Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Hibah


__ADS_3

Keputusan sudah di ambil oleh Exel. Pagi ini dia sudah bersiap untuk menyelesaikan semua nya.


"Tumben sekali, pagi?" Ucap El saat exel duduk untuk sarapan bersama


"Ada janji sama notaris pa"


"Gimana? ada yang kurang untuk keponakan ku?"


"Cukup kak" Jawab Reihan langsung, Alexa pun cemberut, sebenar nya peralatan nya masih kurang bagi Alexa.


"Udah berapa bulan perut mu itu?" tanya Exel sambil mengoleskan selai


"Mau masuk delapan bulan, kak"


"Oh iya, xel. Jangan pulang dulu. Tiga hari lagi ada acara delapan bulanan adek mu"


"Exel gak janji, mommy" jawab Exel cepat.


"Sesekali hadirlah, Exel. Berkumpul keluarga. Opa sama Oma juga akan ke sini besok. Paman Byan juga" Ucap Exel


"Yasudah, Exel akan kembali ke kota bersama paman Byan nanti"


"Nah, gitu dong" Afifah mengelus rambut Exel.


"Ih, mommy jangan. nanti berantakan" Omel Exel sambil merapikan kembali rambut nya.


Setelah sarapan, Exel masuk ke kamar nya untuk mengambil paperbag yang bertuliskan sebuah merk terkenal. dua paperbag besar tersebut ia jinjing turun ke lantai satu.


"Mau kemana?" Tanya Afifah saat melihat Exel sudah sangat wangi dan tampan


"Mau ketemu notaris, mommy"


"Itu, yang di dalam paperbag untuk siapa, kak?" Ibu hamil ini sedang sangat kepo sekali


Mata afifah, Alexa dan Exel kini menatap paperbag berwarna hitam tersebut. Dari luar sudah terlihat, ada dua kotak sepatu dan satu kotak lebih besar. tentu mereka tau itu pasti berisi sebuah tas.


Cukup lama mereka berada di suasana hening, karena Exel sendiri bingung hendak menjawab apa.


"aku berangkat dulu, notaris nya sudah menunggu di pabrik. Bye bye"


Exel langsung berlari keluar rumah, karena terburu-buru dan takut akan di tanya I lagi, Exel langsung memakai mobil milik Alexa yang ada di bagian depan sendiri.


Afifah sendiri merasa curiga, untuk siapa barang-barang yang jelas sangat mahal itu. Untuk Zakir dan istrinya itu tidak mungkin sekali. Terakhir ia tak sengaja menemukan Sabrina membawa sebuah paperbag yang sama dengan paperbag milik Exel.


"Tidak mungkin! Sabrina itu masih bocah SMA. sedangkan Exel sudah mau dua puluh tujuh tahun" Gunam Afifah "Tidak, tidak. Mereka tak mungkin saling mengenal, gak mungkin Sabrina mau di dekati Exel. Semua orang tau, bahwa Sabrina tak pernah dekat dengan siapapun"


Afifah terus kepikiran dengan anak bujang nya itu. Dari dulu Exel selalu menyibukan otak afifah, tidak ada waktu kosong untuk memikirkan hal lain nya kecuali Exel. Kini afifah khawatir, Exel adalah tipe laki-laki nekat, sedikit bar-bar, dan ia tak percaya karena Exel sudah terpengaruh pergaulan di luar negeri. Jika benar Exel dekat dengan Sabrina, mereka pasti bertemu diam-diam seperti pengalaman nya dulu bersama ustadz amir. Afifah takut, kalau sampai Sabrina Hamil duluan atau Exel akan mencium nya.


"Ohh.. tidak, tidak, tidak" Afifah berteriak karena terbawa dunia halu nya.


"Mommy, mommy kenapa?" Alexa langsung menghampiri Afifah yang duduk di dapur.


"Mommy gak apa-apa sayang, cuma lagi banyak pikiran saja"

__ADS_1


"Mommy mikirin apa lagi? kan Exel sudah di depan mata mommy kan"


"Iya sayang, sudah ayo kita ke depan menyiram tanaman"


...****************...


Exel berjalan bersama zakir dan seorang notaris bernama Haidar. Haidar menenteng tas berwarna hitam di tangan kanan nya, sedangkan Exel juga menenteng paperbag hitam. Tiga laki-laki ini berjalan keluar dari dalam pabrik, Exel langsung memakai kacamata hitam agar silau matahari yang sangat terik ini tidak menghalangi penglihatan nya.


Tak terlalu jauh mereka berjalan kaki, kini mereka sudah ada di depan sebuah gerbang besar. Beberapa pemuda memakai sarung menghentikan langkah kaki mereka, tak mengizinkan Exel, zakir dan Haidar masuk.


"Maaf mas, kami ada keperluan dengan kyai Jalil" Ucap Haidar


"Begini saja" Zakir menyela "Katakan kepada Kyai Jalil, Ada Pak Zakir mau bertemu, ini sangat penting"


Santri tersebut pun memencet tombol telepon yang ada di pos penjagaan. Dia terlihat berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Tak lama dia menutup nya, lalu menghampiri Zakir.


"Mari pak, ikuti saya" Ucap pemuda tersebut.


Exel memperhatikan sekitar, di sana hanya ada laki-laki. Tidak ada perempuan sama sekali. Dimanakah Sabrina, jujur saja ia ingin melihat nya, sekalian mencoba sesuatu.


