Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Reaktif


__ADS_3

Setelah 3 bulan, El mendapatkan Libur nya selama satu bulan. Ia sangat senang sekali, dan ia ingin sekali kembali ke desa langsung menemui afifah, memeluknya bahkan menciumi nya.


Namun sebagai tenaga kesehatan, sebelum kembali ke rumah. El Harus melakukan berbagai macam pemeriksaan.


"Kak byan, mungkin 3 hari lagi aku kembali. tapi langsung ke desa ya. soalnya Afifah masih marah"


"Iya El, aku juga gak bisa kesana. tau sendiri sekarang sedang lockdown. aku juga kerja dari rumah. meeting aja pakai zoom" diakhiri cekikikan yang terdengar sangat menjengkelkan.


"aku juga pusing kak, disaat seperti ini afifah ngambek. udah aku spam, tapi tetap saja gak dibales"


"Sabar saja lah El. udah resiko kan jadi dokter. lagian itukan Cita-cita kamu kan"


"Iya sih kak, cuma kali ini saja aku ngerasa gak semangat gini layanin orang"


"Wkwkwkw... kamu lucu sekali kalau lagi bucin gini El, kalau sampai orang tau. rusak sudah wibawamu" diseberang sana byan tertawa terbahak-bahak, sampai membuat mira bangun.


"Mas, kamu berisik sekali sihhh" kesal mira


"Yasudah El, aku tutup dahhh"


kini ganti El yang tertawa, mendengar mira marah.


Disisi lain, Bu zainab tengah mengelus punggung afifah, sedangkan Zakir memijat kaki afifah.


Kini kandungan afifah sudah mau masuk 6 bulan. sejak dua minggu belakangan ini, afifah sering sekali mengalami sakit pinggang dan kaki pegal-pegal kadang juga kebas.


"Cukup di pijat saja fah, atau kasih balsem saja. tapi untuk punggung cukup di elus saja ya. gak bisa minum sembarang obat. kan kamu lagi hamil"


hanya itu yang bu nanik katakan.


***


Pagi hari, El melakukan tes SWAB. kini hanya tinggal menunggu hasil dan El bisa langsung pulang.


Kini El hanya bisa menanyakan kabar afifah kepada Zakir. tapi sampai saat ini El, maupun keluarga Sanjaya tak tau kalau afifah sedang hamil. Zakir juga tak memberitahu El, karena afifah melarang keras, dengan alasan ingin memberi El kejutan. namun kenyataan nya afifah masih kesal kepada El.


Lastri sendiri tak bisa kemanapun, byan juga ikut mengawasi gerak gerik Lastri.


"Udalah maa, sekarang kan lagi Lockdown. diam aja napa di rumah" ucap byan setelah Lastri merayu byan.


"Kan sekarang mama udah arisan online, kok sekarang bilang mau arisan sih" sambung byan.


"Sebenarnya mama mau ke Mall, ada yang pengen mama beli"


"Sekarang kan mama gak ke mana-mana, jadi gak usahlah beli-beli dulu"


dengan kesal Lastri kembali ke kamar nya. setelah kejadian perdukunan kemarin. Sanjaya sedikit mengurangi kepedulian nya kepada Lastri. itu adalah bentuk hukuman buat Lastri. Bagi Sanjaya, selama ini Lastri sudah sangat ia manjakan, mengurangi jatah bulanan nya itu juga sudah cukup membuat Lastri tak bisa ngapa-ngapain.


...****************...


Pagi Hari, El duduk menunggu sebuah surat yang akan membawanya kembali ke afifah.

__ADS_1


sudah cukup lama El duduk disana, tapi belum juga mendapatkan apa yang ia tunggu-tunggu.


Kira-kira dua jam kemudian, seseorang datang ntah itu laki-laki atau perempuan yang menggunakan baju APD lengkap, hanya terlihat bagian mata saja.


"Pak El, Hasil nya reaktif. Jadi anda harus di isolasi selama 2 minggu atau sampai hasil nya non reaktif"


Tubuh Gagah El langsung lunglai.


"Tapi saya gak merasakan apapun"


"Tentu anda sebagai dokter tau tentang dasar nya virus ini kan pak?"


