
Pagi ini, El menemani istri dan anak nya berjemur di teras. Karena ini hari Minggu, El tentu saja libur bekerja.
Segelas kopi dan susu juga sudah berada di atas meja, menemani pagi sejuk di desa.
"Alexa mirip sekali ya sama papa nya" puji El sambil mengunyel-uyel pipi gembul Alexa
"Kalau Axel kayak siapa ya mas"
"Kayak kamu, tu hidung nya gak terlalu mancung"
Afifah langsung melirik tajam suami nya itu, yang mengatakan bahwa hidung nya tidak terlalu mancung.
"Kan bener, lihat ini hidung nya Alexa. Mancung, cantik sepertiku"
"Ya deh, percaya yang keturunan bule" kesal afifah
"Kan emang bener sayang, seharusnya kamu bangga dong punya suami bule"
"Akhir-akhir ini, mas sering sekali terlalu percaya diri seperti ini"
"Biarin dong" El mengambil Alexa dari dalam Stroller, mengangkat nya dan langsung mencium pipi bulat anak perempuan nya itu.
"Kamu gemesin banget sih nak, cantik juga mirip papa" Gunam El sambil terus menciumi pipi Alexa
Afifah juga sama, ia mengambil Exel dan menggendong nya di atas pangkuan nya. El sangat menyukai Alexa karena wajah nya sebelas dua belas dengan nya. sedangkan wajah Exel sama dengan Afifah.
"Assalamualaikum" Teriak seseorang
"Waaikumsalam"
Ternyata adalah zakir, adik afifah. Dia sudah tumbuh remaja, semakin tampan dan menjadi pria idaman di desa. Namun sayang, Zakir sendiri yang masih berumur 18 tahun tidak mau terburu-buru untuk menikah, ia masih ingin mengembalikan semua modal yang pernah El berikan kepadanya, walaupun El tidak meminta nya atau bahkan El tak berharap uang tersebut di kembalikan.
"Ada apa pagi-pagi kesini kir?" Tanya afifah sambil meletakkan kembali Axel ke Stroller.
"Heheh.. kangen sama keponakan kembar ku mbak" Ucap zakir sambil cengengesan.
"Hei, jangan cium dulu" cegah afifah, sehingga zakir menjauhkan kepalanya yang hampir mendekat ke arah Exel.
"Jaga jarak!"
El hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.
"Zakir baru mandi mbak, lagian zakir juga tidak bersentuhan dengan siapapun"
"Fah, gak usah berlebihan seperti itu" afifah yang hendak bicara pun langsung menutup rapat-rapat mulut nya.
"Ayo masuk kir, bawa Exel juga" ajak El, sambil melangkah masuk duluan.
Mereka semua masuk, afifah juga ikut masuk sambil membawa secangkir kopi El dan gelas susu nya. Lalu mereka duduk di ruang tengah.
"Kalian mengobrol saja, aku mau membantu di dapur" pamit afifah saat tau adik dan suami nya itu sedang berbicara tentang bisnis
"Fah, gak usah ikut masak"
Afifah diam, lalu berbalik menatap El "Tapi mas, aku pengen... "
"Kamu mandi saja ya, gak usah repot-repot masak" potong El tanpa menunggu afifah menyelesaikan kalimat nya
"Oke baiklah" Pasrah afifah.
Afifah segera mandi, setelah memerintahkan Ani dan Bi Ula untuk mengambil alih si kembali Exel dan Alexa. Lagian juga sudah waktu nya mereka sarapan.
Afifah naik tangga dengan perlahan-lahan, ia ingin sekali mandi di kamar mereka, sudah berbulan-bulan ia tak masuk ke kamar tersebut.
Ia memandangi seluruh sudut kamar nya. ia melihat tetap rapi, namun ada tumpukan kertas di meja, karna memang El bekerja di sini. ia butuh ketenangan dan kesunyian, lagipula jika ia bekerja di kamar bawah, akan mengganggu anak dan istri nya.
__ADS_1
Setelah sarapan, El dan Zakir berpamitan untuk keluar. entah kemana mereka, karena tak mengatakan nya kepada afifah. Membuat afifah kesal saja.
Sore hari, el baru saja pulang. Afifah hanya diam saja, tak menyapa nya bahkan tak bertanya apapun. Ia hanya duduk di atas kasur sambil memandangi kedua bayi nya yang mainan boneka tangan.
