Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Cemburu?


__ADS_3

Keesokan hari nya, byan langsung kembali ke kota setelah sarapan, sedangkan nenek eka masih disana. ia tetap akan kembali ke kota bersama El. ia tak mau jika El menipu nya, jadi nenek eka memutuskan akan tetap berangkat ke Amerika bersama-sama.


Kini El sedang duduk di ruangan nya, tanpa diduga, Tiba-tiba Ustadz Amir datang kesana. El sangat kaget dengan kedatangan nya.


"Maaf siapa ya?" El pura-pura lupa


"Aku Amir, Sebelum nya kita pernah ketemu beberapa kali. Waktu aku dan afifah bertengkar di jalan tembusan"


El berpura-pura berpikir, seolah-olah sedang berusaha mengingat-ingat nya.


"ohh.. kamu mantan pacar istri saya?" El menarik satu sudut bibir nya.


"kita tak pacaran, cuma kita saling mencintai"


"Dulu, itu dulu" sahut El cepat, penuh penekanan.


Amir tersenyum "jangan berpura-pura dok! Aku tau semua yang terjadi sebenarnya di dalam rumah tangga dokter dan afifah"


"Aku akan menunggu waktu itu tiba, aku kasian kepada afifah, menjadi korban mu"


"tinggal beberapa bulan lagi, itu tak lama"


duar... tentu El tau dan paham maksud Amir,


"Kamu tau apa tentang kita? tentu kamu sebagai seorang ustad tau dong dosa nya merusak rumah tangga orang. kenapa ikut campur urusan ku?" El sangat kesal dengan amir


"Awalnya iya, aku ikhlas. namun ketika aku tau alasan mu menikahi nya, aku tak terima!"


"Kamu tau apa? kamu tak tau apapun tentangku dan afifah!"


"Sudahlah dokter El, saya sebaiknya permisi dulu. aku cuma mau katakan satu hal lagi. jangan sampai kamu membuatnya menangis, atau memukul nya."


"Apa kau sedang mengancam ku?" El berdiri dan menatap Amir dengan tajam


Amir tersenyum lalu berbalik hendak meninggalkan El.


"Tunggu! Aku akan katakan satu hal kepadamu"


El melangkah kan kaki nya menghampiri Amir, menatap nya kembali dengan tajam.


"Aku dan afifah akan pergi berbulan madu, aku akan buktikan, apapun yang kamu ketahui itu tidak benar!"


"Semua bisa mengatakan nya. namun buktinya sampai saat ini dia belum juga hamil! ohh... atau mungkin dia masih perawan" Amir langsung meninggalkan El.


Kini berganti Amir yang kesal. ia keluar dan langsung pulang ke rumah nya. ia memikirkan kembali kata-kata afifah dan El yang sama-sama mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. mereka juga terlihat saling mencintai, bukan seperti yang ia ketahui.

__ADS_1


Apa dia membohongiku? apa dia sengaja mengadu domba ku? Tapi apa untung nya dia mengatakan semua nya kepadaku. Aku tetap tak bisa tenang, kecuali afifah sudah hamil anak dokter El.


jam makan siang telah tiba, El dengan muka tak bersahabat pulang. bahkan andi tak berani hanya sekedar menyapa.


sampai di rumah, El makan tanpa bersuara, afifah menjadi sangat takut karena El mamang terlihat begitu menakutkan sekali.


setelah makan siang, El langsung naik ke atas dan masuk kamar. nenek eka pun sangat hafal, ia tau benar bahwa El sedang marah.


"Fah, kamu naik saja. sepertinya El sedang kesal, susul dia, takut dia butuh sesuatu" titah nenek eka, menghentikan afifah yang sedang beberes piring.


Afifah sebenarnya takut dan enggan menyusul El, namun dengan terpaksa ia pun akhirnya menyusul El.


dengan langkah berat, afifah menaiki anak tangga dengan perlahan. sejenak ia berhenti di depan pintu nya, ia membaca basmalah sebelum membuka pintu kamarnya.


ketika masuk, afifah melihat El sedang berdiri di depan jendela, El juga sudah berganti pakaian santai.


"Kamu mengatakan kepada siapa saja tentang pernikahan kita?"


"Maksudnya mas?" afifah memunguti pakaian El yang berserakan di lantai.


"Apa kau berniat kembali kepada pacarmu itu setelah bercerai dariku?"


"siapa yang kamu maksud mas? aku tak pernah pacaran" afifah bingung sekali dengan apa yang sedang El tanyakan kepadanya


El menceritakan semua yang Amir katakan kepadanya.


