
"Assalamualaikum" ucap el sambil celingak celinguk di depan pintu rumah afifah
"waalaikumsalam" afifah keluar dan langsung menyeret el masuk, dan duduk di kursi ruang tamu
"Pak.. ohh maksud ku mas." afifah sungguh gugup "ibu dan pak lek tau kalau kamu tadi pagi meluk aku. aku takut sekali mas" bibir afifah bergetar, jelas dari muka nya ia terlihat sangat ketakutan.
el kaget sekaligus merasa bersalah "maafkan aku... aku gak bermaksud... "
"Assalamualaikum" kata-kata dokter el terpotong dengan suara hanan. afifah pun menoleh begitu juga dengan el.
tubuh afifah bergetar ketakutan, el pun menjadi sangat tidak tega.
afifah pun berdiri mencium tangan pak lek nya, tapi tidak dengan el, membuat hanan semakin jengkel karena terkesan tidak sopan. tentu el tidak tau, seumur hidup nya ia hanya mencium tangan orang tua, nenek, kakek dan guru nya. jadi el tak tau tentang itu semua.
"duduk paklek, afifah panggil ibu di dalam dulu"
afifah berjalan masuk kedalam rumah. sedangkan di ruang tamu suasana menjadi hening. el juga bingung mau bicara apa. jadi lebih baik diam, begitulah pikir nya.
tak lama bu zainab keluar, dan langsung duduk di samping hanan. setelah itu hanan memulai basa-basi menanyai el tentang usia nya, dan keluarga nya.
"Langsung saja pak dokter"
"maaf, jangan panggil saya pak dokter. kalian semua lebih tua dari saya. dan kerabat calon istri saya. jadi kalian bisa panggil saya el" hebat sekali el, sekali bicara bisa membuat hanan terkejut. bu zainab pun tersenyum
"Hmm.. baiklah nak el. disini saya sebagai pengganti ayah afifah yang sudah meninggal. afifah dan zakir sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. jadi afifah adalah tanggung jawab saya" dan benar adanya. walaupun istri dan anak hanan sangat benci kepda afifah. tidak dengan hanan.
"Perihal gosip diluar, saya hanya mengkhawatirkan afifah. jika terus berlanjut seperti ini, tanpa ada ikatan apapun. tentu sangat merugikan kita. pihak perempuan."
el diam, mencerna kata-kata hanan.
"Setidaknya kalian bisa bertunangan atau menikah, apalagi usia afifah sudah cukup. biar ada hubungan jelas"
el masih diam, padahal ia ingin sekalian meminta izin untuk membawa afifah ke kota. bisa gagal semua rencana nya, pikir el.
"Hmm.. baiklah pak, sebentar lagi saya akan kembali ke kota. hari senin saya kembali. lagi kesini dan membawa orang tua saya, sebagai bukti keseriusan saya."
hanan dan bu zainab masih diam.
"Bapak dan ibu bisa carikan hari yang baik untuk acara saya dan afifah menikah. jujur saya lebih tenang segera menikah agar tidak menjadi bahan pembicaraan semua orang"
kaget, itulah yang di rasakan bu zainab dan hanan.
"Baiklah nak, jika itu menjadi keputusan mu. kami akan mempersiapkan nya. kamu bisa siapkan berkas nya. biar langsung di daftarkan ke KUA" ucap hanan
"baiklah pak, saya permisi dulu. sekalian saya urus semua nya. untuk hari nya afifah bisa kasih kabar ke saya"
keputusan sudah di buat, kini hanan merasa yakin bahwa el benar-benar serius kepada afifah.
"Fah" panggil hanan, afifah pun terburu-buru keluar karena sejak tadi ia ketakutan
"Iya paklek"
__ADS_1
"duduk sini, temui kang mas mu" goda hanan, afifah pun jadi kaget, bingung dan rasa takut belum juga hilang
"duduklah nak, temani nak el. ibu buatkan kopi dulu" bu zainab dan hanan beranjak meninggalkan afifah dan el di ruang tamu
"Pa.. ehh.. mas, gimana?"
"Kita Nikah secepatnya" jawab el sambil memijat pangkal hidung nya. ia merasa sangat pusing sekali
"Apaaa!" kaget afifah lalu menggeser duduk nya agar lebih dekat dengan el "pak aku belum siap"
"Aku juga!" kesal el "ini salahku. tapi sudahlah gak usah disesali"
"pak.. ohh maksud ku mas"
"kamu biasakan panggil mas, jangan salah terus"
"iya iya mas, pak lek tadi marah sama kamu ya? aku akan berusaha membujuk nya"
"tidak usah, sudah aku akan kembali ke kota. mempersiapkan berkas pernikahan kita" el merasa sangat pusing
suasana hening. sampai pada akhirnya bu zainab membawakan kue dan minuman.
di rumah besar milik sanjaya, lastri terlihat sibuk memasak bersama bi sumi. karena nanti malam el akan pulang, jadi ia memasak untuk el.
sore hari, byan datang dengan nenek eka. agar tidak terjadi perdebatan yang berkepanjangan, byan langsung mengajak nenek nya itu naik ke lantai dua, untuk bersantai disana.
jam 8 malam, el baru saja sampai di rumah nya. ia merasa sangat lelah dan sangat pusing sekali.
