Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Dasar Bodoh!


__ADS_3

Satu minggu kemudian, semua nya kembali ke kota. Begitu juga keluarga reihan. Mereka juga kembali ke rumah mereka di pulau seberang.


Exel sendiri tidak mau bekerja, ia masih ingin bersantai. Setelah satu bulan dia belajar terus menerus tanpa henti.


Sore ini, Exel berniat menemui Zakir, paman nya. Ia mengayuh sepeda milik Alexa, menyusuri jalan beraspal yang seperti nya bangunan sisa belanda.


Saat ia melewati sebuah masjid, di sana nampak ramai sekali. Sama seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Sabrina kecil yang manis. Aahhh.. kenapa juga di hubung-hubungkan dengan Sabrina sih.


Exel kembali fokus, ia terus mengayuh sepeda nya lebih cepat karena ingin bertemu Zakir untuk membicarakan sebuah bisnis, agar pabrik beras itu semakin berkembang.


"Assalamualaikum" Teriak Exel.


"Waalaikumsalam" Zakir keluar dari sebuah ruangan yang berada di paling pojok.


"Kata nya siang, ehh malah sore datang nya"


"Yaa maaf paman, masih kebawa suasana LA.Jam segini masih siang"


"Hmm.. iya deh percaya. Bule sombong"


mereka berdua terkekeh bersama.


Exel duduk di sebuah sofa, diikuti oleh Zakir yang juga ikut duduk di sebelah exel. Pembicaraan mereka awalnya terlihat sangat santai sekali, hingga semakin lama, mereka terlihat semakin serius, bahkan Exel sekarang seperti seorang guru yang menjelaskan kepada Murid nya.


"Baiklah, beberapa minggu lagi musim panen."


"Oke paman, nanti aku bicarakan juga sama papa"


"Kamu kapan balik ke kota?"

__ADS_1


"Lusa paman, tapi kalau musim panen, exel akan kesini. Ikut mengurus semua nya"


"Hemm.. baiklah. Kamu mau minum apa?"


"Tidak, aku mau pulang saja paman. Istirahat, besok ke kota soal nya"


Exel berdiri, zakir pun juga ikut berdiri. Lalu Zakir melingkarkan tangan nya di pundak Exel. Paman dan keponakan itu nampak jelas memiliki tubuh yang sama besar dan tinggi. Jika ada orang asing, pasti mereka akan berpikir bahwa mereka seumuran. Tapi bukan Exel yang terlihat tua, tapi memang Zakir terlihat awet muda, dan tubuh Exel juga besar.


"Katanya mau liburan dulu, kok balik ke kota"


"Iya, mau liburan ke kota saja. disini membosankan"


Zakir mengangguk, ia lalu melepaskan tangan nya dari pundak Exel. Membiarkan Exel untuk naik ke sepeda nya.


Setelah berpamitan, dengan kata see you tanpa mengucapkan salam. Zakir cukup di buat geleng-geleng dengan kelakuan keponakan nya itu. Alexa pendiam, persis seperti Afifah dan Exel. Entah datang dari siapa sikap Exel yang sedikit bar-bar itu. Mungkin karena pergaulan di luar negeri.


Exel berhenti tepat di depan pabrik, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat kendaraan, memastikan agar saat ia menyebrang tidak akan di tabrak oleh kendaraan lain nya.


Suara samar, Exel berpikir siapa yang memanggilnya. Bukan kah disini dia tak mempunyai teman, kecuali...


Exel menoleh, dan benar. Itu Sabrina yang memanggil nya. Gadis itu terlihat berlari menghampiri Exel.


"Kak"


"Ada apa?"


"Selamat ya kak, semoga ilmu nya bermanfaat"


"Kan kemarin sudah kamu ucapkan"

__ADS_1


"Tapi kakak gak bales kan, jadi aku ucapkan lagi"


"Hmm.. Terima kasih"


Sabrina masih diam, suasana menjadi canggung. Sikap Exel juga berubah, Sabrina bisa merasakan nya.


"Ada lagi?"


Hati Sabrina langsung sakit, apalagi tatapan dingin Exel membuat air mata Sabrina sudah berada di pelupuk maya nya.


Sabrina menggeleng dengan memasang wajah memelas. Namun tak membuat Exel merubah sikap nya. Exel malah pergi dari sana, dan seketika Sabrina langsung menangis. Ia berbalik dan berlari masuk ke gerbang pesantren yang sedikit jauh dari tempat nya berdiri.


Nyata nya, bukan hanya Sabrina yang merasakan sakit. Exel juga langsung mengutuki dirinya sendiri. Semua nama binatang ia sebut, ia menyamakan nya dengan dirinya.


"Bodoh, bodoh, bodoh!!"


Exel memukuli kepalanya, lalu ia meluapkan semua emosi nya dengan mengayuh sepeda. Sehingga tanpa ia sadari, sepeda nya melaju dengan sangat kencang.


Brukkk


Exel langsung membanting sepeda itu di depan garasi. Alexa yang sedang duduk di teras pun langsung marah kepada saudara kembar nya itu.


"Mommy, kak Exel banting sepeda Alexa"


Afifah menenangkan Alexa agar tidak terus mengomel, afifah sendiri juga bingung dengan sikap Exel. Ia pun langsung berlari menyusul Exel ke kamar nya.


"Exel, kamu kenapa?"


Sayang nya, Exel tak menghiraukan nya. Pintu kamar terkunci, sehingga afifah tak bisa membuka nya. Exel sendiri kini berada di kamar mandi, ia mengguyur tubuh nya dengan Air dingin. Bibir nya masih saja mengumpat, ia benar-benar menyesal telah melakukan nya. Seharus nya ia tak sekejam itu kepada Sabrina. Jika ia harus menjauhi nya, seharusnya bisa lebih pelan-pelan dan bertahap. Tidak begini cara nya.

__ADS_1


"Dasar bodoh!"


__ADS_2