedikitpun


Dia kemudian pergi melewati tempat kami


Aku langsung menghela napas lega ketika melihat kepergiannya. Terutama ketika suara kaki monster itu semakin mereda dan menjauh, sehingga semuanya bisa merasa tenang


*Fush...!*


Hanya saja...


Aku harus berhenti berharap terlalu banyak, ketika ada penyihir bajingan itu membuntuti kami


Dia barusan melakukan sesuatu, dan mataku pun terbelalak ketika menyadari Direwolf itu mulai bergerak dengan aneh dari kejauhan


"LARI!" Aku berteriak


Semua orang langsung kaget mendengar teriakanku itu, tapi mereka langsung mengikutinya. Kami mengambil jalan memutar untuk kabur tanpa pikir panjang lagi


Tidak lama, Direwolf yang berada paling dekat dengan kami tadi langsung melolong untuk memanggil kawanannya


"Kenapa kamu berteriak!?" Ivor berkata


"Ada yang menaruh sihir hitam di monster itu!"


Ya. Tidak salah lagi. Sensasi gelap ketika mereka lewat di udara itu tidak mungkin salah. Itu sudah pasti sihir hitam


Orang yang melakukan sihir itu bahkan tidak berusaha menyembunyikannya dariku. Penyihir hitam itu pasti pelakunya


Dan tepat saat aku berpikir begitu, sebuah suara bergema di seluruh hutan


"Hahaha! Lari! Lari lah seperti babi yang diburu! Aku sudah mengarahkan setiap monster yang ada di hutan kepada kalian~! Jadi, silahkan nikmati dan beri aku pertunjukan yang menarik!"


Suara itu berakhir dengan tawa sinis yang menakutkan


Psikopat gila! Aku sudah tahu kalau dia pelakunya!


Dan sesuai perkataannya, aku bisa mendengar tidak hanya sedikit monster yang mengejar kami. Aku menduga ada puluhan monster di tempat ini, dan dia mengirimkan semuanya. Kepakan sayap, suara langkah dan bahkan suara khas dari setiap jenis monster yang mengejar kami itu membuatku menduga kalau ada ratusan yang mengejar kami


Dia sudah kelewatan! Jika aku bertemu dengan Rosalia nanti, aku akan membuat orang itu dan pengikut busuknya ini membayar!


Aku harus melakukan sesuatu!


"Terus lari!"


Aku menghentikan langkahku dan menghadap ke belakang selagi semua temanku terus berlari


Mereka semua melihat ke belakang dan terlihat ingin menolongku, tapi aku berteriak sekali lagi

__ADS_1


"JANGAN PEDULIKAN AKU! TERUSKAN!"


Tapi Luna justru berhenti seketika dan langsung berusaha menghampiriku secepat mungkin—bahkan jauh-jauh menyerahkan Verdea kepada Ivor dengan segera


Selagi dia begitu, aku mulai menghirup napas sedalam mungkin untuk menenangkan diri. Monster-monster itu sudah mulai mendekat dan terlihat jelas di tengah malam melalui mataku


Ini akan jadi yang pertama kalinya aku menggunakan Semburan Mana milikku setelah sekian lama


Aku menebar banyak benih tanaman yang kubuat dari tubuhku sendiri ke tanah di depanku


Kemudian, aku meletakkan kedua tanganku di tanah dan bersiap menahan rasa sakitnya sekuat mungkin


Satu. Dua. Tiga. Mulai!


Mana di tubuhku langsung tersebar kesana kemari dan mulai diserap oleh benih-benih itu dalam waktu yang sangat singkat


Hampir dalam waktu yang seketika, tanaman berduri muncul dan membentuk dinding panjang dan tinggi yang menutupi jalan para monster yang mengejar kami. Bahkan beberapa dari mereka ikut tertusuk oleh tanaman yang aku paksa tumbuh itu


Badanku pun segera lemas seperti ada banyak duri yang tertancap di sekujurnya. Untung saja Luna berpikiran untuk berlari kembali, hingga dia langsung mengangkatku di punggungnya dan membawaku lari bersama yang lain


Kemampuan ini tidak menguras Mana milikku, tapi membuat banyak Mana-ku keluar dalam satu waktu. Itu sebabnya rasanya sangat sakit karena aku harus memaksanya sekuat tenaga


"Luna... Lempar ini kalau perlu..."


