Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Menguras kesabaran.


__ADS_3

"Sakit enggak?"


"Enggak mas"


Sudah 2 jam pasca kuret, el masih khawatir. ia takut afifah merasakan sakit karena, reaksi obat bius sudah hilang.


"Aku mau pulang mas, aku gak mau disini"


el berpikir, afifah masih harus di infus dan masih ada beberapa obat yang harus di suntikkan.


Aku bisa melakukan nya dirumah. kasian jika afifah tak nyaman disini.


"Baiklah, baiklah sebentar aku bersihkan dulu ya"


"Mas, aku gak suka pakai pembalut ini. gak nyaman"


"Kamu harus pakai pembalut fah, masa pakai underware terus"


"Iya mas, tapi belikan yang slim, ini terlalu tebal. belikan ditoko pak Haji"


"Yasudah pakai ini dulu, nanti kalau pulang mampir ke toko pak Haji"


"Gak mau, aku gak nyaman mas" afifah manyun. entah mengapa ia sangat ingin manja "Kalau di buat jalan mengganjal, dan bikin jalan ngangkang"


El diam, mempertimbangkan permintaan afifah.


"Yasudah, biar andi aku suruh beli sekarang"


"Ehhh... jangan. kamu saja mas yang beli"


sungguh El kali ini sedikit kesal. namun saat melihat wajah memelas afifah rasanya ia tak tega dan membuang jauh kekesalan nya itu.


"Aku gak tau fah, nanti kalau salah gimana. nanti saja ya mampir ke toko pak Haji" bujuk El


"Nanti kalau kamu sampai sana, vidiocall aku ya"


Tak ada pilihan lain.


"Tunggu sini, jagain afifah. jangan masuk dan jangan ada orang yang boleh masuk!"


"Siap pak" jawab santai andi, ia pun melanjutkan bermain game setelah El meninggalkkan nya.


"Ada di Pojok mas, dekat pempers bayi dan tisu" titah afifah.


Mata El mencari produk yang afifah sebutkan.


"Iya ini sudah" El mengarahkan cm kamera HP nya ke rak rak di depan nya


"Haaa.. itu mas, yang bungkus nya Hitam"


El langsung menangkap sesuatu berbentuk persegi dengan bungkus plastik warna hitam.


"Oke, kamu mau apa lagi?"


"ehhh.. Hati-hati keliru mas. Cari yang ada tulisan nya 42cm"


"Apa gak sama saja fah?" El mulai kesal


"Beda mas ramdan ukuran nya beda"


"Kamu kurus, kenapa pakai ukuran 42, mending yang ini 29"


"Ihhh.. bukan gitu mas, pokok nya aku beliin yang 42cm sama 35cm"


"yakin gak kegedean?" El sekali lagi memastikan nya


"Enggak mas, sudah kamu gak akan ngerti" afifah mulai kesal disana


"Yasudah, aku matikan"


El lalu mengambil semua stok sesuai ukuran yang afifah minta. dengan kesal El memasukan nya kedalam keranjang.


Biar gak beli-beli terus!!!


tak lama, El membawa kantong plastik besar berwarna merah masuk kedalam puskesmas.


"Banyak banget mas?" tanya afifah

__ADS_1


"Biar gak beli lagi. itu aku beliin roti. makanlah"


"Aku mau roti tawar ini dikasih susu mas"


El pun membuatkan roti dengan susu coklat. meski El sudah membelikan roti isi coklat, keju dan selai nanas, tetap saja afifah meminta roti tawar dikasih susu.


Sabar, ini benar-benar menguras kesabaran!


Mau tak mau El membuatkan nya, El benar-benar merawat afifah dengan sangat baik.


disisi lain, byan dan sanjaya berada di rumah El. bi sugiati sudah masak dan membersihkan rumah seperti biasanya. bi sumi juga sudah datang, sesuai perintah bi sumi langsung membersihkan kamar di lantai bawah karena jam 12 nanti afifah akan kembali.


tok


tok


tok


suara ketukan pintu, membuat byan yang sedang bermalas-malasan terpaksa bangun, karena sanjaya sedang tidur dan bi sugiati baru saja pamit pulang karena memang jam istirahat nya.


"Kok kamu disini?" ucap seorang wanita yang berdiri di depan pintu


"Ngapain kamu kesini? gak malu datang ke rumah suami orang?"


Sial, kenapa byan ada disini sih.


"Mau jadi pelakor? Iya?"


"Sebaiknya kamu pergi, El sudah bahagia dengan istrinya. kalau masih punya harga diri, sebaiknya kamu pergi saja"


dengan langkah kesal Rania pergi dari sana, namun saat ia hendak keluar gerbang ia berpapasan dengan El yang sedang menuntun afifah.


"El?"


Tentu El sangat kaget dengan keberadaan Rania disana, karena memang tak ada mobil di depan rumah nya.


