Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Pembalut


__ADS_3

Exel berjalan menuju ke kamar Alexa yang berada di bagian paling depan. Tanpa mengetuk, Exel langsung masuk begitu saja, untuk Alexa dan Reihan tidak lagi ehem-ehem.


"Ketok dulu, kak" Kesal Alexa


"Kamu punya pembalut gak, xa?" Tanya Exel langsung tanpa menanggapi omelan Alexa


"Buat apa pembalut? Sabrina halangan?" Dia bertanya dengan nada ejekan, sedang kan reihan yang sudah membalut tubuh nya dengan selimut langsung terkekeh.


"Punya, gak?"


"Punya, sebentar" Alexa berjalan menuju ke kamar mandi sambil menahan tawa


"Terus saja kalian tertawa dan mengejek ku. Awas saja" Ucap Exel yang berdiri di dekat ranjang sambil berkecak pinggang.


"Siapa sih yang ketawain kakak, ini pembalut nya" Alexa memberikan satu pack pembalut kepada Exel


Karena sangat khawatir dengan Sabrina, Exel langsung berlari ke lantai dua. Ia tak perduli dengan Alexa dan Reihan yang terus menertawakan nya. Memarahi mereka bisa di tunda, yang penting saat ini adalah Sabrina.


"Mas gendong ya, sayang?"


"Tidak, mas" Tolak Sabrina, ia ingin berjalan walau sangat sakit.


"Ini mana sprei nya, mas?" Tanya Sabrina saat ia melihat kasur Exel tidak ada seprei nya


"Itu, sudahlah. Kamu tidur dulu. Nanti saja pasang seprei"


Perlahan Sabrina merebahkan diri nya di atas kasur, dan dengan sangat sabar Exel merawat Sabrina.


"Sebentar, mas ambilkan selimut baru"


Exel menuju ke lemari besar nya, lalu mengambil selimut yang terletak di bagian paling atas. Setelah itu, ia juga naik di ke atas kasur, ikut tidur bersama dengan satu selimut dengan Sabrina. Exel memeluk Sabrina dari belakang. Ia tak mau jauh-jauh dari Sabrina, cukup sudah lima tahun menjahui Sabrina. Sekarang tidak lagi.


Sore hari, Exel merenggangkan otot-otot tubuh nya.Mata nya perlahan terbuka, bukan nya mengumpulkan nyawa nya dahulu, ia langsung mencari Sabrina.


"Sabrina" Exel langsung beranjak dari kasur, ia mencari Sabrina sambil teriak-teriak seperti orang gila.


"Mas Exel, Sabrina di sini" Suara yang membuat hati Exel plong itu kini berdiri di balkon bagian belakang.


"Kau sedang apa di sini, sayang" Exel langsung memeluk Sabrina dengan erat, menciumi puncak kepala nya berkali-kali. "Mas takut sekali"


"Lagi jemur sprei sama selimut yang ke a darahku mas."


"Kenapa kamu yang bersihkan, di sini ada pembantu"

__ADS_1


"Ih, gak boleh darah kita di cucikan orang lain, mas"


"Yasudah, ayo kita duduk di depan. Gimana, masih sakit gak?"


"Sedikit sih mas, cuma kalau buat pipis masih sangat sakit sekali"


"Itu biasa, sayang. Darah nya sudah berhenti?"


Ah, exel berharap darah nya sudah habis, dan sebelum mengantarkan Sabrina pulang, oleh lah se celup.


"Belum mas, masih keluar dan aku juga pakai pembalut"


Aaaahhh, rasanya exel ingin sekali berteriak sekencang-kencang nya. Hari ini gagal total menyalurkan semua hasrat nya. Hanya satu kali hentakan mengambil perawan. Padahal junior exel masih ingin melakukan nya, cengkraman kuat milik Sabrina bahkan masih berkedut di junior nya, dan ini membuat exel semakin tersiksa.


"Kata abi, nanti Sabrina di jemput ba'da maghrib mas. Nunggu mommy sama opa datang"


"Ya sudah, kamu buatin mas kopi pahit ya. Mas mau kerja soal nya"


"Baiklah" Sabrina beranjak berdiri dengan hati-hati, lalu dengan sangat pelan ia berjalan ke arah dapur.


Sabar exel, jika waktu nya sudah tiba. Tidak ada ampun untuk Sabrina. aku akan habiskan semua nya tanpa sisa.