"Dia juga menemui ku di parkiran balai desa, dan mengatakan itu juga."


El mantap afifah dengan tajam.


"Tapi mas, aku menghindari nya dan mengatakan bahwa kita baik-baik saja"


"Jadi kemarin kau lama karena ketemu sama dia diam-diam? IYA?" El berteriak, ia sangat jengkel ketika tau Amir menemui afifah. padahal sudah satu minggu lebih terlewat. namun ia langsung ingat jiwa waktu itu afifah sedikit lama mengambil bekal.


"Kamu kemarin bilang, kalau kamu ke kamar mandi, apa kau pergi ke kamar mandi bersama nya"


Afifah langsung menampar El dengan keras. pukulan itu memang tidak keras, apalagi tangan afifah yang kecil. namun pukulan itu, sepertinya berdampak buruk bagi hati El.


"Aku Bukan wanita murahan mas! jadi jaga bicaramu!" kini nada bicara afifah sangat tegas, tangan nya juga gemetar.


"Kenapa kau tidak cerita kepadaku, jika dia menemui mu? hah!!!" El mencengkram lengan afifah dengan kuat sambil melotot, ia tak mau kalah.


Afifah langsung menangis ketika merasakan cengkraman El yang sangat sakit.


"Sakit mas... hiks hiks hiks"

__ADS_1


Melihat air mata afifah terjatuh, El langsung melepas cengkraman nya.


"Maaf" El memeluk afifah. ia benar-benar tak tega melihat afifah menangis. hati nya ikut merasakan sakit.


"Lepasin mas, lenganku sangat sakit" afifah berontak.


El pun melepaskan pelukan nua, lalu menuntun afifah untuk duduk di tepi ranjang. El menggulung lengan baju afifah. setelah terbuka, ternyata lengan afifah sudah lebam, cengkraman El benar-benar kuat.


"Diamlah, aku akan suruh andi mengantarkan salep."


setelah menelpon Andi, beberapa Menit kemudian andi datang membawa salep yang El pesan. nenek eka masih diam, tentu ia mendengar beberapa teriakan dari El, ia memilih untuk menahan diri agar tidak ikut campur dulu. ia takut menambah keruh suasana.


setelah sampai di kamar, dengan telaten nya El mengoleskan salep di lengan kiri afifah yang lebam, El benar-benar merasa bersalah. itulah sifat buruk El, dia mudah sekali cemburu dan sangat over protektif. tapi tunggu, apa El benar-benar cemburu?


"Maaf" lagi-lagi El meminta maaf, namun afifah tak menjawab nya "Tidak usah makan malam, tanganmu masih sakit"


"Tidak mas, aku masih bisa masak. yang sakit lengan aku, bukan tangan dan jariku"


"Aku bilang tidak usah Masak! kenapa kamu gak pernah nurut sih" El kembali kesal


"tapi aku gak suka masakan bi sugiati"


"Aku yang akan masak, mulai besok stop endors mu! selesaikan yang sudah masuk. 4 hari lagi kita pergi berbulan madu" El masih mengoleskan salep di lengan afifah sebelah kanan.


"kita benar-benar pergi mas?"


"Iya, kamu pengen kemana?" El memandangi wajah afifah dari samping. matanya tertuju kepada bibir afifah.


"terserah kamu saja mas" afifah menoleh memandang El


sejenak pandangan mereka bertemu.


tanpa di sadari, El terus mendekati afifah, matanya terus memandangi bibir afifah, hingga akhirnya bibir mereka menempel.


El mengelumatnya dengan sangat lembut. afifah ingin menolak nya, namun tubuhnya memaksanya untuk tetap menjadi menerima kelembutan yang El berikan.


Tiba-tiba El langsung melepaskan ciuman nya, ia mengaduh sakit saat El tak sengaja memegang lengan nya lagi.


"Maaf" El beranjak dari duduk nya. sedangkan afifah langsung tertunduk, ia merasa malu. tentu bagi afifah ini adalah ciuman pertama nya.


Suasana pun menjadi canggung, El pun bingung harus bagaiman. akhirnya ia keluar dari kamar dan meninggalkan afifah disana.


Ini salah! kenapa aku tadi tak menolaknya, seharusnya aku marah kepada nya. kenapa aku masih begitu lemah.


Tapi Aku tak boleh sampai memiliki rasa kepadanya lagi, Cukup! sudah sangat sering dia menyakitiku, aku tak mau membuka celah itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2