
Kini El berada di dapur menggoreng ayam yang sebelum nya sudah dibumbui oleh afifah, setelah itu El mengambil cobek mulai mengulek beberapa biji cabe, dan tomat yang sudah di tambahkan garam, dan terasi udang disana. nenek eka pun menjadi bingung. ada apa gerangan antaran El dan afifah, dan kenapa afifah tak ikut turun.
"El, kenapa kamu masak?"
"Pengen aja nek, ayo makan dulu nek" El meletakkan sebuah mangkok sereal dan susu khusus. karena nenek eka setiap malam tidak boleh makan nasi.
"kamu gak makan El?" El makan di atas nek. nenek habiskan dulu"
"Kenapa gak di bawah, kamu apain afifah?" tanya nenek eka santai sambil menyendok sereal nya.
"sudah jangan banyak tanya ya nenekku sayang. nenek makan saja dulu"
karena tak mau terlalu ikut campur, nenek eka pun segera menghabiskan makanan nya dan langsung meminta di antarkan ke kamar nya. ia tak mau mengulur-ulur waktu, tentu nenek eka tak ingin terjadi apa-apa dengan rumah tangga El. dia juga sedikit lega karena muka El tak lagi menakutkan.
El pun membawa nampan, diatasnya ada dua piring nasi dan cobek kecil berisi sambal ulek dan dua potong ayam goreng.
"Makanlah, itu aku yang memasaknya." ucap El setelah meletakan nampan itu di atas meja.
Afifah hanya mengangguk, ia masih malu pasca kejadian ciuman beberapa menit yang lalu.
"Apa tangan mu sakit jika di gerakan?"
"Sedikit mas" jawab afifah bohong, padahal lengan nya cenat-cenut akibat efek salep tadi
"Buka mulutmu" El menyodorkan tangan nya mendekat ke mulut afifah.
afifah terkejut dengan perlakuan El..
"Tidak mas, aku bisa makan sendiri"
"Buka mulutmu!" El melotot, sehingga afifah pun langsung membuka mulutnya.
El memasukan jari nya yang sedang menjepit nasi dan lauk ke mulut afifah.
"Makanlah yang banyak, biar sedikit berisi tubuhmu. gak kurus seperti itu"
Kenapa dia berubah hangat seperti ini, ohhh... aku tau, mungkin karena ada nenek eka, atau semua ini yang menyuruh adalah nenek eka, bisa jadi nenek eka juga mengintip kita.
Kini afifah bingung, celingak-celinguk mencari keberadaan nenek eka.
"Kau nyari apa?" tanya El
"Hmm.. enggak mas"
"Sudah diam, jangan banyak gerak!"
Astaga El, padahal hanya kepala Afifah yang bergerak, namun dia sudah sewot seperti itu.
__ADS_1
...****************...
Keesokan pagi nya, El baru saja turun dengan memakai kemeja kerja, sedangkan afifah sudah sibuk menyajikan sarapan bersama bi sugiati.
"Kemana nenek fah?" tanya El sambil berjalan menuju meja makan
"Belum bangun mas"
"Kok gak di bangunin?"
"Aku takut mas"
El yang sudah duduk, terpaksa berdiri lagi dan melangkah kan kaki nya ke kamar nenek eka. tak biasanya nenek nya itu bangun kesiangan.
saat El membuka pintu, nenek eka terlihat masih tertidur, El pun mendekat dan menggoyangkan tubuh nenek eka perlahan, sambil memanggil nama nya.
Namun, tak ada reaksi apapun dari nenek eka. El yang hendak menepuk pipi nenek eka, ia malah merasakan tubuh nenek eka kedinginan.
El langsung panik, ia langsung mengecek pergelangan tangan nya ternyata masih ada denyut nadi nya.
El berlari, mengambil tas nya dan langsung memeriksa nenek eka dengan Stetoskop.
"Pingsan!"
"Mas, kenapa?"
"Ayo cepat masuk mobil! kita bawa nenek ke puskesmas"
"Bi, masukkan makanan ke kotak bekal ya, nanti andi yang akan mengambil nya"
"Iya nyonya"
El pun langsung merawat nya, beberapa perawat langsung memasang infus di tangan nenek eka.
20 menit kemudian, El keluar dan melihat istri nya.
"Gimana nenek mas?" afifah sangat cemas
"Kita tunggu tiga jam dulu, jika tetap tak ada reaksi, kita akan bawa ke kota"
"Ya sudah, ayo kamu makan dulu mas."
El pun mengangguk lalu melangkahkan kaki nya ke ruangan nya, di ikuti afifah yang berjalan di belakang nya.
"Kamu pulang saja dulu, kalau bisa selesaikan semua pekerjaan mu sekarang"
"Tapi nenek mas?"
__ADS_1
"Nanti aku akan kabari kamu. sekarang pulang lah"
afifah pun pulang, ia segera menyelesaikan semua pekerjaan nya, mulai dari review, dan foto barang.
Karena pekerjaan afifah tak banyak, kini ia sudah selesai semua nya. sisanya akan diurus oleh asisten nya.
Ia pun segera memasak makan siang untuk El, dan juga bersiap hendak pergi ke puskesmas.
sesampainya disana, ternyata nenek eka sudah di bawa masuk ke ambulans. El dan afifah akhirnya juga ikut, mereka membawa mobil sport El. El juga meminta tolong untuk di kawal agar perjalanan nya lebih cepat.
jika biasanya 4 sampai 5 jam perjalanan dari desa ke kota. kini mereka hanya memerlukan waktu 2 setengah jam saja.
Nenek eka langsung mendapat penanganan, byan dan yang lainya juga datang ke RS. mereka semua sangat khawatir dengan keadaan nenek eka.
"Mas, kamu makan dulu ya. sejak siang kamu belum makan"
El memandangi wajah ayu afifah, walau terlihat kumus-kumus.
Dalam hati El sangat bahagia, afifah sangat perhatian kepadanya dan juga sangat memperhatikan nya.
"Mana makanan nya, aku juga lapar" El membenarkan posisi duduk nya agar lebih tegap.
"Tapi sudah dingin mas, dan juga sudah gak enak. kamu makan di kantin saja ya"
El diam,
"Kamu juga belum makan kan? ayo makan bersama"
"Kamu duluan saja" tolak afifah
tanpa diduga, El langsung menggandeng tangan afifah dan menariknya. tangan itu tak terlepas hingga mereka duduk di sebuah kursi dengan saking berhadapan.
El merasa sangat nyaman dekat dengan afifah. Ia juga sering sekali memandangi setiap inci wajah afifah, dalam lubuk hati terdalam nya, ia ingin sekali mencium nya lagi, lebih lama dan lebih dalam lagi daripada kemarin.
setelah makan, mereka kembali ke depan yang ICU. disana sanjaya sedang duduk di lantai, dia menangis terseduh-seduh. begitu juga byan dan caca, mereka saling berpelukan dan menangis.
"Pa, papa kenapa?" tanya El
"Ell.... " sanjaya memeluk El dengan erat "Nenek mu El, dia tidak bisa di tolong"
Tubuh El langsung lemas, air matanya langsung jatuh.
"Mas, kamu sabar ya" afifah juga ikut menangis.
El langsung berhambur memeluk afifah, ia menangis di pelukan afifah. afifah sendiri tak bisa menolaknya, apalagi dalam suasana duka seperti ini.
Segini dulu ya gaes, waktu author masih di bagi-bagi..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.
tunggu cerita selanjutnya...