
Pagi-pagi sekali, semua penghuni rumah di kagetkan dengan kedatangan Bis kecil di depan rumah El. Tak lama, Ani keluar sambil membawa sebuah tas besar yang berisikan baju-baju nya.
"Ani, kenapa kamu pulang dan gak bilang dulu" Ucap afifah, sedangkan ani hanya menunduk tak menjawab apapun.
"Dia ku pecat" Jawab El yang baru saja turun dari tangga
"Kenapa?" tanya afifah sambil menghampiri El "kita kan masih butuh dia mas"
"Nanti sore pengganti Ani akan datang. Jadi biarkan dia pergi"
Ani menatap El sebentar, lalu ia berjalan keluar dengan perlahan.
"Tunggu" ucap El.
langkah kaki Ani terhenti, bibir nya tersnyum.
Pasti pak El gak jadi pecat aku. atau jangan-jangan dia mulai suka sama aku.
Dasar ani kepedean.
El berjalan mendekat ke arah ani "aku kasih bonus buat kamu. aku berharap kamu mendapat majikan baru dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama" El memberikan amplop coklat kepada ani. Dengan tangan gemetar ani mengambil nya. Saat Ani handak berterima kasih, El langsung pergi begitu saja. membuat ani menangis.
Bi lela dan bi Ula mengatakan kepergian Ani. Tentu mereka tidak tau alasan nya Ani di pecat, jadi mereka ikut menangis. Bisalah ibu-ibu suka seperti itu.
Setelah sarapan, Mau tak mau afifah harus bertanya tentang keputusan el memecat ani. Walau sebenarnya Afifah enggan untuk itu, karena ia masih sangat marah dengan kelakuan suami nya kemarin.
"Ya, intinya aku tidak suka dia bekerja disini" Jawab el, enteng
__ADS_1
"Aku suka mas, dia bekerja dengan baik disini"
El membuang nafasnya dengan kasar, tentu ia tau benar, bahwa istrinya itu tak akan berhenti bertanya sebelum ia mengatakan nya terus terang.
"Dia menggodaku" ucap el sambil tersenyum ke arah afifah "Kemarin malam, dia menghampiriku di kamar. Lalu, dengan berani nya memelukku yang sedang tidur" Ucap el lirih sambil merangkak di atas kasur menghampiri afifah, sedangkan afifah sendiri semakin mundur hingga kini dia bersandar di sandaran ranjang.
"Kau diam saja mas?" Afifah melotot
"Iya" Jawab el tersenyum.
"Minggir lah" Afifah mencoba menyingkirkan tubuh besar el, namun sia-sia
Cup
El mencium bibir afifah yang manyun.
"Kenapa kamu gak marah sama dia?"
"Udah aku marahin sayang, terus aku pecat. Udah ya jangan ngambek, jangan marah, jangan manyun, dan JANGAN DI BAHAS LAGI" El menekan kata-kata terakhir nya.
Afifah diam.
"Kemarin kamu kemana saja? kenapa pergi seharian sama zakir?" tanya afifah sambil manyun
El tersenyum "Zakir bilang, ada lahan di jual. Jadi mas kemarin survei sekalian jadiin harga nya"
"Mas beli sawah?" tanya Afifah
__ADS_1
"Iya, kata zakir banyak petani yang gulung tikar karena tanaman mereka jelek dan harga rendah. Jadi, banyak yang jual. Ada 3 hektar total nya"
Afifah melongo kaget "3hektar kamu beli semua nya mas?"
"Iya, nanti mas akan buka pabrik gitu. Jadi petani yang nganggur bisa kerja di pabrik"
"Kok kamu gak cerita sama aku mas" Afifah semakin kesal.
Cup
"Udah ya, jangan di bahas. Yang penting kamu sekarang jagain anak kita, didik dia agar memiliki kualitas terbaik" El memeluk Afifah dengan erat
Begitu saja membuat Afifah sudah baper, bahkan kemarahan nya hilang begitu saja di tekan oleh pelukan hangat yang di berikan oleh El.
"Baiklah, udah siang. mas mau berangkat kerja"
"Mas, kapan aku bisa tidur di atas lagi bersama mu?"
"Nanti malam kita tidur di atas ya. Biar si kembar tidur disini bersama bi Ula, dan nanti siang ada bi jiah, dia yang akan gantiin ani"
"Baiklah mas, kamu hati-hati ya"
Cup, El mencium kening Afifah, setelah itu Afifah mengantarkan El sampai depan rumah.
Afifah memandangi mobil putih mengkilap milik El yang semakin menjauh. Hidupnya sudah sangat bahagia sekali. Ia sudah memiliki Suami tampan, Anak kembar sepasang dan lebih nya mendapatkan Kehidupan yang memiliki ekonomi berlimpah.
Walau sampai saat ini, Ibu mertua nya belum juga merestui hubungan mereka. Afifah tak mempermasalahkan nya, yang penting ia akan terus berusaha menjadi menantu yang baik, terus bersikap baik walau umpan balik nya selalu buruk.
__ADS_1
Bibir nya tersenyum, mengingat kembali betapa banyak nikmat Allah yang sudah ia berikan kepada nya. Dia tak percaya seberuntung ini menjadi Nyonya Elramdan.