"Sayang, kamu udah makan?" Tanya el yang seperti nya baru selesai mandi
"Hemm" jawab afifah cuek.
"Yasudah, mas mau ke atas. Ada kerjaan banyak" satu kecupan mendarat di pipi kedua anak nya dan tak lupa ia mengecup kening afifah. Setelah itu el langsung pergi begitu saja. Padahal Afifah sedang marah kepadanya, bahkan bibir nya udah capek manyun terus dari tadi.
"Bi lela nanti anterin makan malam saya ke atas ya" pesan el sebelum naik tangga
"Iya tuan" jawab bi lela sambil tersenyum.
Di kamar afifah merasa jika suami nya itu tidak menghiraukan nya, padahal rencana afifah hari ini akan bermain ber empat, mumpung el sedang libur. Namun kenyataan nya, rencana itu hanya tinggal angan-angan saja.
Makan malam pun tiba, afifah melangkah untuk menuju ke ruang makan, berharap di sana suami nya sudah duduk menunggunya. Namun lagi-lagi afifah di buat kecewa sekaligus heran, karena bi lela menyiapkan makan malam dengan piring satu biji saja.
"Mas Ramdan udah makan ya bi?" tanya afifah ketika bi lela mendekati nya untuk menyiapkan makan malam afifah
"Baru saja saya antarkan ke atas nyonya. Tuan el minta makan malam nya di antar"
"Ohh.. " afifah kembali kesal.
Di sisi lain, Ani terus saja mengamati afifah. Senyum nya terukir saat ia melihat afifah kesal.
Pasti mereka bertengkar, atau tuan el lagi marah kepada istrinya. Kesempatan bagus ini, lagian tuan el juga dari pagi cuekin istrinya.
Ani terus saja tersenyum, sambil menggendong Alexa.
"Ni" Panggil Bi Ula "Exel sudah tidur, itu Alexa juga tidur. kenapa tidak di taruh saja"
"Ohh.. iya mbak, ini mau aku taruh"
Bi Ula mengikuti langkah kaki ani yang hendak masuk ke kamar untuk menidurkan Alexa.
Bi Ula diam, ia seperti nya enggan meninggalkan si kembar.
"Gantian mbak, biar aku yang jagain sekarang. kemarin-kemarin kan mbak yang jagain"
Bi Ula terlihat diam, memikirkan kembali perkataan Ani. Ada bener nya juga, karena selama ini Ani slalu istirahat terlebih dahulu.
"Yasudah, aku masuk dulu ya" Bi Ula langsung meninggalkan Ani. Senyuman Ani mengembang ketika bi Ula sudah meninggalkan nya.
......................
Afifah merasa tak berselera, ia hanya menghabiskan separuh porsi yang tadi sudah di ambilkan oleh bi lela.
"Udah tidur ya si kembar bi?" Tanya afifah saat ia melihat bu ula berjalan melewati nya.
"Iya nyonya, apa nyonya membutuhkan sesuatu?"
"Tidak bi, bibi istirahat saja" Jawab afifah.
"BI lela" Pangil afifah, yang di panggil pun langsung berlari.
"Ada apa nyonya?"
"Aku mau istirahat ya, jadi gak usah bikin susu"
"Baik nyonya" Bi lela menganggukan kepala nya, tanda mengerti.
Afifah langsung meninggalkan ruang makan, ia melangkah menuju kamar tamu, saat ini mood nya buruk dan ingin sekali tidur. Sungguh afifah merasa galau, ketika el tak menghiraukan nya.
"Kamu istirahat saja dulu, ani."
__ADS_1
"Nyonya tidur saja. Jika nyonya tidur nanti saya akan kembali ke kamar saya"
Afifah pun akhirnya memilih tidur. Karena sudah perintah dari el, bahwa ani dan bi ula boleh meninggalkan si kembar saat afifah sudah tidur.
Ani sangat bosan sekali menunggu afifah, yang sudah satu jam lama nya belum juga tertidur. Afifah masih berguling kesana kemari seperti orang bingung. Sedangkan afifah sendiri juga sulit untuk terlelap, mata nya enggan untuk berkompromi dengan suasana hati nya.
Kini afifah kembali beristigfar, meminta ketenangan hati dan juga pikiran. Lalu membaca doa tidur kembali, dan tenyata berhasil, beberpa menit kemudian afifah sudah berhasil masuk ke dunia mimpi.