Aku tidak bisa mengangkat tanganku yang masih terasa sakit. Luna melihat kearahnya dan kemudian mengambil benih yang kupegang itu


"Kamu tidak mungkin bisa melakukannya lagi"


"Hehe... Aku cepat sembuh... Tidak sepertimu..."


Luna hanya memasang wajah risau dan gusar sambil terus fokus berlari


"Vainzel! Vainzel!" Teriakkan Verdea terdengar ke seluruh penjuru hutan


Dia pasti gelisah dengan keadaan ini. Karena itulah aku meminta Luna agar mempercepat larinya


Hah... Aku ingin membalas teriakkan anak itu. Tapi, tenggorokanku juga terasa sakit


Kami pun berhasil menyusul mereka. Lebih tepatnya mereka berhenti untuk menunggu kami


Ketika mataku mencari Verdea, aku mendapati dia sedang menangis dan mulai berlari kearahku setelah Ivor menurunkannya karena terpaksa


"Tenang saja... Teruskan... Berlari..." Aku berkata


Verdea masih terlihat tidak tenang selagi dia mencengkeram baju Luna. Itu karena dia melihatku yang kesakitan di punggung teman kami ini


Tapi, Luna mengulangi perkataanku dengan keras kepada mereka semua. Ivor langsung menggendong Verdea lagi, walaupun anak itu memaksa untuk tetap berada di dekatku. Dia bahkan berteriak dan meringis dengan keras lagi, mencoba meraihku dengan tangannya walau tahu tidak akan sampai


"Aku akan berlari di samping mereka. Jangan khawatir" Ivor berkata pelan untuk meyakinkan Verdea


Dia berhenti meronta, tetapi justru semakin banyak meringis ketakutan selagi kami meneruskan pelarian kami


Dan satu hal yang aku takutkan adalah, tembok itu tidak cukup tinggi untuk menghambat monster yang bisa terbang


Tepat saat aku memikirkan ketakutan ku itu, 3 ekor Athol—monster yang berbentuk kelelawar raksasa, datang dari atas kami dan mencoba menghadang jalan


Monster kelelawar raksasa itu meraung kearah kami, tapi Fyon dan Ivor langsung menyingkirkan mereka dengan cepat


"MONSTERNYA SEMAKIN BANYAK!!" Teriak Veskal dan Luxor yang panik sambil berlari ketakutan


Mereka melihat kearah langit di belakang kami dan terlihat banyak sekali gerombolan Athol datang menuju kearah kami dari kejauhan


"Teruskan langkah kalian!" Teriak Cyth dari kejauhan untuk mengarahkan kru-nya, walaupun orang itu sendiri berkeringat dingin dengan sangat hebat


Dia...


Tunggu! Dia tetap berlari sejak tadi! Seberapa jauh dia mau berlari?!


"KAPTEEEN!!!" Semua anggota kru-nya meneriakkan panik


Kami semua langsung terus berlari untuk memastikan tidak terjadi apa-apa dengannya


"Aku tidak dibayar untuk ini! Nyawaku kesayanganku! Jauhkan monster itu dariku!"


