
Pagi ini, tapi lebih tepatnya sudah siang. Exel baru saja bangun dari tidur nya. Kini ia sudah berada di desa kelahiran nya. Suasana desa lebih asri dari kota, belum mandi dan sikat gigi Exel sudah berdiri menghadap ke balkon belakang menikmati angin spoi, walaupun sudah siang dan terik matahari sudah terasa di kulit.
"Kak, kata Mommy. Anterin aku" Suara Alexa membuat konsentrasi Exel yang tengah merasakan udara segar langsung terganggu, ia nenoleh dan menatap Adiknya itu dengan kesal
"Kemana sih, lagian aku juga belum mandi"
"Nanti jam 3 sore" Jawab Alexa begitu saja dan langsung pergi.
Axel tak menghiraukan nya, ia kembali menikmati suasana nya.
Afifah sendiri tengah sibuk dengan acara lamaran Zakir dengan Gadis desa sebelah. Dari sekian banyak gadis yang menginginkan Zakir, hanya satu gadis yang begitu enggan dekat dengan zakir, Karena itulah zakir menjadikan nya istri. Hanya dia satu-satu nya gadis yang mencuek i nya. Sedangkan yang lain, slalu open kepada zakir. Tak dapat di pungkiri. Zakir adalah pemuda yatim piatu, yang sudah sukses di usia terbilang sangat muda sekali. Apalagi kini tak hanya menjual pupuk. Zakir mengelola pabrik beras milik el, kakak ipar nya itu, apalagi Pabrik itu semakin besar.
"Mbak, Zakir gak mau pesta mewah. Yang penting hikmat. Lagian calon istriku itu pemalu, dia juga gak mau diadakan pesta besar"
"Keluarga nya gimana?"
"Keluarga nya itu sangat sederhana mbak. Kasian jika kita membawa keluarga kak el untuk ikut datang"
Afifah diam memikirkan lagi kata-kata Zakir.
"Yasudah, akad nikah di adakan di KUA saja kir, setelah itu semua pengantar pengantin langsung di arahkan ke rumah mu. Biar kita yang sedia in jamuan makan" Saran el
"Iya, mas ramdan benar. Biar seperti itu saja. Lagian kamu juga akan mengundang teman-teman mu juga kan?"
"Iya mbak, kalau seperti itu nanti aku akan ke rumah pak lek hanan"
"Iya, lusa saja kita ketemuan lagi, bicarain ini lagi"
"Iya, nanti zakir akan bilang ke pak lek hanan"
"Yasudah, mbak pulang dulu"
zakir mengangguk lalu ikut berjalan mengantar afifah dan el sampai depan rumah.
Afifah dan el pun masuk ke dalam mobil, setelah membunyikan klakson dua kali, el menginjak pedal gas sehingga mobil yang di tumpangi nya berjalan.
Afifah dan el kembali ke rumah nya. Ia berharap anak pertama nya sudah bangun, karena matahari sudah berada di atas kepala.
"Mas, Selama ini aku gak pernah lihat Exel sholat. Apa dia sudah tidak islam lagi?" tanya afifah di dalam mobil dengan sedikit takut. ia takut el marah.
"Dia masih islam, cuma memang di sana kegiatan islam kan tidak banyak fah, jadi kamu harus maklum" Jawab el dengan tenang sambil mengemudikan mobil.
"Nanti Alexa akan mengaji, biar Exel yang antar"
El menoleh ke arah afifah "Terserah kamu saja, 2 minggu lagi, dia sudah kembali ke Amerika. Kamu boleh mempermak Exel, aku akan mendukungmu" El tersenyum, ia rasa ini sangat perlu, agar afifah tidak terlalu memikir kan Exel.
Mamang selama ini Afifah tak pernah melihat Exel sholat. entah bisa mengaji atau tidak sekarang, walau dulu waktu kecil sebelum ke Amerika sudah bisa mengaji huruf hijaiyah.
"Assalamualaikum" Ucap Afifah sambil memasuki rumah
"Waalaikumsalam" Alexa berjalan menghampiri Afifah dan el
"Anak Papa kok cantik sekali, mau kemana?" Tanya el
"Kan mau ngaji pa"
"Tapi masih jam 2 sayang" el melihat pergelangan tangan nya
"Kan kalau hari rabu, masuk jam 2 karena ada pengajian dulu pa"
"Ohh... iya papa lupa"
"Dimana Kak Exel xa?"