Ani pun langsung melancarkan aksi nya. Ia langsung kembali ke kamar untuk sedikit berdandan. Tak lupa ia memakaikan minyak wangi keseluruh tubuh nya.
Setelah memastikan bahwa kondisi sudah aman, semua orang sudah tidur, ani perlahan naik ke lantai dua sambil membawakan segelas kopi.
Saat ia sampai di depan pintu kamar utama, ia merapikan kembali baju nya, dan memastikan lagi bahwa tubuh nya sudah sangat wangi.
perlahan ani menekan gagang pintu, lalu menodorong nya. setelah terbuka, ternyata ani melihat el berbaring di atas kasur sambil meletakan kedua tangan nya di belakang untuk bantal kepalanya.
Langkah kaki ani hampir saja tak terdengar, namun ternyata el mengetahui nya. El yang tadi hendak tidur, tiba-tiba melihat ani masuk ke kamar nya tanpa mengetuk. El sendiri memilih untuk diam, berpura-pura tidur. Ia ingin tau sekali, apa yang hendak dilakukan oleh ani.
Awalnya El mengira ani akan mencuri, atau sekedar ingin menjelek-jelekan afifah. Namun di luar dugaan El, Ani malah ikut naik ke kasur dengan sangat pelan-pelan.
El sendiri mengamati nya, sesekali ia membuka sedikit mata nya untuk melihat apa yang sedang Ani lakukan.
Namun lama-lama, El merasakan bahwa ani terus saja menggeser tubuh nya, hingga kini ani dan El sudah tidak ada lagi jarak.
El masih diam, ia masih belum mengerti apa maksud semua ini. Lalu perlahan ani meletakan tangan nya di atas perut El. sejauh ini El masih diam, walau ia ingin sekali meneriaki wanita ganjen di samping nya.
Ani sendiri saat ini sedang menikmati bau maskulin tubuh El, benar-benar membuat ani mabuk kepayang. Ia pun lelu mengarahkan ponsel nya ke depan, agar bisa mengabadikan momen ini.
Prankk...
saat hendak memotret nya, El langsung menangkis kasar HP tersebut hingga jatuh di lantai.
"Kau!!!!" El langsung berdiri, melotot dan berteriak ke Ani.
"Dasar tak tau diri, wanita ganjen, murahan, cihhhh.... menjijikan" umpat El
Ani sangat ketakutan sekali, padahal sudah tinggal satu detik lagi ia akan berhasil, tapi lagi-lagi ia gagal, bahkan setelah ini ia yakin bahwa hidupnya juga akan selesai.
"Kau dipecat!!!" Teriak El
"Aku mohon maafkan saya pak, saya khilaf pak. Saya janji gak akan mengulangi nya lagi" Ani menangis, sejadi-jadi nya.
"Tidak! bagi Elramdan, tidak ada kesempatan kedua buat orang-orang seperti mu"
"Saya mohon pak, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini" ucap ani yang sudah memohon di kaki El sambil menangis, entah itu menangis beneran atau hanya air mata buaya.
"PER-GI-LAH" teriak El sambil menendang Ani agar melepaskan pelukan nya di kaki El
"Aku minta kamu segera pergi dari sini, dan besok pagi jangan nampak kan wajahmu kepadaku" Tegas El
"Pergilah, sebelum aku benar-benar memukul mu!!!!" teriak El, membuat ani langsung berdiri dan meninggalkan El di sana.
Dasar wanita murahan, wanita penggoda, menjijikan sekali. Kalau sampai tadi aku sudah tidur dan dia melakukan aksi nya. Bisa-bisa aku dan afifah akan perang.
Menyebut nama afifah, El langsung teringat dengan istrinya itu. El langsung pergi dari kamar tersebut dan langsung menghampiri afifah.
Sejak lagi aku sibuk sendiri dengan urusanku, sehingga aku tak mempunyai quality time bersama kalian.
El memandangi wajah polos ketiga orang yang amat dia cintai dan sayangi itu. setelah itu, ia ikut berbaring dan memeluk afifah.
...****************...
Alhamdulillah bisa update lagi, maaf ya slow Update.
Kesehatan Author benar-benar menurun. Akibat nya mood jadi jelek, ide tak keluar.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak biar semakin semangat.