"El" panggil Rania dengan nada seperti biasanya, manja


El langsung memandang afifah.


"Ngapain kamu kesini?" tanya El


El memandang afifah, ingin tau bagaimana reaksi afifah.


"Gak bisa!!" bukan El yang menjawab malah Byan, dan langsung dapat tatapan tidak suka.


"Gak usah masukan ulat kedalam apel El, daripada nanti apel mu rusak"


"Aku mohon El, sekali saja"


El masih memandang afifah, meminta persetujuan. tanpa di duga, afifah mengangguk dan tersenyum.


"Aku masuk dulu, bi sumi bantu aku bi" afifah melepaskan pelukan El.


Dengan sedikit berlari, bi sumi yang berdiri di ambeng pintu langsung menghampiri afifah. membantunya masuk ke dalam rumah.


"Non, sementara tidur di sini"


"Iya bi, bibi sudah masak? mas ramdan belum makan siang"


"Sudah non, bibi masakin Rendang karena tadi tuan sanjaya yang meminta nya"


"Iya bi, sekarang aku minta tolong siapin air hangat buat mas ramdan ya bi, dia mau sholat soalnya"


"Siap Non, non afifah butuh apa? biar bibi buatkan dulu"


"Siapin air hangat nya mas ramdan dulu saja bi, setelah itu buatin aku roti panggang pakai keju ya"


"Oke non"


afifah diam, dilubuk hati terdalam afifah merasakan kecemburuan, ia memikirkan, Kira-kira apa yang sedang dibicarakan suami dan mantan pacar nya itu.


"Kamu minta tanggung jawab ke aku? lucu aku Rania"


"Aku mohon El, kasianilah anakku ini"


El tersenyum "Sebaiknya kamu pergi, kita sudah lama tidak punya hubungan dan kita sudah punya kehidupan masing-masing"

__ADS_1


El melangkah masuk kedalam rumah, ternyata byan menunggu El dengan cemas di ruang tamu.


"Dia ngomong apa el? kamu jangan terpengaruh" byan menyentuh kedua bahu adik nya itu


"Dia lucu sekali mas"


"El sadar..... " potong byan, panik..


"Kakak apaan sih, aku sadar kak"


"Lalu kenapa kamu bilang dia lucu?" byan sungguh bingung


"Dia minta aku tanggung jawab sama anak yang sedang ia kandung"


"Whatttt? emang kamu pernah gitu sama rania?"


"Ya, tapi dulu" El melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah


"ku kira kau polos El, ternyata hahahaha... " byan malah tertawa


"Tapi bukan aku yang hamilin dia, mana mau aku tanggung jawab, enak saja. mau dibawa kemana istriku. lagian dulu aku juga bukan yang memakan madu nya" El duduk di meja makan, karena makanan juga sudah terhidang dan perut mereka juga sudah berontak ingin diisi makanan.


byan diam sejenak, ia ingat dengan dirinya sendiri yang lahir dari hasil perselingkuhan.


"Emang bapak nya siapa?"


"Dia hamil sama mantan pacar nya yang aktor itu. kan aktor itu sekarang udah mau nikah katanya dan gak mau tanggung jawab"


Byan diam kembali,


"Kak" El menegur Byan yang sedang melamun.


"Ehh.. iya"


"Mikirin apa?"


"Enggak kok, ayo kita makan! laper banget aku nunggu kamu dari tadi"


"Papa gak dibangunin kak?"


"Dia pesen gak boleh ganggu tidur nya"


Didalam hati Byan ada perasaan yang sangat mengganjal, dia merasa tak seharusnya berada di sini. namun, ia juga tak bisa meninggalkan mereka, jika pergi, kemana tujuan nya, lastri dan sanjaya menutup rapat semua nya tentang ayah kandung Byan.


"Kamu sudah sholat mas?" tanya afifah saat El merebahkan tubuh di samping nya.


"Sudah dong" El kini memeluk afifah, membenamkan wajah nya ke dada afifah


"kok gak pakai sarung?"


"Aku lepas tadi, pengen pakai gini. capek banget"


"Yasudah kamu tidur ya"


El mengangguk, tapi tangan nya sudah meraba-raba bagian dada afifah.


"Gak boleh" afifah tau kemana arah El.


"Dikit saja sayang, beneran aku akan tidur setelah itu gak akan ganggu. 10 menit deh"


"2 menit"


"5 menit deh"


Tak ada pilihan lain, afifah pun menuruti nya.


"Sebentar" El yang hendak melahap ****** afifah ter urungkan.


"Aku pencet dulu timer nya"


El mendengus kesal.


5 menit kemudian, HP afifah bergetar. menandakan telah selesai.


"Yang satu nya lagi belum sayang, kan tadi udah perjanjian 5 menit"


"Kamu curang sekali mas"

__ADS_1


el tidak menggubris malah melanjutkan aksinya.


Jangan lupa tinggalkan jejak...


__ADS_2