
"Sayang" Panggil Exel "Buka mata mu" Titah nya dengan suara bisik-bisik
Sabrina membuka mata nya, ia langsung menatap mata biru milik Exel. Sangat indah sekali.
"Hiks.. hiks hiks" Sabrina tiba-tiba menangis sambil memeluk Exel.
"Kelinci, kamu kenapa?"
Dari tadi junior milik Exel tidak bereaksi apapun, bahkan saat Exel mencium dan menindih Sabrina. Tapi, saat Sabrina memeluk nya dengan erat dan menangis, tubuh Exel langsung tegang hebat.
"Aku masih gak percaya ini semua terjadi, mas. Aku sudah lama menunggu mas Exel. Dan sekarang Allah tiba-tiba menyatukan kita"
Exel masih diam, bukan karena Sabrina menangis. Kini fokus nya terhadap junior nya.
"Rencana Allah sungguh sangat indah sekali"
Oh .. Astaga. Aku masih cepek, kenapa kau tegang di waktu yang salah.
"Mas" Panggil Sabrina saat Exel diam saja "Mas Exel tidak mendengarkan ku?" Sabrina melepaskan pelukan nya, ia merasa kesal dengan Exel.
"Ehhh, dengar dong sayang" Elak Exel, padahal ia tak tau apa yang di katakan Sabrina baru saja.
"Aku bilang apa coba?" Tanya Sabrina yang tak yakin.
"Hmm, apa tadi. Mas Exel lupa"
Sabrina sungguh kesal sekali dengan Exel. ia pikir Exel tidak menyukai pernikahan ini, karena sejak tadi Exel seperti tidak serius sama sekali. Bahkan sikap Exel terlihat di buat-buat, kini Sabrina yakin bahwa Exel tidak bahagia.
"Gakpapa, aku mandi dulu mas"
__ADS_1
Sabrina berlalu pergi ke kamar mandi sambil mengambil handuk dan baju. Sesampainya di kamar mandi, Sabrina menangis sejadi-jadi nya.
Sedangkan Exel kini bingung dengan junior nya, saat ini ia capek sekali. Kalau pun di paksa, Exel tak yakin bahwa ia akan perkasa. Ah, bisa-bisa Sabrina kecewa dan menganggapnya lemah.
Exel pun memutuskan untuk tidur saja, dia tak tau bahwa Sabrina saat ini sedang marah kepada nya. Sungguh Exel tak tau apapun. Dia terlalu fokus kepada Junior nya.
...****************...
Sabrina keluar dengan mata sedikit bengkak, ia pun menambahkan eyeliner di mata nya agar tidak terlalu terlihat bengkak. Sejenak ia melihat Exel tidur dengan sangat pulas. Sehingga membuat Sabrina yakin bahwa Exel tidak bahagia.
Sabrina turun ke lantai satu, di mana Abi dan yang lain nya duduk santai.
"Kemana Exel, Rin?" Tanya Byan
"Mas Exel tidur, paman"
"Iya, oma"
Sabrina pun melangkahkan kaki nya menuju ke dapur. Sabrina sudah tau dimana letak dapur, karena kemarin Sabrina juga tinggal di rumah Sanjaya.
"Makan saja ya sayang, mommy kira kalian tidur karena capek. Jadi kita makan duluan"
"Iya, mommy" Jawab Sabrina.
"Besok semua nya akan kembali ke desa, sayang. Kamu juga ikut."
"Iya, mommy. Aku ngikut apa kata orang tua saja"
"Ehh.. gak boleh gitu. Kalau sudah menikah, harus nurut sama suami yang pertama" Ucap Mira
__ADS_1
"Iya, tante. Maksud Sabrina untuk masalah ini ngikut saja"
"Nama kamu Afrin apa Sabrina sih?" Bingung Mira
"Sama mas Exel gak boleh di panggil Afrin, tente. Biar Sabrina saja"
"Hehehe.. Ada-ada saja Exel itu, mbak" Mira terkekeh
"Ya, dia memang seperti itu. Ada saja tingkah nya"
Setelah makan, Sabrina membantu Afifah dan Mira menyiapkan makan malam dan juga makanan yang akan di kirimkan ke rumah sakit.
Hingga menjelang maghrib, Exel baru saja bangun dengan wajah bantal nya. Bahkan dia belum juga mandi.
Exel tidak mencari keberadaan Sabrina, ia yakin bahwa Sabrina ada di rumah nya. Tidak mungkin pergi ke mana-mana. Apalagi ia melihat Mertua nya sedang berbincang dengan byan di sana.
"Paman, Exel mau bicarakan sesuatu"
"Soal apa? kau saja belum mandi. Bau!"
"Na loohnti setelah makan malam, ini perihal perusahaan yang di Prancis"
"Oke"
"Yasudah, saya mau persiapan untuk sholat maghrib dulu. Kurang tiga puluh menit lagi soal nya"
"Kita akan sholat berjamaah" Ucap byan "Exel, siap kan tempat nya"
"Hehe.. iya" Sungguh Exel kesal dengan paman nya itu, bisa-bisa nya dia menyuruh nya di depan mertua nya. Mana mungkin dia menolak.
__ADS_1