"ell.. sayang, sudah pulang" lastri berlari kecil menghampiri sangat anak dengan heboh nya "nak, dimana ghea? kenapa gak suruh masuk dulu? sebentar mama akan panggilkan dia"
"Kau memang ibu tak becus, kau sibuk sendiri. tak pernah mengerti kalau anakmu ini sedang lelah" nenek eka memarahi menantu nya tersebut
"El sayang, istirahatlah. nanti bi sumi akan membawakan makan malam mu. kita bicara lagi besok pagi ya" seketika suara ketus nenek eka Erika menjadi sangat lembut
"Terima kasih nek, el naik dulu. pa, ma, kak el masuk dulu"
"iya nak istirahatlah" jawab sanjaya
byan berjalan mengikuti el di belakang "El, jika ada yang kamu simpan. berbagilah dengan ku. datanglah ke kamarku" ucap byan kepada el saat mereka naik di tangga.
"iya, makasih kak" el berhenti memandang kakak nya itu.
dulu saat el baru putus dengan rania, hanya byan yang slalu menemani el, bahkan byan sering bolak-balik ke Singapura.
setelah mandi, el melihat semangkok Mie kuah, nasi dan daging salmon bakar di atas sebuah meja. el pun langsung duduk dan menyantap menu makan malam nya setelah selesai memasang boxer.
di lantai satu, lastri dan nenek eka terus berdebat. nenek lastri terus mengomeli lastri karena sudah membuat el kesal.
"Kau memang tak tau situasi, bisa-bisa nya ribut ghea"
lastri diam
__ADS_1
"aku akan nikahkan dia sama gadis desa itu. jangan mimpi kamu halang-halangi aku"
"tapi bu, dia gak selevel sama kita"
"maaa, sudahlah ayo kita makan dulu" sanjaya menghentikan pertengkaran ibu dan istrinya
"sum, bawa makanan ku ke kamar, aku gak mood makan sama dia" nenek eka melengos
"nenekku benar-benar gaul. tau mood" byan tertawa cekikikan
"kamu slalu belain mama kamu" lastri merajuk kepada suami nya.
"ngalah saja ma, nama nya juga sudah tua"
"tau aa.. ini akibat slalu ngalah, udah 35 tahun menikah tetap saja seperti ini" lastri berjalan mendahului suaminya. sedangkan sanjaya sendiri hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala nya saja.
setelah menghabiskan makanan nya, el membuka kelambu kamar nya, ia duduk di sofa sambil menikmati lampu perkotaan yang bisa di jangkau dari kamar nya.
el terus memikirkan masalah nya, kepala nya benar-benar sangat pusing di buat nya. el memasang handset di telinga nya, ia memutar sebuah lagu, dari ponsel nya sambil memejamkan mata nya.
setelah beberapa lagu ia dengarkan, Tiba-tiba suara nya terhenti, pertanda ada sebuah pesan masuk. el pun langsung melihat nya. Lagi-lagi el terlihat sangat kesal.
Lebih baik aku tidur, bisa pecah kepalaku memikirkan semua ini.
***
Disisi lain, lastri sedang mengobrol bersama ghea melalui telepon.
π Gak tau tante, el gak mengizinkan aku ikut mobil nya. maaf
π iya gakpapa sayang. semangat ya
πtapi kayak nya el beneran pacaran sama dia tan, tadi pagi aku melihat el memeluk cewek kampungan itu di dapur
π el di peluk apa memeluk ghe?
πel memeluk cewek itu tan, beneran
El itu sangat berbeda dengan byan, bagai langit dan bumi. byan suka banget nyosor ke cewek, tapi el? bahkan 2 tahun berpacaran dengan rania, mereka hanya sejauh ciuman bibir saja, dan el gak segampang itu nyosor ke cewek... ohh my god, tidak tidak tidak, aku gak pengen punya menantu orang kampung.
setelah mematikan telepon nya. lastri duduk bersama sanjaya di teras belakang, lastri sangat pusing memikirkan el, jika sebelum nya lastri slalu pusing masalah byan, dan sekarang byan sudah anteng, ganti el yang membuat kepala nya pusing.
"mama kenapa? kok di pijat kepala nya?" tanya sanjaya saat lastri duduk di kursi besi tepat di depan nya
"mama pusing pa, sangat pusing memikirkan el"
"kenapa sih ma, sudahlah biarlah mereka memilih pilihan nya sendiri. jangan memaksakan nya" ucap sanjaya sambil kembali fokus melihat layar ponsel nya
"papa memang gak asik, mama semakin pusing kalau disini terus sama papa" lastri merajuk dan memilih masuk kedalam rumah.
**
__ADS_1
Happy satnite..
jangan lupa tinggalkan jejak