"Di atas mommy, entahlah gak turun-turun. Alexa sebel banget, nanti Alexa terlambat gak dapat duduk di bagian dalam masjid"
El mengusap kepala Alexa yang tengah duduk di samping nya itu. Bibir nya tersenyum, Alexa sungguh tubuh menjadi gadis sholehah, InsyaAllah.
"Mommy akan susul sebentar"
Afifah naik ke lantai dua, ia melihat anak bujang nya itu baru saja menyisir rambut nya yang basah.
"Xel, adek kamu udah nunggu itu"
"Iya mommy, sebentar"
Afifah mendekat ke arah lemari, lalu mengambil sesuatu di sana.
"Pakai ini xel, ke masjid masa pakai kaos sama celana pendek" Afifah memberikan sarung dan kemeja
"Ihh, gak mau mommy, biar Exel pakai ini. lagian kan cuma mengantar saja"
"Yasudah, kalau gak mau kamu ganti pakai celana. jangan pakai celana pendek gini"
__ADS_1
Exel menatap afifah yang tersenyum kepada nya "Okey, mommy keluar dulu. Exel mau ganti celana"
"Yasudah, cepat ya. Kasian Alexa"
"Iya iya mommy" Jawab Exel dengan sedikit kesal.
...****************...
Kini mobil yang di kendarai Exel sudah terparkir di samping sebuah masjid. Alexa turun setelah berpamitan kepada Exel.
Namun saat ia hendak pulang, Exel teringat bahwa dia tidak tau jalan pulang. Dengan sangat kesal, Exel pun harus menunggu Alexa sampai selesai.
"Sungguh sangat membosankan sekali disini" Omel Exel setelah lima belas menit diam di dalam mobil.
Ia pun turun, memakai kacamata hitam, dan topi. beberapa orang yang sedang lewat melihat Exel terus.
"Siapa dia?"
"Apa dia bule?"
"Apa dia kesasar ya"
Exel mendesah, ya begitulah Indonesia slalu saja mengurusi urusan orang, batin Exel.
Exel berjalan, mendekat ke arah menjual yang berada di seberang masjid. Di Sana ada penjual gorengan, es cream dan beberapa jajanan.
Karena sudah sangat kenyang, Exel memutuskan untuk membeli es cream.
"Pak, beli es cream" Ucap el
"Ohh.. silahkan" Jawab penjual dengan senyuman, padahal jantung nya deg deg an, takut Exel menggunakan bahasa asing.
Exel memilih beberapa varian rasa yang tertera di sebuah kertas.
"Mau rasa pisang, blueberry sama coklat pak"
"Iya, sebentar" penjual tersebut mengambilkan 3 bungkus es cream sesuai pesanan Exel.
setelah membayar Exel berjalan ke sebuah kursi kayu yang tak jauh dari sana, dan duduk di atas nya sambil menikmati es cream.
Baru saja duduk, belum juga membuka kacamata dan topi nya, ada anak kecil yang menghampiri e
Exel "Om, om" Parah nya dia memanggil Exel dengan sebutan Om
Exel membuka kaca mata nya lalu melihat dengan jelas anak perempuan memakai jilbab merah muda itu "Om tadi beli es cream rasa pisang ya" Tanya nya
"Aku beli dong om, aku pengen memakan nya" Anak kecil tersebut mengulurkan tangan nya yang memegang uang kepada Exel.
Exel kaget, apa ini juga kebiasaan orang Indonesia, batin nya.
"Kamu bisa membeli rasa yang lain"
"Tapi aku pengen rasa pisang om, om kan udah tua, kata umi yang tua harus ngalah sama yang muda"
Exel menatap anak perempuan itu, bagaimana bisa dia seberani itu kepada orang asing, bahkan dia mengatakan exel tua. Percayalah exel saat ini sangat kesal sekali.
"Yasudah, tapi kamu harus makan es cream nya disini"
Anak itu diam, memikirkan kembali permintaan exel "Oke baiklah, tapi jangan dekat-dekat bukan muhrim" dia mengatakan nya dengan nada ketus.
Lagi-lagi Exel kaget dengan pernyataan anak kecil tersebut, bisa-bisa nya anak sekecil dia sangat berani seperti ini.
Setelah exel memberikan es cream nya, anak itu langsung membuka bungkus nya dan memakan nya.
