
Sudah tiga hari lama nya aku berdiam di rumah. Abi dan umi tak mengizinkan ku untuk keluar rumah. Sekalipun itu berangkat sekolah. Aku tak tau, jika pada akhirnya semua menjadi seperti ini. Orang-orang menyerang ku, mengatakan bahwa aku bukanlah gadis baik-baik. Tapi ini semua salah ku, aku memang sudah melakukan kesalahan. Inilah hukuman ku, tapi kenapa keluarga ku juga ikut di hukum.
Pagi ini, abi dan umi tak kunjung pulang dari masjid seusai sholat shubuh, entah mereka kemana, aku sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Jujur saja semua ini membuat ku sangat tersiksa, aku stres memikirkan semua omongan banyak orang.
Cukup lama aku menunggu abi dan umi, tak lama aku mendengar umi datang dan langsung sibuk di dapur. Umi masih diam, tak mengajak ku bicara. Itu sungguh membuat ku semakin bersalah. Aku yakin bahwa Umi kecewa dengan ku.
"Umi, kemana abi?" tanya ku karena aku tak tahan ingin tau dimana abi ku
"Masih ada urusan" Jawab nya singkat, namun nada nya biasa-biasa saja.
Aku memilih diam, walau sebenarnya aku ingin sekali menangis. Aku terus berusaha membantu umi di dapur, walau umi seperti tak menganggapku ada.
Tak lama, abi datang tapi beliau langsung masuk kamar dan mengunci nya. Umi sudah berlari, namun tidak bisa mengejar abi, ia sudah terlanjur menutup dan mengunci pintu kamar nya.
"Mas, sarapan dulu" Panggil umi sambil mengetik pintu.
"Nanti saja, jangan ganggu aku" Jawab abi dari dalam kamar.
Mendengar jawaban abi, umi langsung menangis. Ia tak menatapku, lalu pergi ke kamar abang zaka. beliau juga langsung mengunci pintu nya.
Hanya sisa aku, aku tak tahan dengan semua ini. Aku langsung histeris di depan kamar abi. Aku melupakan semua nya, bagaimana terpuruk nya aku saat ini. Aku sendirian, tidak ada yang mau mengerti hatiku. Padahal akulah yang paling terkena dampak nya dari omongan masyarakat.
Aku semakin marah kepada diriku sendiri. ini semua kesalahan ku, ini semua karena ku. Sakit sekali hati ku saat semua orang mencampakkan ku.
Namun tangisan ku tak membuat kedua orang tua ku keluar, aku pun masuk ke kamar dan mengunci diriku di sana. Aku membaringkan tubuh ku di atas kasur, ku peluk boneka kelinci itu yang slalu berhasil membuat ku merasa tenang walaupun sedikit. Hingga aku tak sadar, dan aku terbangun karena ketukan suara pintu.
"Sabrina, buka sayang" terdengar suara bang adam memanggil ku.
"Sabrina, ini abi sayang. Ayo buka" abi juga ada di sana.
Tubuh ku lemas, karena sejak pagi belum makan apapun. Saat aku bangun, duduk di tepi ranjang. Pandangan ku langsung kabur, setelah itu aku tak tau apa yang terjadi.
Saat Aku membuka mata, ku lihat abi ku tersenyum kepadaku. Di sana juga banyak sekali orang. Ada paman, bibi, umi, bang adam, dan... aku mengkerut kan dahi ku. Laki-laki tersebut tersenyum kepadaku.
"Assalamualaikum, Sabrina" Sapa nya
"Waalaikumsalam" jawab ku sambil memikirkan siapa laki-laki itu. Aku seperti pernah bertemu, tapi aku lupa.
"Yasudah, kita tunggu di luar saja"
Semua orang langsung keluar dari kamar ku. Hanya abi saja yang masih ada di sana.
"Mas, aku siapkan makanan untuk gus Salman dulu"
"Iya"
Nah, setelah mendengar nya. Aku baru ingat bahwa dia adalah gus Salman, teman nya bang Adam.
"Sabrina sayang, maafkan abi. Seharusnya abi tak bersikap seperti tadi"
__ADS_1
"Tidak, bi. Sabrina yang salah. Mohon maafkan Sabrina"
"Tidak sayang, kamu gak salah. Abu tau itu"
Aku memeluk abi ku, menangis di dada nya. Betapa tenang nya hatiku setelah menangis di pelukan nya.