"Berhenti bersenandung dan tutup mulutmu, Pelaut sialan!" Teriak Ivor kesal


"Kapten! Tunggu!" Veskal berteriak sambil mempercepat larinya


Fyon menggelengkan kepalanya dan terlihat sangat kesal


"Semua pasukan! Lempar sihir ledakkan kalian ke langit di belakang!" Perintah Fyon


Semua anggota pasukan Dark Elf yang bersama kami langsung merapal sihir ledakkan. Tidak lama, sihir itu terlempar dan menimbulkan ledakkan seperti kembang api diatas langit


Para Athol langsung gelagapan dan menabrak satu sama lain untuk menghindari serangan sihir itu. Beberapa bahkan terkena dan mati seketika


Tapi tidak semuanya jatuh. Beberapa berhasil menghindarinya dan terus mengejar kami dari belakang


"Luna..."


"Ya, aku tahu!"


Dia langsung fokus. Fokus mengucapkan beberapa doa, selagi aku yang mulai sembuh kali itu mencoba berpegangan erat dengannya yang menengadahkan tangan kanan


"Archyon temesh iyor. Daos Myste Wenset, Asterionen!"


Detik dia selesai mengucapkan doa itu, senjata berbentuk panah pun muncul dan sepenuhnya terbentuk di tangannya. Sebuah panah yang terbuat dari kayu perak dan diukir dengan permata keunguan.


Dia mulai berdoa lagi dan kali ini sebuah anak panah berwarna ungu yang bercahaya muncul di tangannya yang lain. Senjatanya pun siap untuk ditembakkan


Badannya berputar menghadapi semua monster itu, tetapi terus berlari ke depan sambil membidik kearah langit di belakang


Setelah berhasil fokus dengan sasarannya, dia membiarkan anak panah itu terbang. Satu anak panah itu bercahaya di udara, dan terbelah lah dirinya menjadi ratusan anak panah yang langsung membunuh semua Athol yang tersisa dengan menghujani mereka


Luna langsung memberi tatapan seperti dia sedang kecewa kearah bidikannya itu


"Kemampuanku menurun..." Luna berkata pelan


Maksudmu panah yang mengenai semua sasarannya itu artinya kemampuanmu menurun?


Waw...


"AAAHHHH!! Tutup mata kalian! Ada Basilisk!" Teriak Cyth, jauh di depan kami


Haah... Orang itu lagi...


Aku langsung memakai sihirku dan menggunakan sebuah pohon untuk mencari keberadaan makhluk itu dan Cyth


Dan melalui pohon itu, aku bisa melihat badan seekor basilisk sedang mengejar Cyth yang lari terbirit-birit kesana kemari


Aku dengan cepatnya memerintahkan pohon itu untuk mengikat Basilisk itu dan menusuk matanya sampai berlubang


Pohon itu dengan ganas menangkap Basilisk itu dan mengikatnya. Hanya butuh sepersekian detik ketika dia jatuh dan pohon itu menusuk kedua bola matanya menggunakan akarnya yang lain


Basilisk itu meronta-ronta kesakitan. Perbuatannya itu justru memperparah lukanya dan membuatnya tewas setelah beberapa saat karena kehilangan banyak darah


Cyth langsung berhenti dan berusaha mengambil napas selagi kami mendekat


"Cih. Bajak laut banci!" Luxor berkata walaupun dia sendiri sebenarnya merinding


"AKU TIDAK SEKUAT KALIAN! LAGIPULA KALIAN HARUS MEMBAYARKU, INGAT ITU!!" Cyth justru membalas dengan sebuah bentakan


Berisik...

__ADS_1


Tapi kejaran monster itu rupanya sama sekali belum berhenti. Para Direwolf berhasil mengepung kami, dan dari kejauhan para monster yang lain masih meraung dan menggerang dengan keras


Para Direwolf itu memasang wajah seperti sedang tersenyum, sehingga Veskal dan Verdea menelan ludah mereka karena ketakutan. Luxor juga begitu, terutama ketika dia berdiri paling dekat dengan semua monster-monster yang menyeringai kearahnya


"J- JANGAN MENDEKAT KEARAHKU!!!!"


