
Ustadz amir dan istrinya sekarang duduk di rumah milik Kyai Jalil. Kyai Jalil dan istri nya juga duduk bersama mereka. Mereka semua melewatkan jam sarapan mereka, sejak tadi setelah sholat shubuh berjamaah mereka diam, Memikirkan banyak hal.
"Kau saja yang terlalu memanjakan nya, mir. Lihatlah sekarang, Kebanggaan kita jadi omongan banyak orang"
Amir masih diam, dia sejenak melihat wanita yang duduk di samping nya. Wanita yang sudah melahirkan dua Anak nya. Dia merasa bahwa bibir nya harus diam, agar sesuatu yang sudah lama ia pendam di dalam hati nya tidak melukai wanita yang berstatus menjadi istri nya tersebut.
"Tidak ada pilihan lagi, kita langsung nikah kan saja Sabrina dengan Salman. Tidak usah menunggu Sabrina lulus, lagi pula nanti ketika sudah menikah, Sabrina hanya akan diam di rumah" Ucap Kyai Jalil lagi
Lagi-lagi Amir merasa bahwa takdir nya di tentukan oleh orang lain, bukan karena diri nya.
Terbesit kembali kejadian puluhan tahun yang lalu, saat ia menikah dengan Sari, anak seorang Kyai juga.
Sari memang tak secantik Afifah, namun semua kelembutan hati Sari membuat Amir tak tega jika harus menyakiti nya. Walau masih menjalani pernikahan setengah hati, Amir berusaha untuk tidak melukai hati nya. Ia menutup masa lalu nya agar tidak terdengar di telinga Sari.
Tersiksa, sangat tersiksa waktu itu. Amir menjadi laki-laki bodoh yang slalu menuruti keinginan keluarga. Meski akhirnya keluarga nya berakhir bahagia, namun saat melihat Afifah, Amir masih merasa bahwa di hati nya masih ada setitik cinta untuk Afifah.
Tidak ada yang berkhianat di antara kedua nya, hanya karena restu dan kehormatan orang tua nya dulu lah Amir merelakan Afifah. Afifah dulu juga menjadi bahan omongan banyak orang, saat semua mengira bahwa Afifah bukan lah wanita baik.
Adam, juga menjadi korban keegoisan kakak nya, Kyai Jalil. Amir merasa tak tega sekali jika melihat Adam dengan istrinya. Raut wajah Adam sama persis dengan raut wajah nya dulu, menggambarkan keterpaksaan dan pura-pura.
Hanya karena Adam menjadi pewaris pesantren selanjut nya, Kyai Jalil menikahkan nya dengan putri Kyai besar di kota X.
Sekarang bagaimana dengan Sabrina? dia adalah anak nya, bukan anak Kyai Jalil. Jadi yang bertanggung jawab penuh dengan Sabrina adalah dirinya, bukan kakak nya. Ambisi Kyai Jalil adalah menjadikan Sabrina istri pewaris pondok pesantren terbesar di kota ini. Apalagi Salman mengatakan bahwa dia menyukai Sabrina.
Amir awalnya bahagia dengan kabar ini, dia juga akhirnya ikut mendukung Ambisi kakak nya. ia pikir Sabrina akan mau-mau saja dengan Salman. Tapi, setelah tau bahwa Exel berada di antara hidup Sabrina. Ia menjadi takut, ia tak ingin apa yang dia rasakan di rasakan oleh anak-anak nya nanti.
__ADS_1
"Dek, kamu pulang dulu. Siapkan sarapan ku. Aku mau berbicara dengan mas Jalil dulu"
Ucap Amir, setelah cukup lama Amir diam dengan memikirkan kejadian yang dulu sekali.
Sari hanya mengangguk, begitu lun juga dengan istri Kyai Jalil, ikut pergi dari sana bersama Sari.
"Untuk masalah pernikahan Sabrina, aku harus bertanya dulu kepada nya. Apa dia mau menikah dengan Salman atau tidak mas"
"Kenapa seperti itu, mir? keluarga kita tak pernah bertanya dulu kepada sang pengantin, apalagi pihak kita perempuan" Kyai Jalil seperti marah kepada Amir
"Tidak, mas. Aku akan tetap bertanya dulu kepada Sabrina"
"Kenapa kau ini? kau tak dengar dengan omongan banyak orang tentang sabrina?"
"Amir gak mau mendengar omongan orang, mas. Yang penting Sabrina tidak seperti apa yang mereka katakan"
"Mungkin ini semua karma, mas. Dulu sekali Afifah juga mengalami hal yang sama, karena aku"
Ustadz Amir langsung beranjak pergi, ia tak mau menangis di depan Kyai Jalil. Setelah sampai rumah, dia masuk kedalam kamar, dan mengunci nya. lalu menangis, merasa bahwa ini adalah teguran dari Allah.
Yaa Allah, begini kah rasanya menjadi bahan omongan. di fitnah dan di caci. kenapa tidak aku saja, kenapa harus merusak citra anak kesayangan ku. hiks hiks hisk
Kabar Sabrina di hibahkan tanah oleh Exel menjadi pembicaraan banyak orang desa. Bahkan hadiah mahal dari Exel juga di dengar.
Di pesantren nyatanya mempunyai tembok yang bisa berbicara seperti tembok istana di zaman kerajaan.
__ADS_1
Berbagai omongan orang yang seenak jidat nya menyimpulkan terdengar sendiri sampai di telinga Amir dan keluarga nya.
*Sabrina di manfaat kan untuk kepentingan Pesantren.
Sama saja menjual Sabrina.
Setelah mendapatkan tanah dari Exel, sekarang mau di nikah kan dengan Gus Salman. Pintar sekali berpolitik.
Sabrina dapat hadiah barang mahal, gak mungkin kalau mereka tidak saling kenal sebelum nya. Apalagi barang yang di berikan semua nya pas di Sabrina.
Mungkin mereka juga bertemu diam-diam
Ku kira Sabrina itu diam, tidak macam-macam. Ternyata sama saja.
Exel itu bule, sejak kecil di luar negeri. Cara berpacaran nya pun berbeda. Mana mungkin tidak macam-macam dengan Sabrina, apalagi Exel memberikan banyak hal kepada Sabrina*.
Fitnah ini ternyata lebih kejam dari fitnah yang di tujukan kepada Afifah dulu. Afifah merasa kasian dengan Sabrina, karena bagaimanapun juga Afifah itu tetap berhati baik. Ia tau bagaimana rasa nya di posisi Sabrina saat ini.
Afifah juga tak bisa menghentikan omongan banyak orang, ia juga tau bahwa barang-barang yang slalu di bawa Exel ketika pulang ke desa ternyata benar di berikan kepada Sabrina.
Namun apa yang bisa ia lakukan, ia tak bisa mencegah nya. Sekalipun ingin. Jika ia ikut berbicara, sudah pasti semua nya akan menjadi keruh dan tetap Sabrina yang akan jelek. Pihak laki-laki seperti Exel tidak akan berpengaruh. Sekalipun nama Exel jelek di desa, itu tidak pengaruh apapun dengan nama dan popularitas nya di hidupnya.
"Alexa juga mendengar nya, mommy. Biar saja, mungkin karma"
"Maksud kamu apa Alexa?"
__ADS_1
Matilah kau Alexa. Mulut mu gak bisa diam, dan akhirnya keceplosan!