
Sabrina tunggu di sekolah ya, Mas.
Pesan tersebut, memaksa exel untuk datang ke sekolah. Bagaimana dengan usahanya untuk melupakan Sabrina? Exel malah menemui nya, walau sebenar nya ia menolak nya tapi tetap dia kalah dengan hati nya.
Bella duduk bersama Exel di halaman depan sekolah, mereka berdua duduk menunggu Sabrina datang. Exel sengaja membawa Bella, agar dia tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Assalamualaikum, Mas"
"Waalaikumsalam" Jawab Bella, Exel malah diam menatap gadis yang tetap saja sangat cantik meski hanya memakai seragam putih Abu-Abu.
Sabrina duduk di samping Bella, Exel masih diam. Sulit sekali bibir nya berbicara, padahal sebelum nya Exel sangat pandai berbicara.
"Mas, ini ada kado dari aku" Sabrina memberikan sebuah kotak, yang sudah ia bungkus dengan kertas kado batik.
"Apa ini?" Tanya exel sambil membolak-balikan kotak di tangan nya
"Buka nanti di rumah saja, mas"
"Kak Exel, Bella pamit dulu ya" Bella pamit pergi dari sana, merasa bahwa dia menjadi obat nyamuk
"Iya, bel. Terima kasih"
Bella pun pergi dari sana, ia terus berjalan menjauh dari Exel dan Sabrina. Suasana menjadi bening, rasa canggung hadir di antara kedua nya. Exel tersenyum kepada Sabrina sejenak, Sabrina juga membalas senyuman itu. Bertambahlah kadar kecantikan Sabrina di mata Exel.
__ADS_1
Sial, senyum nya saja membuat tubuh Exel menegang.
"Mas Exel"
Berrrrrr
Tubuh Exel langsung bergetar mendengar suara Sabrina yang memanggil nya.
"I.. iya?"
"Gak jadi deh" Suara Sabrina terdengar malu-malu dan manja. Membuat tubuh Exel semakin menegang.
"Yasudah, aku balik dulu ya. Ada urusan" Jawab Exel yang ingin sekali pergi dari hadapan Sabrina.
"Iya, mas"
Tetapi jangan salah paham, Exel memang cuek tapi saat ini ia hanya ingin segera pergi dari sana. Bukan nya tak mau memaksa Sabrina untuk mengatakan nya.
Exel langsung menancap gas nya pulang, ia sungguh tersiksa menhan semua ini. Tubuh nya terus menegang, meski sudah tiga jam berlalu.
"Pantang keluarin pakai tangan! Ah, sial" Exel terus menggosok kepala nya karena sangat kesal sekali. Sudah sangat lama ia tidak bercinta akhirnya sampai malam pun tubuh nya tetap menegang, Exel bebar-bebar tersiksa. Ia benar-benar butuh pelapasan hanya karena dengar suara dan senyuman Sabrina.
"Ahhh, leggaaa" Exel membuang nafas nya, ia menenggadah melihat ke atas sambil memejamkan mata nya.
__ADS_1
"Menjijikan sekali" Gerutu Exel melihat tubuh nya, setelah itu ia pergi ke bawah shower membersihkan tubuh nya.
****
Keesokan pagi nya, pagi-pagi sekali Exel bangun dan bersiap untuk kembali ke kota.
"Jangan nakal, nurut sama suami" Ucap Exel kepada Alexa.
"Hemm" jawab Alexa malas
"Nanti next time, aku akan bawakan hadiah yang banyak untukmu dan calon keponakan ku ini" Exel mengelus perut Alexa yang sedikit membuncit.
Alexa terharu, betapa sayang nya Exel kepada nya. Ia sungguh merasakan kasih sayang Exel yang sangat tulus, walaupun terkadang Exel menyebalkan sekali.
"Laa, kok nangis" Exel melihat nya terheran-heran. Bukan nya malu, Alexa semakin menangis di pelukan reihan.
"Aku gak sanggup lihat kak Exel pergi ke kota"
"Ohh.. Astaga, bumil" Exel memutar bola mata nya malas.
"Yasudah, yuk masuk kamar" Reihan membawa Alexa pergi ke kamar, sedangkan yang lain mengantar Exel sampai depan rumah.
Setelah proses perpisahan, cium tangan, cium pipi, menangis dan berpelukan. Exel masuk kedalam mobil dan mulai menginjak gas dengan perlahan sambil melambaikan tangan nya kepada El dan Afifah.
__ADS_1
"Sudahlah, ini bukanlah yang pertama berpisah dengan Exel"
"Kau ini memang bukan seorang ibu, jadi gak akan tau rasanya. Apalagi Exel jauh dariku sejak kecil" Afifah mengomel kepada El, ia benar-benar kesal.