"Enak?" tanya el setelah ia melihat anak tersebut menjilat es cream nya
"Enak om, makasih ya" anak tersebut tersenyum manis kepada exel.
"Siapa nama mu?"
"Aku Sabrina om, nama om siapa?"
"Jangan panggil om, panggil kak Exel"
"Ohh.. om Exel"
"Kak Exel" tegas Exel
"hehehe... iya kak Exel" bukan nya takut, anak tersebut terkekeh saat Exel sedikit marah.
"kamu sekolah kelas berapa?"
"Aku kelas 6 SD. Kalau kak Exel rumah nya dimana? kok brina gak pernah lihat om, oh salah maksud nya kak Exel"
__ADS_1
Exel tersenyum "Rumah kak Exel di sana, di dekat lapangan bola"
"tapi kok Brina gak pernah lihat ya"
"Kak Exel sekolah di Amerika, jadi gak pernah pulang ke sini"
"Jauh amat kak" Sabrina terkekeh
Lucu sekali dia, lumayan lah gak bosen-bosen amat ditemani dia.
"Yuk foto" Ajak Exel sambil mengeluarkan ponsel nya yang tidak berguna itu.
cekrek
cekrek
cekrek
Beberapa jepretan mengisi galeri Exel. Sabrina adalah teman pertama nya disini, jadi ia harus mengabadikan nya, apalagi mengingat pertemuan mereka dirasa sedikit unik.
"Yasudah, Sabrina masuk ke masjid dulu ya kak" Pamit nya setelah menghabiskan es cream
"Ehh.. kok kakak di tinggalin sih"
"ayo masuk juga kak, pengajian akan dimulai lo"
"Hmm, tidak. yasudah pergilah"
"yasudah, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, see you next time, Sabrina"
"Hah? apa itu artinya?" tanya Sabrina polos
"Astaga, apa guru mu tidak mengajarimu bahasa Inggris?"
"Tidak ada pelajaran bahasa Inggris di sini kak"
"Duduklah lagi, aku akan mengajarimu bahasa Inggris"
Sabrina menatap kursi kayu yang tadi ia duduki, lalu menatap masjid. Sungguh ia saat ini tertarik ingin belajar bahasa Inggris.
Akhirnya ia duduk, Exel mulai mengajari nya bahasa Inggris.
"Apa kak Exel bisa bahasa arab?"
"Tidak"
"Biar impas, aku akan mengajari kak Exel bahasa Arab"
sekarang giliran Sabrina mengajari Exel bahasa Arab, lidah Exel kaku mengucapkan nya, membuat Sabrina terus tertawa. Namun Exel suka belajar bahasa Arab, hingga tak terasa pengajian selesai.
"Terima kasih ya Sabrina"
"Yo're Welcome kak"
Exel tersenyum, begitu cepat nya ia belajar dan mengingat nya.
"aku masuk dulu ya kak, nanti umi cariin aku"
"Iya kelinci ku"
"Ihh.. jangan panggil aku kelinci"
"Selama kamu belum bisa mengatakan Rabbit yang benar, kak Exel akan terus memanggilmu kelinci, hahah"
"kalau begitu kak Exel juga tak panggil khomsatun"
"Ihh.. jelek banget itu panggilan nya" Exel terkekeh
"Biarin, bye khomsatun, se you next time, assalamualaikum" Sabrina langsung berlalu pergi
"Waalaikumsalam" Exel masih saja tersenyum sambil menatap punggung kecil yang menyebalkan itu.
"Kenapa senyum sendiri, lihat apa sih kak" Alexa datang, ia mendapati saudara kembar nya itu menatap ponsel sambil tersenyum
"Emang jadi kebiasaan orang Indonesia ya, ngurusin urusan orang"
"Yeee, gitu aja marah." Alexa kesal "Ayo pulang udah sore"
Alexa yang kesal berjalan dulu menuju mobil, disusul oleh Exel. Namun Exel tak kunjung masuk ke mobil, ia masih melihat gerbang masjid, entah apa yang ingin Exel lihat, namun saat Alexa terus saja merengek untuk pulang, akhirnya Exel pun masuk dan pulang.
"kenapa tadi gak pulang saja si kak?"
__ADS_1
"kalau tau jalan pulang, aku gak akan nungguin kamu kayak orang sinting"
"yaa maaf" ucap Alexa karena merasa alasan Exel benar. gara-gara dia, Exel menunggunya selama dua jam.