Sebuah cahaya muncul di tangannya. Dan di detik itulah aku memerintahkan kepada semuanya, "Hati-hati!!", dengan lantang


Luxor kemudian melempar sihirnya kesana kemari dan mengenai kebanyakkan Direwolf itu


Beberapa bahkan hampir mengenai kami karena dia melemparnya secara sembarang dengan mata tertutup


"Sadarkan dirimu!" Aku berteriak


Ah! Aku sudah baik-baik saja. Suaraku sudah kembali normal


Dan disaat itu juga, Luxor perlahan berhenti dengan tubuh gemetar. Kami melihat sekeliling lagi, selagi semua orang mulai mencari tempat aman untuk menyingkir dan mengumpulkan tenaga


Karena, para Direwolf itu menyerang satu sama lain. Seakan-akan mereka tidak mengenal temannya sendiri. Efek dari sihir milik Luxor sudah mulai bekerja


Dia memang penakut, tapi sihir cahayanya itu adalah salah satu yang paling kuat diantara petarung kami. Dia bisa membuat semua panca indra musuhnya mati sehingga mereka tidak bisa merasakan apapun ketika sihirnya mengenai mereka


Satu goresan saja. Jika kami tergores sedikit saja dengan sihirnya, panca indra kami akan padam fungsinya. Seperti yang terjadi ketika dia meratapi panik seorang Dark Elf yang tidak sengaja tergores sihirnya karena telat menunduk


Para Direwolf itu mungkin panik dan menyerang sesuatu yang mereka anggap mencurigakan, sehingga secara tidak langsung justru mulai membunuh satu sama lain


Menggunakan kesempatan itu, kami semua berlari lagi ketika mereka memberi celah yang kacau karena pertumpahan darah itu


"Woooh~! Sihirmu itu keren!" Veskal berkata


Luxor yang berlari sambil menutupi wajahnya itu hanya terus menggerakkan kakinya selagi tidak melihat ke belakang. Dia terlalu takut untuk merespon ataupun merasa bangga disaat itu


......................


"Hah... Hah... Akhirnya..."


Semua orang langsung berusaha mengambil napas di dalam gua tempat kami bersembunyi sekarang ini


"Rupanya kamu bisa berkelahi juga melawan jelmaan iblis tadi" Fyon berkata


"Tentu saja! Asal makhluknya tidak berukuran raksasa, aku pasti bisa melawannya!" Kata Cyth tersinggung


Fyon tertawa kencang selagi Cyth masih menggerutu


Semua orang yang lain juga berbicara dengan orang yang berada di dekat mereka. Sementara itu, aku masih tetap fokus. Aku sedang mencari keberadaan psikopat itu jika dia belum pergi


Ketika aku menemukannya, aku akan memberinya hukuman langsung sebagai seorang Oberon dan seorang teman


Dia tidak hanya berusaha mencelakai Verdea, Veskal, dan tamu kami para anggota Black Hunt, tapi dia berusaha mencelakai semua petinggi yang berada disini sekarang


Tidak bisa dimaafkan. Aku harus menyeret orang itu langsung ke Miralius


Tapi dia sudah menghilang. Dan sekali lagi, aku tidak bisa mendapatkan SATUPUN jejak miliknya


Aku geram dengan hal ini. Orang itu benar-benar kelewatan. Dia bahkan dengan hati-hatinya tidak meninggalkan bukti


Dia menggunakan sihir hitam itu tadi, tapi bukan untuk mengontrol monster-monster itu, melainkan untuk menandakan tempat kami untuk sementara


Harusnya aku menyempatkan diri untuk mengambil sebagian kecil dari sihir hitam miliknya itu...


Hah...


"Vainzel. Istirahat dulu"


Ordelia dan Verdea datang menghampiriku dengan tatapan khawatir


"Jangan pergi lagi..."