Tak lama, mereka sampai di sebuah bangunan seperti rumah. Tidak tau itu rumah siapa, tapi rumah tersebut cukup besar dan bagus sekali.


Mereka bertiga masuk, di ambang pintu sudah berdiri tiga orang laki-laki. Exel hanya tau Satu di antara mereka, yaitu Adam.


Kini mereka semua sudah duduk di sebuah sofa empuk. Ustadz Amir memperhatikan laki-laki yang wajah nya sangat mirip dengan mantan kekasih nya itu, hanya warna pupil mata nya saja berbeda.


"Ini Exel pak kyai. Ingin menyampaikan sesuatu" Ucap Zakir


"Seperti nya saya pernah bertemu dengan mu" Ucap kyai Jalil


Zakir langsung menepuk jidat nya, baru pembukaan Exel sudah seperti ingin menciptakan keributan saja. Oh yaa ampun.


Suasana menjadi hening, Adam juga tak tau harus berkata apa. Sedangkan Ustadz Amir dan Kyai Jalil saling menatap.


"Langsung saja pak, ayo pak Haidar. bicaralah" Titah Exel kepada Haidar. Keluarga Dari Adam masih diam, ingin tau apa maksud mereka ke sini.


"Perkenalkan, nama saya Haidar. Saya seorang Notaris yang kebetulan mengurus semua tanah yang baru bapak Exel beli"


Kyai Jalil merasa ada titik terang mengenai masalah tanah tersebut, ia pun tersenyum.


"Sesuai dengan perintah Bapak Exel Putra Elramdan, maka tiga petak tanah akan di hibahkan kepada Sabrina Kanza Amirullah"


Deg


Dari mana mereka tau putri kebanggaan pesantren ini.


"Untuk itu, Sabrina harus menandatangani nya. Sebagai bukti bahwa dia mau menerima nya"


Semua orang masih diam, saling menatap seolah-olah kenapa di hibah kan kepada Sabrina.


"Tolong panggilkan Sabrina nya pak" Ucap Haidar sekali lagi saat Kyai Jalil, ustadz Amir dan Adam hanya diam saja.


"Sebentar saya panggilkan Sabrina" Ucap Adam

__ADS_1


Kyai Jalil dan Ustadz Amir masih membawa pikiran nya masing-masing.


Tak lama, Adam dan Sabrina datang. Sabrina terkejut saat ia melihat Exel ada di sana dan tersenyum kepada nya.


"Sabrina, How Are You?" Sapa Exel langsung


Deg


"Apa kalian saling mengenal?"


Matilah kau Sabrina. Aku mohon jangan katakan apapun mas Exel. kalau tidak, kelar hidupku.


"Tentu saja mengenal nya. Bahkan kita pernah makan bersama"


Astaghfirullah, Exel. hentikan, kau sedang mengikat leher Sabrina. zakir


Kenapa kami banyak omong sekali mas, biasanya cuek. Sabrina


Ustadz Amir dan Kyai Jalil langsung menatap Sabrina saat Exel mengatakan itu semua. Mengetahui itu, Exel tersenyum lalu berkata "Oh tidak, bukan kita. Tapi kami"


Ya ampun, kau sebenar nya ingin apa xel. Zakir


"Iya kami, makan bersama. Aku, Alexa, Sabrina dan Adam. Benarkan Adam?"


Adam hanya tersenyum kaku. Kyai Jalil dan Ustadz Amir yang tau hubungan Adam dan Alexa sebelum nya pun hanya bisa diam saja.


"Oh iya Sabrina. Ini aku belikan sesuatu" Exel menaruh dua paperbag itu di atas meja "Kau bisa memakai nya untuk sekolah" Sambung nya.


"Thanks" Ucap Sabrina dengan lirih, suara nya hampir seperti bisik-bisik. Tapi mendengar suara itu tubuh Exel seperti tersetrum.


"Your welcome"


Astaga, di suasana seperti ini pun bisa berpengaruh.


"Silahkan Sabrina, tanda tangan di sini" Haidar menyodorkan sebuah kertas kepada Sabrina


"Ini apa?" Tanya sabrina, tapi menatap Exel


Oh, Tuhan.


Pikiran Exel sulit di kendalikan. sudah berbulan-bulan ia tak pernah menyalurkan hasrat nya.


"Ini adalah sertifikat tanah yang di hibahkan oleh pak Exel kepadamu" Jawab Haidar, karena Exel malah diam saja


Sabrina menatap Abi nya, seolah-olah bertanya tentang ini semua. Tapi ustadz Amir hanya diam saja, seolah tak mempunyai jawaban untuk anak putri nya itu.


"Ayo Sabrina, tanda tangan. Aku menghibahkan nya untuk mu. Selanjutnya terserah kau mau di apakan" Ucap Exel meyakinkan.


"Kalau boleh tau, kenapa tiba-tiba di hibahkan kepada Sabrina? apa ada maksud lain?" tanya Ustadz Amir


"Aku mohon jangan salah faham, aku tak ada maksud apapun. Aku hanya ingin menghibahkan saja kepada Sabrina. Karena kemarin kata paman ku ini ada yang ke rumah nya menanyakan tanah tersebut, untuk di jadikan... " Exel menatap Zakir


"Rumah Hafidz"

__ADS_1


"Hah, itu"


Ustadz Amir masih tak mau memberikan jawaban, ia masih tak yakin dengan semua ini. Sabrina sendiri masih tak mau menandatangi nya. Saat ini dia merasa ketakutan, dia mungkin nanti akan di sidang, pasti.


__ADS_2