Benar juga, El tau semuanya. Dia tak sebodoh itu.


"Aku reaktif, gak bisa pulang" ucap El melalui panggilan vidio call


Semua orang langsung sedih.


"Ini aku ada di Ruang isolasi"


"Kak El semangat ya, caca do'ain pasti kak El bisa sembuh"


"Jaga kesehatan El, jangan capek-capek"


"El, papa yakin kamu bisa lewatin ini"


"Terima kasih atas smangat kalian, Tapi El bingung bagaimana ngomong nya ke afifah pa, kak. Jujur sepertinya afifah masih marah"


"Biar papa nanti yang akan menyampaikan, papa akan telepon dia"


"Laaahh, ide bagus. Afifah pasti gak akan bisa menghindar dari papa"


"Terima kasih ya pa, sudah berkali-kali El menghubungi Zakir. tapi afifah juga masih enggan bicara sama aku"


Kini El masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan. sesuai anjuran kesehatan yang sudah El ketahui tentunya. Ia patuh sekali mengikuti berbagai rangkai an kegiatan. mulai dari Olahraga ringan pagi hari, berjemur, makan makanan sehat, istirahat cukup dan slalu mematuhi protokol kesehatan.


"Assalamualaikum paa"


byan langsung girang mendengar suara afifah.


"Waalaikumsalam nak, gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah paa, bagaimana kabar keluarga disana"


"Alhamdulillah sehat juga. Kamu sekarang lagi ngapain nak?"


"Afifah lagi nonton TV saja pa, ada apa ya pa"


"Papa cuma mau menyampaikan, jika El reaktif virus. Jadi gak bisa pulang sekarang karena masih harus di isolasi"


Degggg...

__ADS_1


"Kata El udah telepon kamu, cuma tadi gak di angkat. jadi dia menyampaikan ke papa."


"Iya pa, kita doakan mas Ramdan agar cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi bersama kita" afifah menangis, sambil mengelus purutnya yang sudah buncit.


"Yasudah papa cuma menyampaikan itu saja, kamu jaga kesehatan juga ya nak, patuhi protokol kesehatan. kalau bisa jangan ke mana-mana dulu"


"Iya pa, papa dan yang lain juga ya"


"iya nak, kamu jangan nangis ya. harus kuat"


afifah perlahan mengusap air matanya. tentu dari suaranya saja Sanjaya sudah tau..


setelah mematikan sambungan telepon nya, afifah nangis sejadi-jadi nya. Bahkan bu zainab dan Zakir panik.


"Mas Ramdan terpapar virus bu, hasilnya reaktif dan sekarang masih di isolasi hiks hiks.." afifah menangis dipelukan bu zainab.


"Sabar fah, kita punya Allah. Ayo kita minta kepada-Nya agar El segara sehat dan berkumpul bersama kita."


Setelah Zakir dan bu zainab meninggalkan afifah di kamar, Afifah langsung menghubungi El.


Memanggil...


sudah berkali-kali Afifah mencobanya namun tetap tidak ***Berdering.


Terakhir di lihat hari ini 11.03***


Whatsapp El tak aktif begitu juga nomor ponsel nya.


Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi..


Kemana sih kamu mas, maafkan aku mas.


Cepat pulang mas, lihatlah anakmu sebentar lagi akan menendang-nendang di dalam perutku.


Inikan yang kamu inginkan, hiks hiks hiks


seharusnya aku tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini.


Seharusnya aku tak marah.


Seharusnya aku buang jauh-jauh pikiran ini!!


Afifah menangis, ia tak tau harus bagaimana. ia benar-benar menyesali nya. seharusnya ia memberi kabar kehamilan nya. atau setidaknya ia tak mendiamkan El berbulan-bulan hanya karena bayang-bayang tak jelas yang slalu memenuhi pikiran dan mata nya.


**Segini dulu ya, sebenarnya mau up lebih cuma author gak bisa.


Anak author lagi Sakit, jadi author seharian urus anak, kalau malam gini tinggal capek nya.


doakan ya teman-teman, agar anak author segera sehat. Author juga gak tega lihat nya.


Jangan lupa tinggalkan jejak**..

__ADS_1


__ADS_2