Verdea langsung memelukku. Seluruh badannya bergetar seperti ingin menangis lagi. Dan dia sama sekali tidak berniat melepaskan diri, terlihat dari cengkeramannya yang bahkan menusuk kulitku melalui jubah yang kukenakan


Aku pun mengelus kepalanya pelan dan berusaha menenangkannya. Rasa iba karena telah membuat anak ini khawatir langsung menimpa diriku dengan bobot yang sangat berat. Entah kenapa semua hal yang membuatnya takut selalu terlempar kearah kami akhir-akhir ini


"Tidak apa-apa... Aku ada disini..." Aku mencoba meyakinkan dirinya


Dia melepas pelukannya selagi aku berlutut, dan terlihatlah wajahnya yang sembab bertukar tatapan denganku


"Aku tidak akan kemana-mana" Aku meyakinkannya lagi


"Janji?"


Hmph...


...


Tahu kalau aku tidak akan melakukan apapun, dia mengeluarkan jari kelingkingnya. Dia colek badanku agar aku memperhatikannya kembali, sehingga aku paham dengan niatnya. Dia sungguh, hanyalah anak kecil, berpikir kalau janji jari kelingking bisa mengikat sesuatu


...


Tapi tidak salah juga. Rasa bersalahku masih terikat kepada dirinya. Dan aku juga tidak berharap dia harus melalui bahaya seperti ini lagi


Jadi aku pun menarik keluar jari kelingkingku juga, dan kuikatkan jari kami berdua dengan satu sama lain. Ikatan yang lagi-lagi hanya bisa membuatnya yakin dan percaya


"Janji"


Aku mengikat jari kelingkingku dengan miliknya sambil tersenyum. Dia pun akhirnya ikut tersenyum dengan wajah yang tenang, walau ada air mata yang terselip—nyaris keluar dari matanya


Haah... Anak ini...


"Kamu takut?" Ledekku


"Tidak! Aku cuma... Takut... Kamu hilang..."


Dia perlahan membuang wajahnya dan aku langsung tertawa kecil melihat tingkahnya


"Ini sangat menegangkan. Aku tidak kecewa kemari!"


Ahaha... Sifat barbar nya muncul... Tapi dia jadi imut ketika dia mencoba menutupi sikapnya yang sebelum ini


"Baiklah. Lupakan soal itu dan minum dulu. Matahari akan terbit" Aku pun hanya mengikuti alurnya


Aku menyodorkan botol minum yang kumiliki kepadanya selagi dia melihat cahaya matahari dari luar gua


Hm~ Tempat ini pas sekali untuk melihat matahari terbit. Lumayan tinggi, dan berada di posisi yang pas


Verdea duduk di tanah sambil terus memperhatikan matahari terbit. Aku juga ikut duduk di sampingnya dan kami berdua tersenyum kepada satu sama lain selagi tanganku mengelus kepalanya agar tidak perlu menangis lagi


Veskal yang melihati tingkah kami berdua mulai tersenyum hangat sambil ikut duduk dan menyaksikan matahari terbit di sisiku yang lain


Dia merasa senang melihat hubunganku yang akrab Verdea. Dan perasaannya yang senang pada kami berdua itu hanya dia utarakan dalam hati


Dia merasa senang aku dan Verdea bisa menemukan satu sama lain


Matahari mulai terbit. Semua orang langsung senyap seakan ini adalah acara yang sangat penting. Senyap seakan mereka menghormati sang matahari yang mulai terbit itu


Cahayanya perlahan menyentuh badan kami satu persatu. Dan setelah malam yang dingin dan melelahkan itu, kami akhirnya merasakan kehangatan dan ketenangan


Tapi perjalanan masih panjang. Perjalanan di benua berbahaya ini. Benua yang dikenal sebagai rumah para monster ini


Aku berdoa untuk keselamatan kami. Kami akan selalu membutuhkan itu selama perjalanan nanti...


...


Dan semoga... Semoga...

__ADS_1


Aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-temanku. Walau sesungguhnya, perpisahan seperti itu sama sekali tidak bisa dihindari...


__ADS_2