
Keesokan hari nya, el memasuki ruang gym milik byan, disana el langsung naik ke atas timbangan digital yang terletak di sudut ruangan.
"58?" lirih el "benar nenek, turun 5kg" el pun turun dari benda persegi itu. lalu ia mengambil air putih dan mulai berjalan di atas treadmill.
berat badan ku turun pasti karena makanan. ya, itu pasti! sudah hampir sebulan aku makan masakan bu giati, masakan nya tak seenak masakan bu zainab.
kalau terus-terusan seperti ini aku bisa kurus kering.
setelah 30 menit berlari di atas treadmill, kini el langsung mandi dan turun ke bawah untuk sarapan bersama yang lain.
setelah sarapan, byan dan sanjaya pergi untuk bekerja. masa cuti el masih sisa 2 hari lagi, untuk itu ia gunakan bersantai dan bermanja dengan nenek nya.
kini el berada di taman belakang tepat di depan kolam ikan hias peliharaan papa nya. ia dan nenek eka bercanda sambil melemparkan makanan ikan di dalam kolam.
"gimana el? gak jadi nikah bareng sama kakakmu?"
"el, santai nek. el juga gak terlalu memikirkan sampai kesana"
"nenek pengen sekali sebelum meninggal. mengendong cicit nenek dari kamu"
el pun langsung bersimpu di depan nenek nya tersebut. "nek, nikah itu untuk seumur hidup. el gak mau salah pilih karena terburu-buru"
"kenapa gak sama dia saja sih el. jarang lo ada wanita nolak kamu"
"ssstttt... " el meletakkan baru telunjuknya di bibir nya "jangan keras-keras nek" pinta el, nenek eka pun tertawa "kamu ganteng benget sih, persis sama kakek kamu" dengan gemas nenek eka mencubit pipi el.
itulah alasan nenek eka dan suaminya sangat menyayangi el. karena el sama persis seperti mendiang kakek alex. sejak kecil el lebih sering bersama kakek dan nenek nya. karena itulah walau jelas dan sah el tercatat di negara beragama Islam. namun nyatanya ia sering pergi ke gereja bersama kakek dan nenek nya. untuk papa, mama, byan dan caca. mereka semua beragama Islam.
di keluarga sanjaya memang tak pernah memaksa anak-anak nya untuk seperti ini dan itu. sanjaya akan slalu mendukung anak-anak nya, dia hanya memantau nya dari jauh dan dia hanya bisa memberi nasehat dan mengarahkan. terbukti, byan menjadi pengusaha seperti kakek nya. el menjadi doktor dan caca ingin menjadi arsitek. walau sanjaya berprofesi sebagai Abdi negara, ia tak pernah memaksa anak-anak nya untuk mengikuti jejak nya.
__
tok..
tok..
tok..
__ADS_1
ketukan pintu menjadi membuat afifah segera berlari untuk melihat yang datang ke rumah nya. saat pintu berhasil terbuka, afifah melihat seorang yang sangat ia rindukan, namun ia takut untuk sekedar memeluk nya.
"apa kamu marah kepadaku fah?
" tidak! " jawab afifah spontan.
tanpa menunggu lama, mereka pun berpelukan
"maafin aku fah" air mata ayu tidak bisa di bendung lagi "gara-gara aku kamu jadi kayak gini"
afifah melepas pelukan nya, ia membawa ayu masuk ke rumah nya dan duduk si sofa berwarna maroon. "bukan salah mu yu, mungkin Allah sedang menghukum ku karena... "
"tidak fa" potong ayu "ini semua salahku. tapi aku akan berusaha memperbaiki semua nya. aku janji, setelah kabar aku akan menikah dengan mas farhan... "
"apa? mas farhan?" kaget afifah
"iya fah, setelah aku menolak ustadz amir, aku memberanikan diri untuk bertanya kepastian hubungan ku, panjang cerita nya. intinya keluargaku sudah menerima dan kita akan menikah 4bulan lagi"
"selamat ya fah, akhirnya nikah juga sama mas farhan" afifah ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia dengan pria yang sudah lama ia sukai.