...****************...


Sabrina duduk bersama Alexa di ruang keluarga, mereka berdua menonton televisi sambil menunggu afifah dan yang lain nya datang. Ghani yang sangat aktif itu, kini sedang berlarian di dalam rumah sambil memegang sebuah mainan pesawat terbang.


"Aku kasih waktu satu minggu, bereskan semua nya. Tambah pekerja secepatnya!"


Exel langsung meletakan handphone nya di atas meja kerja. Alexa dan Sabrina bisa mendengar Exel yang sedang marah-marah. Mungkin sesuatu yang panas tidak berhasil keluar, untuk itulah Exel marah-marah. hahahaha....


"Sabrina" Exel memanggil Sabrina dengan keras, sehingga Ghani langsung takut dan berlari ke arah Alexa. Sabrina setengah berlari menghampiri exel, ia harus kuat menahan sakit nya.


"Ada apa mas?" Tanya Sabrina sambil memegangi milik nya yang sakit. Tiba-tiba kaki nya lemas, ia bisa merasakan darah nya keluar dengan deras saat ia berlari.


Bukkk..


Sabrina terjatuh, ia langsung menangis.


"Sayang, kamu kenapa?" Exel langsung mengangkat Sabrina, lalu mendudukan nya di kursi panas milik nya.


"Sakit mas, sakit sekali"


Exel langsung menggendong Sabrina, lalu membawa nya naik ke lantai dua. Alexa dan Reihan langsung khawatir, apalagi sebelum kejadian Exel teriak-teriak seperti orang marah.

__ADS_1


"Kak, Sabrina kenapa?" Tanya Alexa yang berjalan mengekor di belakang Exel.


"Nyeri haid, Xa. Sudah jangan khawatir, Mas akan membawa nya ke kamar agar istirahat. Kalau mommy datang, panggil kakak ya"


"Sabrina sakit bukan karena kakak kan?" Tanya nya memastikan


Exel pun berhenti, lalu berbalik menatap Exel.


"Mana mungkin mas nyakiti Sabrina. Tanya Sabrina"


Sabrina yang sangat malu sekali karena di gendong oleh Exel hanya bisa menahan nya. "Jangan khawatir, kak Alexa. Sabrina nyeri haid, nyeri sekali sampai gak bisa gerak"


"Ini obat untuk mengurangi rasa nyeri nya" Reihan yang tadi sempat menguping langsung dengan peka nya mengambilkan obat untuk Sabrina.


"Diminum ya kak, nanti bi siti akan Alexa suruh ambilkan makanan" Ucap Alexa.


"Baiklah, Terima kasih atas perhatian kalian."


Exel berjalan kembali menuju kemar nya. Alexa dan Reihan sedikit lega, karena ia tadi sempat mengira bahwa Exel memukul Sabrina.


Sebelum istirahat, Sabrina meminta untuk pergi ke kamar mandi. Ia bisa merasakan bahwa pembalut nya sudah full.


"Kita ke dokter ya, sayang. Mas khawatir sekali. Kenapa darah nya sebanyak ini"


"Kalau berjalan memang semakin banyak darah nya mas. Untuk itu tadi aku duduk di ruang keluarga"


"Yasudah, kamu ganti pembalut nya. Stelah itu kamu istirahat"


Sabrina mengangguk, ia juga takut sekali karena darah nya tak kunjung berhenti. Ini tentu bukan darah haid, darah yang keluar dari milik Sabrina itu darah merah segar. Bukan darah haid yang cenderung sedikit kecoklatan.


Setelah dari kamar mandi, Exel menyuapi Sabrina. Wajah Exel masih sangat khawatir dengan kondisi Sabrina.


"Kamu minum ini, ya. Siapa tau mengurangi rasa sakit nya"


Sabrina mengangguk dan langsung mengambil dua butir obat yang tadi di siapkan oleh reihan.


"Setelah ini kamu tidur, mas akan cari solusi dan informasi tentang ini semua. Kamu istirahat saja"


"Nanti kalau mommy udah datang bangunin aku ya, mas"


"Iya, sekarang tidurlah"


"Jangan di tinggal" Ucap Sabrina manja,

__ADS_1


Exel tersenyum "Tidak, mas akan duduk di sini. Sekarang tidurlah"


BERSAMBUNG.


__ADS_2