"Kamu mandi ya sayang, di luar ada gus Salman ingin menemui mu"
Aku memandang abi ku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sabrina, Gus Salman ingin bertanya beberapa hal kepadamu" Rupa nya, abi ku mengetahui arti tatapan ku.
"Menanyai ku, bi?" aku masih bingung
"Dia ingin taaruf dengan mu, Sabrina"
Duar..
Kaget.
Kaget sekali.
"Taaruf?"
"Apa kamu tidak mau sayang?" Tanya abi ku dengan tatapan seperti kecewa.
Aku langsung menjawab nya, menurut saja saat ini adalah hal yang lebih baik.
Abi tersenyum kepada ku "Ini hanya taaruf sayang, masih tahap tanya jawab. Kau bisa menolak nya atau menerima nya nanti"
Aku diam mematung, memikirkan kembali kata-kataku terakhir abi ku sebelum ia pergi dari kamar ku.
...****************...
Aku keluar bersama abi ku ke ruang tamu rumah ku. Di sana Ada paman, kyai baburuddin dan yang lain nya. aku pun duduk di samping abi, tepat di hadapan Gus Salman. Aku menunduk karena sangat malu, wajah ku sudah di pastikan sangat jelek sekali, karena mataku bengkak habis menangis sepanjang hari.
"Silahkan Salman" Ucap paman ku, yang aku tau bahwa sesi tanya jawab ini dimulai.
"Sabrina, apa cita-cita mu?"
Pertanyaan nya sungguh sangat sulit sekali.
"Cita-cita slalu berhubungan dengan pekerjaan, jadi aku tak mempunyai cita-cita yang harus di capai"
"Kenapa tidak ingin mencapai cita-cita?"
"Aku hanya tak mau ada sebuah ambisi di hati ku, biarkan semua nya berjalan sesuai takdir. Tugasku hanya satu, yaitu tetap belajar dan terus berusaha"
Ku lirik, semua orang nampak nya tersenyum. Aku masih diam, apakah jawaban ku begitu konyol sampai mereka semua tersenyum memperlihatkan gigi nya.
__ADS_1
"Sabrina, silahkan giliran mu untuk bertanya" Ucap paman ku
Aku bingung sekali hendak bertanya apa, sungguh pikiran ku blank.
"Sabrina tidak ingin bertanya apapun, paman" Ucapku langsung.
"Baiklah, Jalil" Kyai babrudin berucap. Aku menjadi deg deg an sekali mendengar suara nya.
"Sejak kami berangkat dari rumah, kami sudah memutuskan untuk meminang Sabrina menjadi menantu kami"
Aku yang mendengar nya langsung melotot.
"Baiklah, kami akan siap kapan pun acara lamaran nya" Ucap paman.
"Tapi Sabrina belum mengatakan Mau, paman"
Semua langsung menatapku, apa salah aku mengatakan nya.
"Sabrina benar, kyai Jalil." Ucap Gus Salman sambil memandangku penuh senyuman.
Tapi wajah paman ku seperti nya, marah. Abi ku juga hanya bisa diam saja.
"Aku masih ingin sholat istikharoh. Ini adalah pernikahan, aku hanya ingin yang terbaik"
"Benar sekali" Ucap Kyai baburuddin sambil tertawa. "Calon istri sholeha, ini" sambung nya sambil menyenggol anak nya, lalu ku lihat Gus Salman tersenyum malu-malu.
Setelah makan bersama, aku langsung masuk ke kamar. Aku sungguh kecewa dengan paman yang memaksa ku untuk menerima Gus Salman. Aku menangis saat aku tau bahwa pernikahan ku akan di adakan satu bulan lagi, dan itu artinya aku akan berhenti sekolah.
"Sabrina"
Aku menoleh, ku lihat abi ku sudah berdiri di ambang pintu kamar ku.
"Kamu menangis?" tanya nya dengan panik, sambil menghampiri ku
"Abi, Sabrina mau sekolah dulu"
"Abi juga bingung sayang, citra mu sudah sangat jelek sekali di mata masyarakat. InsyaAllah pernikahan ini bisa menyelesaikan semua nya dan mengembalikan citra mu"
Aku memeluk abi sambil menangis
"Abi sebenar nya tidak mau memaksa mu sayang, tapi keadaan nya memang memaksa abi untuk memilih semua ini"
Tangisan ku semakin pecah mendengar nya.
"Tapi, jika kamu memang tidak mau menikah dengan Gus Salman. Kamu bisa meminta Exel untuk melamar mu, abi akan menerima siapapun yang akan kamu pilih"
Deg...
Bersambung...
__ADS_1