"yu... gak usah" pinta afifah "biarkan saja seperti ini. lagian sudah berlalu. Orang-orang juga sudah bersikap biasa lagi kepadaku"
"tapi fah.. kalau.... "
"usah yu, percaya kan sama jodoh?" tanya afifah "biar semua Allah yang atur"
mereka pun berpelukan, saling melepas rindu yang hampir 2 bulan ini tak bertemu. mereka terus bercerita kesana-kemari. sampai tak terasa waktu sudah semakin sore.
Hari-hari terus berlalu, waktu cuti el juga sudah selesai. meski besok hari minggu, el memilih untuk kembali ke desa sekarang. setelah mengantar nenek eka kembali ke panti jompo, el langsung kembali ke desa.
sore hari, el baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya. rumah nya sudah bersih dan rapi, slama ini el mempertahan kan bu sugiati karena rumahnya slalu bersih dan rapi. walaupun masakan nya tidak enak bagi lidah el.
pagi hari, el pergi ke pasar. walau sudah 3 bulan tinggal desa ini. namun ia belum pernah pergi kesana. el pergi kesana dengan menggunakan sepeda goes yang baru ia bawa kemarin.
saat sampai disana, ternyata pasar tersebut tidak seburuk yang el bayangkan. pasar nya sangat bersih, semua tertata rapi.
disana el mulai melangkahkan kaki nya, ka menghampiri ibu-ibu penjual bubur yang sangat ramai. el pun ikut mengantri untuk mencicipi bubur "pagi buta". itulah yang tertulis di banner penjual bubur.
__ADS_1
"Pak dokter el ya?"
semua orang mengenali el, tentu saja mereka tau siapa dokter desanya yang sangat ramah dan tampan.
"iya bu"
"Bu.. ini dokter el di dulu kan saja"
"iya bu, biar pak dokter saja dulu. kasian kalau mau antri"
"tidak... tidak ibu ibu, saya tidak kenapa-napa" jawab el kepada ibu-ibu yang sedang mengantri.
"sudah.. sudah.. ini pak dokter" ucap bu juariyah yang tak lain penjual bubur itu sambil memberikan sebuah kotak sterofom kepada el.
"berapa bu?" tanya el setelah menerima kotak tersebut.
"hari ini buat dokter tampan gratis." bu juariyah tersenyum
"ehh.. tidak, saya harus bayar" el mengeluarkan uang pecahan 50rb kepada bu juariyah
"tidak dok, hari ini gratis. kalau dokter mau beli lagi, baru boleh bayar"
walaupun el sudah memaksa, namun bu juariyah kekeh tak mau menerima uang el.
el merasa sangat beruntung, bisa di dekatkan bersama orang-orang menyayanginya. Tuhan memang slalu memberikan yang terbaik. jika el meminta di tampatkan di rumah sakit tersesar di kota. mungkin ia tak akan mendapatkan semua ini. namun Tuhan memberikan semua ini kepada el, dan el merasa sangat senang. tujuan nya ingin sekali membantu rakyat kecil mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik.
setelah mendapat bubur, el melangkahkan kaki nya kesebuah lapak penjual kue tradisional. el langsung membeli beberapa macam kue disana, dan lagi-lagi penjual tak menerima uang el dengan alasan yang sama.
"apa bisa kue ini di makan nanti malam bu?" tanya el
"kue kue ini bertahan 2 hari pak, kecuali yang ini" penjual tersebut menunjuk salah satu jenis kue
"ohh.. baiklah. terima kasih bu"
el pun merasa sudah cukup sampai sini acara belanja nya. ia takut semua orang memberikan nya secara gratis. siapa yang memakan nya jika banyak makanan. begitulah pikirnya.
jangan lupa tinggalkan jejak, InsyaAllah bakal up secepatnya ☺☺☺☺
__ADS_1